Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 16, 2014

Malik Bin Dinar, Sufi Populer Mantan Ahli Maksiat


                Pada era tabiin, saat ketenaran islam mendominasi dunia. Banyak ulama dan tokoh sufi dilahirkan, salah satu tokoh sufi yang agung dan populer adalah Malik bin Dinar Al-Basri An-Naji. Abu Yahya Malik bin Dinar berguru kepada beberapa ulama tersohor di masanya seperti Imam Malik bin Anas pelopor madzhab Maliki, Imam Hasan Basri sayyiduttabi’in, Muhamad bin Sirin, Qosim bin Muhammad, Salim bin Abdullah, Said bin Zubair dan para ulama lainnya. Di samping itu banyak juga yang menimba ilmu darinya, termasuk adik beliau sendiri  Utsman bin Dinar. Imam Nawawi menggolongkan Malik bin Dinar sebagai perawi yang tsiqah (riwayat hadist darinya dapat diterima). Beliau meninggal pada tahun 129 H di kota Basrah.
Fatimah, Aset berharga Malik bin Dinar
                Masa muda Malik bin Dinar selalu diisi dengan berbagai dosa, hari-harinya tak lepas dari maksiat seperti mabuk-mabukan, berbuat onar, memakan riba dan hak orang lain, hampir tidak ada satu maksiatpun yang belum dilakukannya. Ia sangat jahat hingga orang lain takut padanya.
Suatu waktu Malik bin Dinar berhasrat untuk menikah dan memiliki keluarga, ia pun menikah lalu dianugrahi seorang putri cantik bernama Fatimah. Beliau sangat mencintai putrinya, Suatu ketika Fatimah melihat ayahnya sedang mabuk dan memegang segelas minuman keras. Fatimah tidak tega melihat ayahnya bermaksiat, maka ia mendekat dan menyingkirkan gelas itu hingga tumpah mengenai baju ayahnya. Saat itu Fatimah belum genap dua tahun dan ia meninggal pada umur tiga tahun.
Kini Malik bin Dinar semakin terpukul setelah kehilangan anak yang dicintainya hingga dia selalu mabuk sepanjang malam. Dia bertekad akan mabuk sepuasnya hingga tak sadarkan diri kemudian ia bermimpi melihat kiamat.
                Matahari  gelap, lautan  berubah menjadi api dan bumi berguncang. Manusia berkumpul pada hari itu. Mereka dalam keadaan berkelompok. Sementara dia merasa  berada di antara mereka, kemudian ia mendengar suara memanggil seseorang: Hai…! Mari menghadap Al-Jabbar (Allah). Malik bin Dinar melihat orang yang dipanggilnya dan Orang itu berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.
Hilanglah seluruh manusia seakan-akan tidak ada seorangpun di padang mahsyar. Kemudian Malik bin Dinar melihat seekor ular besar yang ganas dan kuat  mengejarnya dengan membuka mulut. Beliau lari ketakutan dan mendekati orang tua yang lemah, beliau berkata “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Orang tua Itu menjawab “Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah ke sana mudah-mudahan engkau selamat!”
Malik bin Dinar berlari ke arah yang ditunjukkan, sementara ular tersebut berada di belakangnya. Tiba-tiba ia mendapati api di hadapannya. “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” pikirnya, maka ia kembali dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Beliau kembali kepada orang tua yang lemah tadi dan berkata “Demi Allah, engkau harus menolong dan menyelamatkanku”. Orang tua itu menangis dan berkata “Aku lemah sebagaimana yang kau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatu, akan tetapi larilah ke gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat! ”.
Kemudian Malik bin Dinar berlari menuju gunung tersebut sementara ular di belakangnya terus mengejarnya. Kemudian dia melihat di atas gunung, di sana terdapat banyak anak kecil. Ia mendengar semua anak tersebut berteriak “ Wahai Fatimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu !”
Malik bin Dinar sangat bahagia begitu mengetahui bahwa ia memiliki seorang putri yang telah meninggal pada usia tiga tahun akan menyelamatkannya. Maka Fatimah memegang ayahnya yang ketakutan dengan tangan kanan dan mengusir ular dengan tangan kiri. Lalu Fatimah kecil duduk di pangkuan sang ayah sebagaimana dulu ketika dia hidup di dunia.
Fatimah berkata : Wahai Ayah, Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah” (QS. Al-Hadid:16).
“Engkau mengenal Al-Qur’an?” Tanya Malik bin Dinar penuh heran karena putrinya meninggal saat kecil.
“Kami lebih mengenalnya dari pada kalian” jawab Fatimah penuh misteri
“Wahai putriku, sebenarnya ular apa tadi?” Tanya Malik bin Dinar.
Fatimah menjawab “ Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal di dunia akan diserupakan dengan sosok yang sesuai dengannya pada hari kiamat?. Ular Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. sedangkan orang tua yang lemah tersebut adalah amal salehmu, engkau telah melemahkannya hingga dia tidak bisa berbuat apapun kemudian menangis karena kondisimu. Seandainya saja engkau tidak melahirkanku dan aku tidak mati saat masih kecil, maka tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.”
Setelah itu Malik bin Dinar terbangun dari tidurnya dan berteriak: “Wahai Allah, sudah saatnya aku bertaubat, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”. Kemudian ia ingin segera bertaubat dan kembali ke jalan Allah maka ia mandi dan ke luar untuk sholat subuh. Sepanjang malam Malik bin Dinar selalu menangis dan berdoa “Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat yang Mengetahui penghuni surga dan penghuni neraka, maka di mana aku akan tinggal? Ya Allah, jadikanlah aku sebagai penghuni surga dan jangan jadikan diriku penghuni neraka”.
Dan Malaikatpun mengujinya…
                Setelah Malik bin Dinar bertaubat, ia mulai memasuki dunia tasawuf dengan arahan dari guru-gurunya dan menjadi tokoh sufi yang populer. ia beralih profesi menjadi tukang tulis mushaf dengan bayaran dua dirham perharinya. satu dirham ia belikan tepung dan satunya lagi ia belikan kertas.
                Malik bin Dinar menghiasi dirinya dengan berbagai mujahadah dan akhlak terpuji,  di antara mujahadahnya adalah tidak makan daging dalam setahun kecuali saat idul adha dengan hewan korbannya sendiri. Sebagian akhlak terpujinya lagi adalah kedermawanan dan lebih mementingkan  orang lain dari pada dirinya sendiri walaupun dirinya dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Disebutkan dalam kitab “Tanbiih al-Mughtarriin” dalam bab Mahabbah Al-Maal li Al-Infaaq laa li Al-Imsaak bahwasannya Allah mengujinya dengan memerintahkan seorang malaikat yang menyamar sebagai pengemis meminta-minta pada Malik bin Dinar, maka ia memberinya roti, tapi si pengemis malah meminta tambahan.
 Malik bin Dinar memberi apa yg dimintanya dan begitu seterusnya hingga Malik bin Dinar mengeluarkan seluruh hartanya termasuk wadah air dan kudanya, tapi si pengemis tak kunjung pergi dan masih meminta tambahan, maka Malik bin Dinar berkata “Demi Allah wahai saudaraku, tak ada lagi yang tersisa dariku selain kau ambil diriku dan kau jual aku”. Kemudian pengemis itu pergi tanpa membawa apapun.


0 komentar:

Post a Comment