Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, April 17, 2012

Induk Pesantren-Pesantren di Desa Ganjaran


Raudlatul Ulum Gondanglegi Malang

Kota pendidikan dan kota santri, begitu kesan yang tertangkap jika kita berkunjung ke kota Malang. Suasana yang sejuk dan berbagai lembaga pendidikan berkualitas bisa kita temui hampir di setiap sudut kota apel ini. Mulai dari TK, RA, SD, MI, SMP, MTS, SMA, SMK, MA, Perguruan Tinggi bahkan sampai Pondok Pesantrenpun saling berkompetisi memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik guna mencerdaskan dan meningkatkan SDM di Indonesia. Dari pelbagai lembaga yang ada, pondok pesantren memiliki peran penting demi tercapainya visi dan misi pendidikan. Di kabupaten Malang sendiri terdapat 220 Pondok Pesantren yang sampai sekarang masih aktif dalam kegiatan pembelajaran (Wikipedia). Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Gondanglegi Malang menjadi salah satu dari jumlah tersebut.
Secara geografis, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum terletak di Jalan Sumber Ilmu nomor 127 Desa Ganjaran Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang Jawa Timur. Desa Ganjaran sendiri sampai sekarang masih dalam suasana sejuk khas pedesaan yang dikelilingi sawah, kebun tebu, masyarakat yang ramah dan pemandangan desa santri salaf.   
Pondok Pesantren ini bermula dari pengajian di musholla-musholla wilayah desa Ganjaran. Pengajian tersebut diprakarsai dan dibimbing oleh salah seorang keturunan dari pendiri Pondok Pesantren Sidogiri (Syekh Sulaiman Basaiban; Mojoagung) yaitu KH. Bukhori Ismail. Perpindahan dari satu musholla ke musholla lain disebabkan agresi pasukan Jepang yang mengancam keselamatan Kiai dan masyarakat muslimin di desa tersebut.
Kiai asal Sumenep ini, merupakan salah satu santri Kiai Kholil Bangkalan. Beliau nyantri dan berkhidmah kepada Kiai Kholil. Pada mulanya, KH. Bukhori berniat untuk berdakwah ke Jawa Tengah. Namun sebelum boyong dari Bangkalan. Kiai Kholil berkata “Mon Bukhori lakar tang anak. Engko’ lebih kesokan Buckhori neng e malang” (Seandainya Buckhori benar-benar putraku, maka aku lebih berkenan ia berdakwah di Malang). Berawal dari inilah KH. Bukhori Ismail melangkahkan kakinya menuju Malang. 
Secara resmi, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum didirikan oleh menantu sekaligus keponakan KH. Bukhori Ismail, yang bernama KH. Yahya Syabrawi, pada tahun 1949 M atau bertepatan dengan 1368 H. Pondok Pesantren yang didirikan atas perintah KH. Bukhori Ismail ini pada mulanya bernama Madrasah “Miftahusyibyan” dan kemudian berganti nama menjadi Raudlatul Ulum atas istikhoroh KH Khozin Yahya, putra dari KH Yahya sendiri. Pendirian Pondok Pesantren tidak lepas dari dukungan dan bantuan ulama lain dan tokoh masyarakat seperti KH As’ad (Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Ulum), KH Qoffal Muhammad dan lainnya.
Pada permulaan berdirinya Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di rumah penduduk dan rumah ibadah setempat. Namun hal tersbut tidak membuat para pengurus berkecil hati dan tetap gigih memperjuangkan ilmu Allah, hingga kepala desa Ganjaran saat itu (H Abdurrahman) mengupayakan tanah wakof untuk lahan gedung madrasah.
Pondok Pesantren  Raudlatul Ulum menampung santri putra dan putri. Tentu dengan asrama dan ruang pembelajaran yang berbeda. Pondok ini merupakan pondok pertama yang didirikan di desa Ganjaran. Sampai saat ini setidaknya ada 14 pondok pesantren di desa tersebut yang masih keluarga besar Raudlatul Ulum dan sebagian besar kegiatan pendidikan formal dilaksanakan di pondok pesantren Raudlatul Ulum. Lembaga formal yang berada di bawah naungan pondok pesantren ini meliputi TK, MI, MTs, MA, SMK dan STAI Al-Qolam.      
Sebagaimana pondok pesantren salaf lainnya, metode pembelajaran yang diterapkan di pondok ini mulanya adalah metode Sorogan, metode ini berlangsung bertahun-tahun. Setelah bertambanhya para santri, metode Bandongan diterapkan oleh KH. Yahya. Setelah semakin berkembangnya jumlah santri, metode pembelajaran diganti dengan metode Bahtsul Masail, dengan menitik beratkan keaktifan santri, sedangkan Kiai hanya berperan sebagai pengarah dan musohhih.
Kurikulum kitab yang dikaji di pesantren ini masih sangat kental dengan nilai salaf, karena santri-santi disuguhi kitab-kitab seperti:  Tafsir al-jalalain, Mukhtasor al-Ihya, Tuhfah al-Thullab, Minhajul at-Tholibin, Alfiyah Ibnu Malik, Ihya’ Ulumuddin, Sirojut Tholibin, Bidayatul Hidayah, Ibnu Aqil, Bughyatul Mustarsyidin  dan kitab klasik lainnya. Namun keistimewaan pondok pesantren ini dititik beratkan  pada hapalan kitab Alfiyah Ibnu Malik.
Pada liburan bulan Romadhon, para santri yang tidak pulang, tidak menyia-nyiakan waktu begitu saja. Akan tetapi mereka memanfaatkan momen ini dengan mengikuti privat kitab yang diajarkan oleh Kiai, yaitu kitab Imrithi dan Alfiyah Ibnu Malik. Tidak heran jika santri dengan usia dini telah menghapal kitab tersebut, karena memang hal tersebut sangat diperhatikan dan dibantu dengan Tawassul kepada guru KH Bukhori Ismail, yaitu Shohibul Alfiyah Indonesia, Kiai Kholil Bangkalan.
Statistik terakhir tahun 2011 tercatat santri aktif pondok persantren Raudlatul Ulum putra dan putri sebanyak 525. Prestasi terakhir santri Raudlatul Ulum adalah juara lomba membaca kitab Fathu al-Mu’in tingkat nasional pada tahun 2010.
Pondok Pesantren Raudlatul Ulum juga menyediakan dan menyelenggarakan kegiatan ketrampilan yang berorientasi pada pengembangan pendidikan, yaitu: latihan pidato, perekonomian, bahtsul masa’il, seminar/diskusi, latihan organisasi dan manajemen, bahasa Arab, bela diri, olah raga, dan komputer.

0 komentar:

Post a Comment