Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, November 27, 2013

Etika ekonomi dalam Islam

Rambu-rambu Islam dalam kehidupan ekonomi sarat dengan nilai-nilai sosial tinggi. Nabi sendiri yang notabenenya sebagai pedagang telah mengaplikasikannya dalam memimpin ummat.
Hadist yang dicantumkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya ini merupakan sepercik dari etika ekonomi dalam Islam, esensinya mempermudah bagi penjual, pembeli dan penuntut hak.
Dalam menyikapi hadist ini, Ibnu Hubaib Al-Maliki yang dikuatkan oleh Ad-Daudi berpendapat bahwa lafad Rahimallahu Rojulan (Allah merahmati seorang lelaki) merupakan doa Nabi bagi orang yang mempermudah dalam menjual, membeli dan menuntut hak.
Sebagian ulama berkomentar bahwa lafad Rahimallahu Rojulan (Allah merahmati seorang lelaki) adalah sebuah khabar (sebuah informasi). Karena dikuatkan dengan redaksi hadist lain yang diriwayatkan oleh Turmudzi

 غفر اللـه الرجل كان سهلا إذا باع

Al-Kirmani menengahi perbedaan tersebut dengan pendapatnya bahwa kalimat Rahimallahu Rojulan (Allah merahmati seorang lelaki) Nampak sebagai kabar, namun dengan adanya qorinah إذا menjadikan khobar ini sebagai doa dengan prediksi  رحم رجلا يكون كذلك


Hadist shahih ini mengindikasikan bahwasannya Nabi mendoakan bagi orang yang mempermudah dalam transaksi. Sekiranya penjual tidak mematok harga tinggi, akan tetapi lebih disarankan untuk merasionalkan harga. Bagi pembeli tidak terlalu menawar dengan harga yang sangat rendah dari standar harga, atau bahkan tidak menawar.
Dalam menyikapi kalimat Wa Idaktadha, Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathil bari mengartikan kalimat tersebut dengan menuntut hak dengan mudah tanpa memaksa. Sedangkan Ibnu Tin mengartikan konteks hadist tersebut dengan memberi hak dengan mudah tanpa menunda-nunda.
Konteks Hadist yang sama dengan redaksi berbeda juga diriwayatkan oleh At-Turmudzi dan Al-Hakim disampaikan oleh Abu Hurairah :
                                                      ان الله يحب سمح البيع سمح الشراء سمح القضاء

"Allah menyukai kemudahan dalam penjualan, pembelian dan penuntut hak”
Hadist marfu' serupa juga diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Ahmad :

                                          أذخل الله الجنة رجلا كان سهلا مشتريا وبائعا وقاضيا زمقتضيا

“Allah memasukkan ke surga lelaki yang mudah dalam membeli, menjual, menunaikan hak dan menuntut hak”
Hadist-hadist ini memotivasi kita untuk mempermudah dalam muamalah, menerapkan akhlak dan meninggalkan sifat tamak serta pelit tingkat tinggi. Selain itu kita juga dituntut untuk tidak mempersulit manusia dalam muamalah dan dianjurkan untuk memburu kerelaan dari mereka.
Meskipun dasar ekonomi adalah An-Tarodhin (Saling rela) namun konsep permudah dalam transaksi ini juga merupakan etika ekonomi Islam. Sekiranya dua pihak saling mempermudah transaksi tersebut, meringankan harga, berteransaksi dengan akhlak, memberikan kemudahan dalam jangka waktu piutang semampunya, menuntut hutang tanpa paksaan.
Kejujuran merupakan etika ekonomi, kejujuran dituntut untuk diterapkan di segala situasi, terlebih dalam konsep ekonomi, penjual harus jujur dalam mempromosikan barang dagangannya, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Nabi saw bersabda :
التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ مَعَ النَبِيِّيِّن وَ الصِّدِّيْقِيْنَ
 وَ الشُّهَدَاءِ 
“Pedagang jujur itu (berkumpul) bersama para nabi, orang-orang jujur dan para suhada"
Penjual tidak boleh bersumpah demi merengut keuntungan pribadi, meskipun yang dikatakan adalah benar. Karena ada nash yang melarang meperbanyak sumpah secara global. Sebagaimana tercantum pada surah Al-Baqoroh ayat 224. Adanya sumpah dalam jual beli menghilangkan keberkahan. Hal ini diwanti-wanti oleh Nabi melalui hadist yang diriwayatkan Abu Hurairoh:

الحلف منفقة للسلعة ممحقة للبركة
 
“Sumpah menumpulkan senjata dan menghilangkan keberkahan”
Etika selanjutnya dalam ekonomi adalah memperbanyak shodaqoh, baik di pasar atau dalam kondisi transaksi perdagangan agar menjadi sebuah tebusan atau penghapus keburukan. Allah berfirman dalam surah Hud ayat 114

إِنَ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَيِّئَاتِ

"Sesungguhnya kebaikan meghapus keburukan”
Saksi dan nota tertulis merupakan etika ekonomi dalam Islam. Belakangan ini banyak transaksi kredit yang seiring berjalannya waktu bisa terlupakan atau keraguan masing-masing hak. Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 282 telah memberikan petunjuk untuk melaksanakan 'hitam di atas putih' agar jelas harga dan hak ke dua belah pihak guna menghindari keraguan, perbedaan dan perselisihan antara mereka. Mendatangkan saksi sangat dianjurkan dalam transaksi perdagangan dan jaminan perhutangan secara global sebagai jaminan, pelaksanan baik dan sebagai solusi jika terjadi sengketa seperti yang dijelaskan dalam  Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 282.
Konsep 'Hitam di atas putih' dan saksi lebih menjadi keadilan bagi semua pihak untuk lebih teliti dan cerdas menyikapi perdagangan, menjauhkan mereka dari keraguan, kecurigaan perubahan dan perbedaan hak yang semuanya itu menyebabkan hilangnya kepercayaan ke dua belah pihak. Selain itu juga meniadakan saling menasehati di antara manusia. Oleh karena itu, sebagaian ulama mewajibkan kedua konsep tersebut. Akan tetapi pendapat yang lebih kuat kedua hal tersebut adalah sunnah, karena Nabi, Sahabat dan Tabiin berteransaksi tanpa mendatangkan saksi.
Etika ekonomi Islam selanjutnya adalah melebihkan takaran dan timbangan. Hal ini merupakan samahah atau kemudahan yang tersadur dari hadist di atas. Banyak riwayat yang mengarahkan kita untuk melebihkan timbangan, salah satunya sebagaimana diriwayatkan oleh Suwayd bin Qoys perintah nabi yang berbunyi  زن و أرجح )Timbang dan lebihkanlah!). Konteks melebihkan ini termasuk shodaqoh sir (Shodaqoh tersembunyi) yang pelakunya termasuk golongan yang dinaungi oleh Allah pada hari tidak ada naungan selain naunganNya.  
Bagi pelaku ekonomi harus mengetahui hukum tentang ekonomi dalam Islam, harus belajar dari segi syarat, sah dan tidaknya aqad dan berbagai hal yang berkaitan dengan muamalah sehingga aktifitas ekonomi dan transaksinya  sah. Bisnisnya halal dan berkah, karena itulah Sayyidina Umar bin Khottob berkata

لاَ يَتَّجِر فِيْ شُوْقِنَا إِلاَّ مَنْ فَقُهَ وَ إِلاَّ أَكْلَ الرِّباََ

"Dilarang berdagang di pasar kecuali orang yang mengerti fiqih, jika tidak maka akan (ditakutkan) makan riba". Wallahu A'lam
Usamah Ali Firdaus




0 komentar:

Post a Comment