Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, June 8, 2014

BUDAYA SOSIALMEDIA DI MATA GUS MUS




Budaya sosial media yang mulai mem-booming Nusantara dan belahan bumi lainnya, menjadi bahan kajian unik untuk perbincangkan. Meski sudah lama namun budaya ini tidak pernah mati bahkan selalu berkembang. Pro dan kontra dari berbagai pihak kian mewarnai masalah ini. Menyikapi hal tersebut, sosok budayawan kondang Gus Mus kami ajak untuk menyampaikan pandangannya mengenai sosial media di majalah Al-Bashiroh.
Terlepas dari huru-hara dan kecemasan sebagian masyarakat kita, Kyai Musthofa Bisri atau yang lebih akrab dengan Gus Mus mempunyai pola pemikiran tersendiri. Beliau menganggap sosial media sebagai sebuah keharusan dan hal tersebut sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan masyarakat kita.
Sosial media sejatinya hal yang netral. Tergantung siapa yang menggunakan, layaknya seorang penjual pisau atau gantungan kunci. Sosial media dapat digunakan untuk menyebarkan ilmu atau untuk men-sharing berbagai berita yang sudah ada. Tapi sebaliknya, sosial media juga bisa menyebarkan hal-hal yang negatif.
Para pengguna harus pandai menyebarkan kebaikan agar tidak kalah bersaing dengan orang-orang yang berusaha menyebarkan keburukan di sosial media. Sebab, jika hal-hal buruk itu telah masuk ke rumah-rumah, maka akan mempengaruhi anak-anak jika orang tuanya gaptek, dalam artian kurang mengerti dalam penggunaan dan pengontrolan sosial media. Itulah salah satu pertimbangan Gus Mus menggunakan facebook dan juga twitter.
      Usaha yang harus dilakukan adalah memperbanyak orang-orang yang menyiarkan kebaikan. Jika tidak, pasti akan kalah. Sebab, sosial media itu ibarat pasar, segala macam kebutuhan ada di sana. Untuk itulah, dibutuhkan kepandaian untuk menjual agar barang dagangan laku keras.
      Masyarakat merupakan konsumen sosial media, maka dibutuhkan sebuah instansi khusus untuk menangani hal tersebut. Sebagaimana dakwah, harus ada dari kita yang mengisi dakwah tersebut dengan sosial media.
Gus Mus juga menuturkan bahwa sosial media bisa digunakan oleh siapa saja yang menginginkannya. Jadi, jika ada seseorang yang melakukan narsis ataupun khutbah, mengajak kepada kebaikan atau keburukan maka dia punya kebebasan melakukan hal itu. Dan sekali lagi, sosial media itu bebas dan bisa dikonsumsi siapa saja.
Gus Mus menegaskan untuk tidak sekedar khawatir mengenai keburukan sosialmedia kemudian berpangku tangan, tetapi juga perlu adanya tindakan untuk memerangi keburukan di sosialmedia tersebut dengan berbagai cara, salah satunya dengan menyebarkan kebaikan melalui sosialmedia.
       “Tergantung Ummat Islam itu sendiri, Apakah mau diisi atau menjadi pengisi sosial media tersebut?”. Begitu penegasan Gus Mus ketika ditanya mengenai penempatan posisi Umat Islam dalam sosialmedia. Umat Islam harus memposisikan diri sebagai pengisi dari wadah tersebut, maka wajib bagi umat islam untuk memiliki “isi” dari wadah tersebut. Tapi jika hanya ingin dijadikan sebagai wadah saja, maka umat islam akan kalah dengan musuh-musuhnya di sosialmedia. Maka dari itu, umat Islam harus siap bersaing dalam sosial media.
Demikianlah penuturan singkat Gus Mus mengenai budaya sosialmedia ketika diwawancarai redaksi majalah Al-Bashiroh Rabu malam (26/2). Yang perlu digarisbawahi dari apa yang telah beliau sampaikan adalah bahwasanya era globalisasi merupakan era kompetitif, segala bentuk modernisasi harus mampu disikapi secara arif dan bijak (khususnya sosial media). Bukan mencemaskan dampak negatif yang terjadi dengan berpangku tangan namun perlu aksi nyata dan terjun di dalamnya untuk membawanya sebagai media dakwah. Wallahu a’alam. Arfi dan Rijal.









2 comments:

  1. artikel yang sangat bermanfaat. Oya, saya mau tanya kepada admin elbashiroh. Apakah boleh artikelnya saya share lewat blog saya. kalau diizinin saya share dan kalau tidak diizinkan saya enggak share. mohon jawabannya.

    ReplyDelete
  2. silahkan untuk mengsahre artikel kami,....

    ReplyDelete