Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 13, 2012

Kehidupan Alam Barzakh Adalah Kehidupan Yang Hakiki



Kehidupan alam barzakh adalah kehidupan yang hakiki, sebagaimana telah  ditunjukkan oleh ayat-ayat yang sudah jelas dan hadits shahih yang sudah masyhur. kehidupan hakiki ini tidak bertentangan dengan sifat manusia yang dapat mati,  sebagaimana hal ini telah terdapat dalam kitabullah yang mulia, Ia berfirman:
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seseorang pun sebelum kamu (Muhammad)” (Q.S. al-Anbiya : 34).
Dan Allah berfirman:
“Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka juga akan mati” (Q.S. az-Zumar : 30)
Sesungguhnya makna perkataan kami tentang kehidupan alam barzakh bahwasanya ia adalah hakiki yaitu bukan khayalan atau perumpamaan sebagaimana yang digambarkan oleh sebagian orang yang menyimpang dari agama dari kalangan orang-orang yang tidak luas akalnya untuk bisa menyakini sesuatu kecuali dapat disaksikan dan dirasakan bukan perkara ghaib yang akal manusia tidak mampu untuk mengambarkannya.
Sekilas, sesungguhnya renungan yang singkat tentang perkataan kami mengenai kehidupan alam barzakh bahwasanya dia adalah hakiki tidaklah menyisihkan sedikitpun kesulitan, bahkan bagi orang yang tingkat pemahamannya rendah dan perasaan yang tidak peka untuk memahami makna-makna sekalipun. Maka kalimat hakiki tidaklah berarti kecuali untuk meniadakan sesuatu yang batil, membuang perasangka dan khayalan yang kadang-kadang terbayang pada akal seseorang yang ragu serta bimbang tentang keadaan alam barzakh, alam akhirat dan alam-alam lainnya seperti alam kebangkitan manusia dan alam perhitungan.
Makna ini bisa difahami oleh orang arab yang sederhana yang bisa mengerti bahwa kalimat “hakiki” maksudnya adalah “benar”. Dan itu adalah segala yang berlawanan dengan keraguan, khayalan dan perumpamaan. Maka “hakiki” adalah bukan dugaan dan ini adalah (sasaran) yang dimaksud, pemahaman dan gambaran kami untuk permasalahan  ini. Karena telah banyak hadits dan atsar yang menetapkan bahwasanya mayit itu mendengar, merasa, dan mengetahui baik dia orang mukmin ataupun orang kafir. Diantaranya adalah hadits al-Qolib di dalam kitab Shohih Bukhari dan Shohih Muslim dari berbagai bentuk periwayatan dari Abu Tholhah, Umar dan putranya Abdullah r.a. bahwasanya Nabi saw: di hari perang Badar memerintahkan mengumpulkan 24 jagoan-jagoan Quraisy (yang sudah tewas) lalu mereka dilemparkan di suatu celah yang ada di Badar, kemudian Rasulullah memanggil dan menyebut nama mereka: “hai Abu Jahal bin Hisyam, hai Umayyah bin Khalaf, hai ‘Utbah bin Robi’ah, hai Syaibah bin Robi’ah, bukankah kalian telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian itu benar?, maka Aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhanku itu benar”. Lalu Umar berkata: “Ya Rasulullah! kenapa engkau mengajak bicara jasad yang tidak bernyawa?”. Lalu beliau menjawab: “Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaanya, tidaklah kalian lebih mendengar daripada mereka apa yang aku katakan, hanya saja mereka tidak bisa menjawab. ( demikian yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari hadits Ibnu Umar. Imam Bukhari dari hadits Anas dari Abu Tholhah, sedangkan Imam Muslim dari hadits Anas dari Umar).
Imam Bukhari berkata dalam kitab Shohihnya, bab: Mayyit mendengar bunyi sandal, diriwayatkan oleh Anas dari Nabi saw bersabda: “Jika seorang hamba telah diletakkan di kuburannya, dan apabila dia telah ditinggal dan teman-temannya pun telah pergi hingga ia mendengar suara sandal mereka, maka datanglah kepadanya dua malaikat kemudian mendudukkannya ...., al-hadits. Dan beliau juga menyebutkan hadits ini pada bab yang menerangkan tentang adzab kubur (diriwayatkan oleh Imam Muslim juga).
Mayyit dapat mendengar suara sandal memang terdapat pada sejumlah hadits, diantaranya hadits-hadits yang datang tentang pertanyaan kubur. Hadits-hadits itu banyak dan telah tersebar. Pada hadits- hadits tersebut ada penjelasan tentang pertanyaan dua malaikat pada mayyit dan jawaban pertanyaannya dengan jawaban yang sesuai dengan keadaan si mayyit, bahagia atau celaka. Dan diantaranya apa yang telah disyari’atkan oleh Nabi saw untuk umatnya, yaitu mengucapkan salam pada ahli kubur serta menyapa mereka, dengan lafadz:   
 (السلام عليكم دار قوم مؤمنين)                                                
       Ibnu Qoyyim berkata: “Dan ini sapaan bagi orang yang mendengar dan berakal. Kalau tidak demikian maka sapaan itu sama dengan berbicara dengan sesuatu yang tidak ada dan benda padat. Dan para salaf telah sepakat akan hal ini (lihatlah kitab ar-Ruh).
Pada pembahasan ini Abdurrazzaq meriwayatkan sebuah hadits dari Zaid bin Aslam, beliau berkata: Abu Hurairah bersama seorang temannya melewati sebuah kuburan. Lalu Abu Hurairah r.a. mengatakan: “Ucapkan salam!. Maka orang itu berkata:  “Apakah aku mengucapkan salam pada kuburan?”. Maka Abu Hurairah menjawab: “Jika ia pernah melihatmu sehari saja di dunia maka sekarang ia pasti (masih) mengenalmu”. (diriwayatkan Abdurrazzaq pada kitab al-Musannaf, Juz 3 : 577).
Dalam Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Taymiyyah ditanya: apakah mayyit mendengar perkataan peziarah dan melihatnya?, apakah ruhnya dikembalikan kepada jasadnya pada waktu itu ataukah ruhnya terbang di atas kuburan pada waktu itu dan di waktu yang lain?, apakah ruhnya dikumpulkan bersama ruh keluarga dan sahabatnya yang telah mati sebelumnya?.
Maka beliau menjawab: “Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam. Ya, mayyit mendengar semuanya sebagaimana telah ada di dalam Shohih Bukhari dan Shohih Muslim dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda “Ia mendengar suara sandal mereka (peziarah) ketika mereka berpaling darinya”. (lihat Shohih Bukhari Kitabul Janaiz bab: mayyit mendengar suara sandal. “Al-Khafqu” dan “Al-Qar’u’’ adalah suara sandal ketika diinjakan ke tanah).
Adapun perkataan yang mengatakan: apakah ruhnya dikembalikan pada badannya pada waktu  itu, ataukah ia terbang di atas kuburannya pada waktu itu dan di waktu yang lain?. Maka ruhnya dikembalikan pada badannya pada waktu itu, sebagimana datang dalam hadits, dan dikembalikan juga di waktu yang lain.
Di samping itu ruh dapat bersambung dengan badan kapan saja Allah menghendakinya. Dan itu (bisa terjadi) dalam sekejap saja seperti turunnya malaikat, tampaknya cahaya di bumi dan seperti terjaganya orang yang tidur.
Makna Kehidupan Alam Barzakh
Makna kehidupan ini sepantasnya dijelaskan bahwasannya kehidupan alam barzakh bukan seperti kehidupan kita. Akan tetapi, kehidupannya itu khusus. Yang pantas bagi mereka dengan alam kehidupan mereka (penghuni alam barzakh), bukan bagi kita karena kehidupan kita lebih pendek (waktunya), lebih hina, lebih sempit, dan lebih lemah.
Orang yang berada di alam dunia hidup di antara ibadah dan kebiasaan, ketaatan dan maksiat, serta berbagai macam kewajiban baik bagi diri sendiri, keluarga dan Tuhannya. Terkadang ia menjadi (jiwa yang) suci dan terkadang sebaliknya, terkadang di masjid dan terkadang di kamar mandi dan dirinya tidak tahu bagaimana ia di akhir kehidupannya. Kadang-kadang dia dan surga hanya sehasta, kemudian perkara itu berbalik ke belakang dan menjadikannya penghuni neraka dan begitu juga sebaliknya. Adapun kehidupan di alam barzakh: maka bagi orang-orang yang beriman, ia telah melewati jembatan ujian yang tidak bisa menetap di sana kecuali orang yang berbahagia. Kemudian telah putus darinya segala paksaan (kewajiban-kewajiban), ia telah menjadi ruh yang bersinar, suci, berfikir, pelancong, bertasbih serta berkeliling dalam alam malakut dan kerajaan Allah SWT. Tiada kegelisahan, kesedihan, ketakutan serta kecemasan, karena barzakh bukanlah dunia, perabot rumah, emas, dan juga bukan perak. Tidak ada iri, kezholiman dan kedengkian. Dan jika (yang menempatinya) bukan orang-orang yang beriman,  maka tentu sebaliknya.

0 komentar:

Post a Comment