Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 13, 2012

Sejarah panjang Konflik Israel – Palestina



 Agama, Ras dan Geopolitik

Ketika hampir seluruh entitas penduduk bumi sudah menikmati kemerdekaannya, ada satu wilayah teritorial yang terus didera konflik berkepanjangan dan masih terjerat belenggu imperialis dan kolonialis. Memasuki abad ke 20 negara-negara dunia mulai memperoleh kemerdekaannya pasca kejatuhan terstruktur Khalifah Utsmaniyah (Ottoman Dynasty) yang berpusat di Turki melalui agenda Nasionalismenya Mustafa Kemal Pasha setelah enam abad berkuasa pada rentang kurun waktu 1299-1923. Perang Dunia 1 dan 2 lalu melahirkan negara-negara merdeka baru dunia ke -3. Namun bagi Palestina, masa suram penjajahan barulah dimulai. Sejak tahun 1948 mereka secara “sah dan resmi” dijajah oleh pemerintah kolonial Israel.

Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Palestina saat ini kita harus menarik jarum waktu jauh mundur ke belakang. Tidak seperti penjajahan lain yang motifnya “sederhana”, seperti ekspansi kekuasaan, mengambil alih kekayaan tanah jajahan, memperkuat pengaruh politik, atau penyebaran agama saja. Pendudukan Israel ke Palestina lebih kompleks dari sekedar Gold, Gospel and Glory, semboyan yang didengungkan kerajaan Eropa jaman dahulu melebarkan sayapnya menjelajahi dan menjajah pelosok bumi termasuk Belanda ketika hendak menguasai Nusantara.

Gurita Pengaruh Kekuatan Lobi Politik Israel
Israel dalam literatur Islam adalah nama Nabi Ya’qub putra Ibrahim alaihimassalam. Terdapat hadis nabi saw. riwayat Abu Dawud melalui sahabat ibn abbas yang mendasari pendapat ini seperti dikutip ibnu katsir dalam tafsirnya. Kristen dalam Alkitabnya juga sama dengan islam dalam hal ini. Seiring berbagai peristiwa dan rentang waktu, Israel kemudian mengalami perluasan makna menjadi nama satu komunitas, untuk tidak mengatakan negara Yahudi.

Sejak era Nabi Musa, Nabi Isa hingga kini Bani Israel dikenal sebagai bangsa yang pintar, cerdas, namun licik dan arogan. Kepandaian mereka di masa Nabi Musa terlihat pada trik Musa As-Samiri yang bisa membuat patung sapi ciptaannya berbicara dan dengan lihai meperdaya iman Bani Israil kepada Nabi Musa. Nabi Musa seperti dikisahkan berulang kali dalam al-qur’an sering kali dibuat repot gara-gara ulah dan tingkah kaumnya itu. Meski sempat diakui sebagai umat terbaik, namun tak sedikit oknum umat Nabi Musa itu yang membuat orang geleng-geleng karena keras kepala dan sikap mereka yang justru mempersulit mereka sendiri. Sekali waktu mereka ingin melihat tuhan dengan mata kepala. Pernah juga mereka menggugat Hadiah Tuhan yang berupa makanan surga –manna dan salwa lalu menuntut aneka makanan selainnya, meminta meja dengan hidangannya turun langsung dari langit, dan meminta tuhan baru. Dari kisah mereka kita bisa sedikit mengenal karakter mereka, keras kepala, suka seenaknya dan arogan. Dan sampai sekarang pun watak mereka tidak juga berubah. Arogansi Israel yang kebijakan politiknya selalu didukung sekutunya Amerika terlihat jelas dari invasi ke Palestina yang tak mengindahkan hak-hak warganya. Kesewenang-wenangan mereka merusak stabilitas dunia  internasional semakin nyata dalam serangan ke kapal bantuan sosial Mavi Marmara. Israel dan Yahudi bagaikan dua sisi dari mata uang logam. Mereka menyebut Israel untuk bermaksud Yahudi dan sebaliknya. Ini tak lepas dari dogma agama Yahudi yang menganut eksklusifitas untuk ras Israel. Sebab hal inilah pada tahun 1975 Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 PBB yang menyatakan zionisme adalah satu bentuk rasisme. Sayang, resolusi yang telah lolos dan disetujui harus ditarik kembali karena Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 4686 yang isinya mencabut Resolusi 3379.

Dari data sejarah yang terekam dalam berbagai literatur inilah, bisa disimpulkan bahwa Yahudi adalah salah satu bangsa tertua berpengaruh yang tetap eksis dan survive. Sampai kini, orang-orang hebat kaliber dunia dari Yahudi sejak awal kemunculan mereka, pada abad pertengahan hingga era kecanggihan teknologi IT saat ini sangatlah banyak seakan takkan ada habisnya.

Dalam perjalanannya, kaum yahudi tidak selalu mendapat kejayaan. Pada masa Nabi Musa, mereka dalam waktu lama terhina di bawah penindasan Raja Fir’aun. Beberapa dinasti tercatat mengusir mereka seperti Babylonia di Persia, Ratu Isabell di Spanyol, Tsar Alexander III di Rusia dan Hitler di Jerman. Muncul asumsi bahwa mereka diusir karena dianggap sebagai ancaman berbahaya dan sifat buruk mereka yang pragmatis. Menghalalkan segala cara demi meraih tujuan. Meski mungkin tak semua informasi tersebut benar-benar akurat dan objektif bahkan mungkin hanya cerita rekaan untuk meraih simpati dunia saja seperti Tragedi Holocaust yang nanti akan disinggung pula dalam rubrik ini.

Nasib Yahudi mulai menemukan titik terang ketika Amerika Serikat berdiri pada tahun xxx dan mendapat kedaulatannya sebagai negara. Kedekatan hubungan mereka sudah tak asing lagi bagi dunia. Jika ditelusuri lebih lanjut, akar persahabatan mereka memang telah tampak sejak era para founding father Amerika Serikat. Lihat saja kutipan surat John Adams yang ditujukan kepada Thomas Jefferson: ''Saya percaya, kaum Ibranilah yang lebih baik membangun peradaban dibandingkan dengan bangsa lain.'' Begitu juga Woodrow Wilson, yang berpendapat bahwa negara Yahudi kuno adalah contoh yang paling ideal bagi negara baru yang tengah dibangun. Salah satu simbol negara Amerika Serikat yang dirancang Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, dan John Adams menggambarkan bangsa Israel yang tengah menyeberangi Laut Merah dalam kejaran Firaun, sementara Musa sudah di seberang. Thomas Jefferson, Benjamin Franklin dan John Adams adalah trio Bapak Pendiri Amerika.

Kedekatan keduanya sangatlah nyata terlihat. Di Israel, untuk menghidupkan lagi bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan dibutuhkan waktu dua abad. Tapi, di kalangan akademisi Amerika, bahasa itu sudah lama diakrabi. Banyak universitas Amerika memasukkan bahasa Ibrani dalam kurikulum. Di Universitas Harvard, bahasa itu sempat diwajibkan pada 1787. Sementara pada logo Universtas Yale tertulis kata Ibrani Urim V'Thummim (Belajar Bijaksana). Harvard dan Yale adalah dua perguruan tinggi terbaik dunia yang biasa mencetak generasi sukses. Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg adalah jebolan Harvard yang berhasil menjadi miliarder termuda dunia di usia ke 24 versi Forbes yang juga seorang Yahudi dan beberapa presiden amerika seperti Bill Clinton adalah lulusan Yale University. Itu hanya sedikit gambaran tentang orang-orang mereka.

Dukungan Amerika terhadap aspirasi kaum Yahudi untuk memiliki tanah air impian juga telah muncul jauh-jauh hari. Pada masa pendudukan Inggris, John Adams telah menulis: ''Saya sangat berharap, kaum Yahudi akan tiba kembali di Yudea dan melahirkan negara yang berdaulat di sana.'' Presiden Abraham Lincoln juga mengisyaratkan hal serupa.

Sejarah Amerika tak lepas dari kontribusi Yahudi maka tak aneh jika sampai sekarang kebijakan Amerika selalu menunjukkan keberpihakan penuh kepada Israel.  Catatan sejarah memang menunjukkan bahwa Pemerintah Amerika Serikat adalah pemerintah paling pro-Israel di seluruh dunia. Israel dan Amerika telah membuktikan diri sebagai kawan akrab pada 1948 saat Israel terbentuk. Bayangkan, hanya enam menit setelah Israel diproklamasikan pada 14 Mei 1948, Presiden Harry Truman menjadi kepala negara pertama yang mengakuinya. Sama sekali di luar kebiasaan Amerika yang hanya mau mengakui negara dengan batas wilayah yang jelas. Sekali lagi, hanya butuh waktu enam menit!

Tatkala berjumpa dengan Henry Wentworth, seorang zionis Kanada yang berharap agar kaum Yahudi bisa dipersatukan di tanah impian mereka di Palestina, Abraham Lincoln mendukung. ''Itu impian mulia yang juga ada di hati banyak warga Amerika,'' katanya. Pada 1883, Emma Lazarus, penyair ternama Amerika yang kata-katanya tertulis di Patung Liberty, menuliskan dukungan pada gagasan tanah air Yahudi. ''Palestina harus menjadi rumah bagi kaum tak berumah, tujuan bagi darah pengembara, perlindungan bagi para terpidana, dan negara bagi kaum terusir,'' tulis Emma Lazarus. Pada 1891, ketika Tsar Alexander III memula pengusiran kaum Yahudi di Rusia, gerakan yang mendukung pendirian negara Yahudi memperoleh momentum yang paling kuat di Amerika Serikat. Saat itu, Hakim Agung dan Juru Bicara Kongres, William E. Blackstone dan Kardinal Gibbons, mengantarkan sendiri sebuah petisi kepada Presiden Benjamin Harrison dan Menteri Luar Negeri James Blaine. Mereka menuntut penyelenggaraan sebuah konferensi internasional, yang membicarakan klaim bangsa Israel bahwa Palestina adalah tanah air mereka. ''Kami percaya, saat ini adalah waktu yang tepat bagi semua bangsa, khususnya bangsa-bangsa Kristen Eropa, untuk menunjukkan keramahan pada bangsa Israel. Mari kita kembalikan kepada mereka tanah yang dulu secara paksa dikuasai oleh nenek moyang kita orang Roma,'' begitu salah satu kalimat yang tertulis dalam petisi yang dibawa Blackstone dan Gibbons.

Amerika juga menjadi negara pertama yang ada di belakang Deklarasi Balfour yang digagas Lord Balfour, Perdana Menteri Inggris pada 1917 yang juga seorang Yahudi. Saat itu, kepada Lord Rothschild, Presiden Federasi Zionis Inggris, Lord Balfour mengirimkan surat yang berisi janji Pemerintah Inggris untuk memfasilitasi pendirian negara Yahudi di tanah Palestina. Melihat sejarah itu, dukungan Presiden Harry Truman pada proklamasi negara Israel yang dilakukan David Ben-Gurion terrlihat bukan keputusan yang terburu-buru.

Peristiwa Holocaust yang menghebohkan dunia pada era perang dunia ke 2 (1933-1945) karena genosida yang digambarkan media sangat kejam dilakukan oleh Adolf Hitler menjadi momen terbaik berikutnya bagi Yahudi mendirikan tanah airnya di bumi Palestina. Mereka dengan jeli melihat dan menangkap peluang dalam tragedi. Tapi benarkah bangsa Yahudi dibantai sedemikian rupa oleh Jerman? Tak sedikit kalangan yang menyangsikan kebenaran peristiwa ini dan berasumsi bahwa berita telah didramatisir sedemikian rupa oleh media dan campur tangan penguasa yang berkepentingan. Jika dibandingkan, mirip dengan Peristiwa G30S/PKI yang kini mulai memunculkan “kebenaran-kebenaran” yang datang dari pemeran lama dan dahulu terbungkam oleh tangan besi rezim orde baru. Peristiwa G30S/PKI inilah yang mengorbitkan pahlawan baru Indonesia yang lalu menjadi penguasa tanah air yakni rezim Orde Baru. Peninjauan kembali dan pelurusan sejarah terkait Peristiwa G30S/PKI  pun mengemuka. Kenyataannya, sejarah apapun, selalu rentan dengan konspirasi dan rekayasa tangan tak terlihat penguasa. Kendali media merupakan urusan vital untuk menciptakan persepsi publik. Yahudi memang tak pernah tertinggal dalam semua lini kehidupan. Banyak kalangan masyarakat yang tertelan tanpa sadar dan tergiring opini yang mereka ciptakan. Taipan media, Rupert Murdoch yang membawahi grup media News Corp. dan pemilik Studio Film terkenal Fox Century  adalah salah satu keturunan Yahudi. Sutradara besar kenamaan Hollywood kreator film-film Box Office, Steven Spielberg juga seorang Yahudi. Wajar jika beberapa filmnya tak lepas dari aroma zionis dan lebih pantas disebut dengan film propaganda daripada murni karya seni. Dia juga tak segan memecat artisnya yang berlawanan arah dengan doktrin anutannya. Jika ingin mengetahui jejak Yahudi di berbagai belahan dunia, sangatlah panjang lebar dan luas untuk dijelaskan. Peristiwa besar dalam sejarah pergolakan dunia selalu dikaitkan dengan Amerika Serikat dan pengaruh kuat Israel di tubuh Amerika menimbulkan aroma perpaduan kepentingan geopolitik antara keduanya dalam kemunculan peristiwa-peristiwa itu.

Kenapa Harus Palestina
Pemilihan Tanah Suci Tiga Agama yaitu Palestina untuk dikuasai oleh Israel bukan tanpa alasan. Ada latar belakang historis dan doktrin agama yang melandasi pilihan Israel mendiami paksa Tanah Suci tiga agama itu. Harun Yahya, ilmuwan muslim tersohor dari Turki dalam tulisannya di situs www.harunyahya.com mengatakan, kaum yahudi telah tinggal di tanah Palestina sebelum mereka terusir oleh  pada tahun 70 M. Kenyataan ini membuat mereka selalu bermimpi untuk bisa kembali ke “rumah” mereka. Selama berabad-abad palestina berganti tangan dari satu penguasa ke penguasa lain tapi bukan Yahudi. Romawi adalah salah satu penguasa palestina yang ketika itu merupakan satu dari dua kerajaan besar yang menguasai banyak wilayah selain Persia. Hingga pada masa khilafah islam, ekspansi yang dilakukan mujahidin muslim mencapai negara yang pernah menjadi kiblat umat muslim di masa rasulullah yaitu baitul maqdis. Ya, palestina akhirnya beralih ke naungan islam dengan Khalifah Umar bin al-Khattab sebagai amirul mukminin. Beliau lalu menjalankan toleransi dalam beragama seperti tuntunan rasulullah yaitu memilih islam atau membayar jizyah. Umat kristen dan  yahudi masih bebas berdampingan menjalankan ibadah mereka dan kepemimpinan islam ketika itu dikenal sebagai pemerintahan terbaik yang membawahi Palestina sebagai tanah suci tiga agama. Yahudi pun masih memendam hasrat mereka menjadi penguasa di tanah Palestina.

Kaum Yahudi sangat ingin tinggal tidak di tanah-tanah biasa, melainkan di Kanaan (Palestina), Tanah yang Dijanjikan Tuhan kepada mereka, kaum pilihanNya.  Sampai saat itu, kaum Yahudi meyakini bahwa kepulangan ke Palestina hanya akan mungkin dengan pertolongan seorang juru selamat yang disebut Messiah.  Akan tetapi, pada pertengahan abad ke-19, dua orang rabbi (pendeta Yahudi) merumuskan penafsiran baru atas doktrin ini.  Keduanya, Rabbi Judah Alkalay dan Rabbi Zevi Hirsch Kalisher, menyatakan bahwa tak usah lagi menunggu datangnya Sang Messiah.  Menurut penafsiran mereka atas naskah kuno suci Yahudi, kaum Yahudi dapat pulang ke Palestina lewat kekuatan politik dan ekonomi sendiri, dengan bantuan kekuatan-kekuatan besar Eropa.  Ini akan menjadi langkah awal datangnya Messiah.

Penafsiran rabbi ini mempengaruhi para nasionalis muda Yahudi.  Tak terbantahkan, yang paling terkenal di antara mereka adalah seorang wartawan muda Austria bernama Theodor Herzl.  Dengan menjelmakan penafsiran ulang doktrin kedua rabbi menjadi suatu gerakan politik aktif, Herzl mendirikan Zionisme politik.  Zionisme mengambil namanya dari Gunung Zion yang suci di Yerusalem; tujuannya adalah pulangnya kaum Yahudi sedunia ke Palestina.  Herzl memimpin kongres Zionis pertama di Basel, Swiss.  Di sana mereka mendirikan World Zionist Organisation (Organisasi Zionis Dunia).  Kelompok ini akan mengarahkan gerakan Zionis dengan penuh kesabaran dan keteguhan hingga berdirinya negara Israel.  WZO mempunyai dua tujuan utama: menjadikan Palestina tempat yang cocok bagi pemukiman kaum Yahudi, dan mendorong seluruh kaum Yahudi, mulai dengan yang di Eropa, berpindah ke Palestina. Situs in-christ.net dalam artikelnya menyatakan bahwa menguasai palestina adalah salah satu langkah menuju rencana kedatangan messiah, juru selamat yang akan membawa bangsa israel berjaya. Doktrin inilah yang akhirnya membuat Israel menghalalkan segala cara menuju realisasi skenario besar yahudi menuju tatanan dunia baru yang selalu mereka impikan. Amiruddin Fahmi

3 comments:

  1. mashya allah,, komplit dan diksinya enak.. runtut.. syukron atas infonya.. semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  2. Masya Allah, sejarahnya panjang dan berurut ya.. Bagus sekali infonya. Seharusnya semua orang baca ini.

    ReplyDelete
  3. Tinggal bagaimana kita menyikapinya...karena di indonesia,Papua khususnya pun zionis israel sudah melancarkan arogansinya. Bila pemerintah,aparat keamanan tidak Siap akan berdampak buruk bagi Keamanan & kerukunan beragama di Indonesia. Mereka adalah musuh yg pintar & sangat berbahaya bagi bangsa kita.

    InsyaAllah bangsa kita dijauhkan dari kedzoliman mereka. Amin.

    ReplyDelete