Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 13, 2012

Raja islam sang Pengembara



Al Habib Sultan Abdurrahman bin Husain Al-Qodri
“Cerminan peristiwa fathul mekkah pada tahun ke delapan hijriyah, beliau menggagas fathul pontianak tahun 1185 hijriyah”
(Afwan, latarbelakang penulis yang notabenenya terjun di dunia Novel agak sedikit mempengaruhi hasil karya ini, sekali lagi maaf)
Indonesia memasuki reting tertinggi penduduk muslim terbanyak di dunia, meskipun secara bentuk kenegaraan Indonesia bukan termasuk negara Islam, namun sampai sekarang negara tercinta kita ini memberikan kontribusi yang besar bagi dunia Islam. Wali Songo sebagai pioner penyebar agama Islam kini tinggal histori sebagai suri tauladan. Selanjutnya estafet perjuangan diteruskan oleh para ulama. Tidak hanya di tanah Jawa, perjuangan para ulama dan habaib tersebar di seluruh pulau di Indonesia. Hal itu terbukti dengan adanya kerajaan islam tertua di indonesia di tenggarong, kerajaan kutai kartanegara. Di jambi, sosok yang digelari Rang Kayo Hitam menjadi pejuang Islam di daerah tersebut. Di Kalimantan Barat terkenal dengan adanya kerajaan Pontianak, kerajaan tersebut merupakan kerajaan Melayu terakhir. Sebuah kerajaan yang didirikan oleh salah satu dzurriah Nabi Muhammad saw. Beliau adalah Al Habib Sultan Abdurrahman bin Husain Al Qodri.
Al Habib Sultan Abdurrahman Al Qodri merupakan putra dari salah seorang yang bukan hanya sekedar ulama namun juga wali Allah, yaitu Al Habib Husain Al Qodri yang terkenal dengan karomahnya. Beliau Al Habib Abdurrahman dilahirkan pada tanggal 15 Robiulawal 1151 H bertepatan dengan 3 Juli 1738 M. Di antara saudara-saudara beliau adalah Syarif (gelar bagi mereka para habaib di daerah pontianak,RED) Ahmad, Syarif Abu Bakar dan Syarif Alwi bin Husain Al Qodri.
Sang Pengembara    
Konsep hijrah Rosulullah saw. Diterapkan oleh Sultan Abdurrahman Al Qodri, terbukti ketika beliau remaja berumur 16 tahun dibawa oleh ayahnya hijrah dari Matan ke Mempawah, menginjak usia ke 18 beliau dinikahkan oleh ayahnya dengan Utin Cendramidi putri dari Upu Daeng Menambon. Tatkala umurnya 22 tahun, Syarif Abdurrahman pergi ke Pulau Tambelan selanjutnya ke Siantan dan terus ke pusat pemerintahan Riau di Pulau Penyengat. Beliau tinggal di sana selama kira-kira dua bulan. Kemudian melanjutkan pengembaraan  ke Palembang dan tinggal di daerah yang terkenal dengan Empek-empeknya itu  selama sebelas bulan. Ketika ingin kembali ke Mempawah para bangsa Arab yang berada di Palembang menghadiahkan dua ribu ringgit dan Sultan Palembang menghadiahkan sebuah perahu selaf dan seratus pikul Timah.
Tidak lama menetap di Mempawah selama dua bulan beliau belayar ke tanah Banjar dan tinggal di sana selama empat bulan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke salah satu darerah di Kalimantan Timur (Pasir). Setelah menetap selama tiga bulan beliau kembali ke Banjar. Setelah dua bulan di Banjar, Syarif Abdurrahman Al Qodri dilantik oleh Penembuhan Batu menjadi Pangeran dan bergelar Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Allam. Setelah pelantikan tersebut beliau dinikahkan dengan puteri Sultan Sepuh, saudara pada Penembahan Batu yang bernama Ratu Syahbanun.
Setalah dua tahun menyandang gelar Pengeran beliau kembali ke Mempawah Kalimantan Barat. Setahun kemudian kembali ke Kota Berlian Banjar. Selama empat tahun di Banjar beliau dikaruniai dua orang anak, Anak lelaki beliau bernama Syarif Alwi bergelar Pangeran Kecil, dan anak perempuannya yang bertitel Syarifah Puteri bernama Syarifah Salmah.
Tertanggal  11 Rabiulakhir 1185 H yang bertepatan pada 24 Jun 1771 M beliau Pangeran Nur Allam berlayar menuju kampung halaman beliau di Mempawah dan mendapati sang ayah Al Habib Husain Al Qodri telah menutup mata selamanya. Beliau Pangeran Syarif Abdurrahman Al Qodri menetap selama tiga bulan dan berdiskusi bersama adik-adiknya Syarif Ahmad, Syarif Abu Bakar, Syarif Alwi bin Habib Husein al-Qadri ikut serta juga seorang kerabat mereka, Syarif Ahmad Ba'abud. Keputusan diskusi atau musyawaroh yang mereka adakan adalah beliau Al Habib Abdurrahman bin Husain Al Qodri akan keluar dari mempawah dan mencari tempat yang patut baginya.
Fathul Pontianak, Peperangan melawan Syetan dan Hantu
Habib Abdurrahman bin Husain Al Qodri angkat kaki dari Mempawah pada tanggal 14 Rojab 1185 H atau 23 Oktober 1771 M, beliau beserta rombongan sampai di Sungai Pontianak pada malam hari dan berlabuh  tepat di depan masjid yang sampai saat ini masih terawat dengan baik.
Keesokan harinya, Syarif Abdurrahman pun masuk ke Selat Pontianak dan berhenti di situ selama lima malam. Pada hari Rabu kira-kira jam 4 pagi Al Habib Abdurrahman Al Qodri  memberi perintah menyerang Pontianak yang dihuni oleh syetan dan hantu terlebih lagi hantu kuntilanak oleh sebab itu tanah tersebut dinamakan Pontianak karena mayoritas penghuni sebelumnya adalah Hantu Kuntilanak. Masing-masing mereka mengisi meriamnya dan menembak pulau itu. Hingga Al Habib Abdurrahman bin Husain AL Qodri Berseru “Berhenti perang karena sekalian hantu dan syaitan yang berbuai pada malam hari di pulau itu telah habis lari, janganlah tuan-tuan takut, marilah kita turun menebas pulau itu''.

Semua anak buah perahu turun bersama Syarif Abdurrahman membersihkan dan merapikan tanah tersebut dari hehutanan sehingga layak dihuni. Setelah selesai tahap Ihyaul Mauta, didirikan sebuah rumah dan sebuah balai. Kira-kira delapan hari dikerjakan, setelah itu Al Habib Abdurrahman Al Qodri kembali ke Mempawah mengambil sebuah kapal dan sebuah tiang sambung. Tepat  4 Ramadhan 1185 H bertepatan dengan 11 Desember 1771 M Syarif Abdurrahman pindah ke Pontianak.
Pelantikan Sultan Pontianak
Senin 8 Sya’ban 1192 H bertepatan pada 1 September 1778 M para sayyid, raja-raja dan penduduk berkumpul di Pontianak atas perintah ‘Raja Haji’ yang dianggap sepuh. Raja Mempawah, Raja Matan, Raja Ladak dan Raja Kubu sangat senang atas kehadiran mereka saat itu, terlebih lagi tentang pengangkatan Al Habib Abdurrahman bin Husain Al Qodri sebagai raja Pontianak.
Pada kesempatan tersebut ‘Raja Haji’ berkomentar Adapun kami memberitahu kepada sekalian tuan-tuan sayid, raja-raja, dan sekalian isi negeri Pontianak ini, pada hari ini, Paduka Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Allam kita sahkan berpangkat dengan nama Paduka Sultan Syarif Abdurrahman al-Qadri, iaitu raja di atas takhta kerajaan Negeri Pontianak, demikianlah adanya''
Wafat
Malam sabtu ketika Tahun Baru  1 Muharrom 1223 H bertepatan pada tanggal 28 Februari 1808 M beliau menghembuskan nafas terakhir di muka bumi. Kekuasaan beliau dipercayakan ke tangan Paduka Sultan Syarif Qasim bin Abdurrahman bin Husain Al Qodri yang sebelumnya menjabat sebagai Raja di Mempawah. Sedangkan kerajaan Mempawah dipimpin oleh Pangeran Mangku Negara Syarif Husain bin Abdurrahman bin Husain Al Qodri. Salah satu keturunan Al Habib Abdurrahman bin Husain Al Qodri yang juga berjasa bagi bangsa Indonesia adalah beliau AL Habib Abdul Hamid bin Muhammad Al Qodri yang bergelar Sultan Hamid II (1913-1978). Beliau merupakan penggagas Burung Garuda, lambang negara Indonesia.
  
  
Sultan Hamid II Pontianak (Kalbar)
Pencipta Lambang Negara
Burung Garuda Pancasila

0 komentar:

Post a Comment