Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, August 30, 2014

Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Pencetak Generasi Qur’ani di Kota Santri Singosari



Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat sayyidul mursalin yang diturunkan Allah I melalui perantara malaikat Jibril. Disamping sebagai mukjizat, Al-Qur’an juga menjadi sumber dari berbagai ilmu pengetahuan dan pedoman bagi umat umat Islam yang berisikan hukum-hukum Islam, cerita dan hikmah. Oleh karena itu, ilmu Al-Qur’an menjadi salah satu ilmu yang wajib dipelajari bagi umat muslim.
            Salah satu pondok pesantren yang memfokuskan kajian pendidikan untuk mempelajari ilmu Al-Qur’an adalah Pesantren Ilmu Al-Qur’an atau yang biasa dikenal dengan PIQ. Pondok ini terletak di salah satu kota-kota dingin sekitar Kabupaten Malang, tepatnya di kota Singosari yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari kota Malang. Di pondok ini, ilmu Al-Qur’an merupakan pelajaran utama sehingga menjadi makanan keseharian santri di dalamnya. Meski demikian, tidak berarti meniadakan kajian kitab-kitab lainnya tak ubahnya pondok pesantren berbasis salaf lainnya.
            Pendiri PIQ adalah Kyai Basori Alwi Murtadlo, penduduk asli kota Singosari. Lahir dari keluarga berilmu. Beliau merupakan ulama’ karismatik di wilayah tempat tinggalnya. Ilmunya mengakar karena tak pernah lelah menimba ilmu dari guru-guru yang tersebar di penjuru bumi pertiwi. Beliau lahir pada tanggal 15 April 1927 dari pasangan Kyai Alwi Murtadlo dengan Nyai Riwati. Ayahandanya merupakan seorang tokoh masyarakat begitu pula ibunya yang menjadi sosok tauladan bagi para wanita di zamannya.
            Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau meneruskan pendidikan ke Solo. Tak terhenti di Solo saja, pencarian terus berlanjut ke berbagai kota, seperti: Pasuruan, Jogja, Kediri dan kota-kota lain yang tersebar di pulau Jawa.
Setelah pencarian yang panjang, beliau kembali ke kampung halamannya, banyak masyarakat yang mempercayakan anaknya agar belajar ilmu agama pada Kyai Basori. Beliau tidak menolak apa yang telah diamanahi pada pundak beliau karena berpegang dengan prinsip “لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَ زَكَاةُ الْعِلْمِ التَّعْلِيْمُ.            “Segala sesuatu itu ada zakatnya dan zakatnya ilmu adalah mengajar”. Berangkat dari kata itulah, beliau menerima siapapun yang hendak belajar dengan beliau meski harus menetap satu rumah bersama beliau.
            Seiring berjalannya waktu, santri beliaupun kian lama kian bertambah sehingga beliau berinisiatif mendirikan sebuah pondok pesantren untuk menampung seluruh santri yang hendak belajar padanya.
Tanggal 01 Mei 1978, menjadi masa awal pembangunan gedung Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ). Untuk pembangunan pondok tersebut, beliau rela membedah rumah beliau sendiri menjadi sebuah gedung asrama tempat tinggal santri. Pada tahun 1995, para santri dipindahkan menuju gedung PIQ yang baru sedangkan gedung yang lama dialihfungsikan menjadi kantor “Bilqalam” (kantor pengembangan metode membaca Al-Qur’an) yang dibuat sendiri oleh Kyai Basori.
Ada tujuh tingkat yang dibangun dan dipersiapkan untuk anak didiknya. Tingkat yang paling bawah merupakan kantor pengurus dan kamar mandi, ditingkat kedua yang berdiameter 10 x 30 m terdapat tempat shalat atau aula, sementara kamar santri dan ruangan kelas berada di tingkat berikutnya.
PIQ menyajikan ilmu agama bagi santrinya melalui Madrasah Diniyah yang terdiri dari enam kelas. Apabila telah melewati enam tahun belajar bersama Kyai Basori, santri akan mendapatkan ijazah Al-Qur’an secara langsung dari beliau. Batas minimum pendidikan santri ialah lulusan SD. Setelah itu, bisa melanjutkan pendidikan formalnya di sekolah-sekolah umum di sekitar pondok pesantren.
Pembelajaran di PIQ tak jauh berbeda dengan pembelajaran pendidikan agama di pesantren salaf lainnya. Hanya saja, pelajaran yang lebih diprioritaskan di pesantren ini ialah pelajaran Al-Qur’an dan bahasa Arab. Untuk pembelajaran Al-Qur’an, PIQ menggunakan “Metode Jibril.” Metode ini merupakan metode pembelajaran karangan Kyai Basori sendiri karena terinspirasi dari Nabi Muhammad r yang diajari secara langsung oleh Malaikat Jibril.
 Pada tahun pertama bagi santri baru, materi lebih difokuskan pada pendasaran materi Al-Qur’an dan bahasa Arab. Minimal dalam satu tahun sudah khatam Al-Qur’an 30 juz lengkap dengan tajwidnya. Sementara untuk pengajaran bahasa arab, santri ditargetkan khatam kitab Madaarijud Durus al-Arabiah (panduan dasar bahasa arab yang dikarang oleh Kyai Basori) dengan skill yang integrative, baik istima’, kalam, qiraah dan khitabah. Tidak hanya itu, santri baru juga mendapatkan materi dasar lainnya seperti tauhid, fikih, akhlaq, nahwu dan sharaf.
Rentetan kegiatan pesantren dimulai pada jam empat pagi. Mulai dari shalat tahajjud hingga shalat subuh sampai pembacaan wirid. Kemudian berlanjut dengan kegiatan menghafal Al-Qur’an bagi santri kelas dua sampai kelas enam. Sementara santri kelas satu belajar bersama Kyai Basori sendiri.
Saat waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, para santri sudah bersiap-siap untuk masuk sekolah formal di luar pesantren. Sementara santri yang sekolah formalnya dimulai pada siang hari, mereka mendapatkan kajian kitab pada pagi hari. Setelah shalat dhuhur, santri diberi waktu luang untuk beristirahat hingga waktu ashar tiba. Kajian kitab bagi santri yang mengikuti sekolah formal pada pagi hari dimulai pada sore hari setelah shalat ashar. Kegiatan itu berlangsung hingga pukul 17.00 WIB. Setelah shalat maghrib dan isya’ plus pembacaan wirid, santri memasuki kelas masing-masing untuk menerima pelajaran diniyah.
Berbeda dengan pesantren lainnya, PIQ memberi waktu beberapa menit bagi santri sembari menunggu kedatangan ustadz untuk muraja’ah atau mengulangi pelajaran yang sudah dipelajari dan yang akan dipelajari. Waktu itu juga bisa digunakan santri untuk mengulangi hafalan Al-Qur’an mereka agar tidak cepat lupa. Sehingga tidak ada waktu kosong yang terbuang sia-sia selama mereka belajar di Pesantren.
Pada pukul 21.30 WIB malam para santri mengikuti kegiatan belajar kelompok atau musyawarah. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. Setelah kegiatan usai, para santri kembali ketempatnya masing-masing untuk beristirahat.
Untuk program menghafal Qur’an, PIQ mengatur sendiri konsep hafalan bagi santri agar mereka mampu menghafal Al-Qur’an secara efektif. Pada periode tiga bulan pertama, santri menghafal juz 30 atau yang biasa dikenal dengan juz amma dari belakang (surat an-Naas). Dalam fase ini, santri masih dibantu sepenuhnya oleh para asatidzah dengan metode talqin. Ustadz akan membacakan satu ayat penuh sebanyak tiga kali, kemudian para santri menirukan kembali ayat yang telah dibacakan. Setelah itu, ustadz mulai mengurangi bacaan dari perkata hingga perhuruf.
Setelah menghafal juz 30, hafalan Al-Qur’an dilanjutkan dengan menghafal juz pertama hingga juz ke tujuh. Pada tingkatan ini, ustadz memberi bimbingan hafalan dengan persentasi 75% kepada santri hingga hafal. Kemudian pada tingkatan berikutnya yaitu juz kedelapan hingga juz ke-15, ustadz membimbing santri sebanyak 50% sehingga santri bisa melanjutkan hafalannya hingga khatam tanpa perlu adanya bimbingan ustadz.
Setelah lima tahun lebih belajar di PIQ, santri kelas enam akan mendapatkan pengajaran khusus berupa tips mengajar yang nantinya bisa diamalkan setelah mereka lulus. Hal ini merupakan keinginan Kyai Basori sendiri karena terinspirasi dari kalam yang beliau pegang erat-erat yaitu  لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَ زَكَاةُ الْعِلْمِ التَّعْلِيْمُ.     
Kini jumlah santri yang menuntut ilmu di PIQ berkisar 350 santri putra tanpa menerima santri putri. Mayoritas santri berasal dari luar kota mulai dari Sidoarjo, Pasuruan, Surabaya dan banyak kota lainnya. Sementara jumlah asatidzah yang mengajar berkisar 23 orang. Semuanya merupakan alumni PIQ sendiri.
Kyai Basori Alwi berharap, seluruh santrinya yang sudah lulus belajar selama enam tahun di almamaternya dapat menjadi generasi-generasi Qur’ani dan kader-kader Islami yang mampu mengembangkan pengetahuan agama mereka dengan tetap berpegang teguh kepada akidah Ahlisunnah Wal Jamaah.




             

0 komentar:

Post a Comment