Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 13, 2012

Sepasang Sandal Yang Hilang



                Sejuknya hembusan angin yang menyelai dahan pepohonan di taman pondok putri siang itu tidak hanya menjadi teman duduk bagi Syifa, tetapi ia juga sedikit nakal berani menghelai lembut pipi dan wajahnya. Yang dihelai menikmati dengan memejamkan mata mengambil nafas dalam-dalam. Mencoba menyatukan diri dan jiwa bersama sesuatu yang merasuki tubuhnya secara kasat mata. Tapi hasilnya nihil, bahkan ia melarikan diri menjauh secepatnya dari tubuh Syifa. Mungkin ia sadar bahwa syifa bukanlah mahromnya.
            Syifa membuka lagi kedua mata indah itu, dia tidak begitu kecewa ditinggalkan sesuatu yang memang dicarinya karena hari-hari ini angin juga sering nongkrong ria di taman pesantren bersama santri putri.
             Kitab kuning Fathul Qorib yang sedari tadi ia peluk di dadanya mengingatkan kembali tentang ujian akhir bulan yang akan diselenggarakan minggu depan. Dia sama sekali belum siap menghadapi ujian tersebut, tapi untuk saat ini jiwanya masih gelisah, tidak ada semangat belajar yang tersisa sedikitpun. Dia butuh motifasi dan pencerah hati dari berbagai masalah yang sedang ia hadapi.
            “Afwan, ana belum ada himmah membacamu” Syifa memperhatikan kitab yang di pegangnya, sesekali ia elus lembut kitab yang terlihat rapi dengan sampul plastik itu.
            “Iya, its oke! Tenangkan hatimu Syifa! Sabar ya! Ana yakin Syifa pasti kuat!” suaranya lebih lembut dan perlahan. Sebuah pertanyaan yang dijawabanya sendiri.
            Tidak terasa bola mata Syifa mulai berkaca-kaca, kalau sudah begini biasanya syifa langsung meluapkan kegundahannya dengan menuangkan cucuran airmata menangis sejadinya. Ya, bukan karena  ia tidak tegar dalam menghadapi cobaan yang sedang ia alami, tetapi kepuasan hati dengan menangis bisa meringankan beban bahkan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, ia bisa bersabar dan bersyukur atas semua cobaan karena sebuah keyakinan yang membuat ia tegar seperti ini.
            Jika Allah mencintai hambanya maka Allah akan memberinya cobaan. Dan juga Allah tidak akan memberi sebuah cobaan bagi hambanya melampaui kemampuan hamba tersebut. Jadi kenapa harus lari dari masalah dan menyalahkan takdir? pikirnya. Begitulah kiranya pengetahuan agama yang selama ini ia serap dari bilik pesantren.
            “Syifa jangan menangis di sini, malu donk sama teman-teman” Syifa mencoba tegar. Masalah syifa kali ini selalu menyibukkan pikirannya. Syifa ingin menangis tetapi tempat ia berada tidak mengijinkannya. Di saat seperti inilah ia biasa melakukan Self Talk, sebagai sarana untuk memotifasi diri pada saat-saat tertentu atau untuk memecahkan dilema yang ia hadapi.
            Self Talk yang sering syifa lakukan berupa percakapan terhadap diri sendiri dengan menghadirkan nilai negative kemudian membandingkan dengan nilai positif sehingga ia dapat menarik sebuah kesimpulan yang meyakinkannya bahwa keputusan yang ia ambil sudah benar-benar tepat.
            “Masih dipikirin? Al-Quran tuh, Jadikan Displacement dan Sublimation!”Gadis manis berjilab tiba-tiba duduk tepat di samping Syifa dan menyadarkan kepala syifa di sisnya.
            Syifa mengusap kedua matanya, takut-takut ada air mata yang tanpa sadar nyangkut di mata tersebut. Dia tidak ingin sahabatnya khawatir, apalagi mendapati syifa dalam keadaan menangis. Seketika ia membuang jauh-jauh ekspresi kesedihan dan mengganti dengan gurauan  yang di buat-buat sehingga terasa dipaksakan.  
            “Discmen-Submen, permen kale….Sok jadi dosen kamu Mar” canda syifa sambil menepuk paha sahabatnya.
            “Ha…ha…ha…, biasa, tau sendiri ana pengen jadi dosen, yah paling tidak bisa menguasai bahasa ilmiah lah, biar nggak kolot jadi santri”
            “Alah, kamu mar! bosen denger ocehanmu!” Syifa mengangkat kepalanya dari bahu maryam.
            “Ya sudah, up to you!” cetus maryam sedikit kesal.
            “Ye, ngambek!”
            “Siapa yang ngambek? Sudah ah…. Makan yuk!”
            “Boleh, yuk!” jawab Syifa semangat. Karena selain perut syifa keroncongan dia ingin cepat berlari melupakan masalah yang sedang ia alami.
            Kedua sahabat itu beranjak dari bangku yang menjadi korban mereka berdua. Kasihan, ia selalu diduduki. Tapi bukankah dia diciptakan untuk itu? Ya, begitulah mungkin yang seharusnya, segala sesuatu difungsikan sesuai dengan tujuan penciptaannya.
            Syifa dan Maryam melangkah lemah menelusuri taman pondok. Langkah mereka pendek sekali. Bagaimana tidak, mereka adalah wanita, apalagi mereka mengenakan rok panjang.
            Jarak mereka baru sepuluh meter dari tempat mereka duduk. Tetapi beberapa pasang mata memerhatikan mereka berdua. Syifa mulai rish, beberapa hari ini dia sudah mulai terbiasa menjadi sorotan sekitar dua ribu santri putri. Suebuah suasana yang tidak pernah diinginkan terjadi padanya. Tetapi apa boleh buat, semua telah terjadi dan dia harus sanggup menjalaninya.
            Sesampainya di depan rayon asrama, para santri semakin banyank yang menyempatkan diri melirik tajam kearah Syifa, bahkan mereka saling berbisik satu sama lain.
            Maryam mengelus bahu syifa yang berjalan dengan keadaan menundukkan kepala, dia sudah tidak sanggup menjalani semua ini. Kitab di tangannya makin erat ia peluk. Matanya tidak lagi berkaca-kaca melainkan sudah melelehkan airmata dengan deras.
            Seketika, kitab Fathul Qorib miliknya ia serahkan kepada Maryam. Kedua tangannya ia gempalkan sekuat mungkin. Dengan tangisan yang ia lepaskan begitu saja Syifa lari kearah  kamarnya.
Syifa telah sampai di ambang pintu kamar, wajah syifa ditutupi dengan ujung  jilbab. Ia berhenti sejenak, mengamati suasana isi kamar dan kemudian meninggalkannya.
Sekuat tenaga ia berlari, entah tempat mana yang akan ia tuju, karena luas pondok putri hanyalah satu hektar dan tertutup. Syifa benar-benar tertekan, hatinya tak karuan dan hanya dapat diekspresikan dengan tangisan. Ribuan pasang mata mengamati, mengikuti arah langkah kakinya.      
Maryam sahabat dekatnya hanya mampu terpaku durja menyaksikan gundah keadaan sosok sahabat yang sejengkal lagi mungkin akan mengalami depresi. Begitulah yang ia khawatirkan sebagai hipotesis analisisnya akhir-akhir ini terhadap masalah-masalah yang menimpa Syifa.
“Syifa...........” Teriak maryam tanpa terasa air mata mengalir pelan di kedua pipinya.
                ‘Ya Allah....Kuatkanlah Syifa’ pintanya dalam hati.
###



            Sebulan yang lalu pondok putri digemparkan dengan kejadian yang sebenarnya sepele, menggelikan namun menjadi pembicaraan serius di pondok putri. Siang itu menjelang shalat dhuhur santriwati berhamburan di sekitar musholla, beberapa diantara mereka terlihat mengantri di tempat wudhu, sebagian mengantri di depan kamar mandi, bahkan ada yang masih sempat duduk ngobrol ria di taman, mungkin mereka menunggu antrian sepi. Yang tersisa di ruang kelas mengkaji kitab Nurul Yaqin hanya kelas 1 Aly di musholla. Terkadang memang jika Nyai mengajar memerlukan waktu lebih, karena beliau mengkaji kitab tersebut dengan perbandingan kitab-kitab lainnya.    
            Akhirnya pengajian beliau selesai juga, setelah membaca lantunan sholawat dan Ikhtitam madjlis mereka bubar, para santriwati berdiri takdim membuka jalan bagi Nyai, beliau berajlan perlahan menuju pintu utama musholla, sesampainya di depan musholla, beliau terlihat bingung menoleh ke bawah kanan-kiri seakan mencari sesuatu. Nyai menjadi perhatian para santri, baik yang berada di dalam maupun di luar musolla, namun tak satupun mendatangi nya. Entahlah, mungkin mereka segan. Hingga Fina khodimah beliau mendatangi Nyai, ternyata beliau mencari sepasang sandal jepit miliknya.
            Fina menawarkan sandalnya untuk dipakai Nyai, namun beliau hanya menggeleng dan tetap mencari. Fina bergegas menuju teman-temannya, barangkali salah satu mereka memakainya.
            Para santriwati saling menatap satu sama lain dan memperhatikan kaki-kaki yang berserakan di sekitar merka. Tak jua ditemukan sandal itu.
            “Fina, sandalnya seperti apa?” tanya salah seorang santri
            “Warna pink, sandal japit merek ando” sautnya
            Syifa sedang asyik membasuh wajahnya dengan air di kran tempat wudhu, kakinya berhias sepasang sandal japit ando berwarna pink. Beberapa santri memperhatikan kaki itu dan saling berbisik. Akhirnya ada juga yang berani angkat suara.
            “Fina, mungkin ini sandal Nyai” teriaknya sambil menunjuk ke arah kaki syifa
            Fina mencari asal suara tersebut dan mendatanginya. Syifa bingung, karena sandal yang dikenakan memang miliknya.
“Ini sandal ana” jawab syifa pelan
Setelah diteliti, fina mengambil kesimpulan
“Ini sandal Nyai, sandal japit ando warna pink ukuran 39” fina mengambilnya dari kaki syifa. Syifa hanya pasrah hak miliknya di bawa fina. Demi sang Nyai, pikirnya.
“Itu bener sandal syifa” maryam yang mengantri di belakang syifa membela teman akrabnya.
“Ah, mentang-mentang teman dekat dibela” celetuk salah seorang santri
Agar tidak memperpanjang masalah syifa dan maryam memilih diam membiarkan sandal hak miliknya dibawa kehadapan Nyai. Di samping kiri musholla yang berjarak sekitar 10 meter dari tempat syifa berdiri terdapat kamar mandi. Di depannya terlihat rina baru keluar dari salah satu pintunya. Sambil merapikan jilbabnya ia memperhatikan Nyai yang menjadi sorotan para santri.
Rina, Maryam dan Syifa memang teman dekat. Mereka satu kamar dan selalu diskusi bersama. Keakraban mereka melebihi saudara, tak jarang jika dalam keadaan darurat mereka memakai barang temannya tanpa sepengetahuan pemilik, dan mereka bertiga sudah saling memaklumi hal itu.


 Tak sengaja syifa melihat rina mengenakan sandal pink, entah dari mana teman dekatnya itu bisa memakai sandal yang mirip dengan miliknya. Meski sebenarnya ia memang sering meminjam dari syifa, mungkin rina salah memakai sandal yang ia pikir sepasang sandal japit itu adalah milik Syifa. Tanpa memikirkan hal itu syifa spontan angkat suara.
“Mbak fina, mungkin itu sandal Nyai” teriaknya sambil menunjuk kearah sandal yang dikenakan rina.
Rina menjadi sorotan semua yang berada disekitarnya, tak terkecuali Nyai dan fina. Sebelumnya fina memang agak bimbang, namun akhirnya dia juga mendatangi rina dan mengecek sandal yang ia kenakan. Setelah diteliti, dipertimbangkan dan dibedakan akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwasannya sepasang sandal yang dikenakan rina adalah milik Nyai, karena sandal Nyai masih terlihat baru daripada milik syifa, dan memang umur sandal beliau tidak lebih dari dua minggu. 
Fina membawa sandal yang dipakai rina kehadapan Nyai, di pertengahan jalan ada salah seorang santri yang nyeletuk agak keras “Wah.....ternyata rina malingnya.....”
Spontan sorak santri lainnya serempak “WUW.........Maling!.....WUW.........Maling!”
Rina menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, Mataya mulai berkaca-kaca, tanpa dapat ditahan lagi pecah juga tangisnya, air mata mengalir deras. dengan tangisan, hati yang hancur, tanpa sandal ia berlari mencari tempat yang sepi.

###

“Ana sudah nggak tahan lagi mar, ini sudah keterlaluan, biar ana saja yang angkat kaki dari pondok ini” Syifa tidak dapat mengendalikan emosinya.
“Astaghfirulloh syifa....kamu nggak boleh ngomong gitu, hanya dengan hal sepele begini kamu mengubur dalam-dalam masadepanmu? Ini hanya sebuah cobaan dari Allah, ana yakin kamu bisa menghadapinya” maryam menguatkan hati syifa.
“Tapi kelakuan dia sudah keterlaluan mar, sekarang kasus ini sudah ke Nyai, apa yang harus ana lakukan?” tanyanya putus asa.
“Jangan sudzon sama orang lain syifa. Sudahlah, sabar aja, semua ada hikmahnya”
“Syifa, Nyai sudah nunggu dari tadi”salah seorang petugas keamanan pondok putri mendatangi lagi kamar syifa setelah meninggalkan kamar itu lima menit yang lalu.
“Oh iya, sebentar, masih ganti pakaian” jawab syifa
Malam itu mungkin malam terakhir syifa di pondok putri. Ia ditunggu Nyai di Ndalem beliau, kemungkinan besar ia akan diskors atau dikeluarkan dari pondok. Pasalnya syifa akhir-akhir ini sering keluar masuk pintu keamanan pondok. sudah empat minggu berturut-turut ia mendapatkan surat cinta dari santri putra. Prosesnya juga sudah terlalu panjang, hingga keputusan terakhir berada di tangan Nyai malam ini.  
Syifa sudah berdiri di depan Ndalem, hatinya bergetar, masih belum percaya tentang musibah yang ia alami saat ini. Bibirnya tak berhenti memantrakan doa yang ia harapkan dapat menolong dirinya sekarang. Apapun keputusan Nyai malam ini, ia akan terima dengan lapang dada dan sbar.
“Neng syifa, silakan masuk, Nyai sudah nunggu” seorang khodimah mempersilakan syifa memasuki Ndalem
Perlahan syifa memasuki rumah pengasuh pondok,  jantungnya berdetak semakin cepat, bibirnya masih tetap komat-kamit. Sampailah ia di ruang tamu. Nyai sudah duduk manis di salah satu sofa.
“Silakan duduk syifa!” perintah Nyai. Yang diperintah nurut duduk tepat dihadapan Nyai
“Syifa tau kenapa dipanggil kesini?” tanya Nyai basa-basi. Syifa hanya mengangguk
###
            Suasana shalat dhuhur berjamaah di musholla pondok putri terasa tegang, paembacaan wirid jadi terkesan melelahkan. Terlihat beberapa santri saling berbisik satu sama lain, topik pembicaraan mereka tidak jauh beda, dan itu membuat pembacaan wirid menjadi tidak khusu’.
            “Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh” usai pembacaan wirid Nyai yang masih berada di mihrob membuka pembicaraannya
            “Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh” para santri menjawab serentak meski terdengar rendah, tertanda suasana masih tegang.
            Nyai mulai bicara tentang peraturan pondok, tentang hikmah adanya peraturan. Beliau juga mewanti-wanti santri untuk tidak melanggar apalagi pelanggaran syariat.
            “Syifaul qulub, silakan maju ke depan” perintah nyai, tanpa pikir panjang syifa berdiri di hadapan jamaah santri putri
            Setelah menjelaskan singkat tentang kasus syifa, Nyai mengambil keputusan
            “Ini adalah pelajaran bagi semua santri agar tidak jatuh pada lubang yang sama, mulai hari ini, saudara kita syifa diskors selama enam bulan” kata-kata nyai menggores hati para santri, syifa dan sebagian teman karibnya terisak menyucurkan air mata.
            “NYAI.............” salah satu santri putri teriak lantang, menyita perhatian Nyai dan seluruh santri, ia memberanikan diri maju berdiri di samping syifa. Syifa heran dengan apa yang dilakukan santri tersebut, terlebih lagi ialah seorang yang selama ini dicurigai syifa menebar fitnah terhadap dirinya. Sayang, ia belum punya bukti kuat untuk menuduhnya.
            Mau apa lagi orang satu ini, batin syifa bertanya-tanya
            “Nyai, saya mohon syifa jangan diskors. Saya yang selama ini telah memfitnah syifa, mungkin karena saya tidak sengaja dipermalukan di depan umum satu bulan yang lalu, dan semenjak itu saya menyimpan dendam terhadapnya. Dipermalukan di depan umum memang sakit rasanya, namun ternyata ada yang lebih sakit dan perih dari itu, yaitu ketika saya kehilangan seorang sahabat” tangisan rina dan syifa pecah, air mata mengalir lebih deras, di hadapan halayak santri mereka berpelukan. Membuat haru suasana dengan tangisan Nyai dan sebagian besar santri putri.   
            Dibalik itu, Maryam dengan air matanya tersenyum ceria. Canda tawa persahabatan  dengan syifa dan rina yang selama ini hilang, akan ia temui lagi hari ini, esok dan hari selanjutnya.  

0 komentar:

Post a Comment