Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, November 27, 2013

Prinsip Ekonomi Dalam Islam

Sudah maklum dijelaskan dalam literatur-literatur keislaman bahwa maqasidusy-syariah(tujuan 
ditegakkannya syariat) itu ada lima. Yaitu hifzhud-dîn (menjaga agama), hifzhul-'aql (menjaga akal), hifzhun-nafsi (menjaga jiwa) hifzhul-'irdhi (menjaga harga diri) dan hifdzul-mâl(menjaga harta).  Jika kita benar-benar mencermati, mengkaji dan menelaah maka kita bisa menilai bahwa semua tujuan tersebut menjadi dasar operasional hukum syariah. Seperti ketika mencermati hifdzul-mâl maka akan memuncul-kan kefahaman bahwa umat Islam sebenarnya harus membangun ekonomi syariah yang benar-benar halal, steril dari sistem ribawiy dan bukan sekedar lebel, baik secara mikro atau makro. Interpretasi hadist-hadist yang mendukung hal tersebut menjadi penting untuk diketahui dan dipraktikan oleh umat Islam.
Berikut wawancara wartawan al-Bashiroh dengan KH Azizi Hasbullah selaku perumus dan musahhih bahtsul-masail PWNU Jawa Timur.

Latar Belakang Rasulullah pada masa mudanya salah satunya adalah sebagai saudagar (pedagang) bergelar Al-Amin, dalam bahasa sekarang Rasulullah adalah sosok entrepreneur (pengusaha). Apa saja yang diutamakan dan dibangun oleh Rasulullah dalam dunia perdagangan saat itu?

Yang telah dibangun Rasulullah sebagai saudagar yang sukses adalah kejujuran, transparansi dan proteksi konsumen. Hal ini dapat kita baca pada sabda Beliau berikut:

التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ

pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para nabi syuhada’ dan siddiqin.

Mengapa mereka dikumpulkan dengan syuhada'? Sebab pada hakikatnya mereka juga berperang tapi tentunya di jalur yang berbeda, para syuhada' melawan orang orang kafir, sedangkan para pedagang yang jujur berperang melawan hawa nafsu yang selalu merayu dan menggoda untuk meraup keuntungan besar tanpa memikirkan koridor syariat, dan tentunya mengabaikan dampak negatif yang akan terjadi, baik di dunia atau di ahirat. Di dunia akan kehilangan kepercayaan konsumen. Di akhirat akan mendapat siksa jika tidak di ampuni. Dari ini pula Beliau bersabda:
الأَمَانَةُ غِنىً (رواه الْقضاعي)

Amanah merupakan aset (yang tak terhingga nilainya)HR Qudha'i
Nabi juga bersabda:

الأَمَانَةُ تَجْلِبُ الرِّزْقَ وَالْخِيَانَةُ تَجْلِبُ الْفَقْرَ

Amanah dapat menarik rizqi sedangkan khianat dapat menghantarkan pelakunya pada kebangkrutan.

Melihat realita,rupanya tidak sedikit para pedagang yang hanya ingin meraup keuntungan sesaat dan tidak berfikir jangka panjang. Seperti mengambil keuntungan berlipat-lipat dari harga pokok, atau menyembunyikan cacat yang terdapat dalam komoditi yang akan ditransaksikan. Hal demikian ini sepintas memang mengahasilkan keuntungan besar, namun hanya dalam jangka pendek. Sebab bagaimanapun disembunyikan dengan rapi, tentu lama-lama konsumen akan bisa merasakan kejanggalan yang menyebabkan ia jera untuk berbelanja lagi kepadanya.

Kapan Baitul maal itu dibentuk? Apa yang bisa kita pelajari dari baitul maal itu? Bagaimana aktualisasi baitul maal untuk menyejahterakan umat Islam di zaman itu?

Baitul mal  di bentuk pada tahun kedua hijriyah setelah ayat fai' dan ayat ghanimah  diturunkan. Yang bisa dipelajari dari baitul mal adalah kewajiban pemerintah untuk selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat terutama yang tidak mampu. Berbagai cara sehat dan halal harus dilakukan, termasuk membuat gudang-gudang harta untuk menampung dan menjadi tumpuan segala kebutuhan rakyat. Ketika baitul mal di masa Nabi sudah dibentuk kemudian Beliau bersabda;

فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ مَاتَ وَتَرَكَ مَالا ً فَلْيَرِثْهُ عَصَبَتَهُ مَنْ كَانُواْ، وَمَنْ تَرَكَ دَيْناً أَوْ ضِيَاعاً فَلْيَأْتِنِيْ، فَأَنَا مَوْلاَهُ

Siapa saja orang mu'min meninggal dunia dan meninggalkan harta maka silahkan di waris asobahnya dan barangsiapa dari orang mu'min meninggal duni meninggalkan hutang atau keluarga yang tidak mampu maka saya (atas nama pemrentah )akan melunasi dan menanggung biyaya keluarga yang tidak mampu.

Ekonomi kemudian menjadi barometer kemajuan bangsa sedangkan agama Islam telah memberikan dasar-dasar peletakan hukum terkait kegiatan perekonomian. Bagaimana mengimplementasikan hal tersebut jika dikaitkan hadits "al-mu'min al-qowiyyu khoiru wa ahabbu illah minal mu'min al-dhoif"?

Maksud dari mukmin kuat yang di sebutkan dalam hadits ini tersebut menurut Imam Nawawi adalah mukmin yang semangat dalam menegakkak urusan ahirat dengan arti teguh dalam mempertahankan agama tidak gampang menyerah seperti berperang dalam jalan Allah, amar ma'ruf nahi mungkar tabah dalam menghadapi rintangan dan gangguan dalam menempuh jalan menuju Allah dan kuat dalam segala kebaikan, seperti shalat, puasa dan ibadah-ibadah lain,tanpa mengeluh dengan mengadu kepada selain Allah apa yang di takdirkan Allah  seperti sakit,kesulitan ekonomi dan musibah- musibah lain yang lemah,sebagaimana dalam syarah muslim berikut;

 قال النووي المراد بالقوة هنا عزيمة النفس والقريحة في أمور الآخرة كالجهاد والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والصبر على الأذى واحتمال المشاق في ذات اللـه تعالى وفي الصلاة والصوم وسائر العبادات. وفي كل خير أي القوي والضعيف لاشتراكهما في الإيمان مع ما يأتي من العبادات)


Kuat dalam hadits tersebut tidak berarti harus kuat dalam ekonomi, walaupun Allah tidak pernah melarang orang menjadi kaya, tapi Allah melarang orang berambisi menjadi kaya, Allah tidak melarang orang memiliki banyak harta tapi Allah melarang untuk mencintai harta secara berlebihan.
Orang yang mencintai harta akan menjadi kikir, orang yang kikir akan menjadi faqir,orang faqir akan menjadi lemah imannya sehingga mendekati kufur, karenanya yang perlu di bangun terlebih dahulu adalah iman dan taqwa. Setelah itu tidak akan berpengaruh kuat maupun lemahnya ekonomi. Realita di Indonesia para koruptor-koruptorir bukan orang orang miskin,melainkan orang yang banyak hartanya yang imannya lemah.Dalam historis pengikut Rasulullah pertama kali bukan orang orang kaya melainkan orang orang yang dhu'afa'.
Kesimpulannya, cara untuk mengembangkan ekonomi bangsa ini adalah pertama: dengan mendahulukan kepentingan orang lain dan bukan memperkaya diri. Karena di antara penyebab hancurnya ekonomi adalah adanya tujuan untuk memperkaya diri dan monopoli .
Kedua:berani berkorban dengan menginfaqkan hartanya.Sehingga tidak ada uang atau harta yang di simpan yang menyebabkan krisis uang.Dengan banyak infak maka ekonomi orang yang mendapat infaq akan berkembang secara otomatis semakin banyak yang infak kepada orang yang miskin atau faqir maka ekonomi orang faqir akan berkembang.

Bagaimana menurut pandangan Islam mengenai konsep kemakmuran? Bagaimana aktualisasinya kedalam kehidupan masyarakat?

Orang yang makmur adalah orang yang merasa makmur walau menurut orang lain tidak makmur.Orang yang makmur akan peduli memakmurkan orang lain. Orang yang merasa tidak makmur akan enggan memakmurkan orang lain, karena masih merasa belum makmur. Orang akan menjadi makmur jika telah yakin sudah ada yang mencukupi yang tidak pernah mati dan tidak pernah mengingkari janji, Dialah Allah swt. Orang yang yakin bahwa Allah yang mencukupinya, bukan ekonomi maka ia akan makmur dengan sendirinya.

Terkait sebuah hadits "Kaada al-faqru ayyakuna kufro", bagaimana memaknai hadits tersebut? Sebagai seorang muslim harus bersikap seperti apa?

Yang di kehendaki orang fakir di dalam hadits tersebut  adalah orang faqir yang tidak sabar dan tidak rela dengan keputusan Allah, tidak menerima dengan pembagian Allah walau sebenarnya banyak hartanya sehingga ambisi untuk memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya, bahkan terkadang sampai  rela menjual agamanya demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Hal itu terbukti dengan hadits Rasulullah yang memuja pada orang faqir yang sabar. Beliau bersabda:
الفُقًرَاءُ الصَّبْرُ هُمْ جُلَسَاءُ اللـه يَوْمَ القِيَامَةِ

Orang faqir yang sabar kelak di hari qiyamat akan menjadi tamu Allah yang istemewa,

Abu Ya'qub as-Susi berkata:

الحَيَاةُ الطَّيِّبَة عَيْشُ الفُقَرَاءِ الصَّبْرِ.

kehidupan yang bahagia adalah kehidupan orang orang faqir yang sabar.
Dengan demikian yang perlu ditanamkan dalam hati adalah keimanan bukan kekayaan. Orang yang tidak beriman kepada Allah akan selalu menginginkan sesuatu yang bukan bagiannya, biasanya tipe orang demikian ini adalah orang yang mempunyai kekayaan tapi tidak di dasari keimanan. Orang yang hartanya banyak tanpa didsari keimanan akan terus merasa kurang. Berbeda dengan orang yang hartanya pas-pasan keinginannya tidak akan bermacam-macam.
Contoh orang yang rumahnya dari bambu,kendaraannya hanya sepeda motor, paling yang dipikirkan bagaimana gentengnya tidak bocor, yang dimakan cukup, sepedanya tidak macet dll. Kalaupun menginginkan di atas itu, yang ada dibayangannya tidak akan jauh dari keadaannya saat itu, punya rumah gedung, memiliki uang beberapa juta, dll. Keinginannya tidak akan menggebu-gebu untuk memiliki kursi sofa,aneka ragam perlengkapan rumah lainnya, mobil dan garasinya dll. Sebab keinginan demikian tidak pantas dengan keadaanya saat itu.
Berbeda dengan orang yang memiliki rumah mewah,maka keinginan keduniaannya tentu akan lebih tinggi dari contoh orang pertama. Jika tidak dikontrol dengan keimanan maka syahwat keduniaan akan terus menguasai dirinya, semakin dituruti semakin banyak pula keinginannya. Laksana minum air laut, semakin banyak minum maka haus akan semakin mencekik kerongkongan. Jadi kaya yang sebenarnya adalah kaya hati, menerima dengan ikhlas apa yang ia miliki saat itu. Karena itu Rasulullah berdoa agar di jadikan orang yang hatinya tenang dan dikumpulkan dengan orang-orang yang juga mempunyi hati tenang serta meninggal dalam keadaan hati yang tenang. Sebagaimana dalam haditsnya berikut;

اللـهم أحْيِنِي مِسْكِيناً، وأَمِتْنِي مِسْكِيناً، واحْشُرْنِي في زُمْرَةِ المَسَاكِينِ

"Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, serta kumpulkan aku bersama orang-orang miskin”

Umat Islam harus kuat secara ilmu pengetahuan dunyawi-ukhrawi dan secara ekonominya juga harus kuat. Apakah perpaduan hal tersebut menjadi penting?

Perpaduan itu sangat penting asal yang di maksudkan adalah seperti pengertian di atas.Jika tidak demikian maka kekayaan hanya akan menyeret pada neraka,



Mu'amalah yang baik itu seperti apa?

Semua muamalah yang diatur dalam agama Islam yang perinsip utamanya adalah tranparansi, jujur, adil dan tidak merugikan pada semua pihak.

Interpretasi yang pas terkait hadits 'thalabul halal faridhatun ba'dal fardi' itu seperti apa?

Arti hadits tersebut bukan mengharuskan semua yang halal harus kita cari ,tapi yang kita cari harus yang halal. Tidak boleh  makan barang yang diharamkan bukan berarti yang dihalalkan harus dimakan semua.

Bagaimana pandangan kyai mengenai penerapan ekonomi syariah di Indonesia?

Ekonomi harus cocok dengan Syariah, dengan arti cocok dengan ajaran Islam yang di turunkan Allah kepada Nabi Muhammad bukan cocok dengan bank-bank yang bersliweran di pinggir-pinggir kita yang memakai label Syariah tapi isinya tidak cocok dengan Syariat, sama dengan prement yang isinya tembelek, atau pelacur yang memakai kerudung.

Fakta sekarang, golongan kaya dari masyarakat sekarang meningkat di Indonesia. Golongan miskin masih sekitar 40%, bagaimana implementasi dari hadits 'Annahu laba'tsa bil qhaniyyi limanittaqa?

Hadits itu menjelaskan lalau kita itu tidak diharuskan kaya dan kaya akan mengakibatkan bahaya kecuali orang orang yang sudah takwa, yaitu orang orang yang tidak ingin kaya.Orang yang ingin kaya itu sebenarnya bukan orang orang yang takwa, sebab orang takwa adalah orang yang melakukan perintah dan menjahui larangan, padahal kaya bukan perintah. Kalau ingin kaya berarti ingin melakukan yang tidak di perintah Allah tapi di perintah nafsu, maka ia takwa pada nafsu bukan pada Allah.

Harapan kyai terhadap pengembangan ekonomi syariah kedepan seperti apa?

Harapan kami hanya satu yakni tolonglah orang orang miskin dan faqir, jangan mencari keuntungan dari orang faqir dan miskin.

0 komentar:

Post a Comment