Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 16, 2014

Pesta Demokrasi; Cerminan Bangsa Indonesia


Indonesia dengan kekayaan kebudayaan dan sumber daya alamnya memiliki perjalanan perkembangan yang tidak mudah, proses dan perjuangan membutuhkan support dari pelbagai oknum. Tanah Air sudah merdeka, namun noda penjajahan masih membekas di wajah bumi pertiwi.
Jika beberapa tahun silam Belanda, Jepang dan Portugis menjajah Indonesia dengan terang-terangan, kini bangsa dijajah oleh negara asing dengan sangat halus. Para pejuang, masyarakat dan ulama yang dulunya nyata memerangi musuh dengan bambu runcing, kini semua elemen bingung harus memerangi dengan apa dan memerangi siapa, karena pada dasarnya penjajahan yang kita alami saat ini benar-benar abstrak.
Pendidikan, kebudayaan, politik dan ekonomi di Indonesia sudah tidak seimbang, kekacauan terjadi di semua aspek kenegaraan. Akhir-akhir ini sudah bisa dinetralisir meski tidak semudah membalikkan telapak tangan. Indonesia membutuhkan pemimpin kuat, hebat dan cerdas.
Pemilihan Umum sebagai sarana pesta demokrasi memilih pemimpin perwakilan rakyat seharusnya bisa menjadi ajang yang berperan penting dalam membangkitkan Indonesia. Ironisnya, pemilu di Indonesia terlalu rumit, terbukti pada tahun 2004 Indonesia melaksanakan pemilu paling rumit dalam rancah sejarah Indonesia, Komisi Pemilihan Umum makin menyederhanakan sistem pemilu yang akan datang merupakan sebuah sikap cerdas.
Belakangan ini, masyarakat mungkin sudah jenuh dengan sistem pemilu atau karena krisis kepercayaan sehingga berdampak dengan meningkatnya jumlah penduduk yang golput dan tidak berpartisipasi dalam pemilu. Pada pemilu 2009 sendiri jumlah golput sebesar 29,0059%. Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, memprediksi, jumlah masyarakat yang nantinya tidak akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu 2014 akan naik. Jika dengan berbagai alasan masyarakat memilih golput, siapa yang patut disalahkan?
Selain fenomena minimnya masyarakat yang antusias perhatian dengan pemilu, banyak lagi permasalahan yang mewarnai pemilu di Indonesia, mulai dari kecurang beserta gosipnya sampai terjadinya terror di mana-mana. Menjelang pemilu 2009 tercatat imparsial sepanjang tahun 2008 konflik tidak hanya terjadi pada daerah rawan konflik seperti Ambon, Poso dan Aceh. Selain itu ada 54 tindak kekerasan di lampung, 125 jawa barat, 66 di Sumut dan 42 tindak kekerasan di Kalimantan Timur yang semuanya kasus ini disebabkan oleh otonomi khusus yang terjadi pada Pilkada.
Indonesia harus bercermin dengan sejarah, semua elemen yang ada harus lebih cermat menghadapi pesta demokrasi yang akan kita hadapi tahun 2014 ini. Jangan sampai terjadi kembali peristiwa ledakan bom 2009 silam, dua bom berukuran 30 kg meledak di Hotel JW.Marriot dan Ritz Carlton ketika penghitungan suara dilaksanakan. Untungnya satu bom aktif lagi berhasil dijinakkan oleh tim Densus 88 di kamar 1808. Dampaknya pemerinta terlalu gegabah dalam menyikapi situasi seperti ini sehingga sempat menyebabkan proses pemilu presiden tidak stabil.
Fakta unik, berdasarkan analisis dan penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfarabi, Oktober 2005 BBM naik, namun mengapa penurunan harga BBM hanya terjadi ketika menjelang pemilu 2009? Tidak tanggung-tanggung, harga BBM diturunkan dua kali yaitu pada Desember 2008 dan Januari 2009.
Penurunan BBM ini satu paket dengan program BLT yang kini berubah nama dengan BLSM dan dengan kemasan lain berbentuk Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Beras Untuk Rakyat Miskin (Raskin) dan Jaminan Persalinan (Jampersal). Benar, beberapa program memang menunjang kesejahteraan masyarakat, meski hal tersebut masih menyisakan beberapa masalah di lapangan. Kali ini kenaikan BBM dan BLSM menurut para pakar politik masih dalam ruang lingkup desain politik.  
Warna-warni Indonesia menjelang pemilu 2014 kali ini harus benar-benar diteliti, sudah seharusnya pakar politik mengkaji grilia politik di Indoneseia serta bertindak secara cermat menanggapi gerakan politik yang tidak sehat. KPK harus lebih aktif lagi menyelesaikan dan mengamati kasus-kasus penting yang merugikan Negara. Aparat bersinergi kembali mensterilkan Indonesia dari berbagai macam ancaman sehingga pemilu 2014 dapat berlangsung sukses. KPU yang notabenenya sebagai penyelenggara pemilu harus lebih berhati-hati lagi dalam menyelenggarakan pemilu 2014 ini, semua instansi dan golongan harus berbondong-bondong mencermati,
Masyarakat seharusnya diberi arahan dan pentingnya pemilu 2014 yang akan datang, karena pemilulah yang menentukan pemimpin Indonesia, baik legislatif maupun presiden, masadepan Indonesia berada di tangan pemimpin yang dipilih oleh rakyat, artinya masadepan Indonesia berada di tangan masyarakat.
Pemimpin yang dibutuhkan Indonesia ialah yang mampu menetralkan politik di negri ini, berangkat dari penetralan politik, segala aspek kepemerintahan, perekonomian, pendidikan, sosial, budaya dan sebagainya dapat dikondisikan kemudian diperbaiki  demi kemajuan Indonesia dan kesejahteraan masyarakat, meski tidak semudah itu, semoga pemimpin yang terpilih mampu menghadapi semua itu.     
Sudah terlalu banyak PR bagi bangsa kita, mulai dari kemiskinan, pendidikan, korupsi, money politik, keamanan, kesehatan, sosial dan sebagainya. Sebagai warga Negara yang baik, mari kita bangun Negara tercinta ini dengan berbagai cara yang kita mampu, setidaknya ikut serta datang ke TPS untuk menyalurkan kata hati tentu dengan memilih pemimpin secara selektif dan rasional.   
           








0 komentar:

Post a Comment