Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, April 12, 2012

Bidadari tak Kasat Mata



Oleh :Novianti Mawardiany

Aku memperhatikan setumpuk buku dari berbagai jenis__sastra, politik, kitab-kitab kuno, yang tersusun teratur di atas meja. Entah, aku harus memulainya dari mana. Entah, aku harus membacanya dari tumpukan yang mana.
Perpustakaan ini semakin lama semakain ramai saja. Para pelajar, bapak-bapak, karyawan kantor, dan mahasiswa-mahasiswi yang sepertinya sedang kebingungan mencari buku yang tepat untuk referensi.
Tanpa sengaja, mataku terpaku pada deretan buku-buku yang berbaris teratur di lemari pojok paling belakang perpustakaan ini. Sampul biru dan hitam, tebal bukunya, dan ukurannya yang seperti novel. Aku membaca papan di atasnya yang bertuliskan Alkitab.
Ya, tiba-tiba saja aku teringat seseorang. Seseorang yang jauh kutinggalkan dulu__kira-kira dua tahun yang lalu sebelum aku menyelesaikan kuliah. Ya, masih sangat nyata di dalam memoriku tentang matanya yang cokelat berkilau, rambutnya yang panjang kemerahan.

* * *

Dia berdiri tepat di depan pinus-pinus itu. Sesekali angin mengacak rambutnya yang panjang kemerahan. Tak berapa lama kemudian, dia mulai duduk di bawah salah satu pinus yang cukup rindang__yang terlihat kemuning dengan daun-daun yang sudah banyak rontok ke tanah. Dia mulai mengaduk-aduk isi tasnya, yang entah berisi apa. Kemudian dia mengeluarkan sebuah note kecil bersampul hitam dan sebuah pulpen pilot.
Dia mulai menarikan jari-jemarinya yang lentik di atas kertasnya. Sesekali dia menyelipkan penanya di telinga kiri__entahlah, mungkin sedang mencari inspirasi atau mungkin sedang asyik terhanyut dalam angan-angannya. Yang jelas aku tak tahu persis apa yang dia lakukan. Menerkanya pun, sungguh terlalu sukar bagiku.
Terkadang ia memejamkan matanya yang cokelat berkilau seraya menghirup wangi angin yang mengelilinginya bagai pusaran.
Sungguh, pemandangan yang sangat apik dari tempatku berdiri. Aku tak pernah bosan berdiri berjam-jam hanya untuk memandangnya dari balik pinus-pinus yang lain. Entahlah, mengapa aku tak pernah lelah melakukan hal konyol seperti ini.
Ya, aku memperhatikannya setiap hari. Setiap sore, dimana sinar matahari tidak menusuk-nusuk dan membakar kulit ari.
Aku mengeluarkan kamera dari ranselku yang sudah mulai lusuh dan sepertinya harus segera diganti karena kain pelapisnya yang mulai menipis__entahlah, mungkin sebentar lagi akan jebol.
Aku mulai mencari-cari angle yang tepat sebelum mengabadikan keindahannya. Setelah kurasa cukup, aku langsung memotretnya beberapa kali. Sungguh, aku heran mengapa tak pernah bosan melakukan hal ini.
Hasilnya cukup menakjubkan. Sebuah potret yang indah dan mengagumkan. Berkas cahaya yang samar menerobos ke permukaan wajahnya yang setengah menunduk. Sementara rambutnya yang lurus, berkibar teratur mengikuti arah wajahnya. Kakinya yang langsing, tersilang sangat anggun. Pesonanya benar-benar membuatku tak mampu memalingkan wajah walau seper seratus detik sekalipun.
Dalam posisi seperti itu, dia terlihat bagai bidadari tak kasat mata. Entahlah, mengapa aku menyebutnya seperti itu. Mungkin karena aku belum terlalu bisa melihatnya sebagai bidadari yang nyata. Aku tak tau pasti, mengapa. Aku juga tak mengerti mengapa ada sesuatu yang menghalangi mataku untuk melihatnya secara kasat mata. Benar-benar asumsi yang membuatku sangat bingung.
Ya, mungkin saja dia berbeda. Mungkin dia dari jenis bidadari yang lain. Terkadang, ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Sesuatu yang mungkin berasal dari otak, syaraf, atau mungkin hatiku, aku tak tau pasti, yang jelas sesuatu itu selalu meneriakkan kata ‘tidak’ setiap kali aku berkeinginan untuk mendekatinya. Aku tak tau apa itu. Aku terlalu bahkan terlampau bingung untuk mengerti perihal diriku sendiri.

* * *

Aku berjalan menyusuri jalan sempit yang sepi. Bukannya apa-apa, hanya saja aku sedang malas berada dalam kerumunan apalagi keramaian. Hiruk-pikuk suasana kota hanya membuatku tambah stress dengan segala kondisinya yang selalu berubah-ubah dan membingungkan.
Jalan ini memang biasa kulalui ketika jalan raya sedang macet-macetnya. Aku sengaja meninggalkan motor kesayanganku di kos-kosan temanku yang memang dekat dengan kampus kami. Dan aku lebih memilih berjalan kaki melewati jalan setapak atau gang-gang sempit, ketimbang harus terjebak di tengah-tengah mobil-mobil besar maupun kecil yang satu sama lain tidak ada yang mau mengalah.
Dari kejauhan, sepertinya aku melihat seorang wanita yang tengah dikepung beberapa pria bengis. Wanita itu terlihat ketakutan sambil berusaha mencari sela untuk bisa melarikan diri.
Dengan sigap, aku berlari menuju pemandangan itu. Mereka semua tampak terkejut. Terlebih aku.
“Allena…”
Dengan kemampuan bela diriku yang minim, tapi kenekatan yang super maksimum, aku mengepalkan tangan kemudian mendaratkannya di perut salah satu dari mereka. Tapi malang sungguh tak bisa dihindari. Mereka semualah yang malah menghabisiku, hingga aku benar-benar jatuh terkulai.
Aku memejamkan mata untuk menahan rasa sakit. Perlahan kudengar langkah mereka yang mulai menjauh, disusul suara motor yang bising, dan akhirnya hilang sama sekali. Hanya saja, sepertinya ada langkah kaki lain yang menghampiriku perlahan. Kemudian, sebuah tangan menyentuh bahu dan pipiku dengan sentuhan yang lembut.
Tak berapa lama, aku tersentak karena sadar seorang wanita telah menyentuhku. Dia kaget saat melihat reaksiku yang tiba-tiba menjauhkan tangannya dari tubuhku. Bukannya apa-apa, hanya saja aku tahu batasan seorang laki-laki dan wanita__setidaknya, itulah yang kutanamkan dalam diriku. Agama yang kuanut belum menyetujui hal itu.
“Maaf atas reaksiku… Hanya saja, kita bukan muhrim”
Dia mengerutkan alisnya sejenak, kemudian wajahnya kembali normal.
“Kau baik-baik saja?”
“Apakah mereka…”
“Tenang saja, mereka belum sempat melakukan apa-apa padaku,” katanya lembut. Kemudian dia tersenyum seraya memandangku. Aku langsung menundukkan wajah, melihat tatapannya yang aneh. Dia benar-benar cantik. Wajahnya halus seperti boneka keramik yang di gosok berpuluh-puluh kali. Mata cokelatnya benar-benar berkilau.
Ya Allah, hindarkan aku dari godaan-godaan ini…
“Apakah kau perlu kuantar ke rumah sakit? Kulihat tubuhmu terluka. Apakah kau kesakitan?”
“Tidak, aku baik-baik saja. Sepertinya kau terburu-buru. Lebih baik kau pergi saja..”
“Ya, aku memang terburu-buru. Tapi aku tak mungkin meninggalkanmu sendirian disini”
“Sudahlah, aku baik-baik saja”
“Trima kasih”
Ia bangkit berdiri, kemudian melenggang pergi. Mataku menyapu lantai di sekitar tubuhku yang terkulai. Ada sesuatu yang menarik perhatianku. Aku mengambilnya sembari mencoba untuk berdiri.
“Allena, tunggu!”
Dia menghentikan langkahnya yang belum terlalu jauh, kemudian menoleh ke arahku dan langsung berjalan menghampiriku.
“Barangmu terjatuh”
Kemudian aku menyerahkan kalung emas berbandul salib itu padanya. Dia tersenyum sambil mengulang-ulang kata terima kasih padaku. Aku hanya mampu tersenyum pahit, sambil sesekali menelan ludah dan menundukkan kepala.
Dia adalah seorang nasrani.

* * *

Aku meneguk teh hangatku yang tinggal setengah gelas. Kemudian kembali melanjutkan pandangan untuk menyapu barisan-barisan kata yang berjejer rapi pada buku tua yang baru kupinjam di perpustakaan pagi ini.
“Hei…”
Tiba-tiba seseorang menghampiriku dengan senyum cerianya. Rambutnya yang kemerahan tergerai begitu saja. Matanya bersinar bagaikan pendaran cahaya yang terbias di atas air. Sementara tangannya yang putih mulus memegang setumpuk buku yang entah buku-buku apa saja yang sedang dibawanya. Yang kutahu persis hanya satu, sebuah buku di tumpukkan ketiga dari atas, yang berbentuk seperti alkitab. Sekali lagi aku menghela napas.
“Allena…”
“Bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyanya seraya mengernyitkan alis bingung.
Terang saja aku tahu. Mana mungkin aku tidak mengetahui nama seorang gadis yang mampu menyita hari-hariku dengan sangat sadis. Yang mampu mengiris-iris dadaku setiap kali aku melihatnya memegang alkitab. Yang selalu membuatku harus menundukkan kepala karena pesonanya yang membutakan mataku.
“Aku selalu mendengar temanmu memanggilmu Allena. Kurasa, mungkin itu namamu. Apakah aku salah?”
Allena tertawa dengan kekhasannya. Matanya menyipit, tulang pipinya tertarik ke atas, memperlihatkan dua buah cekungan tipis yang bersembunyi di pipinya yang merona.
“Kenapa kau tertawa?”
“Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja, ekspresimu lucu sekali. Kau benar, aku Allena. Bolehkah aku tahu namamu?”
Aku menimbang-nimbang sebelum menjawab. Sebenarnya aku ingin mengakhiri ini secepatnya. Aku ingin menghentikan rasa ini secepatnya. Aku ingin melupakannya secepatnya. Tapi bagaimana aku bisa?
“Hatsby”
“Salam kenal,” katanya sembari mengulurkan tangan padaku. Aku melipat kedua tanganku dan menariknya ke depan dada. Ekspresi Allena terlihat berubah. Kemudian dia menurunkan tangannya yang tidak kubalas dengan jabatan.
“Maaf, sepertinya aku harus pergi,” kataku mohon diri, saat ia akan mengambil tempat di sampingku. Sungguh, aku tak akan tahan berada di sampingnya cukup lama. Bisa-bisa ia membakar kesabaranku.

* * *

Aku kembali ke duniaku saat ini. Kukira aku sedang terdampar dalam memoriku dua tahun silam. Ternyata aku masih di sini. Di tempat yang sama. Masih di dalam sebuah gedung perpustakaan__duduk di tengah-tengah sambil memandangi tumpukan buku yang masih setia menemaniku. Tiba-tiba saja aku merasa tak bergairah sama sekali untuk membaca buku-buku itu.
Aku bangkit, kemudian berjalan mengitari lemari-lemari cokelat yang berisi tumpukan buku sastra. Yah, siapa tahu saja ada sesuatu yang menarik perhatianku.
Aku melihat seseorang yang tengah kesulitan mengambil buku paling atas. Aku mendekatinya, kemudian kujulurkan tanganku untuk mengambil sebuah buku sastra yang lumayan tebal, kemudian kuserahkan pada wanita itu.
Sungguh, aku tak pernah menyangka hal ini sebelumnya. Menerkanya pun nihil bagiku. Tapi aku melihatnya. Kedua mata cokelat itu. Kini tepat di depan mataku. Bagaimana mungkin?
Ia tersenyum padaku, dan aku membalasnya dengan tulus. Ada sesuatu yang hilang. Rambut kemerahannya yang lurus berkilau, kini bermetamorfosa menjadi balutan kain putih satin yang teduh menyelimuti kepalanya. Subhanallah…
“Allena…”
Dia tersenyum sekali lagi. Wajah itu, kini teduh. Aku mampu melihatnya. Benar-benar mampu. Bidadari yang sesungguhnya. Aku mampu melihatnya dengan nyata. Tak lagi kasat mata.
“Bunda…,” tiba-tiba saja seorang gadis mungil berlari ke arah Allena dan memeluknya. Allena menyambutnya, kemudian menggendong gadis mungilnya dan mencium kedua keningnya dengan kasih sayang. Aku terperangah tak percaya. Sekali lagi, dia mengiris hatiku dengan sadis.

* * *



0 komentar:

Post a Comment