Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 16, 2014

Seni Yang Tak Pernah Mati


                Dalam dunia Arab, seni dipandang sebagai sebuah kebutuhan oleh semua kalangan, baik dari kalangan muslim maupun yang lainnya. Hal ini terbukti dari aneka kesenian yang tercipta dari lisan mereka seperti syair dan sajak yang tak pernah pupus oleh waktu. Begitu pula dengan kesenian tulis menulis yang tidak kalah indah, yang tercipta dari buah tangan mereka atau lebih dikenal dengan kaligrafi.
Kaligrafi atau “calligraphy” (dalam bahasa Inggris) diadopsi dari bahasa bahasa Yunani “KALLOS” yang berarti beauty (indah) dan “GRAPHEIN” yang artinya to write (menulis). Sehingga secara singkat kaligrafi diartikan sebagai tulisan yang indah atau seni tulisan indah.
Dalam bahasa Arab, kaligrafi disebut khat yang berarti garis. Secara terminologi, kaligrafi adalah “Calligraphy is handwriting as an art, to some calligraphy will mean formal permanship, distinguish from writing only by its exellents quality.”Yang artinya: tulisan tangan sebagai karya seni, dalam beberapa hal yang dimaksud kaligrafi adalah tulisan formal yang indah, perbedaannya dengan tulisan biasa adalah kualitas keindahannya.
Beberapa pakar khat juga ikut mendefinisikan kaligrafi. Diantaranya:
 Hakim al-Rum mengatakan kaligrafi adalah geometri spiritual dan diekspresikan dengan perangkat fisik. Sementara Hakim al-Arabi menuturkan bahwa kaligrafi adalah pokok dalam jiwa dan diekspresikan dengan indra indrawi.
                Kaligrafi adalah bagian dari khazanah Islam. Oleh karena itu, dianjurkan bagi kalangan muslim untuk mempelajarinya, bahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib t bertutur:
تَعَلَّمُوْا الخَطَّ فَإِنَّهُ مِفْتَاحٌ مِنْ مَفَاتِحِ الرِّزْقِ
“Pelajarilah khat (seni tulis menulis) maka sesungguhnya khat itu kunci dari kunci-kunci rizki.”
                 Sejarah mencatat bahwa kaligrafi atau khat mempunyai lebih dari sembilan puluh jenis atau model, sama halnya seperti kesenian-kesenian lain yang mempunyai belbagai bentuk dan model. Dari sekian banyak jenis khat tersebut, ada beberapa khat yang paling populer dan paling sering digunakan. Seperti:
1-Khat Naskhi
Khat Nasakh (Naskhi) adalah salah satu jenis Khat yang paling mudah dibaca. Jenis inilah yang paling sering kita temukan ketika melihat atau membaca tulisan ayat pada mushaf Al-Qur’an dan sering digunakan untuk menyalin teks-teks ilmiah. Jenis ini relatif mudah dibaca dan ditulis, sehingga banyak digunakan oleh para muslim dan orang Arab di belahan dunia.
Para ahli sejarah berpendapat, bahwa Ibnu Muqlah (272-328 H) adalah peletak dasar Khat Naskhi di zaman Bani Abbas. Kendati demikian, khat Naskhi mencapai puncak ketenarannya pada dinasti Atabek Ali (545 H), sehingga terkenal dengan sebutan Naskhi Atabeki yang banyak digunakan untuk menyalin mushaf Al-Qur’an di abad pertengahan Islam, dan menggeser posisi Khat Kufi kuno yang telah banyak digunakan sebelumnya.
2- Ijazah (Raihani)
Tulisan kaligrafi gaya Ijazah (Raihani) merupakan perpaduan antara gaya Tsuluts dan Naskhi yang dikembangkan oleh para kaligrafer Daulah Usmani. Gaya ini lazim digunakan untuk penulisan ijazah dari seorang guru kaligrafi kepada muridnya. Karakter hurufnya seperti Tsuluts, tetapi lebih sederhana, sedikit hiasan tambahan dan tidak lazim ditulis secara bertumpuk (murakkab).

3- Khat Tsuluts
Dinamakan Tsuluts karena ditulis dengan qalam atau pulpen yang ujung pelatuknya dipotong dengan ukuran sepertiga (tsuluts) goresan qalam. Ada pula yang menamakannya dengan “khat Arab” karena gaya ini merupakan cikal bakal munculnya ragam kaligrafi Arab sesudah khat Kufi.
Untuk menulis dengan khat ini, pelatuk kalam dipotong terlebih dahulu dengan kemiringan kira-kira setengah lebar pelatuk. Ukuran ini sesuai untuk gaya Tsuluts ‘Adi dan Tsuluts Jali.
Khat Tsuluts yang banyak digunakan sebagai dekorasi dinding dan aneka media karena kelenturannya. Namun khat jenis ini dianggap paling sulit dibandingkan gaya-gaya lain, baik dari sudut kaedah maupun proses penyusunannya yang menuntut harmoni dan rapi.
4- Khat Riq’ah
Riq’ah adalah salah satu gaya khat ciptaan masyarakat Turki Usmani. Karakteristik khat ini terdapat pada huruf-hurufnya yang pendek dan biasa ditulis lebih cepat daripada Naskhi karena kesederhanaannya dan tidak memiliki struktur yang rumit. Sebab itulah dalam kehidupan modern saat ini, khat Naskhi khusus digunakan untuk mencetak teks buku, surat kabar, dan majalah sedangkan khat Riq’ah khusus digunakan untuk catatan tangan atau dikte. Kecepatan gerak Riq’ah dapat disamakan dengan stenografi dalam tulisan latin.

5- Khat Diwani
Khat Diwani adalah salah satu gaya Khat yang diciptakan oleh masyarakat Turki Usmani, berkembang luas di akhir abad ke-15 yang dipelopori oleh seorang kaligrafer Ibrahim Munif dari Turki. Tulisan ini mulai populer pasca penaklukan kota Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih tahun 875 H. Penamaan Diwani, dinisbahkan kepada tulisan-tulisan yang digunakan di dewan-dewan pemerintahan.
Karakter Diwani dikenal dengan putarannya sehingga tidak satu pun huruf yang tak mempunyai lengkungan. Goresannya yang lentur dan lembut memudahkan Diwani beradaptasi dengan tulisan apapun.

6- Khat Diwani Jali
Khat ini diciptakan oleh khattat Shahla Basya pada zaman pemerintahan Kerajaan 'Utsmaniyyah. Khat ini dianggap sebagai turunan dari khat Diwani biasa. Khat ini dinamakan Jali yang berarti jelas karena terdapat perbedaan yang jelas dari bentuk tulisannya. Tujuan penggunaannya ialah untuk tulisan resmi raja dan surat-menyurat kepada kerajaan asing.
Bentuk hurufnya memenuhi ruang kosong sehingga membentuk satu desain geometri yang tersusun indah. Dari jenis khat ini, lahir bermacam-macam rupa bentuk hasil karya penulis-penulis khat yang mahir.
Khat Diwani Jali terbagi menjadi tiga jenis yaitu khat Diwani Jali Mahbuk, Diwani Jali Hamayuni, dan Diwani Jali Zauraq (bentuk Perahu). Ciri khas dari khat diwani jali adalah keberadaan harakat yang melimpah di setiap bagian kaligrafi sebagai dekorasi karna tidak seluruhnya berfungsi sebagai tanda baca. Selain itu, terdapat banyak motif titik-titik yang sangat lembut sebagai pemadat pada ruang kosong di antara huruf-hurufnya.
7- Khat Farisi dan Farisi Ta’liq
Disebut Khat Farisi karena memang pertama kali dikembangkan oleh orang-orang Persia (Iran). Sementara Ta’liq berarti menggantung, dinamakan demikian karena gaya tulisan ini terkesan menggantung. Gaya ini disukai oleh orang-orang Arab dan merupakan gaya tulisan kaligrafi asli bagi orang Persia, India, dan Turki.
Seorang kaligrafer Persia Mir Ali Sultan al-Tabrizi kemudian mengembangkan gaya ini lebih halus dan variatif menjadi Nasta'liq, dari kata “nasakh dan ta'liq”. Namun, para kaligrafer Turki dan Persia tetap menggunakan tulisan ini pada momen-momen penting. Ta'liq dan nasta'liq biasa digunakan untuk penulisan literatur dan syair-syair tentang kepahlawanan, bukan untuk penulisan Mushaf Al-Qur’an.
8- Khat Kufi
Khat Kufi merupakan kaligrafi Arab tertua dan sumber seluruh kaligrafi Arab. Dinamakan Kufi karena berasal dari kota Kufah kemudian menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Masyarakat Arab berusaha mengolah dan mempercantik gaya Kufi dengan menyisipkan ornamen sebagai dekoratif sehingga lahirlah beragam corak Kufi yang baru. Cara menulisnya pun tidak lagi terbatas pada bambu tapi juga dengan pena, penggaris, segitiga, dan jangka. Khat Kufi pernah menjadi satu-satunya tulisan yang digunakan untuk menyalin mushaf Al-Qur’an. Selanjutnya Kufi berubah menjadi seni yang berdiri sendiri sebagai alat ekspresi para seniman kaligrafi. Meskipun terkesan kaku dengan banyaknya sudut-sudut yang menjadi karakternya namun khat Kufi sangat lentur dan mudah diolah karena lebih tergantung kepada alat-alat bantu seperti penggaris, sehingga siapapun dapat menulis Kufi tidak harus seorang Khattat.

Itulah sekelumit tentang seni kaligrafi Islam yang banyak digandrungi oleh pemuda muslim zaman ini. Semoga akan semakin berkembang dan terus hidup sepanjang masa.  

0 komentar:

Post a Comment