Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 13, 2012

MEMBUDAYAKAN BAHASA ARAB DI BUMI KHATULISTIWA



Pada edisi - edisi sebelumnya, kita telah menampilkan pondok-pondok pesantren seputar daerah Jawa dan Madura. Pada edisi kali ini kami akan mengajak pembaca untuk  terbang jauh ke pulau Borneo (Pulau Kalimantan), tepatnya Kota Pontianak Kalimantan Barat. Meskipun secara historis kota tersebut adalah kota yang paling akhir berdiri di antara kota-kota yang ada di Kalimantan Barat, namun lebih unggul dalam Perkembangan kedaerahan dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Kalimantan Barat. Keunggulan tersebut meliputi pembangunan, pendidikan, perekonomian dan lain sebagainya.
Kemajuan Pontianak tidak hanya terbatas pada pendidikan umum saja, tapi meliputi sektor-sektor pendidikan keagamaan, seperti Pondok Pesantren, TPQ, Madrasah, dan lain sebagainya. Secara kuantitas Pondok Pesantren di Kota Pontianak memang masih tidak sebanyak seperti daerah-daerah jawa dan sekitarnya, yang kita ketahui hampir dapat ditemui di setiap daerah bahkan di setiap desa.
Salah satu pondok yang ada di kota Pontianak adalah Pondok Pesantren ‘Al-Habib Soleh bin Alwi Al-Haddad’ yang terletak di Jl. Trans Kalimantan Parit Masigi kec. Sui Ambawang Kuala kab. Kuburaya Kalbar.
Sejarah Singkat  Pondok
            Secara resmi, Pondok ini didirikan pada tahun 1994 oleh Habib Mustofa bin Soleh al-Haddad dan diasuh beliau hingga wafat pada tahun 2011. Setelah itu, estafet perjuangan tersebut dilanjutkan kembali oleh putra kesayangannya Habib Hasan bin Mustofa al-Haddad. Menurut Habib Mustofa, tantangan dan hambatan selama mengasuh Pesantren nyaris sangat sedikit; “Biasa….., santri-santri ada yang nakal dan ada yang tidak. Cuma itu, lainnya tidak ada” kata beliau. Habib Mustofa menuturkan bahwa jikalau perjuangan dilandasi dengan semangat keikhlasan, maka  akan banyak ditolong oleh Allah SWT. Dengan semata-mata berjuang untuk menolong umat Rasulullah SAW supaya bertaqwa kepada Allah. Kami Alhamdulillah tidak kekurangan makanan dan minuman. Banyak donatur yang mengantarkan kebutuhan santri ke Pesantren”.
Menurut Habib Hasan al Haddad, pengasuh pondok saat ini, Latar belakang didirikan pondok pesantren adalah karena keinginan Habib Mustofa bin Soleh al Haddad  mengikuti jejak Rasulullah SAW. sebab Rasulullah merangkul anak-anak yatim dan piatu, olehkarna itu kita perlu membina anak-anak yatim dan piatu ini.
Kalau kita melihat sejarah berdirinya pondok ini memang cukup mengagumkan, kuantitas santri  yang terus bertambah dari tahun ke tahun dan keterbatasan yang dimiliki tidak membuat Pondok ini stagnan, bahkan pondok ini terus berjalan dan berkembang. Bahkan perkembangan tersebut semakin meningkat sejak estafet perjuangan berada di tangan Habib Hasan.
Estafet ini berpengaruh pada peningkatan kuantitas santri, riilnya hingga saat ini santri Pondok Pesantren Habib Sholeh bin Alwi al-Haddad telah berjumlah 215 santri setelah sebelumnya hanya berjumlah puluhan orang saja. Dari 215 orang santri terdiri dari 165 orang laki-laki dan 50 orang perempuan. Sebagian dari 215 orang ini adalah golongan yatim piatu yang berasal dari berbagai daerah di Kalbar.   
Biografi Muassis Pondok
Habib Mustofa bin Soleh bin Alwi bin Abubakar al-Haddad adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara.  beliau dilahirkan di Pontianak pada tanggal  17 Agustus 1949. Ia mengenyam pendidikan dasar sampai kelas III Sekolah Rakyat (SR). Kemudian ia melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul Hadits, Malang (Jawa Timur) yang diasuh oleh Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih selama 10 tahun (1957-1967).
Selama di Darul Hadits, ia seangkatan dengan Habib Syekh bin Ali Al-Jufri, Habib Abdul Qadir Al-Hadad (Condet, Jakarta Timur), Habib Mustofa bin Abdul Qadir Alaydrus (Sabilal Muhtadin, Jakarta Selatan), Habib Ahmad Habsyi (Palembang), Habib Abdullah Abdun (Malang), Habib Abdullah bin Alwi Al-Kaff (Cirebon), Habib Ali bin Ahmad Al-Jufri (Pekalongan) dan lain-lain.
Habib Mustofa mengaku sangat terkesan selama menempuh pendidikan di Pesantren yang terkenal dengan ilmu haditsnya itu. Banyak ilmu yang diajarkan kepada saya sehingga saya bisa seperti ini. Ini semua berkat bimbingan beliau dan putranya Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih”, ujar beliau.
Pesan dari Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih yang selalu dipegangnya sampai sekarang;“Belajarlah kamu dengan hati-hati dan kamu sebagai seorang ulama, jaga sikap tawadhu,  jangan sombong dan takabur. Gunakanlah ilmu ini untuk menegakkan kalimat tauhid dan sampaikan ilmumu untuk mendidik umat Nabi Muhammad SAW supaya menjadi umat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT”
Setelah dari Darul Hadits pada tahun 1967, ia pulang ke Pontianak dan belajar dengan abahnya Habib Soleh bin Alwi bin Abubakar al-Haddad yang merupakan seorang ulama sekitar 10 tahun sampai sang ayahanda wafat  pada bulan Muharam1403H.
Pria berumur 61 tahun dikenal sebagai ulama yang sangat  gigih memberantas segala bentuk kemungkaran di manapun tempatnya. Bahkan Kerapkali ia berurusan dengan aparat keamanan dan pemerintah di Pontianak karena kevokalannya menyuarakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Bahkan ia sempat ditahan oleh kepolisian karena sikapnya yang berlawanan dengan kebijakan pemerintah.
Pada akhir hidupnya beliau lebih banyak berkecimpung dalam barisan Front Pembela Islam (FPI) Kalimantan Barat dan juga sibuk dengan berdakwah baik di Pesantren yang ia pimpin ataupun menghadiri majelis-majelis taklim yang mengundangnya. Pada umur ke 62, beliau kembali ke rahmatullah tepatnya pada hari Jumat tanggal 17 Juli 2011 di Rumah Sakit NORMA Malaysia. 
System Pendidikan
Pendidikan Pondok Pesantren ‘Al-Habib Soleh bin Alwi Al-Haddad’dilaksanakan melalui jalur pendidikan non formal (Pendidikan di Pesantren/Diniyyah), yaitu system pendidikan  klasikal dengan kurikulum yang telah ditetapkan, seperti pengajian kitab kuning yang dibacakan dan diterjemahkan oleh ustadz dan ditulis kembali oleh para santri ke kitab-kitab mereka seperti layaknya diterapkan pondok pesantren salaf di Jawa.
Selain itu juga, pondok mewajibkan para santri untuk menghapal beberapa kitab seperti: Asma’, Af’al, dan kitab Jurmiyah. Pondok juga membagi pendidikannya menjadi dua jenjang yaitu, Ibtidaiyyah yang ditempuh kurang lebih 5 tahun dan Tsanawiyah yang di tempuh kurang lebih 3 tahun.
Pada hakikatnya Pondok Pesantren Al-Habib Soleh bin Alwi Al-Haddad memiliki hubungan yang sangat erat dengan pondok pesantren Darullughah Waddawah. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya tenaga pengajar yang berasal dari pondok pesantren Darullughah Wadda’wah. Bahkan mudir Pondok Pesantren,  Habib Hasan Bin Mustofa Al Haddad adalah salah satu alumni pondok pesantren Darullughah Waddawah.
Selain itu pula berbagai kegiatan-kegiatan pembalajaran yang diadopsi dari pondok pesantren Darullughah Waddawah membuktikan keterkaitan yang sangat erat antara dua pondok. Untuk  seragam misalnya, pondok ini juga mewajibkan para santri untuk berpakain gamis, imamah dan kopiyah yang serba putih. Pondok ini juga mewajibkan para santri bangun malam untuk melakukan salat tahajud bersama. Setelah itu dilanjutkan dengan bacaan wirid bersama dan diteruskan dengan sholat subuh secara berjamaah.
Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah santri melanjutkan kegiatan mereka dengan bacaan wirid. Kemudin kegiatan dilanjutkan dengan pengajian sampai jam 05.30, setelah itu santri istirahat sebantar untuk mandi dan sarapan dan melanjutkan kembali pengajian mulai dari pukul 07.30 sampai 12.00 WIB.
Memang  Pondok Pesantren Al-Habib Soleh bin Alwi Al-Haddad masih belum memiliki pendidikan formal, akan tetapi pihak pondok mempersilakan para santri untuk mencari pendidikan formal di luar pondok dengan syarat-syarat yang telah dibuat oleh pondok pesantren.
Pondok juga memberikan pendidikan alternatif untuk keterampilan para santri. Seperti peternakan, otomotif dan keterampilan-keterampilan lain yang  tujuannya untuk membekali santri dengan keterampilan-keterampilan yang dapat di jadikan alternatif untuk memenuhi kebutuhan mereka jika telah menyelesaikan pendidikan pesantren dan terjun ke masarakat.
Program Unggulan
Seperti pondok-pondok pesantren yang lainya, pondok pesantren Al-Habib Soleh bin Alwi Al-Haddad juga memiliki program unggulan. diantaranya mewajibkan santri untuk berbicara Bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu pula pondok juga membekali santri dengan latihan pidato agar mereka terbiasa jika mereka telah terjun ke masyarakat. Memang sampai saat ini Pondok Pesantren Al-Habib Soleh bin Alwi Al-Haddad memiliki track record yang bagus di masyarakat. Hal itu dikarenakan eksistensi para alumnus Pondok Pesantren Al-Habib Soleh bin Alwi Al-Haddad yang dinilai bagus dan dapat ditiru oleh masayarakat.

0 komentar:

Post a Comment