Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, November 28, 2013

Pondok Pesantren Nurut taqwa Grujugan Bondowoso, Alternatif pendidikan Masyarakat pedesaan Utara Bondowoso

         
Kabupaten Bondowoso terkenal dengan 'Tape'nya. Kota tua yang masih lestari dengan situs-situs bersejarah peninggalan belanda dan penjajah lainnya menyimpan cerita di setiap sudutnya. Banyak ulama kaliber Internasional yang terkenal di Bondowoso, seperti Habib Muhammad al-Muhdhor, Habib Hasan Baharun dan lainnya. Kawasan kota Bondowoso memang tidak sepi dari para ulama dan para habaib, namun di daerah pelosok dan pedesaan masyarakat benar-benar haus akan ilmu agama.
             Jembatan yang disebut masyarakat dengan nama 'Geledhek Kodung' terbentang di daerah Kalibagor (Perbatasan Situbondo-Bondowoso) menjadi pintu gerbang Bondowoso dari arah utara. Setelah melintasi jembatan, menuju ke arah kiri kita akan memasuki kawasan kecamatan Cermee. Dengan suasana pedesaan yang khas, terbentang sawah berhektar-hektar menjadikan udara semakin sejuk. Dari letak geografis, Desa Grujugan termasuk desa pertama kecamatan Cermee dari arah barat. Di desa inilah terdapat bilik sederhana, bilik yang setiap harinya melantunkan ayat suci al-Qur'an, mengkaji kitab klasik karya para ulama salaf popular, dan menerapkan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari hari.
            Bilik yang menjawab kebutuhan urgen masyarakat pedesaan ini bernama Yayasan Pondok Pesantren Nurut Taqwa. Didirikan dan masih diasuh oleh seorang kyai sederhana yang luar biasa, beliau adalah KH.Ma'shum Zainullah. Dengan kegigihan dan mujahadah super dalam menghidupkan agama, beliau berjuang melestarikan pesantren ini dengan pendidikan agama yang benar-benar beliau perhatikan, demi terciptanya kepribadian santri berakhlak dan berilmu agama yang bisa mengantarkan mereka menuju ridho Allah Swt.
            Pondok Pesantren Nurut Taqwa berdiri pada tahun 1976, berangkat dari kepercayaan masyarakat kepada Kyai untuk menghidupkan masjid agar terlaksana shalat berjamaah lima waktu di masjid yang kini bernama Nurut Taqwa. Dengan senang hati beliau menjalankan amanah tersebut. Hingga pada suatu hari, santri pertama  berguru kepada beliau setelah shalat asar. "Selama dua hari saya hanya sendiri belajar kepada beliau setelah shalat ashar, hari pertama beliau hanya mengajarkan saya cara bersalaman yang benar (Mushofahah)" Ujar Ustadz Babun Rusdi kepada redaksi Al-Bashiroh.
            Memasuki hari ke tiga, santri ke dua datang dan berguru kepada beliau. Dalam pembelajaran saat itu para santri hanya disuguhi dongeng dan sebelum pulang mereka diperintah untuk berdongen di hadapan temannya dengan berdiri, begitu selanjutnya hingga berdatangan santri yang lain. Hanya saja belum ada santri yang menetap di tanah Nurut Taqwa. Abduhul Ghoni-lah santri pertama yang menetap di pesantren tersebut.
            KH.Ma'shum Zainullah memulai langkah pertama dalam strategi dakwah beliau dengan membuat kelompok-kelompok Sholawat, Pengajian dan Manaqiban di setiap desa kecamatan Cermee dan sekitarnya. Retorika dakwah yang beliau terapkan mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terbukti dengan banyaknya simpatisan yang mengikuti Madjlis tersebut. karena pada dasarnya masyarakat di setiap desa pada saat itu sangat butuh dengan ilmu agama. Kepercayaan masyarakat terhadap kyai mendukung perkembangan pondok pesantren Nurut Taqwa, semakin banyak lah santri yang berguru kepada beliau.  
Pondok pesantren Nurut Taqwa menyajikan ilmu agama bagi para santrinya melalui madrasah Diniyah yang terdiri dari jenjang Ula dan Wustho, jenjang Ula ditempuh selama empat tahun dan Wustho ditempuh selama dua tahun. Tidak hanya pelajaran agama, sebagai usaha untuk merespon perkembangan dan tutntutan zaman, pada tahun 1991 didirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dilanjutkan Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada tahun 1993. Dalam rangka untuk memantapkan posisi Pondok Pesantren Nurut Taqwa sebagai mitra pemerintah dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, pada tahun 2003 didirikan Madrasah Aliyah (MA) Nurut Taqwa.
Kurikulum pendidikan yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Nurut Taqwa tidak jauh berbeda dengan pesantren lain di tanah Jawa. Sebagai pesantren berbasis Ahlussunnah Wal Jamaah dan bermadhab Syafi'i, Pondok Pesantren Nurut Taqwa menggunakan kitab-kitab seperti Riyadhus Sholihin, Tafsir Jalalain, Fathul Qorib, Yaqutun Navist, Al Muhawaroh Al Haditsah, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk formal, kurikulum yang diadopsi adalah KTSP.
Pukul empat pagi, santri Nurut Taqwa sudah harus bangun dan shalat tahajjud kemudian dilanjutkan dengan shalat Subuh. Setelah selesai shalat subuh dan wirid yang mereka baca, santri mengikuti pengajian rutin yang dipimpin langsung oleh KH.Ma'shum Zainullah atau putra beliau K.H As'ad Nawawi Ma'shum untuk mengkaji kitab Riyadus Sholihin dan Tafsir Jalalain. Sebelum memulai pengajian, para santri melantunkan Nadzhom Imrithi bersama.
Pagi jam 07.00 sampai jam 12.40, para santri belajar di kelas formal. Selanjutnya istirahat dan tepat pukul 02.00 mereka kembali ke kelas masing masing guna menerima ilmu agama pada madrasah diniyah. Pukul 04.00 mereka keluar dari kelas menuju masjid melaksanakan shalat ashar berjamaah. Jika bertepatan dengan hari selasa, santri rutin membaca Hadrah Basaudan yang dipimpin oleh Habib Muhdhor Situbondo.
Setelah selesai shalat magrib dan pembacaan wirid, santri melantunkan ayat suci al-Qur'an di setiap kamar masing-masing. Namun bagi santri yang mengikuti lembaga tersendiri, maka mengkaji sesuai dengan jadwal dari lembaga tersebut. Sampai saat ini terdapat beberapa lembaga penunjang pendidikan santri agar lebih komperhensip, diantaranya LBA (Lembaga Bahasa Arab), LBI (Lembaga Bahasa Inggris), LBMK (Lembaga Membaca Kitab) dan yang terbaru saat ini adalah Lembaga Tahfidul Qur'an.
Saat ini terdapat sekitar 350 santri putra dan putri yang menetap di asrama pesantren. Mayoritas berasal dari desa sekitar dan ada pula yang berasal dari Bondowoso kota, Situbondo, Jember, Banyuwangi, Madura dan Bali.
Saat ini, dalam menjalankan tugas dan aktifitas sehari-hari, K.H. Mashum Zainullah  memiliki dua sayap yang sangat berperan dalam perkebnangan pendidikan di pondok pesantren Nurut Taqwa, beliau adalah K.H. Barri Shalawi Zain, M.Si selaku menantu sekaligus Ketua Yayasan dan K.H. As'ad Nawawi Ma'shum putra dan wakil ketua yayasan alumni Rubat Tarim dibawah asuhan Habib Salim bin Abdullah As Syatiri.
Selain itu, pengasuh dibantu oleh pengurus yayasan untuk menggerakkan kinerja pesantren yang semakin mekar dan besar yang dipandang tidak cukup diisi oleh para ahli agama tetapi juga tenaga professional di bidang sosial, ekonomi dan organisasi guna memberi pembekalan life skill (kecakapan hidup) dan keterampilan usaha kepada santri untuk persiapan kelak ketika pulang bermasyarakat.
Usamah Ali Firdaus

2 comments: