Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 16, 2014

Pemilu 2014, Masa Depan Indonesia Berada Di Tangan Rakyat


Bagaimana tanggapan anda tentang fenomena Golput dalam masyarakat? Apakah hal tersebut mengindikasikan adanya krisis kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemilu?
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi adanya Golput. Misalnya saja karena krisis kepercayaan lantaran trauma dengan pemimpin yang ingkar janji. Selain itu media ikut berperan dalam membentuk opini publik terhadap perpolitikan negera kita. Pemberitaan media yang hanya menyoroti sisi buruk daripada sisi baik kinerja perpolitikan, semakin menurunkan animo (hasrat) masyarakat untuk menyalurkan suara mereka dalam pemilu. Kita tidak bisa menyalahkan penyelenggara pemilu (KPU) secara sepihak angka kepercayaan publik terhadap. terhadap buruknyaSecara tidak langsung KPU masih dianggap masih kredibel berdasarkan riset Mahkamah Konstitusi, masyarakat masih mempercayai kinerja KPU, dibuktikan dengan dikabulkan  gugatan oleh mahkamah konstitusi dengan bentuk pemungutan suara ulang hal ini mecerminkan senyatanya bahwa KPU itu bersih.
Pelimu terbaik adalah tahun 1955 dan 1999, dibandingkan  zaman suharto masyarakat seperti pendemobilisasian sistem pemilu, mereka tidak bisa memilih dengan bebas, adapun sekarang sudah menggunakan pemilu yang  luber dan jurdil
Meskipun presentase peminat pemilu terus menurun dari tahun ke tahun, tahun 2004 sebesar 80,..%, 2009 71%, maka menurut logika turun 10% maka pada tahun 2014 akan sebesar 60%,
Sebenarnya kebanyakan mereka yang  menggugat adalah yang kalah dalam pemilu. Lagipula masyarakat bisa langsung melaporkan apabila ditemukanya kecurangan dalam pemilu tersebut,dugaan pelanggaran sistemik, penggelembungan suara, n money politic
Adanya kekecewaan, Australia pemilihan kewajiban, salinan hasil suara, verifikasi pengadilan tata usaha negara
 kenapa kita tidak memakai cara pemilu seperti di negara lain untuk meminimalisir golput?
semua negara itu sebenarnya sama saja, bahkan lebih parah dari kita, pemilih mereka lebih sedikit dari kita, system disana menggunakan system pendaftaran aktif, Indonesia menggunakan state campuran, yaitu KPU aktif dan juga masyarakat aktif, tapi kekeliruan negara kita adalah selalu memberitakan hal-hal yang buruk tentang politik, sehingga animo masyarakat untuk melangkah ke TPS menurun

Apakah pemilu kita itu bisa dibilang transparan di lihat dari banyaknya penggelembungan suara yang terjadi?
ya, pemilu kita sudah sangat transparan, adapun isu penggelembungan suara itu hanya ungkapan dari mereka yang kalah dan mengatakan bahwa lawanya melakukan pelanggaran secara sistemik, padahal dulunya mereka sudah mengatakan siap kalah dan siap menang, ternyata tidak ada orang yang siap kalah, dan ketika kekalahan menimpa, mereka akan mengatakan bahwa mereka dicurangi. Sedangkan KPU sendiri tidak mungkin berani main-main karena banyak yang mengawasi dan lagipula hukumanya sangat berat.
Sebenarnya penyakit pemilu sekarang adalah money politik yang dilakukan oleh partai dengan membeli suara rakyat yang memiliki ekonomi dan pendidikan yang rendah, zaman dahulu parpol menggunakan kharisma ulama sebagai votegeter untuk penarik suara, tetapi  sekarang kalah dengan money politik karena terjadinya dekredasi kharisma ulama, sekarang masyarakat lebih memilih yang untungnya lebih kelihatan. seharusnya masyarakat menggunakan rasional choice dengan melihat program-program yang ditawarkan oleh partai politik
Apakah dari KPU ada aksi untuk memerangi money politik ?
Iya, kami mengedepankan pendidikan politik pada masyarakat agar mereka tahu bahwa memberi suap atau menerima suap itu  termasuk pelanggaran etika dan pidana ,itu juga bisa merugikan partai yang dicalonkan karena partai tersebut akan dicoret atau dihapus dari daftar pilihan,kami juga berkerja sama dengan para ulama, tokoh masyarakat organisasi wanita kaum marjinal dan cacat tentang sosialisasi ini intinya kami ingin  masyarakat memilih pemimpinya dengan benar

Misalkan kecurangan ini terbukti dari tangan KPU, apa hukuman yang akan diterima bagi penyelenggara ?
Setiap anggota KPU yang melakukan kecurangan akan diberhentikan dan dipenjara diatas 5 tahun sebenarnya bukan cuma KPU tetapi semua pejabat negara ketika ditemukan melakukan kecurangan maka hukuman ini akan berlaku juga bagi mereka, seperti penyuapan pemberian gratifikasi, itu juga dianggap korupsi, akan tetapi di indonesia masih banyak pejabat yang menerima hadiah tetapi tidak terusut.  Saya pernah bertanya pada KPK mengapa semua kasus tersebut tidak diusut, jawabnya, kalau semua diusut maka bangku pemerintah akan kosong semuanya akan mendapatkan hukuman. KPK Cuma melakukan shock teraphy saja kepada mereka yang sudah keterlaluan dengan menghukum salah satu dari mereka supaya memberi efek jerah kepada yang lain.

Apakah aka ada wacana pembatasan parpol peserta pemilu ?
Iya memang benar,jadi memang pemikiran bahwa era multi partai itu akan semakin meningkatkan kualitas demokrasi sebagai antithesis atau tesis tandingan dari pemikiran politik orde baru, namun pada kenyataannya banyaknya partai malah menyulitkan jalanya pemerintahan, akhirnya KPU akan terus menyedikitkan partai dengan cara memberikan syarat yang berat bagi peserta parpol, semakin sedikit jumlah partainya maka semakin mudah pengaturannya, memang partai politik itu di mata                                                                           masyarakat adalah suatu yang menjengkelkan, tapi zaman sekarang kita sangat butuh, sebab kita sudah tidak bisa lagi mengumpulkan masyarakat di lapangan untuk memilih seorang pemimpin.

Apa masukan bapak kepada masyarakat untuk menghadapi pemilu 2014 mendatang dan bagaimana cara cermat untuk selektif?

Pemilih harus mengetahui kualitas calon, bukan hanya calon yang popular, yang sekiranya dia bisa memimpin kita ke arah yang lebih baik,  juga masyarakat harus mencari tahu tentang kepribadian pemimpin dan sejarah hidupnya yang akan dipilih dengan fasilitas yang ada seperti Koran majalah internet atau tanyak kepada orang-orang tentang pemimpin yang layak untuk dipilih agar mereka tidak salah memilih pemimpin.
Sebenarnya mencoblos itu adalah keperluan masyarakat sendiri, karena orang yang mengerti tapi tidak memilih itu dosanya dan kejahatannya  lebih besar dari pelaku kejahatan itu sendiri,  sebab mereka tau seorang pemimpin yang cocok untuk menjadi pemimpin dan mereka bisa mengubah kejahatan itu sendiri dengan mencoblos calon yang benar, ironisnya sekarang yang antusias untuk memilih adalah orang bodoh dengan pilihannya yang salah.
Dan pilihan golput itu tidak bisa mengubah apa-apa,kecuali dengan golput dihitung  lebih besar sehingga membuat colon yang tidak di inginkan kalah  malahan menurut saya mereka sama dengan membiarkan kejahatan-kejahatan yang terjad di negeri kita, menurut saya mereka dosa secara sosial. Padahal KPU sudah mempersilahkan mereka untuk memilih, bahkan boleh memilih hanya dengan membawa KTP.
Pemimpin yang dibutuhkan Indonesia pada pemilu mendatang seperti apa
            Pemimpin yang bisa membasmi korupsi,menekan angka pengangguran,bisa mensuport petani sehingga biaya dengan produksi lebih tinggi dari modal sebelumnya,  bisa menyemangati nelayan,bisa menjamin keamanan,memberikan bantuan keuangan,beasiswa ,memberikan kebebasan untuk beribadah,agar kita bisa beribadah bekerja dan berkarya dengan bebas, memberikan rasa aman bagi masyarakat. Disamping itu memang masyarakat harus tau bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna

Apa pesan bapak bagi calon peserta pemilu mendatang?
Mengetahui ilmu kemasyarakatan dan ilmu pemerintahan. Harus memahami masyarakatnya dan pintar berorganisasi, dan sebaiknya sudah berpenghasilan besar karena pengabdian ke masyarakat itu bukan untuk mencari kerja, di pemerintahan hanya ingin mengabdikan diri untuk masyarakat sepenuhnya. Bukan orang yang tidak tau apa-apa dan tidak punya apa-apa, karena mengabdi untuk masyarakat itu pendapatannya tidak besar. Intinya politisi itu pengabdian, yang awalnya bisa membantu masyarakat dengan kemampuan terbatas setelah duduk di bangku politik maka bisa membantu masyarakat dengan ukuran besar


0 komentar:

Post a Comment