Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, April 17, 2012

KH Yahya Syabrowi,Kyai Bersahaja Yang Mukasyif


Jika saat ini desa Ganjaran Gondanglegi Malang dipadati dengan masyarakatnya yang ramah, suara-suara merdu santri mengaji, pondok-pondok pesantren yang terlihat eksis mengkaji kitab kuning, maka suasana tersebut tidak terlepas dari jasa sosok seorang Kiai yang Tawadhu, cinta akan ilmu, sekaligus Mukasyif.
Sebuah bait di dalam kitab Sofwatus Zubad, dengan redaksi:
والأولياء ذوو كرامات رتب # و ما انتهولولد من غير أب
“Para wali (orang-orang yang dicintai oleh Allah karena keta’atan mereka dan jauhnya mereka dari perbuatan ma’siat) itu mempunyai Karomah (keistimewaan) yang bertingkat, (tetapi setinggi apapun Karomah tersebut) tidak akan sampai pada tingkatan (yang dapat) menjadikan anak tanpa ayah”
Seoran wali Allah diberi keistimewaan yang bertingkat, salah satu dari keistimewaan tersebut adalah Kasyaf (terbukanya hijab atau tabir pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal gaib).
Sepercik kisah unik dari seorang Kiai yang berjasa besar bagi umat muslim dan desa Ganjaran khususnya; kala itu Kiai Romli (Madura) ketika ia masih menjadi santri di Ganjaran, Sang Kiai pernah menyuruhnya untuk meminta uang kepada Kepala Desa. Sambil berjalan menuju gerbang pesantren sebelah selatan, santri gemuk ini bergumam dalam hati, “Katanya uang negara haram. Tapi saya disuruh minta.” Spontan Kiai memanggilnya, ”Heh, itu bukan uang negara. Itu uang tebuku yang ada di bapak Kepala Desa !” hardik Kiai dengan keras.
Kiai dalam kisah Mukasyafah tersebut merupakan pendiri Pondok Pesantren Raudhlatul Ulum, seorang ulama yang tawadhu, cinta akan ilmu sekaligus gigih memperjuangkan Islam, beliau adalah KH Yahya Syabrawi.
Enam kilometer sebelah barat dari kota Sampang Madura, terdapat Perkampungan Tattat Sampang. Kampung inilah tempat kelahiran KH Yahya Syabrawi. Beliau lahir pada tahun 1907 Masehi.
KH Yahya Syabrowi merupakan salah satu cucu dari seorang yang Wara’ dikenal sebagai ’Adek’ dari kampung Tattat Sampang. Ibu beliau (Nyai Latifah) adalah salah satu putri KH Ismail Ombul, Sampang Madura, yang merupakan salah satu keturunan dari Syekh Sulaiman Mojo Agung, pendiri pondok pesantren Sidogiri. Tidak heran jika KH Yahya Syabrowi memiliki kepribadian yang Haibah (kewibawaan) dan Istiqomah dalam aplikasi kehidupan beliau.
Pendidikan awal yang diserap oleh Kiai Yahya Syabrowi adalah hasil dari didikan orang tuanya sendiri, KH Syabrowi. Dari beliaulah Kiai Yahya menuntut dasar-dasar ilmu agama dan kehidupan. Setelah menginjak dewasa beliau melanjutkan studinya kepada Kiai Makki Sampang selama delapan tahun. Berkat prestasi dan kepandaian beliau, Kiai Yahya diperintahkan membantu mengajar di pondok pesantren tersebut. Setelah itu pengembaraan ilmu beliau dilanjutkan ke pondok pesantren Panji Sidoarjo yang diasuh oleh KH Khozin. Sebagai Tafaulan terhadap guru, putra pertama beliau diberi nama yang sama dengan gurunya, yaitu KH Khozin. Di pondok pesantren tersebut, beliau juga mendapat kepercayaan mewakili Kiai untuk mengajarkan kitab kuning.
Setelah Nyantri kepada Kiai Kholil Bangkalan dan mendapat Bisyaroh  dari gurunya, KH Bukhori membatalkan niat untuk berdakwah ke Jawa Tengah, melainkan pergi menuju malang untuk berdakwah. Pada tahun 1937 sampailah beliau di desa Ganjaran bersama keponakannya, KH Yahya Syabrowi. Sesampainya KH Yahya Syabrowi di Ganjaran, beliau dinikahkan oleh KH Bukhori dengan putrinya sendiri. Namun setelah meniti hidup baru dengan berkeluarga, kegigihan beliau dalam menuntut ilmu tidak luntur sedikitpun, bahkan semakin bersemangat. Ini terbukti dengan seringnya mengikuti pengajian kilatan di bulan puasa kepada gurunya di Sidoarjo.
Setelah kurang lebih sepuluh tahun bermukim di desa Ganjaran, beliau mulai merintis madrasah Miftahussyibyan yang kini berubah nama dan kita kenal sebagai Raudlatul Ulum pada tahun 1949 M. Perubahan nama itu atas istikharah KH KhozinYahya, putra kiai Yahya Syabrawi sendiri. Perintisan dan pembangunan pondok pesantren ini merupakan perintah dari paman sekaligus mertua beliau sendiri,  KH Bukhori Ismail.  dengan bantuan ulama serta para tokoh masyarakat kala itu, di antaranya KH As’ad (pendiri pesantren Miftahul Ulum), KH Qoffal Muhammad (mertua KH Qoffal Syabrawi), Hafidz Abdurrozak (seorang alumni Gontor), Bapak Dumyati dari Jombang dan lainnya. 
Sebagai Kiai karismatik, kontribusi beliau terhadap umat sangat besar. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum salah satu bukti nyatanya. Bermula dari pondok pesantren itu muncullah berbagai pondok pesantren di sekitar Raudlatul Ulum, bahkan hingga kini tercatat 17 pondok pesantren di desa Ganjaran. Selain pendidikan agama, lembaga formal demi mengimbangi perkembangan zaman juga beliau dirikan di bawah naungan pesantren. Mulai dari MI, MTS, MA, bahkan pada tahun 1985, Kiai Yahya berkerjasama dengan salah satu pendiri Unisma Malang, membuka Fakultas Syari’ah Unisma di desa Putat Lor. Saat ini perguruan tinggi itu tetap eksis dengan nama  STAI Al-Qolam. Terlepas dari dunia pendidikan, beliau juga berperan di bidang sosial kemasyarakatan, hal ini terbukti dengan peran beliau sebagai salah satu penggagas Rumah Sakit Islam Gondanglegi Malang.
Perjuangan mengemban estafet nabi Muhammad saw. tidaklah mudah, butuh kesabaran ekstra yang harus ditanamkan dalam diri sang Da’i. Asam garam perjuangan juga telah dirasakan oleh Kiai Yahya Syabrowi dalam mengembangkan pondok pesantren yang didirikannya. Pada awalnya, kegiatan pendidikan pondok pesantren Roudlatul Ulum dilaksanakan di rumah penduduk dan rumah ibadah. Di antara lokasi yang dijadikan tempat proses pembelajaran itu adalah rumah Nyai Zakariya dan musholla KH Ahmad Hambali. Hingga pada akhirnya Kepala Desa Ganjaran saat itu, H Abdurrahman ikut serta dalam membantu perjuangan Kiai dengan mengupayakan tanah wakaf untuk lahan gedung madrasah.  
KH Yahya Syabrowi sehari-harinya mengajarkan kitab tafsir al-Jalalain, kitab hadits Riyadhussholihin dan kitab nahwu-shorof Ibnu Aqiel dan rutin diulang tatkala sudah khatam. Ketiga kitab klasik ini dibaca usai sholat Maghrib hingga menjelang Isya’. Sehabis sholat Dhuhur, beliau membaca al-Iqna’ dan ditambah kitab kecil lainnya dengan metode sorogan.
Perhatian beliau terhadap santri tidak hanya dalam kedisiplinan belaka, memang, setiap hari beliau sendiri yang mengontrol para santi untuk melaksanakan kegiatan bahkan langsung terjun ke kamar-kamar santri. Beliau lebih perhatian kepada santri dalam hal Birrul Walidain, bahkan dimulai dari perkataan santri terhadap orang tuanya. Kiai Yahya Syabrowi pernah berkata :”Tenimbeng tang santreh tak abesah ke oreng tuanah, ango’ tak abesah ke sengko’ (ketimbang Santri saya tidak berbahasa halus kepada orang tuanya, lebih baik tidak usah berbahasa halus kepada saya).”
KH Yahya Syabrowi dikaruniai 15 anak, yang melanjutkan kepemimpinan beliau dalam mengasuh pondok pesantren setelah beliau wafat adalah KH Khozin Yahya. Saat ini, setelah wafatnya KH Khozin Yahya pada tahun 2000, pondok pesantren diasuh oleh adik dari KH Khozin Yahya yang terkenal Tawadhu, beliau adalah KH Mukhlis Yahya.
 Beliau KH Yahya dikenal sebagai sosok kiai yang sangat istiqomah dalam menjaga sholat berjamaah. Bahkan beliau akan mengajak sholat anak kecil sekalipun, jika ketinggalan berjamaah. Terlebih lagi Istiqomah beliau dalam bangun malam, sangat beliau perhatikan dalam kehidupan beliau. Konsep dalam kitab Bidayatul Hidayah diterapkan dalam keseharian beliau, hal ini terbukti dengan tidak terlepasnya beliau dari doa-doa. Mulai dari doa mau tidur, bangun tidur, masuk kamar kecil, doa setelah wudlu’, hingga doa naik kendaraan beliau baca. Bahkan jika turun hujan pertama dari musim kemarau, beliau mandi berhujan-hujan sebagaimana disunnahkan.
Keistiqomahan yang beliau tekuni menjadi nilai lebih bagi pribadinya sehingga mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah swt. Sebagai Kiai yang Tawadhu dan Mukasyif. Sebuah kisah yang dialami oleh Ustadz Isma’il Fathulloh (Boro), ustadz berperawakan kurus ini berniat membeli tv untuk keluarganya. Sesampainya di gerbang timur pesantren, kiai Yahya memanggil dan memegang pundaknya sambil berkata ;”Kalau mau jadi anakku, jangan beli tv !” Padahal ia belum mengucapkan sepatah katapun.
Itulah kemuliaan yang diberikan bagi makhluk-makhluk yang dicintai oleh Allah swt. KH Yahya Syabrowi menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit yang beliau rintis, Rumah Sakit Islam Gondanglegi Malang. Pada tahun 1987.

1 comment:

  1. bisa diperjelas jalur nasab kiai ismail yang sambung ke sayyid sulaiman mojo agung

    ReplyDelete