Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, April 17, 2012

Menimbang efektifitas kurikulum formal dan pondok pesantren



            Pendidikan mempunyai peran penting dalam menaikkan kualitas SDM sebuah bangsa. hal itu dikarenakan pendidikan fungsi untuk membangun karakter manusia melalui pembelajaran materi dan praktek pengamalan, sehingga dengan bekal tersebut, terbentuklah manusia  paripurna yang siap untuk membangun dan memajukan bangsa. Atas dasar itu, pemerintah senantiasa berusaha merealisasikanya melalui pembentukan sistem kurikulum pendidikan nasional dengan harapan mampu untuk mengarahkan dan meratakan nilai kualitas SDM bangsa.
             Dalam prakteknya, pengejawantahan cita-cita pendidikan nasional nampaknya tidak harus melulu ditempuh melalui jalur formal secara berjenjang (hierarchies) yang dilaksanakan mulai dari Pendidikan Pra-Sekolah (PP. No. 27 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Dasar (PP. No. 28 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Menengah (PP. No. 29 Tahun 1990) dan Pendidikan Perguruan Tinggi (PP. No. 30 Tahun 1990), akan tetapi juga mengabsahkan pelaksanaan pendidikan secara formal dan non formal (pendidikan luar sekolah) (UU Sisdiknas, 2003). Artikulasi pendidikan terakhir ini, basisnya diperkuat mulai dari pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan non formal.
            Kurikulum dalam proses pembelajaran merupakan salah satu komponen yang sangat penting selain guru serta sarana dan prasarana pendidikan lainya. Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelengara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan.  Menurut Hilda Taba, kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses perkembangan individu.
             Kurikulum secara garis besar terbagi menjadi dua yaitu kurikulum formal dan non formal.dan jika dilihat dari sejarahnya maka kurikulum non formal lebih tua dari kurikulum formal, hal tersebut dikarenakan sejak lima ratus tahun yang lalu sudah di gunakan oleh pesantren di indonesia. Terlepas dari nilai sejarah, baik kurikulum formal maupun non formal memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
            Sistem kurikulum formal memang mempunyai beberapa keunggulan di bidang kurikulum non formal. Di antara keunggulan kurikulum formal adalah pembaharuan kurikulum di setiap tahunnya yang langsung ditangin oleh pemerintah dan manejemen yang lebih profesional serta administrasi yang lebih teratur. Di satu sisi kurikulum non formal yang banyak diadopsi oleh pondok pesantren juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan sekolah umum, ponpes tidak hanya mencerdaskan santri pada sisi intelektual saja akan tetapi dispiritualnya juga.
                Dalam UU NO. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3 menyebutkan ; , pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu fungsi pendidikan nasional adalah membentuk manusia berkarakter yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Senada dengan UU di atas, ada sebuah pernyataan; ”Pendidikan sebagai benteng peradaban manusia”. Akan tetapi jika  titik beratnya  pada pendidikan secara akademis, maka kita akan melihat cacat yang terlalu banyak sehingga terlihat tidak  mempunyai kemanjuran (efficacy) tehadap permasalahan peradaban bangsa. sangat disayangkan jika kita melihat sepak terjang orang-orang yang dianggap berpendidikan  malah sama sekali tidak mencerminkan orang yang beradab.
            Sebagai contoh sepanjang tahun 2011 jumlah kasus kejahatan korupsi meningkat seratus persen dari tahun 2010, tercatat sebanyak 1323 perkara yang ditangani, jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya yaitu 585 perkara,ada juga pendaftaran PNS diwarnai dengan penipuan dan suap menyuap, kasus skandal anggota dewan menoton film porno di saat sidang paripurna sehingga ada yang memplesetkan menjadi sidang pariporno, masih banyak fenomena yang sangat tidak pantas dilakukan oleh orang-orang berpendidikan.
            Sangat disayangkan apabila kita melihat persaingan antar bangsa yang semakin ketat. Human Development index  (HDI) 2011 rangkings  mencatat  Indonesia pada rangking 124 dari 187 negara. HDI adalah indek kualitas SDM negara-negara anggota PBB melalui United Nations Development Programme (UNDP). Sangat ironi jika melihat potensi bangsa yang kurang bisa dioptimalkan dan hanya segelintir orang saja yang menikmati kekayaan bangsa.
            Sebuah kegagalan dalam membentuk karakter bangsa sangat mempengaruhi terhadap penilaian masyarakat dan rasa percaya akan hasil dari pendidikan secara global. Oleh sebab itu,  muncul ungkapan “pendidikan itu tidak penting yang  terpenting adalah uang”. Karakter merupakan ciri khas untuk menjalani hidup, berkarakter yang baik adalah seseorang yang mampu membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan segala akibat dari keputusan yang dibuat. Pendidikan memiliki peran besar dalam pembentukan karakter tersebut serta mempersiapkan peserta didik yang siap menghadapi lingkungan dengan tata norma yang beragam
            Disadari bahwa setiap praktek pendidikan atau pembelajaran tidak terlepas dari sejumlah masalah dalam mencapai tujuannya. Upaya pemecahan masalah tersebut akan memerlukan landasan teoretis-filosofis mengenai apa hakikat pendidikan dan bagaimana proses pendidikan dilaksanakan. Henderson dalam Sadulloh (2004) mengemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah filsafat yang diaplikasikan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Peranan filsafat yang mendasari berbagai aspek pendidikan merupakan suatu sumbangan yang berharga dalam pengembangan pendidikan, baik pada tataran teoritis maupun praktis. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir dengan cabang-cabangnya (metafisika, epistemologi, dan aksiologi) dapat mendasari pemikiran tentang pendidikan bagi peradaban manusia. Menurut Brubacher (1959),  terdapat tiga prinsip filsafat yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu:
 (1) Persoalan etika atau teori nilai;
 (2) Persoalan epistemologi atau teori pengetahuan; dan
 (3) Persoalan metafisika atau teoni hakikat realitas

            Sistem pendidikan dalam pesantren mencipta tripusat pendidikan yang terpadu, yaitu pendidikan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan pesantren tidak hanya menanamkan aspek kognitif, tetapi juga efektif dan psikomotorik tidak hanya mengasah kecerdasan otak atau diintelektual saja tapi mendidik para peserta didiknya menjadi manusia paripurna yang berkarakter serta berakhlak. Proses pengasingan ala pesantren dan dokrin menjadi program unggulan yang juga diterapkan di dalam dunia militer membiasakan santri untuk disiplin dalam berbagi keadaan. Oleh karena itu bentuk sistem pendidikan yang mempunyai keunggulan untuk membangun karekter relegius intelektualis dan mempunyai kematangan dalam berfikir.



0 komentar:

Post a Comment