Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Thursday, April 12, 2012

BERTAWASUL DENGAN JEJAK PENINGGALAN NABI



Fakta menunjukan bahwa para sahabat memohon berkah dengan jejak peninggalan Nabi. Memohon berkah ini tidak lain, kecuali memberikan satu definisi, yakni bertawasul kepada Allah swt dengan jejak peninggalan sebab bertawasul bisa dilakukan dengan beragam cara bukan satu.
Apakah anda kira para sahabat hanya bertawasul dengan jejak peninggalan beliau dan tidak bertawasul dengan sosok beliau sendiri?
Apakah logis jika cabang (jejak peninggalan) bisa dijadikan objek tawasul, tapi yang pokok (sosok Nabi) tidak bisa dijadikan objek tawasul?
Apakah logis bertawasul dengan jejak peningalan beliau, sedangkan kemulian dan kebesarannya tu disebabkan pemiliknya, yaitu Muhammad saw. Kemudian ada seseorang berkata, “sesungguhnya beliau tidak bisa dijadikan objek tawasul. “subhaanaka Haadzaa Buhtaanun’Adhiim.
Dalil-dalil tentang betawasul dengan jejak peninggalan Nabi sangat banyak jumlahnya dan kami akan menyebut dalil yang paling popular.
Amirul Mukminin, Khalifah Umar bin Khaththab ra sangat berambisi untuk dimakamkan disamping makam Rasulullah saw. Saat ajalnya menjaelang tiba, ia mengutus anaknya, Abdullah, untuk meminta izin kepada Sayidah Aisyah agar ia bisa dikubur disamping makam beliau. Kebetulan Aisyah menyatakan keinginan yang sama, yaitu dikuburkan disamping beliau. Aisyah berkata,”Dulu saya ingin tempat ini menjadi kuburanku, tapi saya memprioritaskan Umar untuk menempatinya, ” Abudullah pun pulang memberi kabar gembira kepada ayahhandanya. Umar berkata, “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting melibihi hal ini.” Kisah ini bisa dilihat di shahih al Bukhari. Lalu apa definisi keinginan besar (ambisi) Umar dan Aisyah?
Mengapa dimakamkan di dekat makam Rasulullah saw menjadi suatu hal yang sangat diinginkan oleh Umar? Hal ini tidak bisa dipahami, kecuali semata-mata bertawasul dengan Nabi saw sesudah beliau wafat seraya mengharap keberkahan sebab dekat dengan beliau.
Ummu Sulaim memotong mulut geriba (wadah air dari kulit) dimana Rasulullah saw meminim dari wadah itu. Anas bin Malik berkata, “Potongan mulut geriba itu masih ada pada kami.
Para sahabat berebut mengambil sehelai rambut kepala Nabi saw saat beliau mencukurnya.
Asma’ binti Abi Bakar menyimpan jubbah belaiau dan berkata, “akmi membasuh jubbah ini untuk orang-orang sakit dengan harapan memohon kesembuhan berkatnya.”
Cincin Rasulullah saw sepeninggaln beliau disimpan oleh Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Kemudian cincin ini jatuh dari tangan utsaman.
Semua hadits-hadits ini telah nyata adanya dan bersetatus shahih sebagaimana akan kami jelaskan dalam kajian memohon keberkahan (tabarruk). Hal yang ingin saya tanyakan adalah ada apa gerangan dengan perhatian para sahabat terhadap jejak peninggalan Nabi? (mulut geriba, rambut,  keringat, jubbah, cincin, dan tempat shalat). Apa maksud perhatian mereka terhadapnya? Apakah hanya sekedar kenangan-kenangan ataukah hanya menjaga benda-benda peninggalan bersejarah untuk disimpan di museum.
Jika alasan pertama sebagai jawaban, lalu mereka sangat menaruh perhatian dengannya ketika berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah swt saat tertimpa musibah atau penyakit? Jika alasan kedua sebagai jawaban, lalu dimanakah museum itu berada dan dari mana munculnya ide baru membuta museum itu kepada mereka? Subhanaka Haadzaa Buhtaanun ‘Adhiim.
Jika kedua jawaban itu salah, berarti yang tersisa adalah harapan mereka akan keberkahan dengan jejak peninggalan Nabi untuk dijadikan objek tawasul kepada Allah swt saat berdoa. Karena Allah swt adalah Dzat pemberi dan tempat meminta. Semua mahluk adalah hamba-hamba-Nya dan dibawah kendali-Nya. Mereka tidak bisa memberi apapun kepada diri mereka sendiri apalagi kepada orang lain, kecuali atas seizing Allah swt.

Bertawasul Dengan Jejak Peninggalan Para Nabi
Allah swt berfirman,
tA$s%ur óOßgs9 öNßgŠÎ;tR ¨bÎ) sptƒ#uä ÿ¾ÏmÅ6ù=ãB br& ãNà6uÏ?ù'tƒ ßNqç/$­G9$# ÏmÏù ×puZŠÅ6y `ÏiB öNà6În/§ ×p¨ŠÉ)t/ur $£JÏiB x8ts? ãA#uä 4yqãB ãA#uäur tbr㍻yd ã&é#ÏJøtrB èps3ͳ¯»n=uKø9$# 4 ¨bÎ) Îû šÏ9ºsŒ ZptƒUy öNà6©9 bÎ) OçFZä. šúüÏZÏB÷sB ÇËÍÑÈ  

Dan Nabi mereka mengatakan kepad mereka, sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepadamu. Di dalamnya ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun. Tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu tardapat tanda bagimu jika kamu beriman. (Q.S.al-Baqarah:248)
Dalam kitab at-Tarikh, al-Hafidz Ibnu katsir berkata, “Ibnu Jarir berkomentar tentag Tabut dalam menafsiri ayat ini, “ Dahulu, Bani Israil jika berperang dengan salah satu musuhnya, mereka senantiasa membawa Tabutul Mitsaq (peti perjanjian) yang berada dalam Qubbatuz zaman sebagaimana telah dijelaskan. Mereka mendapat kemenangan berkat kedamaian yang Allah swt jadikan di dalmnya serta di dalamnya terdapat sisa-sisa peninggalan Nabi Musa as dan Harun as. Ketika dalam salah satu peperangan mereka melawan penduduk Ghaza dan Asqalan, pasukan musuh berhasil mengalahkan pasukan bani Israil dan merebut Tabutul Mitsaq dari tangan mereka.
Ibnu Katsir berkata, “Dahulu, Bani Israil mengalahkan musuh-musuhnya berkat Tabutul Mitsaq yang di dalamnya ada bokor emas yang digunakan untuk membasuh dada para Nabi.”(Al-Bidayah vol. II hlm. 8).
Dalam tafsirnya Ibnu Katsir berkata,”Di dalam Tabut itu ada tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun, dua papan Taurat, dan beberapa baju Nabi Harun. Sebagian ulama berpendapat di dalamnya ada tongkatdan sepasang sandal.”(Tafsir Ibnu Katsir vol. I hlm.313).
Dalm versi Tafsir al-Qurthubi, salah satu profil tentang Tabut adalah bahwa ia diturunkan Allah swt kepada Nabi Adam as dan terus tetap berada di tangannya sampai akhirnya berada ditangan Nabi Ya’qub as. Selanjutnya, ia berada ditangan Bani Israil dan berkat Tabut ini mereka mampu mengalahkan oran-orang yang menyerang mereka,. Ketika mereka durhaka kepada Allah swt, mereka dikalahkan oleh kaum raksasa (Amalika) dan kaum ini merebut Tabut tersebut dari tangan mereka. (Tafsir al-Qurthubi vol.III hlm.247).
Fakta tentang Tabut ini pada hakikatnya adalah bertawasul dengan jejak peninggalan para Nabi. Karena tidak ada artinya meletakkan Tabut di depan mereka, kecuali Hanya bisa dipahami sebagai bentuk tawasul. Allah swt sendiri meridhai tawasul seperti ini dengan bukti bahwa Allah telah mengembalikan Tabut tersebut kepada mereka dan dijadikan sebagai indikasi atas keabsahan Thalut menjadi rajadan Allah swt tidak pernah mengingkari atas perlakuan mereka terhadap Tabut.

Tawasul Nabi Dengan Kemulian Dirinya Dan Kemuliaan Para Nabi Dan Shalihin
Dalam biografi Fatimah binti Asad, ibunda Ali binAbi Thalib, terdapat keterangan bahwa ketika ia meninggal dunia Rasulullah saw menggali liang lahatnya dan mengeluarkan tanahnya dengan tangan beliau sendiri. Seyelah selesai mengerjakanya beliau masuk dan berbaring miring di dalamnya, lalu berkata,
اللهُ الَّذِيْ يُحْيِىْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌ لاَ يَمُوْتُ اِغْفِرْ ِلأُمِّيْ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقِّنَهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْخَلَهَا بِحَقٍّ نَبِيِّكَ وَاْلأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِيْ فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ، وَكَبَّرَ عَلَيْهَا أَرْبَعًا وَأَدْخَلُوْهَا اللَّحْدَ هُوَ وَاْلعَبَاسُ وَأَبُوْبَكَرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.
Allah Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Dia hidup tidak akan mati. Ampunilah ibuku, Fathimah binti Asad; ajarilah ia hujjah; lapangkanlah tempat masuknya dengan kemuliaan Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Karena Engkau adalah Dzat yang paling penyayang. Rasulullah kemudian menakbirkan Fathimah empat kali dan bersama Abbas r.a. dan Abu Bakar Asshiddiq r.a. memasukkannya ke dalam liang lahat.
(H.R. at-Thabarani dalam al-Kabir dan al-Awsath. Dalam sanadnya terdapat Rauh bin Salah yang dinilai dapat dipercaya oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Hadits ini menganndung kelemahan, sedangkan perawi-perawi selain Rauh sesuai dengan perawi hadits shahih). (Majma’uz Zawaid vol. 9 Hlm. 257).
Sebagian pakar hadits berbeda pendapat menyikapi status Rauh bin Salah, salah seorang perawi hadits tersebut. Namun, Ibnu Hibban memasukkannya dalam kelompok perawi tsiqah (dapat dipercaya). Sedangkan, pendapat al-Hakim adalah ia dapat dipercaya. Ibnu Hibban dan al-Hakim sama-sama menilainya sebagai hadits shahih. Demikian pula al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid mengatakan bahwa perawi hadits ini sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih.
Sebagaiman halnya at-Thabarani, Ibnu Abdil Barr meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas dan Ibnu Abi Syaibah dari Jabir. Hadits ini juga diriwayatkan oleh ad-Dailami dan Abu Nu’aim. Jalur-jalur periwayatan hadits ini saling menguatkan satu sama lain dengan kokoh.
Dalam kitab Ithaaful Adzkiyaa’ hlm. 20, syeikh al-Hafidz al-Ghimari menyatakan bahwa Rauh bin Salah kadar ke-dha’ifannya tipis bagi ahli hadits yang menilainya lemah sebagaimana dipahami dari ungkapan-ungkapan ahli hadits. Karena itu, al-Hafidz al-Haitsami menggambarkan ke-dha’ifannya Rauh dengan menggunakan bahasa yang mengesankan kadar kedha’ifan yang ringan sebagaimana diketahui dengan jelas bagi orang yang biasa mengkaji ilmu hadits. Hadits tersebut tidak kurang dari kriteria hadits hadits hasan, bahkan sesuai dengan kriteria Ibnu Hibban yang menilainya hadits shahih.
Pandangan kami pada persoalan ini adalah bahwa Rasulullah saw. Bertawassul kepada Allah SWT. Dengan para Nabi sebab kemuliaan mereka terdapat dalam hadits tersebut dan terdapat dalam hadits lain di mana tawassul ini dilakukan setelah para Nabi wafat. Oleh Karena itu, diperbolehkan bertawassul kepada Allah SWT. Dengan kemuliaan (bilhaq) dan dengan mereka yang memiliki kemuliaan (ahlul haq), baik masih hidup maupun sesudah wafat.

0 komentar:

Post a Comment