Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, November 27, 2013

Miskin, Fase istimewa yang menegangkan


 و إن بليت بفقر فارض مكتفيا # بالله ربك وارج الفضل و ارتقب
Jika engkau diuji dengan kefakiran, terimalah dengan keridhaan.
Cukuplah Allah sebagai Tuhanmu. Berharaplah keutamaan dariNya.
                                                                                    (Habib Abdullah al Haddad) 

Ada kalanya manusia dihadapi dengan kenyataan sangat butuh dengan harta, mendesak bahkan urgen. Namun apa daya, kondisi memprihatinkan dan benar-benar tidak ada. Jika berada dalam suasana meresahkan seperti ini, jangan kecewa apalagi berpaling dari kenyataan takdir Allah Yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana.
Lapang dada sepenuh hati menerima suratan takdir dan hikmah dari Allah merupakan sikap cerdas. Buang jauh-jauh keresahan atas gundah yang menimpa. Tukarkan dengan kesenangan dan kebahagiaan dengan kondisi yang benar-benar  berserah diri. Ya, hanya butuh mengaplikasikan manajemen ridha dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep ridha, seperti dijelaskan oleh al-Qusayri adalah tidak ada perbedaan antara manis dan pahit. Ridho dapat terlihat pada orang yang tertimpa musibah namun bisa bermimik bahagia. Dengan situasi seperti ini seorang hamba tidak menoleh kepada selain Allah Ta'ala, tidak takut kecuali kepadaNya, tidak mengharap kepada selainNya.
Kondisi dan keadaan seperti ini, telah ditentukan allah untuk anda jalan bersama para kekasih dan walinya serta memperlihatkan secara langsung kedekatan anda dengan para kekasih dan walinya.
Menakjubkan, sungguh sesuatu yang luar biasa tatkala para orang miskin bersanding dengan kekasih dan wali Allah. Tapi tidak semua orang miskin yang bisa mendapatkan predikat hebat tersebut. Hanya orang miskin yang sabar serta ridha menerima pemberian Allah dengan lapang dada dan apa adanya. Rasulullah sendiri berkali-kali memberi kabar gembira bagi para orang miskin berstatus sabar dan ridho.

 يَا مَعْشَرَ الفُقَرَاء أَعْطُوْا الله الرِضَا مِنْ قُلُوْبِكُمْ تَظْفَرُوا بِثَوَابِكُمْ وَ إِلاَّ فَلاَ
 "Wahai kaum fuqoro berilah Allah Ridha dari hati kalian, maka kalian akan beruntung dengan pahala kalian, jika tidak maka kalian tidak akan mendapatkan pahala”

لاَ أَحَدَ أَفْضَلُ مِنَ اْلفُقَرَاءِ إِذَا كَانَ رَاضِيًا
"Tiada seorangpun lebih baik dari orang faqir yang ridha atas kefaqirannya”
يقول الله تعالَى يوم القيامة أين صفوتى من خلقى؟ فتقول الملائكة ومن هم يا ربنا؟ فيقول فقراء المسلمين القانعين بعطائى الراضين بقدرى أدخلهم الجنة فيدخلون الجنة و يأكلون و يشربون و الناس في الحساب يترددون

"Pada hari kiamat Allah berfirman mana makhluk pilihanku? Malaikat bertanya siapa mereka wahai tuhan kami? Allah menjawab Orang faqir muslim yang qonaah dengan pemberianku, ridha dengan takdirku, masukkan mereka ke surga maka mereka masuk surga makan dan minum (di dalamnya) sedangkan manusia lainnya masih terombang-ambing ketika dihisab”
Sungguh suatu keistimewaan bagi orang miskin ketika nabi sendiri berdoa dan meminta kepada Allah untuk dijadikan sebagai orang miskin, mati dalam kondisi miskin dan dibangkitkan bersama para orang miskin.
Orang miskin dispesialkan karena hati mereka tidak terlalu condong pada dunia, sedangkan mayoritas manusia lalai terhadap Allah swt. Tetapi jika ada orang miskin yang sibuk dengan dunia maka ia tidak ada artinya, kedudukannya sejajar dengan orang kaya yang tamak, bahkan orang kaya yang tidak begitu peduli dengan kekayan dan masih bisa mengimbangi ibadahnya kepada Allah lebih baik dari pada orang miskin yang hati dan pikirannya dipenuhi oleh dunia.
Abu Sulaiman ad-Darani pernah bertutur: "Si miskin yang menahan hawa nafsu dari sesuatu yang sangat ia dambakkan namun ia tak kuasa meraihnya lebih utama dari ibadah si kaya selama seribu tahun".
Diriwayatkan dari ad-Dahak "barang siapa yang memasuki pasar dan menemukan sesuatu yang sangat ia inginkan, namun ia sabar dan berserah diri kepada Allah maka hal tersebut lebih baik dari bersedekah sebanyak seribu dinar Fisabilillah”

Hal yang sangat ditakutkan terjadi pada orang miskin adalah kekufuran. Baik berupa kufur nikmat dalam artian mengingkari dan tidak mensyukuri karunia Allah yang telah diberikan kepadanya, terlebih lagi kufur sesungguhnya dengan mempersekutukan Allah. Nabi Saw. Bersabda كاد الفقر أن يكون كفرا     Hampir saja kefakiran bisa membuat orang kufur Semoga kita dijaga dari kedua hal tersebut. Amin..
Etika yang seharusnya diimplementasikan orang miskin dalam kehidupannya ialah merasa cukup dan merasa kaya, menjaga harga diri dari meminta-minta kepada manusia serta tidak menampakkan diri bahwa ia benar-benar butuh dengan harta. Al-Khawas memberikan tanda-tanda mengenai orang miskin yang benar-benar menjaga dirinya "mereka tidak banyak mengeluh dan menyembunyikan kefakiran yang mereka alami”
orang miskin terburuk ialah mereka yang selalu berkeinginan menjadi orang kaya, paling baiknya orang kaya adalah yang tidak takut untuk menjadi miskin. Begitu sekiranya Al-Habib Abdullah al-Haddad menilai orang miskin dan orang kaya.
Berbicara mengenai hukum orang miskin yang meminta-minta adalah haram, kecuali memang benar-benar darurat dan urgen. Bagi mereka yang tetap melakukan hal tersebut nanti pada hari kiamat ia akan menemui Allah dengan kondisi wajahnya dipenuhi kerat daging.
Orang miskin yang husnudzon kepada Allah, ridho dengan ketentuannya, menerima secara lapang dada apa yang ia miliki merupakan sikap yang cerdas. Tetap memohon kepada Allah untuk diberikan keluasan rizki dan kemudahan dalam urusannya, itulah sikap muslim yang ideal. Wallahu A'lam. Usamah ali Firdaus





0 komentar:

Post a Comment