Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, April 17, 2012

Bercermin Kepada Sosok Habib Hasan Baharun




و كلهم من رسول الله ملتمس  #  غرفا من البحر أو رشفا من الديم
Bukan hanya sekedar Dzurriyah Nabi, tetapi juga penerus perjuangan Beliau Shallallahu alaihi wa sallam dalam berdakwah. Gambaran yang tercermin ketika terdengar sebuah nama; Al-Ustad Hasan bin Ahmad Baharun. Seorang guru yang benar-benar memilih langkah jalan hidup Rosulullah sebagai pedoman hidup. Sifat-sifat Nabi Muhammad saw. telah beliau terapkan dalam hidupnya.
Hijrah Nabi saw. dari kota Mekkah menuju kota Madinah bukan untuk mencari suasana kehidupan baru bagi beliau, melainkan sebuah langkah awal perjuangan  menegakkan agama Islam di bangsa Arab, bahkan di seluruh penjuru dunia. Begitu pula hijrah yang dijalankan oleh Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun semasa hidupnya, tidak hanya sekedar Rihlah biasa melainkan Rihlatul Iman yang memiliki target pengembaraan keilmuan yang jelas, dakwah, observasi  serta selalu memberikan kesan setelah meninggalkan tempat-tempat yang pernah beliau  kunjungi.
Sifat-sifat Nabi saw. yang paling nampak dalam diri seorang
Habib Hasan bin Ahmad Baharun.
Sabar, tentu kita semua tahu perjuangan dakwah Nabi saw. yang penuh dengan kesabaran dalam menghadapi rintangan dan hambatan baik secara internal dari golongan keluarga beliau sendiri dan terlebih eksternal dari para kaum kafir Quraiys bahkan beliau juga pernah dicaci maki dan dilempari ketika hijrah ke Habasyah. Kasus serupa juga pernah dialami oleh Abuya Al Habib Hasan Baharun. Kala itu salah satu santri ceroboh membuang air cucian piring dari tingkat atas sehingga mengenai tubuh dan membasahi gamis yang beliau kenakan. Dengan kesabaran yang beliau terapkan dalam kehidupan, beliau sama sekali tidak menunjukkan kemarahan bahkan memaafkan dan dengan bijaksana menasehati santri tersebut untuk berhati-hati seraya berkata “Untung saja Ana yang kena, bagaimana jika orang lain yang kena?”
Istiqomah, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda “Sebaik-baiknya perbuatan adalah yang paling berkesinambungan meskipun sedikit”
Bangun dini hari pada jam dua malam merupakan sebuah tradisi yang selalu beliau tekuni, di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Sepercik kisah unik dari sosok Ustad Hasan Baharun yang mungkin sulit terlupakan bagi para santri beliau di Ganjaran Malang karena di mata mereka beliau memiliki ciri khas tersendiri. Ketika membangunkan para santri untuk bangun malam, yaitu setiap kali beliau membangunkan santri beliau selalu membawa lampu petromak. Sebelum subuh dari pukul tiga malam mereka diajarkan Kitab Muhawarah yang beliau susun sendiri. Begitu pula penerapannya di pundok pesantren Darullugah Wadda’wah, kesan yang selalu diingat para santri adalah suasana Qiyamul lail bersama Abuya dengan disediakannya kopi setiap malam. Bahkan ketika beliau baru datang dari Saudi Arabia dengan keadaan yang tentunya penuh lelah dan letih, beliau singgah di kediaman salah satu wali murid (H.Yusuf Bekasi) untuk bermalam dan tidak lupa meminta tuan rumah untuk membangunkan beliau. Bahkan, Ustad Hasan juga menelpon ke kantor pondok dan memerintahkan penjaga malam pondok untuk menelpon H.Yusuf agar niatnya membangunkan Abuya pada jam tersebut. Dan banyak lagi amalan atau wirid-wirid yang ditekuni semasa hidup Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun.
Tawakkal dan Keyakinan Yang Luar Biasa, Idza Azamta fatawakkal Alallah” Al-Hadits. Pada saat krisis ekonomi menimpa bangsa Indonesia beliau justru membangun gedung berlantai tiga untuk madrasah/asrama santri dengan biaya awal hanya sebesar Rp 5.000.000,- sehingga hal tersebut menimbulkan keraguan dari beberapa orang yang diantara mereka datang ke pondok dan bertanya kepada beliau ”Ya Ustadz sekarang masa krisis kok antum malah membangun dan uang yang ada untuk beli besi pondasi saja tidak cukup apalagi untuk membangun bangunan yang memerlukan biaya yang sangat besar!” Namun beliau menjawab dengan jawaban yang penuh keyakinan dan tawakkal kepada Allah swt. “Yang mengalami krisis itu kan cuma Indonesia dan kamu harus yakin bahwa Allah Yang Maha Kaya tidak akan pernah mengalami krisis.” Itulah jawaban spontan yang cukup mencengangkan, tidak terlontar kecuali dari orang-orang yang betul-betul punya tawakkal tinggi.
            Disamping itu apabila beliau dimintai saran-saran oleh panitia masjid dan madrasah beliau selalu menyuruh langsung untuk membongkar masjid yang akan dibangun karena menurut beliau, pembangunan masjid dan madrasah adalah proyek Allah swt., sehingga tidak perlu khawatir dari pertolongan Allah.
            Salah satu cara beliau dalam mendatangkan pertolongan dan bantuan Allah,  adalah dengan bersedekah kepada para fakir miskin dan tukang becak serta para pedagang yang berada di perempatan jalan baik di Bangil ataupun di Gempol. Hal tersebut beliau laksanakan sekitar pukul 02.00-03.00 malam, sebagaimana  yang dikisahkan setelah wafatnya beliau oleh Mohammad Rodi dan Thoyyib Afandi yang senantiasa membantu membagikan shodaqoh yang sering dilakukan oleh Abuya Alm Ust. Hasan Baharun.
Keikhlasan, Beliau senantiasa menekankan keikhlasan kepada guru dan santri dalam setiap tindakan sebagaimana beliau lakukan ketika merekrut guru-guru yang akan mengajar di Pondok dan karena guru yang tidak ikhlas akan menularkan ilmu secara berkesinambungan yang tidak ikhlas pula, sehingga apabila ada guru baru biasanya kurang diperhatikan. Hal ini beliau lakukan semata-mata untuk menguji tingkat keikhlasan para guru yang akan mengajar.
            Apabila pondok dirintis dengan niat yang Ikhlas, maka Allah saw. akan mempromosikan sendiri melalui malaikat-malaikatnya kepada kaum muslimin. Bahkan ketika guru-guru mengusulkan untuk membuat papan nama beliau selalu menolak, karena khawatir terbesit rasa tidak ikhlas. Baru sekitar 2 tahun sebelum wafatnya, beliau memperkenankan membuat papan nama karena banyak wali santri yang datang dari jauh selalu kebingungan mencari alamat pondok, itulah alasan yang sering diajukan oleh asatidz.

0 komentar:

Post a Comment