Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, November 27, 2013

Reformasi Sistem Prekonomian Indonesia

Salah satu tujuan ekonomi adalah mencapai kesejahteraan baik personal, golongan bahkan negara. Implementasi ekonomi di Indonesia yang notabenenya sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar dengan sistem pemerintahan demokrasi yang berdasarkan Undang-Undang 45 dan Pancasila  seharusnya bisa mensejahterakan rakyat dan mengembangkan negara.
Bagaimana tidak? Konsep Etika Islam dalam ekonomi dipadukan dengan tatanan UUD 45 dan Pancasila dalam sektor perekonomian jika dipadukan kemudian diterapkan, niscaya Indonesia akan bangkit dan rakyat akan sejahtera.
Ironisnya, realita yang ada jauh dari tujuan dan cita-cita perekonomian Indonesia. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Indonesia sangat terpuruk dalam bidang ekonomi? Tentu dengan keterpurukan ini sangat berdampak bagi seluruh sektor yang ada, baik pendidikan, sumber daya manusia, sandang pangan dan sebagainya.
Berikut wawancara wartawan majalah Al-Bashiroh kepada Bapak Happy Trenggono, salah satu pengusaha muda Indonesia penggagas Beli Indonesia sekaligus ketua IIBF (Indonesian Islamic Busines Forum) berbicara mengenai kondisi perekonomian di Indonesia.      

Menurut bapak, bagaimana kondisi perekonomian di Indonesia saat ini?

Dahulu, soekarno pernah bertanya kepada BPUPKI : Saudara-saudara sekalian, apakah kita akan membangun Indonesia yang kapitalismenya itu merajalela, ataukah rakyat  yang  sejahtera, cukup sandang, cukup pangan, cukup mapan?.
Pernyataan tersebut mengindikasikan Soekarno tidak ingin Indonesia dibangun seperti Eropa yang menciptakan orang kaya sedikit dan banyak buruh. Terlebih lagi ketika masa penjajahan saat itu, kapitalis masuk, masyarakat tidak tersentuh dan tidak menikmati pembangunan.
Adanya pembangunan seperti kereta api, pabrik gula yang dibuat di Indonesia, meskipun sebetulnya banyak masyarakat yang menjadi buruh, tetapi hakikatnya mereka dibuat bukan untuk buruh, tetapi untuk orang-orang kapitalis itu sendiri.
Itu sebuah konsep, makanya Soekarno merumuskan pancasila  dan sebagainya, pancasila dengan bentuk gotong royong, yang berarti dari semua untuk semua. Semua orang di Indonesia harus terlibat dalam kegiatan ekonomi bahkan kegiatan ekonomi harus dapat dirasakan semua rakyat.
Konsep ini bukan konsep sosialis yang pembagiannya sama rata, tetap akan menyisakan orang-orang kaya, menengah dan orang miskin yang malas, ada orang yang bekerja dan tidak bekerja, tapi rata-rata masyarakat sejahtera, inilah konsep yang dirancang oleh Soekarno.
Realitanya, hari ini Indonesia tidak hanya condong ke arah ekonomi kapitalis, bahkan liberalisme dengan  kebebasan yang luar biasa. Sumber daya alam Indonesia yang seharusnya dinikmati rakyat ternyata digunakan untuk bangsa lain, sumberdaya minyak, gas, emas dikuasai oleh asing.  Ini menyisakan sebuah kesengsaraan yang luarbiasa, hasil tambang dan sumberdaya alam di indonesia dikeruk habis dan masyarakat tidak menikmatinya. Hal ini benar-benar diluar cita-cita kebangsaan Indonesia.

Apakah benar bahwa semua sumber daya alam di setiap negara dikuasai asing?

Salah, di Amerika sumber daya alam dikelola sendiri, begitu juga Cina, Jepang, Arab Saudi bahkan, meskipun ada kerajaan yang kaya raya, tetapi tetap sumber daya alam mereka kelola sendiri dan dikontribusikan ke arah pembangunan dan kesejahteraan rakyat.
Indonesia tidak terjadi, apalagi jika kita lihat dari berbagai sektor. Sektor-sektor kerakyatan diberikan kebebasan untuk infestasi, jadi jika berbicara tentang ekonomi Indonesia hari  ini, kondisinya sangat jauh dari cita-cita kemerdekaan.
Seharusnya kita bisa melakukan berbagai hal dan masyarakat tidak disengsarakan. Para petani bingung mau menanam apa hari ini, karena kebijakan harga diserahkan kepada asing. Ketika panen, impor masuk, ketika petani ingin menjual, harga jatuh, keadaan ini sangat memperihatinkan bagi masyarakat Indonesia.

Kemerosotan ekonomi di Indonesia saat ini apakah karena kesalahan sistem pemerintah? Kebodohan Indonesia atau memang ada unsur politk?

Jadi begini, kaya atau miskinnya rakyat itu adalah keputusan politik, desain politik. Ada sebuah budaya kepemimpinan di Indonesia, dimana pemimpin hanya bicara tentang rakyat dan sebenarnya mereka berbicara tentang dirinya sehingga penjajahan dan kebodohan merajarela di Indonesia. Kepemimpinan lemah tidak berkualitas yang seolah-olah menjadi budaya karena sesungguhnya banyak orang-orang hebat, tetapi karena budaya kepemimpinan yang sangat buruk, maka mereka pikir beginilah cara mereka memimpin.
Jadi bupati jika tidak kaya maka mereka malu, padahal bupati gajinya tinggi bahkan sampai ada yang punya jet pribadi. Ini merupakan tindakan kriminal. Budaya kepemimpinan ini sangat berpengaruh, padahal dari mereka banyak orang baik, tetapi karena budaya seperti itu, pintu korupsi seakan terbuka lebar bahkan terkadang keadaan yang memaksa untuk korupsi, jika tidak korupsi mereka akan jatuh karena terbawa oleh budaya.
Dengan kepemimpinan yang lemah, bangsa asing masuk merubah UU kita, UU diubah oleh orang asing bahkan 89% UUD 45 diubah oleh mereka, Indonesia dipaksa untuk mengesahkannya. Akibatnya mereka masuk secara bebas, Indonesia telah dicengkram  karena secara sistem negara kita sudah dirubah oleh mereka.

Bagaimana cara memerangi Ekonomi Kapital?

Indonesia harus bangkit!!! Nomor satu adalah bagaimana cita-cita kemerdekaan Indonesia dihidupkan lagi, dan kita paling tidak harus ada keberanian untuk melawan, rakyat harus menuntut, kita harus kembali kepada UU, hari ini UU 45 seakan tidak ada, ini yang harus dilakukan, tanpa itu kita tidak bisa memulai dari bawah, UU perbangkan dan UU pendidikan sudah diliberalisasi, pemilu dicengkram sehingga asing bisa mengontrol. Karena kuncinya dan landasan konstitusinya sudah dirubah sendiri. Jadi hari ini Indonesia hidup di bawah UU yang dirancang oleh bangsa asing. Tanpa sumber utama itu diperjuangkan dan spirit ini kita perjuangkan, bangsa Indonesia sangat sulit untuk berkembang 50 tahun mendatang.

Bagaimana tindakan pemerintah dalam menyikapi kondisi ekonomi yang memprihatinkan ini?

Pemerintah hanya mengikuti UU dengan kepemimpinan yang sangat kacau balau seperti ini, apakah kita dipimpin oleh orang-orang yang hebat? Ini memprihatinkan sekali karena nenek moyang Indonesia adalah orang-orang hebat seperti Gajah Mada, Pangeran Dipenogoro, Raden Wijaya, Djoko Tingkir dan lainnya, sekarang kemana tokoh-tokoh seperti mereka? Yang ada malah jendral nyolong.

Bagaimana saran bapak bagi para tokoh masyarakat, ulama, umaro dan para pemimpin guna mengimbangi ekonomi di Indonesia ini?

Jadi Kita masih bisa bertahan dengan cara kita membangun, menguasai, dan mengimbangi, ada yang bisa kita kontrol dan ada yang tidak bisa kita kontrol, kita kuasai yang bisa kita kontrol, contoh yang bisa kita kontrol seperti pesantren, Kyai bisa mengontrol pesantren, kuasailah pesantren itu, jangan malah dimasuki ekonomi yang menguntungkan asing, produk-produk asing. Bangkitkan komunitas-komunitas, ibaratnya bagaimana kita makan gajah? Kita potong kecil-kecil itu gajah lalu kita makan rame-rame, pesantren-pesantren di indonesia jangan ada yang menggunakan produk asing, seperti air mineral, jangan konsumsi produk asing, gunakan produk Indonesia, bahkan produksi sendiri, gunakan sendiri. Indonesia yang kecil-kecil ini bangkit dimulai dari komunitas-komunitas yang bisa dikontrol.




0 komentar:

Post a Comment