Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 13, 2012

Tahun baru Hijriah Untuk masa depan yang lebih cerah



Di era globalisasi seperti saat ini, syiar-syiar Islam mulai meredup dan tenggelam dalam berbagai macam perayaan dan tradisi non Islam dimasyarakat Indonesia yang notabenenya didominasi oleh generasi muda Islam. Mari kita lihat sekilas perayaan hari Valentine pada 14 Februari atau perayaan tahun baru Masehi yang begitu meriah dan fantastis. Berbeda dengan perayaan tahun baru Islam yang seakan dianaktirikan oleh masyarakat kita, keadaan ini senada dengan apa yang digambarkan Rasulullah Saw 14 abad silam:

عن ابي سعيد الخدري , ان رسول الله صلى الله وسلم قال : لتتنعن سنن الذي من قبلكم شبرا بشبر و ذراعا بذراع, حتى لو دخلوا في جحر ضب لا تبعتموا هم " يا رسول الله, اليهود و النصاري ؟ قال " فمن"
Dari Abi Sa’id Al khudri ra berkata : “Rasulullah Saw bersabda : Kalian semua akan benar-benar mengikuti jalan orang-orang yang ada sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk kedalam lubang biawak niscaya kalian akan mengikuti mereka”,  kami berkata ” Wahai Rasulallah, apakah mereka orang yahudi dan nasrani? “ Beliau menjawab “ siapa lagi”
Tentu hal ini sangat ironis, bisa kita bayangkan kuantitas kaum muslimin Indonesia yang begitu besar, ternyata masih belum untuk  mencapai kualitas secara individual yang secara totalitas penduduk Indonesia. Hal ini terbukti dengan minimnya pengaruh kehidupan ummat Islam atas bangsa Indonesia.
Perkembangan modernisasi teknologi masa kini seakan menggilas simbol keagungan Islam di tanah air secara perlahan. Sebagai contoh perayaan tahun baru Hijriah di mata kaum muslimin, tak banyak dari mereka yang mengetahui pengertian, sejarah, atau bahkan hikmah yang tersirat di balik perayan tahun baru Islam. Oleh karena itu hendaknya perlu kita flashback sejenak untuk menyusun kembali “puzzle” keilmuan kita.
            Secara epistimologi kata Hijriah diambil dari kata  هاجر – يهاجر  yang bermakna pindah ke negeri lain atau hijrah. Dasar penetapan kalender ini adalah peristiwa hijrahnya Rasulullah beserta para sahabatnya  dari Makkah ke Madinah karena peristiwa-peristiwa tersebut menjadi titik tolak perkembangan Islam ke seluruh belahan dunia. Kalender ini ditetapkan dimasa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab ra. atas inisiatif al-Imam Ali bin Abi thalib ra. Kemudian apa yang bisa kita peroleh dari momen tahun baru Islam? Tentu begitu banyak makna dan hikmah yang dapat kita petik, khususnya bagi generasi muda Islam yang menjadi power bagi agama. Diantaranya :
            1) Kita harus mampu mewarnai tahun baru Islam ini dengan segudang aktivitas positif., baik individual ataupun sosial yang kental dengan citarasa Islam sebagai sarana dakwah dan upaya mengembangkan syiar-syiar Islam dipenjuru dunia. Sebagai mana firman Allah s..w.t yang berbunyi :
            "Demikianlah (perintah Allah) dan barang siapa yang menggagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya hal itu tumbul dari ketakwaan hati.”(Qs AlHajj 32)
            2) Pemaknaan perayaan tahun baru Hijriah sebagai momen metamorphasis (berubah menjadi sosok yang lebih baik ) yang kita ambil dari nilai fisolofis seekor kupu-kupu. Berawal dari sebutir telur yang kemudian menetas menjadi sosok larva ulat. Seiring putaran waktu ia tumbuh dan berkembang mejadi hama ulat dewasa, ia terus menggerogoti dedaunan yang ada di sekitarnya, menghancurkan harapan petani, sayur dan buah-buahan. Tak cukup di situ, tatkala dia bosan memakan selembar daun, ia mulai beranjak dan menggapai lembaran daun lainnya. Rasa tamak terus membuatnya menjadi mesin perusak tanaman yang efektif. Semakin lama semakin membesar tubuhnya. Begitupula rasa benci manusia kepadanya, sampai tiba saat Allah Swt memberikan ilham kepadanya untuk berkholwat dalam rajutan bunga yang membalut tubuhnya sampai waktu yang telah ditentukan, ia pun keluar dari kepompongnya dengan bentuk makhluk baru yang berbeda dengan sebelumnya. Dari makhluk yang buruk rupa menjadi makhluk yang indah, dari sosok yang dibenci menjadi sosok yang dinanti, dari hama menjadi makhluk yang penuh faedah bagi sekitarnya, dari sifat tamak akan segalanya menjadi sifat qonaah. Terlepas dari itu sebagai makhluk yang berakal, kita harus menambil ibroh dari fenomena alamiah tersebut sebagaimana terukir dalam Al-Quran
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang memiliki pandangan.” ( Qs AlHasyr 2)
Bisa kita  bayangkan, ulat yang tak berakal mampu untuk berubah mejadi lebih baik apalagi manusia yang berakal mulia. Seyogyanya bagi kita ditahun yang  baru ini untuk mempunyai spirit baru, spirit baru untuk bertaqwa dan beramal sholeh, dengan jiwa pengorbanan yang baru untuk membangun relasi yang harmonis dengan Allah Swt.
3)      Sebagai upaya evaluasi diri/محاسبة النفس.
            Yakni mengevaluasi kinerja kita sebagai  عبداللهdi tahun yang lalu, mampu berubah sesuatu yang buruk di masa lalu menjadi motivasi baru untuk melangkah lebih maju ketaqwaan Allah Swt. Mampu mengubah kesalahan menjadi batu loncatan untuk perbaikan dimasa depan. Sebagai mana sabda nabi Saw :
            حاسبوا أنفسكم قبل ان تحاسبوا
“Hisablah (intropeksi) diri kalian sebelum kalian di hisab kelak. “
Perlu hadirnya visi yang baru di tahun yang baru. Karena kita tanpa visi hidup akan membawa kita dalam kehancuran yakni hidup tanpa arah dan tujuan, sebagai mana perkataan King Solomon yang berbunyi Where there is no vision the people pensh/die ”. Satu  yang tak kalah penting adalah “ look beyond what a person is today and seen what might  happen tomorrow. Jangan melihat seseorang hari ini tapi lihatlah apa yang akan terjadi esok hari “: tak perlu larut dalam penyesalan yang mendalam tanpa ada rasa sadar yang terpenting kita untuk “Take achon” dan optimis bahwa rahmat Allah Swt  jauh lebih luas dari pada azabNya :
“Katakanlah Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah . Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya . Sungguh Dialah yang maha pengampun dan maha penyayang.” (Qs AzZumar) 

0 komentar:

Post a Comment