Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 16, 2014

Pemikul Beban Berat Yang Istimewa


عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ ، عَنْ عَطِيَّةَ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ ، وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ، وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ."(رواه الترميذي)
Dari Fudhail bin Marzuq, dari ‘Athiyyah, dari sahabat Abu Sa'id berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah I pada hari kiamat dan paling dekat tempat duduk dengan-Nya adalah pemimpin yang adil, dan sesungguhnya orang yang paling dimurkai Allah Swt. dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang menyimpang(dari kebenaran).”(H.R.at-Turmudzi)

Hadits di atas dihukumi dha’if karena salah satu perawinya lemah yaitu Athiyyah. Tetapi memiliki syahid[1] yang dicatat oleh al-Bushiri dalam kitab Ithaaf al-Khiirah (3576) dan Abu Na’im al-Ashbahaani dalam kitab Akhbar Ashbahan (1728).
Hadits yang serupa diriwayatkan oleh Abu Na’im al-Ashbahaani menyatakan: “Dari ‘Abdurrahman bin Talhah bin Muhammad, dari Abu Usaid Ahmad bin Muhammad, dari al-Hasan bin ‘Ali bin ‘Affan Fudhail bin Marzuq, dari ‘Adiy bin Tsabit, dari sahabat Barra’ bin ‘Aazib berkata, Rasulullah r bersabda: “Sungguh, dari jeleknya manusia di sisi Allah I dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang menyimpang(dari kebenaran) dan sungguh, orang yang paling dicintai Allah I pada hari kiamat dan paling dekat tempat duduk dengan-Nya adalah pemimpin yang adil.” juga dihukumi sebagai hadits dha’if. Dengan adanya hadits ini, hadits riwayat at-Turmudzi naik derajatnya menjadi hadits hasan.

Profil singkat para perawi hadits

Abu Abdirrahman Fudhail bin Marzuq shaduuq, bertempat tinggal di Kuffah, meriwayatkan dari Sulaiman al-A’masy, Muhammad bin Sa’id, Harun bin ‘Antarah dan lainya, mengambil riwayat darinya Hasan bin ‘Athiyyah, Husein bin ‘Ali al-Ju’fi dan lainnya. Wafat pada tahun 160 H.
Abul hasan ‘Athiyyah bin Sa’ad al-‘Aufi dha’if, bertempat tinggal di Kuffah, meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, ‘Abdullah bin ‘Abbas dan lainnya, mengambil riwayat darinya Idriis bin Yazid, Hajjaj bin Arthah dan lainnya. Wafat pada tahun 111 H.
Abu Sa’iid Sa’ad bin Malik al-Khudri atau Sa’ad bin Malik sin Sinan bin ‘Ubaid al-Anshari adalah salah seorang sahabat yang telah mengikuti Rasulullah r.dalam dua belas peperangan. Wafat pada tahun 93 H di usia 74 tahun di kota Madinah.
Penjelasan Hadits
Kesejahteraan rakyat bergantung kepada pemimpin mereka. Apabila pemimpinnya baik maka baik pula rakyatnya. Namun, apabila pemimpinnya buruk maka buruk pula rakyatnya, sebagaimana ketergantungan anggota tubuh seseorang kepada baik dan buruk hatinya.
            Adil merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Adil bukan hanya berarti samarata, tetapi adil adalah memberikan hak kepada yang berhak menerimanya tanpa melebihi maupun mengurangi, baik itu berbagi dengan teman atau lawan, kerabat atau orang lain.
            Imam adalah seseorang yang diberi kepercayaan, baik itu sebagai ketua ataupun selainnya. Sedangkan ‘adl merupakan lawankata jaur yang berarti menyimpang. al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany menuturkan bahwasannya kata imaamun ‘aadilun mencakup setiap orang mengikuti perintah Allah I dengan meletakan sesuatu pada tempatnya tanpa over maupun sembrono.
            Para pemimpin yang adil memiliki banyak keistimewaan. Salah satu dari keistimewaan tersebut adalah dekatnya tempat duduk mereka di sisi Allah I . Sehingga tak ada lagi keistimewaan yang melebihi kecintaan Allah Y sebagai Al-Khalik kepada hamba-Nya.
            Pemimpin yang adil juga termasuk dalam golongan orang-orang yang dinaungi Allah I saat mendekatnya matahari kepada manusia di padang mahsyar. Rasulullah r bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ : الْإِمَامُ الْعَادِلُ(رواه البخاري)
“Ada tujuh golongan yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil.”(H.R. Bukhari)
           
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany memaparkan alasan mengapa penyebutan pemimpin yang adil didahulukan dalam redaksi hadits tersebut, tak lain adalah untuk menunjukan betapa besarnya pengaruh seorang pemimpin terhadap apa yang diurusnya.
            Tidak hanya di hari kiamat, seorang pemimpin yang adil telah diberi keistimewaan semenjak hidup di dunia dengan dikabulkannya doa mereka, Rasulullah r bersabda:
ثَلاثٌ لا يُرَدُّ لَهُمْ دَعْوَةٌ : الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ، وَإِمَامٌ عَادِلٌ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ(رواه إسحاق بن راهويه)
Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak: orang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, doanya orang yang dizhalimi.”(H.R.Ishaq)

Telah jelas kiranya, mengapa pemimpin adil mendapat beragam keistimewaan tersebut. Bagaimana tidak, mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah I untuk mengemban amanah yang sangat berat yaitu menjadi wakil Allah U dalam mengurusi manusia di bumi. Allah mewakilkan harta serta darah manusia di keduatangan pemimpin seraya berkata: Berikan dan bagikanlah dengan adil dan jangan meyimpang, lalu ia memberi, membagi, serta menghukumi dengan adil.

Salah seorang tabi’ tabi’in yaitu Sayyidina Umar bin Abdul ‘aziz y yang juga termasuk imam umat Islam pada saat itu, telah mempraktekkan sikap amanah ini. Dikisahkan saat putri beliau kehilangan antingnya dan meminta ganti kepada Sayyidina Umar dari harta muslimin, seketika itu juga Sayyidina Umar y memberikan bara api kepadanya dan berkata: “Andai saja engkau bisa meletakkan ini di telingamu maka aku akan memberikanmu anting yang baru”, maka menangislah putri Sayyidina Umar dan mengurungkan permintaannya. Dari cuplikan kisah itu, kita bisa mengetahui bahwasannya pemimpin adil merupakan jabatan yang tinggi dan hanya sedikit orang yang mampu melaksanakannya dan inilah yang dimaksud syariat dengan pemimpin yang adil.
            Begitu pula dengan hakim yang adil, mereka mendapat kabar gembira berupa surga. Sebagaimana redaksi dari Rasulullah r:
وَقَاضٍ قَضَى بِالْحَقِّ فَذَلِكَ فِي الْجَنَّةِ (رواه الترمذي)
Dan seorang hakim yang telah membuat keputusan dengan benar, maka hakim ini di surga.”(H.R.Turmudhi)
Bukan hanya pemimpin atau hakim yang berlaku adil yang mendapat keistimewaan, tetapi bagi setiap orang yang berlaku adil juga mendapat keistimewaan. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah r:
إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا (رواه مسلم)
            “Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah Swt. Di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman 'azza wajalla, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga dan adil dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka.”(H.R. Muslim)
            Mereka juga memperoleh keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Rasulullah r bersabda:
ثَلاَثٌ مُنْجِيَاتٌ: خَشْيةُ الله فِى السِّرِّ وَالْعَلاَنِيَةِ، وَالْعَدْلُ فِى الرِّضَى وَالْغَضَبِ، وَالْقَصْدُ فِى الْفَقْرِ وَالْغِنَى(رواه الطبراني)
“Ada tiga perkara yang dapat menyelamatkan: takut kepada Allah, baik pada waktu sembunyi (sepi) maupun terang-terangan, berlaku adil baik pada waktu rela maupun marah dan hidup sederhana baik waktu miskin maupun kaya.” (H.R.Thabrani)
            Tapi sebaliknya, bagi pemimpin yang tidak berlaku adil, mereka merupakan orang yang paling dibenci Allah U (sebagaimana hadits yang telah disebutkan di awal pembahasan) dan mereka disiksa dengan siksaan yang paling untuk para penghuni neraka. Rasulullah r bersabda:
أَشَدَّ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِمَامٌ جَائِرٌ(رواه الطبراني) إِنَّ
            “Sesungguhnya paling beratnya siksaan bagi penghuni neraka adalah pemimpin yang menyimpang(dari kebenaran).”(H.R.Thabrani)
Semoga Allah I memberi kita pertolongan agar terhindar dari semua sifat jahat dan memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang berlaku adil, golongan orang-orang yang paling dekat dan paling dicintai Allah I. Muhammad Syamsur Rijal




[1] Syahid merupakan sebuah redaksi hadits yang didatangkan untuk memperkuat hadits lain.

0 komentar:

Post a Comment