Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, February 16, 2014

Bidadari Al-Qur’an Yang Hilang


Tak merah juga tak putih, namun abu-abu jika kukatakan cintaku padamu. Merah bah mawar yang merekah, tapi itu salah, sebab cinta yang merah berarti menuntut balasan dari yang dicinta, sedangkan aku malu untuk itu. Siapa diriku dan siapa dirimu.
Jika akan kusebut cinta ini putih, suci, murni bah melati. Itu bohong belaka, sebab putih itu tulus. Mengharap yang dicinta bahagia meski bukan denganku. Sedangkan aku tak bisa seperti itu. Aku masih dirulung ragu atas warna cintaku padamu, merah ataukah putih? Hari ini jawabannya….
 Dua bulan yang lalu, saat kemacetan menyumbat deras arus kendaraan, kukendarai motor dengan emosi menyala. Rasa sakit yang meraung dan meliliti lorong usus, membuatku tak mampu berkompromi dengan kendaraan yang berjejal berebut ingin mendahuluiku.
Tin…Tin…Tin!! beberapa jerit kendaraan tatkala terik matahari terus memancarkan panasnya secara konduksi, merambah hingga membakar kemeja di tubuh. Panas dan peluh keringat mengucur dari kening, berhenti di dagu lalu menetes membasahi lengan.
 Tin… Tin…Tin! “Hey mbak!!, bentakku pada gadis berjilbab dengan warna biru lembut saat berusaha melintasi motorku, mencoba untuk mencari celah, sepertinya ia ingin menyebrang jalan.
 Gugup bercampur terkejut ia berucap, “maaf..maaf..” Tapi aku hanya mendengus kesal.
Sementara rentet kemacetan tak kunjung selesai, dalam diam aku menunggu, ujung mataku menangkap bayangan sang gadis, ternyata ia mencoba menyibak jalan, bukan untuk menyebrang. Ia menjongkok, mengambil bungkusan plastik putih hitam yang tergeletak persis disamping roda Honda jazz merah metalik.
Kemudian ia berjalan ke arahku, melewatiku dan… “ini yang ibu cari?” tanyanya kepada wanita paruh baya yang tampak diliputi cemas di wajahnya. “iya nduk….matur nuwon ya…”sahut wanita itu.
 Aku tertegun, mungkin begitu juga dengan beberapa pasang mata yang telah mengumpatnya. Kami sama-sama takjub, dalam keadaan seperti ini masih ada yang mengenyampingkan dirinya untuk orang lain.
Ia bingkiskan senyum indah untuk wanita itu, kemudian dengan anggun ia kembali berlalu ke dalam angkot biru yang berada dua baris di belakangku. Padahal, jika ia mau, ia takkan memilih turun untuk menolong ibu itu. Entahlah.
###
Pertemuan itu, awalnya kurasa hanya sepintas angin lalu, sebelum akhirnya takdir mempertemukanku lagi dengannya. Saat aku berhenti di sebuah masjid untuk mendirikan shalat ashar sekaligus mengganjal perut sebelum lambung ini kembali bangkit meronta-ronta. Sebagai dokter, aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Alunan al-Qur’an terdengar sayup-sayup bersama hembus udara, dari satu halaqah ke halaqah lainnya. Di zaman seperti ini masih ada orang–orang lanjut usia yang ingin belajar membaca kalam ilahi, sebagai persiapan pertanggungjawaban di hari esok nanti. Lagi-lagi mataku merekam sosok gadis berjilbab itu, pelan menuntun para lansia agar mengikuti bacaannya.
Ku bertakbir, mengucap salam, namun suara itu lebih menguasai pikiranku dan membuyarkan kekhusukanku, hingga setelah doa kupanjatkan, aku kembali menoleh kearahnya yang berada di lantai dua, dibelakang sana.
“Siapa dia?”sontak kutanya kepada marbot masjid yang kebetulan lewat. “Aku sering singgah ke masjid ini namun tak pernah sekalipun kudapati gadis itu”.
 “Ustadzah Lien? setiap ahad sore mengajar disini” Aku mengangguk. ya, memang pada hari ahad aku tak pernah kemari.
 Sesuatu telah menyeretku untuk banyak berkabar tentangnya. Dia,  Lien. Namanya Yasmine namun entahlah, adiknya memanggil begitu. Ia anak sulung dari empat bersaudara yang tak lagi mendapati kedua orang tuanya. Rumahnya tak jauh dari persimpangan jalan tempat pertama kali kami bertemu. Ia gadis muda yang telah dituakan ditempatnya tinggal, tempat rujukan ibu-ibu sekitar untuk bertanya seputar hukum  Islam. Sebab akhlaknya pula, ia kerap dijadikan sebagai tolak ukur para orang tua terhadap putri-putrinya.
Tak banyak hal yang Yasmine bisa lakukan untuk ketiga adiknya, ia hanya gadis yang lebih banyak duduk di depan mesin jahit yang bertumpukan buku-buku tebal. Aku terdiam terpaku, membisu diantara rasa gaduh. Antara kekaguman pada makhluk istimewa bernama wanita dengan kenyataan siapa dia? siapa aku? Bagaimana dia? dan bagaiman aku?.
Hari ini hari ahad, sengaja aku tak pulang lebih awal sebab aku ingin shalat ashar kembali di masjid itu. Menengok pantulan cermin bidadari langit yang tak bisa kusentuh. Lama aku menunggu, sampai sosok itu keluar dari angkot biru dengan tergopoh-gopoh, hampir saja gamis panjangnya membuatnya terjatuh. Lima menit berselang, lantunan merdu itu kembali singgah dipendengaranku.
 “ia hafal?”tanyaku pada marbot yang lagi–lagi mengambil duduk di sebelah tempatku sholat.
 ”Tumben mas, hari ahad kesini…”godanya mecoba lari dari tanyaku.
 “Dia hafal ya?!”
 “Iya, iya mas….santai. Hafal 30 juz, sempurna, cantik, anggun pula, kurang apa?”
“kamunya….kurang kerjaan” timpalku bercanda lalu meneruskan doa yang tertunda
“Amin ya Robb, qobul, qobul….jodoh jodoh”
”Bisa berhenti menggoda?!”. Ucapku pada marbot.
 Empat minggu berlalu, Ahad menjadi hari yang sangat kunanti, untuk sekedar duduk ditempatku shalat ashar berjama’ah sampai menjelang maghrib tiba. Tendegar samar-samar untaian merdu dari pribadi yang menambatkan hatinya di rumah Tuhan Yang Pengasih.
“Aku tak puya keberanian lebih dari ini, yaa Rob!” Bisikku dalam hati. Meski sebagai manusia biasa, aku tak bisa mencintai dengan putih, tanpa mengharap balasan, namun sebagai manusia yang tahu diri aku juga tahu bagaimana denganku yang hanya memenuhi kewajiban padaMu. Hanya sebatas mendirikan shalat Lima waktu, kesunnahan? apalagi pengetahuan lebih dari itu. Aku benar-benar tak tahu, aku berbeda dengannya, sangat berbeda.
“Mas, nunggu apa? wong sampeyan yo ngganteng, mapan, dokter pula…”ujar marbot yang belakangan aku ketahui bernama Jaka.
 “Ini” kusentuh pelipis kiriku.
Aku tahu, gadis sepintar dan secerdas itu menuntut pendamping yang lebih darinya “Mas, memang ini penting,”Jaka menunjuk pelipisnya.
“Ini jauh lebih penting” kemudian ia menunjuk dadaku ”hati, mas”.
###
Aku tak lagi kuasa membendung perasaanku, terlebih gejolak kerinduhanku. Sudah tiga minggu aku tak lagi menangkap sosoknya di masjid ini. Setiap kali ku ingat dia, setiap kali itu juga aku ingat akan Yang Maha pencipta, Sang Pemilik syafaat, juga ingat akan dosa yang menumpuk dipundak. Tak cukupkah hal itu menjadi tanda bahwasanya ia gadis yang dicinta Tuhan dan Nabinya? sehingga sampai mengantarkan pengagumnya untuk lebih dekat denganNya hanya dengan mengingatnya…
 “Wes toh mas…ini alamatnya…” Jaka menyodorkan secarik kertas padaku “Datangi Mas..”
“Aku tak punya keberanian untuk itu”.
 “Sama aku wes…”. Ucap Jaka.
 “kamu mau?”
“Ya Allah mas, tenan iki…” Aku mengangguk,”baiklah…”
 Jl. Kenanga No. 22 kutarik napas dalam, ini kali ketiga kuayunkan tangan untuk mengetok pintu, namun selalu kuurungkan niatku. TOk tok tok…Jaka rupanya tak sabar melihat sikapku “Assalaamu’alaikum….?!!” Pintu dibuka, dua gadis usia belasan tahun diikuti anak laki-laki berseragam merah putih menyembul dari balik pintu
“Ya, cari siapa?”tanya gadis tertua yang kutaksir masih usia awal SMA
“Ustadzah Yasmine. Ada??” tanya Jaka
“oh, kak Lien” serentak ketiganya menyahut
“Iya, Lien…?”ucapku. Mungkin hanya aku yang dapat mendengar suaraku “Ada?”Tanya Jaka tak sabaran
“dokter Ahmad ya….”aku tertegun, lebih tepatnya terkejut, ketiganya menunjuk ke arahku, dari mana mereka tahu namaku. Aku menjongkok, menjajari anak lelaki yang tampaknya begitu antusias melihatku
“Kok bisa tahu?” tanya ku pada anak yang dari seragamnya kuketahui bernama Dihya.
 “Telat!”sahut gadis berpipi tembem.
“maksudnya?” Dihya menepis tanganku, lalu berlari kedalam. Sejurus kemudian ia keluar dengan secarik kertas kusut untuk kemudian disodorkan padaku. Aku berdiri, mengambil duduk dikursi kayu di teras rumah. Ku buka perlahan, menahan guritan penasaran yang mulai mencengkram denyut nadi.
 Aku bukan khodijah yang berani untuk menyuarakan cinta. Aku juga bukan Fatimah yang memiliki ayah tempat mencurakan segala keluh dan asa. Aku juga tak ingin menjadi Layla dan Lubna, yang bisa terpisah dari kekasihnya, Qays. Aku hanyalah aku, yang sempat menatap berkas cahaya sayup mata elok coklat itu dipersimpangan jalan. Awalnya ucapan kasarnya membuatku takut dan menganggapnya jahat, tapi tidak untuk kini.
Aku hanyalah aku yang kemudian tahu bahwa ia adalah satu dari segelintir penyelamat, berjas putih yang sangat dekat dengan pasien tak beruang. Yang menjadi tempat singgah dan tempat meminta bagi pengelana. Aku hanyalah aku, yang sempat melihatnya melilitkan tangan diperutya, menahan sakit sebab lambung yang tak lagi sehat, sementara ia terus menomorsatukan orang lain diatas hak dan kepentingannya.
Aku hanyalah aku, yang terpana dengan bagaimana ia menjaga sholatnya, khusuk menangis pelan dalam penghambaannya kepada Sang Kuasa. Aku hanya aku, yang merasa ia memilihku sebab dihari yang tak biasanya ia datang, ia berada di sana sebelum aku datang, sampai aku beranjak pulang. Aku hanyalah aku, yang terlalu percaya diri dengan menganggap ia merasakan apa yang aku rasakan. Aku hanyalah aku, yang menanti dan menunggu apa benar ia akan datang padaku.
 Sekali lagi, aku bukan Khodijah, yang berani menyatakan cinta pada Muhammad, wahai Ahmad Jika kau tahu akan itu. Aku hanyalah aku, yang ketika datang laki-laki lain, sementara aku butuh tempat untuk berlabuh, demi masa depan adik-adikku. Aku tak kuasa untuk mengeraskan suara yang kuteriakkan hanya dalam hati. Tapi, apakah kau akan datang kemari? apakah kau merasakan hal yang sama? Ataukah semua hanya kebetulan saja?. Kau berada disana dan kegeeranku, merasa kau telah memilihku….
Sekali lagi, aku bukan khadijah yang melamar Muhammad. Wahai Ahmad….. Aku hanyalah makhluk lemah bernama wanita. Yang pernah mengharap bahwa aku adalah potongan sulbimu, namun ternyata aku hanya menelan ludah keluh.
 Empat pasang mata menatap sorot mataku, nanar undangan perkawian dengan tanggal yang telah lewat tergeletak di atas meja. Aku menatap langit, mendung kelabu, mencoba mengadu kehancuran kalbu kepadaNya, Yang menciptakan segalanya. Cintaku tak bisa putih. Ada ruang yang terus mengangah dengan sayatan luka di sini, dihati. Cintaku juga bukan merah yang berusaha merebutnya dari tangan yang telah halal baginya. Cintaku abu-abu. Aku tak tahu apa maknanya itu. Allah,… jangan siksa hatiku… Dan kau Yasmine, aku hanyalah aku, yang awalnya menganggap kau takkan mau memilihku…..
Oleh : Nurul Laily Malang



0 komentar:

Post a Comment