Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, April 17, 2012

Sakinah Edisi Rabi'ul Awwal 1433 H



          1. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ustad Yahya yang saya hormati, saya minta tolong bantuannya. Suami saya adalah seorang yang tempramental, sering marah-marah walaupun tanpa sebab bahkan kadang-kadang kemarahannya dilampiaskan kepada saya ataupun kepada anak-anak saya, bagaimana seharusnya yang harus saya perbuat? apakah saya boleh untuk meminta cerai? Tolong  jawabannya ya ustad...
Dari: Ibu Raihanah, Situbondo (0858 155969XX)
Wa’alaikumsalam Wr.Wb. Dalam menyikapi suami yang mudah marah adalah dengan koreksi diri dahulu sebab bisa saja seorang suami marah atau berbuat dhalim kepada istri karena keteledoran istri dalam melaksanakan kewajiban kepada suami. Atau seorang istri melakukan sesuatu kesalahan yang tidak ia rasa namun amat menyakitkan suami. Jika demikian adanya maka seorang istrilah yang perlu berbenah diri terlebih dahulu sebelum menuntut sang suami berbenah. Ini adalah cara pertama menyelesaikan masalah yang sering dilupakan.
Jika ternyata memang sifat dan prilaku suami adalah dholim dengan marah tanpa sebab serta melampiaskanya amarah tersebut dengan cara dholim seperti memukul atau mencaci maki yang menyakitkan. Hal yang demikian tentu amat mengganggu keindahan dalam berumah tangga. Maka di saat seperti itu seorang istri mempunyai dua pilihan. Pertama, bersabar dan berusaha untuk merubahnya dan sungguh ini adalah suatu kemuliaan yang agung. Kedua, jika memang tidak mampu untuk bersabar maka ia bisa minta cerai karena sesorang tidak boleh dipaksa untuk bertahan di bawah kedholiman. Sebab salah satu sebab diperkenankannya seorang istri meminta cerai adalah jika ia benar-benar didholimi suami. Wallohu a’lam bishshowab.
          2. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Ustad Yahya, Saya ini adalah seorang wanita yang berumur 25 tahun dan belum menikah, akan tetapi orangtua saya memaksa saya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak saya cintai, apakah saya boleh menolak perintah orang tua saya? Tolong jawabannya ustad....
Dari: Fauziah, Yogyakarta (081234212XX)
Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Kita berkewajiban untuk patuh, berbakti kepada orang tua dan agar tidak durhaka. Termasuk di dalam masalah pernikahan, bahkan kebanyakan kedurhakaan seorang anak bermula dari masalah pernikahan. Mulai saat memilih atau setelah menikah, karena mengikuti hawa nafsu seorang anak menyakiti orang tua tanpa ia sadar.
Usia anda 25 tahun itu adalah usia menikah. Apa alasan anda menolak? jika alasannya karena laki-laki tersebut tidak baik agama dan akhlaqnya maka penolakan anda dibenarkan. Akan tetapi, jika penolakan anda tanpa alasan atau karena anda punya calon sendiri itu adalah hakekat kedurhakaan kepada orang tua. Kalau memang pilihan orang tua anda adalah orang baik yang layak menjadi suami anda (sekufu) dan hati anda sehat tentu anda sangat senang dengan pilihan orang tua anda . Dan anda tidak akan menolak kecuali hati anda yang sakit karena sudah tidak hormat dan patuh pada orang tua atau karena anda sudah terlanjur mencintai seseorang. Kedua-duanya adalah awal bencana kedurhakaan. Mohon dikoreksi kembali sebab penolakan anda. Wallohu a’lam bishshowab.
          3. Asalamualaikum Wr. Wb. Ustad Yahya, langsung saja ustad. Saya mencintai seorang pria yang telah lama saya berhubungan dengannya, akan tetapi kedua orang tua saya tidak merestui hubungan kami, kemudian kami berdua kawin lari dan menikah secara sirri, apakah pernikahan kami sah ya ustad? tolong  jawabannya.....
Dari: Olivia, Bandung ( 0852668594XX)
Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Yang ada di dalam Islam adalah membangun cinta di atas pernikahan yang penuh berkah dan bukan membangun pernikahan di atas cinta.Yang membangun pernikahan di atas cinta akan terjerumus dalam dalam petualangan cinta yang haram atau pacaran dan pacaran adalah mendekati zina yang dilarang di dalam Alquran. Pacaran adalah cara orang di luar Islam. Lebih dari itu hilangnya kepatuhan kepada orang tua banyak disebabkan karena mencintai sebelum waktunya. Contohnya adalah yang anda lakukan karena anda terlanjur mencintai laki-laki pilihan anda hingga menjadikan anda nekat untuk kawin lari. Kalau anda tidak cinta terlebih dahulu tentu anda tidak akan melakukan yang demikian itu.
Yang harus anda sadari adalah ada kesalahan beruntun yang anda lakukan mulai dari anda mencintai laki-laki yang belum halal untuk anda hingga pada akhirnya orang tua anda tinggalkan. Kebaikan orang tua anda merawat anda belasan atau puluhan tahun anda lupakan karena kebaikan seseorang yang baru beberapa bulan.
Adapun masalah pernikahan anda memang dalam fiqih syafi’i saat dua calon mempelai berada di tempat yang lebih dari 2 marhalah atau 84 km kemudian minta dinikahkan oleh hakim atau muhakkam (orang soleh yang dipilih untuk menikahkan) dengan dihadiri 2 saksi maka penikahannya adalah sah. Akan tetapi yang harus kita sadari bahwa pernikahan tidak cukup hanya urusan sah dan tidak sah, akan tetapi barokah dan ridho orang tua adalah amat penting.
Banyak transaksi juga akad yang sah namun mengandung dosa seperti jual belinya seorang laki-laki yang wajib jumatan di saat adzan jumat dikumandangkan. Bahkan kadang membawa dosa besar yang akan menjadi sebab kehancuran nilai akad yang sudah sah tadi. Yaitu seperti pernikahan yang tidak diridhoi orang tua lalu dilaksanakan dengan cara tersebut pernikahannya sah namun tetap dosa.
Maka koreksilah kesalahan anda dan segeralah meminta maaf  kepada orang tua dan memperbanyak pengabdian kepada beliau. Sebab pernikahan yang dilaksanakan dengan menyakiti orang tua tidak akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akherat. Wallohu a’lam bishshowab.

                                                          

0 komentar:

Post a Comment