Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, April 17, 2012

Mati Sebagai Motivasi



          Kata motivasi memiliki definisi berbeda dari banyak ahli, namun kamus induk istilah menulis, motivasi sebagai pemberian intensif atau tujuan untuk menimbulkan tindakan ; dorongan. Dipandang dari segi sumbernya, motivasi terbagi menjadi dua, intern dan ekstern. Secara garis besar, motivasi intern timbul dari kesadaran dan kesengajaan pribadi untuk membuat perspektif sesuai dengan apa yang diinginkan. Berbeda dengan ekstern yang merupakan hasil dorongan dari orang lain atau lingkungan untuk mempersuasi pemikiran sehinga melahirkan tindakan yang dimaksudkan.
          Menilik begitu besarnya peran motivasi, maka dapat dilihat dari banyaknya orang yang mempunyai figur yang diidolakan, dijadikan panutan dan tolak ukur serta juga inspirator dalam bersikap dan menentukan langkah ke depan. Sampai saat ini Nabi Muhammad saw dan pasti untuk seterusnya tetap menjadi tokoh panutan nomor wahid, seterusnya para sahabatnya dan ulama’. Tidak menutup kemungkinan orang-orang terdekat pun dapat menjadi motivator, karena motivasi yang dimiliki dan dibutuhkan masing-masing individu beragam sesuai dengan karakter dan sejauh mana pandangannya untuk mencapai titik tertentu.
Ingin menjadi seperti ini, ingin sampai menguasai itu, dan seterusnya. Hanya yang membedakan antara individu satu dengan lainnya adalah sikap cerdas dalam menilai dan mengenali dirinya, sehingga tahu apa motivasi paling tepat untuk dirinya.
Setiap orang masing-masing mempunyai 24 jam dalam sehari namun berbeda dalam menyisihkan sebagian waktu untuk diri sendiri, membuat dialog internal (percakapan dengan diri sendiri) sehingga tahu what’s a real goal ?! apa yang sebenarnya dicari, seberapa lama waktu yang tersisa, masihkah ada kesempatan, apa saja langkah yang mesti dilakukan dan apa saja yang mesti ditinggalkan juga apa yang dibutuhkan untuk itu.
Dialog di atas sesuai dengan penuturan baginda Nabi saw.
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ[1]
Pergunakanlah lima sebelum (datang) yang lima: masa mudamu sebelum (datang) masa tuamu, sehatmu sebelum (datang) sakitmu, kayamu sebelum (datang) fakirmu, dan hidupmu sebelum (datang) matimu.”
Kematian Sebagai Motivasi Klimaks Bagi Yang Beriman
Sekali lagi, tiap individu mempunya karakter motivasi yang berbeda-beda tergantung sejauh mana pengetahuan, pengalaman juga tentu pandangannya terhadap apa yang dianggap terbaik untuknya dan terhadap pemanfaatan kesempatan secara efisien (sebaik-baiknya) yang tidak mungkin datang dua kali.
Namun tetap, kematian adalah satu dari sekian motif motivasi yang dinilai mutlak, titik puncak di mana seseorang bisa berpikir jutaan kali untuk melakukan satu pekerjaan saja, sebab kematian menjanjikan kehidupan yang tanpa batas, akhir dari keputusan yang dibuat di dunia tanpa ada pengulangan apalagi dispensasi (keringanan).
Ada dua golongan berbeda dalam memandang fenomena kematian, golongan yang pertama golongan yang pesimis, yang meyakini kehidupan hanya ada di dunia saja atau yang meyakini setelah kematian seseorang hidup lagi didunia dengan adanya reinkarnasi. Mereka memandang hidup sebatas pergantian hari, sebagai sesuatu yang berat, terbeban, penuh kekhawatiran, kesulitan yang kemudian berakhir dengan kematian yang berarti kepunahan, reinkarnasi pun hanya akan mengulang beban yang sama.
Yang optimis tentu mempunyai pandangan berbeda. Sebagaimana perkataan imam Hasan al Bashri r.a. :  
 يَا بنَِي آدم إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai anak Adam sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, jika telah berlalu sehari maka telah hilang sebagian dirimu.”
Menilik dari umur yang kita punyai, memang modal kita sangatlah terbatas dan minim, bahkan relatif singkat sebagaimana riwayat bahwasanya malaikat Jibril A.s. pernah berkata kepada Nabi Nuh A.s.: “Wahai nabi yang paling panjang umurnya, bagaimana engkau mendapati dunia?” nabi Nuh A.s. menjawab: “Seperti sebuah rumah yang mempunyai dua pintu, sedangkan aku masuk pintu satu dan keluar dari pintu yang yang lain”.[2] Hal ini menjadikan kematian motif motivasi tertinggi yang tak terelakkan. Mengutip Komaruddin Hidayat yang berkata bahwa “Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif, sebaliknya justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek, ibarat lomba lari, manusia seharusnya berpacu karena adanya batas waktu dan garis finish.”
Mementingkan yang Terpenting
Sering orang disibukkan dengan sesuatu, bahkan kadang sampai seakan tak punya waktu. Namun jarang merenungkan tentang apa yang sebenarnya mereka cari. Sekedar sibuk tanpa tahu tujuan apa yang dicari dengan terlalu banyak mengorbankan pikiran, waktu, dan materi. Sekalipun banyak dan sering terpikirkan bahwa semua itu penting, namun seyogyanya mengetahi apa yang terpenting.
Memang tak mudah untuk fokus pada sesuatu yang dituju, banyak godaan yang memanipulasi seakan yang lain juga penting, padahal itu tidak seberapa atau bahkan sama sekali tidak penting.
Jika seseorang sudah menjadikan kematian sebagai motivasi hidupnya untuk melangkah dan mendapatkan yang terbaik bagi kehidupannya setelah kematian maka dia pasti dapat mengenal apa yang ia cari dan ia butuhkan. Dia akan selalu tetap memfokuskan diri terhadap apa yang seharusnya diprioritaskan, merumuskan semua langkahnya agar tidak membelok dari tujuan awal. Tentunya tetap fleksibel terhadap hal lain yang menunjang dan dapat memberi pelajaran serta pengalaman yang berharga, selanjutnya dia akan mendapatkan predikat “cerdas” dari baginda Nabi Muhammad saw.
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ... الحديث
        “Orang cerdas adalah yang (selalu) introspeksi diri dan beramal untuk sesuatu setelah kematian ....” (H.R. Tirmidzi)[3]. Wallahu a’lam bishshowab. )EL/AM)

                                                                                                              



[1] Al Jawahir al-Lu’luiyyah : 362
[2] Ihya’ Ulumuddin : 3 : 177
[3] Imam an-Nawawi, Riyadhu as-Sholihin

0 komentar:

Post a Comment