Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, November 27, 2013

Salman Al Farisi PAHLAWAN PERANG KHANDAQ DARI PERSIA


Profil singkat Salman Al Farisi
Dialah Abu Abdullah atau yang lebih dikenal sebagai Salman Al Farisi, sosok sahabat Nabi saw dari Ishfahan, Persia.  Tinggal disebuah desa bernama Jiyyun dan dibesarkan dalam komunitas Majusi. Pada awal kisah hidupnya, dia seorang penganut Majusi yang taat, namun lambat tahun mulailah timbul keraguan atas agama yang dia anut selama ini. Salman pun berkelana mencari sebuah kebenaran hakiki yang selama ini belum dia temukan dengan melepaskan semua atribut keduniawian baik itu gelar kebangsawanan, harta, kedudukan, bahkan menjadi seorang tawanan dan budak selama bertahun-tahun. Pencarian itu pun usai dengan bersyahadat di depan Rasulullah saw. Salman tutup usia  di Mada'in, pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan ra.

Perang Khandaq
Perang Khandaq yang juga dikenal sebagai Perang Al-Ahzab.  Sebuah Perang Konspirasi kaum kafir Quraisy Makkah dan yahudi bani Nadir (al-ahzaab) untuk melawan kaum muslimin di Madinah. Terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi. Perang ini dilatar belakangi rasa dendam kaum yahudi atas kemenangan kaum muslimin. Sekelompok orang Yahudi Bani Nadhir dengan beberapa orang dari kabilah Arab Bani Wail pergi ke Makkah menemui kaum musyrikin Quraisy guna membentuk persengkongkolan tak suci diantara para pemimpin Quraisy supaya memerangi Rasulullah saw di Madinah. Setelah mempropokasi kaum musyrikin Quraisy, mereka mendatangi kabilah Gathafan dan kabilah-kabilah Arab di sekitar Makkah dengan misi yang sama. Kaum musyrikin Quraisy dan Yahudi bersepakat untuk mengirim pasukan ke Madinah sebanyak 10 ribu orang dengan perincian 4.000 orang tentara Quraisy yang panglima oleh Abu Sofyan sebagai pimpian tertinggi, 6.000 pasukan yang dihimpun dari kabilah Gathafan. Sebagai imbalannya,  kaum yahudi akan menyerahkan hasil perkebunan kurma di Khaibar selama satu tahun pada kabilah Gathafan.

Kontribusi seorang Salman
Jumlah pasukan yang sangat besar dengan kelengkapan persenjataan hasil persekutuan bani nadzir dengan beberapa kabilah kaum kafir quraish mampu mengintimidasi kaum muslimin ketika itu. Kaum Muslimin panik bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak terprediksi itu. Bagaimana tidak, kaum quraisy yang dikepalai Abu Sofyan berjumlah 4000 pasukan, yang terdiri dari 300 pasukan berkuda, 1000 penunggang unta dan sisanya prajurit dengan berbagai jenis persenjataan perang. Bani ghotfan dikepalai oleh 'Uyainah bin Hasn dengan 1000 pasukan berkuda, Bani murrah di bawahi oleh Harits bin Auf Al Mura dengan 400 pasukan. Bani asyja' dibawa pimpinan Abu Mas'ud bin Rokhilah, Bani salim dibawa komando Sofyan bin 'Abdu Syam dengan 700 pasukan bersama mereka. Bani Asad di kepalai oleh Tholaihah bin Khowailid Al Asadi. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:
Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab:l0)
Rasulullah saw sebagai panglima tertinggi segera merespon situasi tersebut dengan bermusyawarah bersama pasukannya untuk mengatur strategi yang tepat dalam menghadapi pasukan aliansi kafir Quraisy. Tampillah sosok berpostur jakung berambut tebal yang tak lain adalah Salman Al Farisi, konseptor ulung dalam taktik peperangan,penggagas sebuah rencana brilian untuk memblokade pergerakan kaum kafir quraisy dengan cara yang belum pernah diterapkan oleh orang-orang arab ketika itu..
Rasulullah saw menerima ide tersebut dengan gembira. Salman AlFarisi ra diberikan tanggungjawab sebagai perancang peta area yang akan digali sebagai parit pertahanan.  Atas kerjasama semua para Sahabat Nabi rancangan tersebut direalisasikan. Pada akhirnya melalui ide tersebut kota Madinah dapat diselamatkan dari kehancuran.

Realisasi penggalian parit
Penggalian parit di daerah terbuka yang mengelilingi kota Madinah dimulai, tak ketinggalan Rasulullah saw dan Salman ikut berpartisipasi dalam proses penggalian parit tersebut. Menurut Syauqi Abu Khalil dalam bukunya Atlas Hadits, dalam penggalian itu, kaum Muslimin berhasil menggali parit sepanjang 5.544 meter (5,5 KM lebih) dengan lebar 4,62 meter dengan kedalaman parit mencapai 3,234 meter. Penggalian itu membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Sementara itu, dalam Ensiklopedi Islam disebutkan, lama penggalian itu memakan tempo sekitar 6 hari. wallahu a'lam.
Ketika itu Kota Madinah mengalami musim dingin, ironisnya kaum Muslimin mengalami krisis makanan pokok yang sangat mengkhawatirkan  ketika itu, bahkan sampai tidak ada secuil bahan makanan untuk dikonsumsi. Abu Thalhah ra berkata : " Kami pernah mengeluh kepada Rasulullah saw tentang rasa lapar yang kami derita sehingga  kami selalu mengikat perut kami dengan batu. Terlebih Rasulullah saw yang  mengikat perut beliau dengan dua buah batu”.  Anas bin Malik bekata: "Waktu itu ketika Rasulullah saw keluar beliau menyaksikan kaum Muhajirin dan kaum Ansar menggali parit disuatu pagi yang sangat dingin sedangkan mereka dalam keadaan sangat lapar”.
Berselang beberapa hari setelah rampungnya penggalian parit, datanglah tentara Quraisy yang berjumlah sekitar 10 ribu orang dari Makkah. Rasulullah saw yang mengetahui hal itu langsung membawa pasukannya sampai ke Gunung Silih (Saia) dan menjadikan tempat tersebut sebagai benteng pertahanan. Kaum Quraisy yang menyaksikan parit terbentang di hadapannya merasa terpukul melihat hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota. Dengan adanya parit ini kedua pasukan hanya bisa saling berhadap-hadapan dengan melakukan kontak serangan jarak jauh dan tidak bisa berperangan secara terbuka. Tentara Abu Sofyan yang tiba di Madinah sangat kecewa karena mereka tidak mampu untuk menyeberangi parit, namun sebagian tentara Abu Sofyan terus bersi keras untuk menyerang dengan menyeberangi parit, akibatnya banyak  nyawa pasukan kafir quraisy  melayang percuma. Setiap kali mereka berusaha untuk melewati parit tersebut hasilnya selalu nihil dan berimbas pada kematian. Mereka jatuh dan terperosok dalam parit dengan keadaan yang tragis. Sebagian sisa tentara kaum kafir Quroisy bertahan di sekitar Madinah tanpa kepastian.
Strategi Khandaq (parit) yang dibina oleh Rasulullah saw merupakan salah satu strategi perang yang baru di tanah Arab. Strategi ini sangat efektif dan efisien, hal ini terbukti dengan persentase perbandingan korban yang signifikan antara para syuhada muslim dengan  jumlah korban dari pihak kaum Quroisy saat itu. Dalam peristiwa ini, sempat terjadi duel sengit antara  Sayyidina Ali bin Abi Thalib melawan Amr bin Abdu Wudd yang berakhir dengan kemenangan sayidina Ali.
Melalui Gunung Sila (Sal'a) ini Rasulullah saw dapat mengawal pergerakkan tentara muslim dan juga memantau mobilisasi musuh. Di Gunung Sila (Sal'a) ini Rasulullah saw bermunajat selama 3 hari kemudian turunlah surah Al-Ahzab. Allah swt memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dengan mengirimkan tentara malaikat dan angin topan yang menerbangkan perkemahan dan memporak-porandakan tentara mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 9. Abu Sufyan menyeruh kepada anak buahnya untuk kembali pulang ke kampung mereka. Pada akhirnya mereka kembali dalam keadaan kecewa dan berputus asa karena menderita kekalahan pahit.

0 komentar:

Post a Comment