Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 16, 2014

Syaikh Yasin Al-Faddani, Musnidud Dunya


فيا طالب العلم لب نداء # ياسين وافرح بهذا القرى
“Wahai pencari ilmu sambutlah panggilan Yasin. Bergembiralah dengan sajian yang ia sajikan.”
Rasanya tinta emas takkan pernah kering untuk sekadar menggoreskan cuplikan-cuplikan kehidupan masa silam beliau, dari awal kehidupan sampai akhir perjalanan. Beliau merupakan tokoh Minang yang terkemuka di Tanah Suci setelah Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau. Namanya terukir indah dalam buku-buku biografi ulama modern. Beliau digelari sebagai muhaddits dan ahli fiqh abad ini.
Syaikh Muhammad Yasin al-Faddani dilahirkan di tengah keluarga ulama yang taat di Misfalah Makkah pada hari Selasa, 27 Sya’ban 1335 H atau 17 Juni 1917 M. Beliau adalah putra dari pasangan Syaikh Muhammad Isa bin Udiq al-Faddani dan Maimunah binti Abdullah al-Faddani. Sejak usia belia Syaikh Yasin telah menunjukkan potensi kecerdasan yang menakjubkan.
Pendidikan Syaikh Yasin Al-Faddani
Syaikh Yasin Al-Faddani menghabiskan masa kecilnya dengan belajar kepada ayah beliau, Syaikh Muhammad Isa dan paman beliau, Syaikh Mahmud. Kepada keduanya, beliau belajar dan menghafal beberapa matan kitab dalam bidang ilmu fiqh, tauhid, faraidh dan musthalah hadits.
Tahun 1346 H atau 1928 M beliau pergi menimba ilmu ke Madrasah ash-Shaulatiyah al-Hindiyah selama lebih kurang 7 tahun. Guru-guru beliau selama di Madrasah ash-Shaulatiyah adalah Syaikh Muhktar Utsman Makhdum, Syaikh Hasan al-Masysyath dan al-Habib Muhsin bin Ali al-Musawa (seorang ulama Makkah yang lahir di Palembang tahun 1323 H/1905 M).
Pada tahun 1353 H atau 1935 M, beliau berpindah ke Madrasah Darul Ulum ad-Diniyah yang didirikan oleh al-Habib Muhsin bin Ali al-Musawa bersama beberapa pemuka masyarakat Nusantara yang berada di Makkah pada masa itu. Beliau adalah angkatan pertama Darul Ulum yang kemudian menjadi pengurus Darul Ulum.
Kepindahan beliau ke Darul Ulum tidak lepas dari sebuah peristiwa monumental yaitu ketika salah seorang guru (direktur) di Madrasah ash-Shaulatiyah melakukan tindakan yang sangat menyinggung para pelajar (yang kebanyakan dari Asia Tenggara terutama dari Indonesia) dengan merobek surat kabar Melayu, tindakan itu dianggap sebagai bentuk pelecehan kepada martabat orang Melayu, sehingga memacu semangat beliau dan beberapa anak-anak Jawiy (sebutan untuk pelajar Nusantara) untuk bangkit memberikan perlawanan dengan cara pindah dan memajukan Madrasah Darul Ulum. Hal itu terbukti dengan berpindahnya 120 orang pelajar ash-Shaulatiyah ke Madrasah Darul Ulum yang baru didirikan.
Selain belajar di Darul Ulum, beliau juga aktif mengikuti pengajian-pengajian di Masjidil Haram. Rasa haus beliau akan ilmu membuat beliau mendatangi kediaman para syaikh terkemuka untuk belajar di tempat-tempat mereka seperti di Thaif, Makkah, Madinah, Riyadh maupun kota-kota lainnya. Bahkan beliau sempat ke luar Arab Saudi seperti Yaman, Mesir, Syiria, Kuwait, India, Indonesia dan negeri-negeri lainnya.
Sejak awal masa belajarnya, beliau telah dikenal sebagai seorang pelajar yang memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga mampu mengungguli teman-temannya. Tidak mengherankan kemudian banyak teman-teman beliau yang akhirnya berbalik belajar kepada beliau. Kecerdasan dan juga akhlak beliau yang luhur yang membuat gurunya kagum terhadap beliau. Ketekunan dan kesungguhannya dalam belajar membuat beliau semakin bersinar dengan berbagai ilmu yang telah dikuasainya. Sejak muda beliau sangat gemar kepada ilmu hadits. Hal ini menjadikan para gurunya amat sayang dan simpati kepada Syaikh Yasin.
Tinggalnya beliau di Tanah Suci Makkah memudahkan beliau bertemu dengan banyak ulama Islam, baik dari Tanah Suci sendiri maupun dari berbagai pelosok dunia yang datang ke Tanah Suci, seperti Syria, Libanon, Palestina, Yaman, Mesir, Maghribi, Iraq, Pakistan, Rusia, India, Indonesia dan Malaysia, sehingga terkumpullah di sisi beliau berbagai macam sanad periwayatan ilmu dan hadits. Sehingga sepanjang perlajanan studinya, beliau berguru lebih dari 700 orang guru yang beliau catat dalam berbagai karya literaturnya yang berkaitan dengan ilmu sanad. Ini merupakan satu jumlah yang memang sukar ditandingi apalagi untuk zaman ini.
Rekomendasi untuk mengajar di Masjidil Haram beliau peroleh secara resmi tanggal 10 Jumadil Akhir 1369 H atau 29 Maret 1950 M dari Dewan Ulama Masjidil Haram. Halaqah beliau mendapat sambuan hangat terutama dari kalangan masyarakat Asia Tenggara dan Indonesia. Disamping itu setiap bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan dan mengijazahakan salah satu kitab dari Kutub as-Sittah. Hal ini berlangsung selama 15 tahun.
Setiap ada kesempatan beliau juga mengadakan perjalanan ilmiyah bersama para santri dan ulama untuk mengamalkan ilmu yang telah beliau ajarkan antara lain ilmu falak. Perjalanan beliau juga dipergunakan untuk memburu sanad, silsilah periwayatan hadits dan ijazah ilmu atau kitab.
Merujuk pada perkataan Syaikh Mahmud Sa’id Mamduh (salah seorang murid beliau), Syaikh Yasin kerap kali menerima permintaan fatwa. Artinya beliau bukan hanya pakar dalam ilmu sanad tapi juga ahli ilmu syariat lainnya. Bahkan permintaan fatwa bukan hanya datang dari sekitar Makkah, tetapi juga dari luar Arab seperti Indonesia.
Hampir seluruh waktunya beliau pergunakan untuk mempelajari dan mengajarkan ilmu. Dalam musim haji maupun di luar musim haji rumah, beliau senantiasa ramai dikunjungi para ulama dan pelajar baik dari Makkah maupun dari luar Makkah bahkan dari luar negeri. Semuanya ingin menimba ilmu dan meminta ijazah hadits dari beliau. Mereka semua memandang Syaikh Yasin sebagai guru meskipun hanya mengambil ijazah kepada beliau.
Syaikh Yasin memiliki perhatian yang sangat besar terhadap ilmu hadits dengan berbagai cabang dalam ilmu yang sudah terbilang langka saat ini. Dalam hal sanad, dengan kegigihan beliau mengumpulkan sanad dari ratusan para ulama sehingga beliau dijuluki sebagai al-Musnid ad-Dunya. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab dalam ilmu sanad. Ada sekitar 70 buah karya dalam berbagai ukuran yang telah disusunnya terkait ilmu sanad. Karya-karya beliau ini membuktikan kemahiran dan kebijaksanaan beliau dalam bidang ilmu sanad. Disamping memperlihatkan kekreatifan beliau dalam sudut berbagai seni sanad. Selain itu beliau juga gigih dalam menghimpun sanad para ulama-ulama sebelum beliau. Ini merupakan lazimnya dalam ilmu sanad, dimana kadang-kadang sanad seorang ulama dibukukan oleh muridnya atau orang-orang sesudahnya. Inilah di antara upaya yang dilakukan oleh Syaikh Yasin Al-Fadani terhadap beberapa tokoh ulama yang memiliki sanad, seperti: al-Kuzbari, Ibn Hajar al-Haitami, Abdul Baqi al-Ba’li, Khalifah an-Nabhan, Sayyid Muhsin al-Musawi, Muhammad Ali al-Maliki, Umar Hamdan dan Ahmad al-Mukhallalati.
Karya-karya Syaikh Yasin Al-Faddani
Syaikh Yasin dikenal sebagai ulama yang produktif dalam menulis, karya beliau mencapai ratusan, sehingga al-Habib Saqqaf bin Muhammad Assegaf seorang ulama Hadhramaut memujinya dengan sebutan “Imam Suyuthi pada zamannya” lantaran karyanya yang demikian banyak.
Ulama kelahiran abad 20 ini menghasilkan karya-karya yang tak kurang dari 100 judul, yang semuanya tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Makkah maupun di Asia Tenggara. Sejumlah murid dan peneliti kini mulai berusaha menginventarisir, mengkodifikasi dan menerbitkan karya-karya tersebut. Kabarnya hingga saat ini baru sebanyak 97 kitab (di antaranya 9 kitab tentang ilmu hadits, 25 kitab tentang ilmu dan ushul fiqih, 36 kitab tentang ilmu falak, dan sisanya tentang ilmu-ilmu yang lain).
Bahkan kitab beliau al-Fawaid al-Janiyyah dijadikan materi silabus mata kuliah ushul fiqh di Fakultas Syari’ah Universitas al-Azhar Mesir. Sebagaimana diakui oleh kalangan para ulama yang mengetahui kadar keilmuan beliau, faktor susunan bahasa yang tinggi dan sistematis serta isinya yang padat menjadikan karya Syaikh Yasin dijadikan oleh para ulama dan pelajar sebagai rujukan. Kendati demikian, agak sukar menjumpai karya-karya tersebut di tanah air. Karya beliau lebih banyak dicetak di Beirut dan Syiria. Selebihnya, masih tersimpan dalam bentuk makhtutat di pustaka pribadi almarhum. Bahkan, karyanya yang fundamental dalam bidang hadits, Fath al-‘Allam dan ad-Durr al-Mandhud masih dalam bentuk manuskrip (penelitian tahun 2010). Terkait karya ulama yang juga ahli fikih ini, ada beberapa hal yang menarik. Pertama, Syeikh Fadani ternyata pernah menulis empat kitab arba’in (hadits 40) sekaligus. Kitab hadits 40 yang telah mencuri perhatian kaum muslimin selama berabad-abad ialah al-Arba’in an-Nawawiyyah karya Imam an-Nawawi (w. 676 H/1278 M). Sudah selayaknya juga, Syaikh Yasin yang menulis 4 versi kitab arba’in mendapat apresiasi yang sama dalam arti yang luas di kalangan umat Islam. Di antara kitab arba’in beliau yaitu al-Arba‘un al-Buldaniyah, al-Arba’un Haditsan, Syarh al-Jauhar ats-Tsamin fi Arba’in Haditsan dan al-Arba’un Haditsan Musalsalah.
Kedua, karya Syaikh Yasin didominasi oleh kitab sanad, ditulis dengan sangat teliti. Hampir dipastikan, setiap ilmu yang beliau tuntut memiliki jalur keilmuan hingga ke sumber pertama. Hal ini, setidaknya menyiratkan nilai ketekunan, ketulenan (otoritatif) dan keberkahan ilmu beliu. Dengan ketekunan memelihara silsilah keilmuan itulah para ulama menyebutnya sebagai al-Musnid al-‘Ashr (pakar sanad zaman ini).


0 komentar:

Post a Comment