300x250 AD TOP

,

Kamis, 12 April 2012

Tagged under:

Menelusuri Tradisi Tulis Menulis dalam Peradaban Islam




Sebenarnya apabila dilacak lebih jauh dalam sejarah, tradisi tulis menulis dalam Islam –terlepas dari berbagai pengaruh yang mengitarinya-, telah lahir sejak generasi awal sahabat Nabi SAW. Meskipun apa yang mereka tulis itu sebenarnya masih dalam batas yang paling sederhana, yaitu terkait dengan hadits-hadits Nabi SAW yang pernah didengarnya dalam bentuk catatan-catatan pribadi, bukan dalam bentuk karya ilmiah yang dikonsumsikan untuk kalangan publik. Diantara sahabat Nabi SAW yang memiliki catatan pribadi ialah, Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/600-661 M). Menurut riwayat al-Bukhari, Abu Dawud dan lain-lain, suatu ketika Ali pernah ditanya, "Apakah anda memiliki ilmu pengetahuan dari Nabi SAW, yang tidak diketahui oleh sahabat lain?" Ali menjawab, "Tidak. Demi Tuhan yang menciptakan jiwa dan membelah biji, aku tidak memiliki pengetahuan khusus dari Nabi SAW, kecuali pemahaman terhadap al-Qur'an yang diberikan oleh Allah kepada seseorang dan kecuali dalam catatan (Shahifah) ini." Dia ditanya lagi, "Apa isi catatan itu?" Ali menjawab, "Penebusan tawanan, seorang Muslim tidak boleh diqisas karena membunuh orang kafir dan diyat 'aqilah."

Sahabat lain, yang juga memiliki catatan pribadi adalah Abdullan bin Amr bin Ash (7 SH-65 H/616-684 M). Sahabat Abu Hurairah (21 SH-59 H/602-679 M) –sahabat Nabi SAW yang dikenal dengan riwayatnya yang paling banya-, mengakui kedalaman ilmu pengetahuan Abdullah bin Amr bin Ash, karena dia telah menulis hadits-hadits yang didengarnya dari Nabi SAW, sedangkan Abu Hurairah tidak melakukannya. Catatan pribadi Abdullah bin Amr bin Ash tersebut, dia namakan dengan al-Shahifah al-Shadiqah (lembaran yang benar dan jujur). Mengenai hal itu, Abdullah bin Amr berkata, "Dalam Shahifah tersebut, aku mencatat hadits-hadits yang aku dengar secara empat mata dengan Nabi SAW".

Abdullah bin Abbas (3 SH-68 H/619-687 M), sepupu Nabi SAW, yang dikenal kealimannya, juga mempunyai catatan pribadi tentang hadits-hadits yang dia pelajarinya kepada sahabat-sahabat yang lain seperti Umar, Ali, Ubai bin Ka'ab, Abu Rafi' dan lain-lain, sebagaimana hal itu diceritakan oleh Ubaidillah bin Abi Rafi'. Sahabat lain yang juga memiliki catatan pribadi tentang hadits-hadits Nabi SAW adalah Samurah bin Jundub (w. 60 H/679 M), Abu Salamah Nubaith bin Syuraith al-Asyja'i, Abdullah bin Jabir, dan lain-lain. Dengan mencermati informasi dan data-data sejarah yang ada, tampaknya tulisan-tulisan para sahabat tersebut masih dalam batas catatan pribadi, bukan tulisan ilmiah yang metodologis dan diproyeksikan sebagai konsumsi publik.
Tradisi tulis menulis dalam bentuk catatan pribadi tersebut semakin berkembang pada masa generasi tabi'in, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Pada masa generasi sahabat, catatan-catatan pribadi mereka, sebagian besar –untuk tidak mengatakan semuanya-, masih sebatas pada hadits-hadits yang mereka dengar dari Nabi SAW maupun dari sesama sahabat. Sementara pada generasi tabi'in, catatan tersebut semakin berkembang dan menjamah obyek-obyek lain dalam ilmu pengetahuan Islam semisal ilmu fiqih dan sejarah, terutama yang berkaitan dengan sirah dan maghazi (biografi dan sejarah peperangan Nabi SAW). Misalnya Urwah bin Zubair bin Awwam (22-93 H/643-712 M), ulama tabi'in terkemuka dan putra sahabat Nabi SAW, pernah berkata, "Kami dulu berpendapat, tidak akan menulis kitab bersama dengan kitab Allah, sehingga aku menghapus semua kitab-kitabku. Demi Allah! Senang sekali rasanya, andaikan kitab-kitabku itu masih ada, tidak aku hapus." Pernyataan Urwah ini menjadi bukti konkrit bahwa dia memiliki catatan-catatan pribadi dalam bentuk kitab. Hisyam bin Urwah bin Zubair (61-146 H/680-763 M), menjelaskan maksud pernyataan ayahnya dengan berkata, "Ayahku [Urwah bin Zubair] telah membakar kitab-kitab fiqih yang ditulisnya pada hari peperangan Harrah. Setelah itu dia berkata, "Andaikan kitab-kitab fiqih itu masih ada, sungguh aku lebih senang dari pada aku memiliki keluarga dan harta benda."

Nampaknya, dari informasi dan data-data sejarah yang ada tulisan para ulama generasi tabi'in itu tidak jauh beda dengan tulisan generasi sahabat yang merupakan catatan-catatan pribadi dalam bidang fiqih, sirah dan maghazi, dan tentu saja dalam bidang hadits. Tulisan-tulisan tersebut hanya sebagai dokumen pribadi, tidak untuk dikonsumsi public. Tradisi tulis menulis ilmiyah dalam Islam menemukan jatidirinya yang bersifat metodologis dan diproyeksikan untuk konsumsi publik baru terjadi pada generasi ketiga kaum Muslimin, yairu generasi tabi' al-tabi'in, yaitu para ulama yang segenerasi dengan al-Imam Abu Hanifah, pendiri madzhab Hanafi.


Berkaitan dengan siapa diantara ulama yang dianggap pertama kali menulis karya ilmiyah ini, para pakar berselisih pendapat. Misalnya al-Khathib al-Baghdadi (392-463 H/1002-1072 M) –pakar hadits dan sejarawa-, menginformasikan bahwa yang pertama kali menulis karya ilmiyah dalam Islah adalah al-Imam Abu al-Walid Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij al-Makki (80-150 H/699-767 M), pakar hukum yang mengajar di Masjidil Haram. Dia diakui sebagai ulama yang pertama kali menyusun karya-karya ilmiyah di Makkah. Di Bashrah, tampil seorang ulama yang juga diakui sebagai yang pertama menulis karya ilmiyah, yaitu al-Imam Abu al-Nazhar Sa'id bin Abi Arubah al-Bashri (w. 156 H/773 M). Sementara menurut Abu Muhammad al-Ramahurmuzi (w. 360 H/970 M) –pakar hadits-, yang pertama kali menulis karya ilmiyah dalam Islam adalah Abu Bakar Rabi' bin Shabih al-Sa'di al-Bashri (w. 160 H/777 M), seorang ulama yang menetap di Bashrah dan meninggal dalam peperangan Sind, India. Pada saat itu juga tampil, al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar al-Muththalibi (w. 151 H/768 M), penulis kitab al-Sirah yang pertama kali secara ilmiyah dalam Islam.

Setelah generasi tersebut, tradisi tulis menulis karya ilmiyah dalam Islam semakin berkembang pesat, dengan tampilnya tokoh-tokoh terkemuka dalam bidang hadits, fiqih dan lain-lain seperti:
- Sufyan bin Uyainah (107-196 H/725-812 M) yang menulis Tafsir al-Qur'an al-Karim dan al-Ajza' fi al-Hadits,
- Malik bin Anas (93-179 H/712-795 M) di Madinah yang menulis al-Muwaththa' dan al-Risalah,
- Abdullah bin Wahab (115-198 H/733-813 M) di Mesir yang menulis al-Jami' fi al-Hadits, Ahwal al-Qiyamah, al-Muwaththa' al-Shaghir, al-Muwaththa' al-Kabir dan Tafsir al-Qur'an al-Karim,
- Ma'mar bin Rasyid al-Azdi (95-15 H/713-770 M) di Yaman, yang menulis sejumlah karangan dalam bidang hadits.
- Abdurrazzaq bin Humam bin Nafi' al-Shan'ani al-Himyari (126-211 H/744-826 M) di Yaman yang menulis al-Sunan dalam bidang fiqih, Tafsir al-Qur'an al-Karim, al-Mushannaf dalam bidang hadits dan lain-lain.
- Sufyan bin Sa'id bin Masruq al-Tsauri (97-161 H/716-778 M) di Kufah yang menulis al-Jami' al-Kabir, al-Jami' al-Shaghir, al-Faraidh dan al-Risalah.

Pengamatan yang seksama terhadap karya tulis ilmiyah yang berkembang pada saat itu memberikan kesimpulan bahwa tulisan-tulisan para ulama pada generasi tersebut lebih terfokus pada penghimpunan hadits, fiqih dan sirah serta hal-hal yang terkait dengan pemahaman al-Qur'an, hadits dan lain-lain. Baru setelah itu, penulisan karya ilmiyah mengarah pada penyusunan ilmu-ilmu yang menjadi sarana pemahaman al-Qur'an dan hadits.
Hal penting yang perlu dikemukakan di sini adalah, bahw lajunya perkembangan tradisi tulis menulis karya ilmiyah dalam Islam, terutama pada generasi awal dan pertengahan tidak terlepas dari perhatian para penguasa terhadap kaum intelektual dan karya tulis ilmiyah mereka. Haji Khalifa al-Qusthanthini al-Hanafi al-Rumi mengatakan, bahwa laris dan tidaknya ilmu pengetahuan dalam setiap masa tergantung pada perhatian tidaknya para penguasa terhadap ilmu pengetahuan dan karya ilmiyah yang sedang berkembang.

Muhammad Idrus Ramli

Referensi:
Haji Khalifah, Kasy al-Zhunun 'an Asami al-Kutub wa al-Funun
Al-Qinnauji, Abjad al-'Ulum
Al-Zarkali, al-A'lam
Kahhalah, Mu'jam al-Mu'allifin
Dan lain-lain.



Share This Article


0 komentar:

Poskan Komentar