Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 16, 2014

Pondok Pesantren al-Haramain Sumber Ilmu Agama Masyarakat Tepian Lumajang


Dibalik keindahan suasana pedesaan kabupaten Lumajang yang dikenal sebagai kota eksplorasi pasir terbaik, jauh sebelum saat ini daerah tersebut bisa dibilang terbelakang dari kemajuan ilmu yang sedang berkembang. Jangankan ilmu, hukum dasar Islam yang wajib diketahui bagi setiap muslim banyak dari mereka yang masih belum memahaminya. Maka di saat masyarakat berada di kegelapan ilmu, berdirilah suatu bilik penuh cahaya ilmu yang menyinari masyarakat di sekitarnya. Bilik itu dikenal dengan Pondok Pesantren al-Haramain yang didirikan oleh KH. Zainal Abidin Imron yang datang dengan ilmunya dari tanah Haram. Pondok itu terletak di salah satu desa di tepian Lumajang yang dikenal dengan desa Selok Anyar.
            KH. Zainal Abidin Imron lahir di kota Sampang pada tahun 1964 M. Selama masa hidupnya, beliau belum pernah mengenyam bangku pendidikan formal. Kedua orang tuanya mengirimnya ke salah satu pondok pesantren di kota Malang untuk belajar ilmu agama. Pada tahun 1982 M, beliau meneruskan pendidikannya di kota Makkah al-Mukarramah. Setelah sembilan tahun mengabdi, pada tahun 1991 M beliau kembali ke kampung halamannya di Madura. Setelah cukup lama tinggal di Madura, beliau pindah ke kota Jember dan menetap bersama istrinya Hj. Siti Muniroh Wahid sampai tahun 1997 M.
            Di tahun berikutnya KH. Hamid Hasan menawarkan kepada beliau untuk pindah dan membangun pondok di desa Selok Awar-Awar kec. Pasirian kab. Lumajang yang sekarang menjadi desa Selok Anyar dan beliau langsung menyetujui hal tersebut. Desa Selok Anyar berada di tepian Lumajang sekitar 18 km dari pusat kota. “Ketika itu, keadaan desa masih berupa tanah rawa dan kebanyakan penduduk desa masih tergolong masyarakat awam”, tutur sang pendiri. Oleh karena itu, masyarakat menyambut dengan antusias kedatangan KH. Zainal Abidin Imron. Salah seorang warga mewakafkan tanahnya untuk dibangun pondok pesantren. Dari sinilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren al-Haramain.
            Awal mulanya beliau memiliki dua pilihan nama untuk pondok pesantren ini yaitu Ummul Qura’ dan al-Haramain. Kemudian beliau berinisiatif mengajak masyarakat untuk bermusyawarah. Hasilnya, keluarlah nama al-Haramain sebagai nama pondok pesantren yang diambil dari nama tempat ketika beliau menimba ilmu.
Awal perjuangan, beliau hanya memiliki dua orang santri putra yang pada saat itu masih tinggal di rumah beliau. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri semakin bertambah. Sampai saat ini, jumlah santri beliau sekitar 150 santri yang terdiri dari 50 santriwan dan 100 santriwati. Mayoritas santri Pondok Pesantren al-Haramain berasal dari desa sekitar dan ada pula yang berasal dari Malang, Madura bahkan Malaysia. Tidak hanya pondok pesantren, beliau juga memiliki panti asuhan bernama Ummul Qura’.
Tujuan berdirinya Pondok Pesantren al-Haramain antara lain mengantarkan santri atau generasi muda Islam menjadi kader-kader dakwah yang mampu menyelesaikan problematika umat dan mampu membawa masyarakat sekitarnya ke arah yang lebih baik dan maju. Berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya, pondok pesantren al-Haramain memiliki ciri khas tersendiri dengan membekali ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Bahasa Arab yang lebih mendalam guna memahami kitab-kitab salaf yang mereka kaji.
Pondok Pesantren al-Haramain memberikan kajian ilmu agama kepada para santrinya melalui Madrasah Diniyah yang terdiri dari jenjang pendidikan I’dadi, Ibtida’iyah, Wustho dan Niha’i. Tidak hanya pelajaran diniyah saja, untuk mencetak ulama yang intelek dan profesional dalam menjawab permasalahan global saat ini, didirikanlah lembaga pendidikan formal berupa Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada tahun 2007 dan dibangun SMK al-Haramain pada tahun 2009 dengan program studi Teknik Konfigurasi Jaringan (TKJ).
Kurikulum pendidikan yang diterapkan oleh pondok pesantren al-Haramain tidak jauh berbeda dengan pondok pesantren yang lain dalam hal mengkaji kitab-kitab karangan ulama salaf seperti Riyadhus Shalihin, Safinatun Najah, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Sulamut Taufik, Ta’limul Muta’allim dan lain sebagainya. Sedangkan untuk pendidikan formal, pondok ini menerapkan kurikulum Depag.
Pada jam tiga pagi para santri sudah wajib bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud. Sembari menunggu datangnya waktu Subuh, setiap santri diwajibkan untuk menyetor hafalan mereka kepada asatidzah. Setelah selesai shalat Subuh dan pembacaan wirid, santri mengikuti pengajian rutin yang dibina langsung oleh Mudirul Ma’had KH. Zainal Abidin Imron.
Pagi jam 07.00 sampai jam 08.00, setiap santri yang mengikuti kelas formal diwajibkan untuk shalat Dhuha berjamaah serta Ta’lim Diniyah. Kemudian pada jam 08.00 hingga jam satu siang para santri belajar di kelas formal. Setelah itu, para santri melaksanakan shalat Dhuhur berjama’ah di Mushalla bersama para pengajar. Selanjutnya para santri beristirahat dan ketika waktu shalat Ashar tiba mereka shalat berjama’ah dan mengikuti pengajian rutin kitab kuning. Setelah shalat Maghrib, santri membaca Al-Qur’an di Mushalla sampai tiba waktu Isya’, kemudian para santri bergegas menuju kelasnya masing-masing guna menerima ilmu agama di Madrasah Diniyah hingga jam setengah sepuluh malam.
Di samping kegiatan harian, Pondok Pesantren al-Haramain menerapkan kegiatan mingguan seperti kegiatan latihan muhadharah setiap malam Selasa, pembacaaan burdah atau simtud dhurar setiap malam Jumat dan pembacaan surah Yasin, Waqi’ah dan Al-Mulk setiap Jumat pagi.
Pondok Pesantren al-Haramain mengadakan ikhtibar dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Maulid dan Sya’ban. Sedangkan pelaksanaan ujian sekolah formal mengikuti sistem yang sudah diterapkan oleh pemerintah. Pada tanggal 15 Ramadhon, para santri diperbolehkan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing untuk menikmati liburan tahunan.
Untuk saat ini, Mudirul ma’had mengharapkan agar para santri beliau mengerti dasar hukum Islam dan mampu membaca serta memahami Al-Qur’an dan kitab-kitab salaf sebagai bekal dakwah di tempat tinggal mereka dikarenakan beliau mengerti, di saat pertama kali beliau memasuki daerah tersebut tidak satupun dari mereka yang mengerti tentang ilmu agama.



0 komentar:

Post a Comment