Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, April 17, 2012

al Manhajus Sawi, Deskripsi Pilar-Pilar Sufi Bani Alawi



Alhafidz AbulAliyah, salah seorang yang di kategorikan sebagai ulama’ dari kalangan tabi’in  memiliki komentar menarik seputar Firman Allah ta’ala :
اهدنا الصّراط المستقيم # صراط الذين أنعمت عليهم
Beliau berpendapat bahwasanya yang di maksud dengan “ allaziina an’amta ‘alaihim adalah keluarga baginda Rasulullah SAW.
            Statemen ini menjadi sangat logis jika  disinkronkan dengan gambaran yang dipaparkan  oleh tokoh sufi yang sekaligus seorang pakar fiqih (alfaqih) pada era millenium ini al-Habib Zen bin Ibrohim bin Smith dalam sebuah karya monumental yang cukup menyita perhatian para ‘ulama terlebih dari kalangan habaib.
            Al-Manhaj as-Saawi ,sebuah kitab yang merupakan literasi bermodel syarh yaitu berbentuk elaborasi atau penjelasan dari statmen populer mengenai 5 pilar thoriqoh ‘alawiyyah  yang diproklamirkan oleh al-Habib Ahmad bin Zen al-Habsyi seorang ulama besar pada abad 11 H dan di kutip oleh al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi dalam kitabnya ‘Iqdul yawaqit al-jauhariyyah, lima pilar itu adalah al-‘ilm, al-‘amal, al-wara’, al-khouf dan al-ikhlash.
            Sekilas, lima unsur di atas terkesan sangat sederhana,akan tetapi mengandung makna yang  sangat  luas jika dikaji dari berbagai sudut pandang  dengan analisa yang mendetail. Hal ini  yang memberikan inspirasi kepada muallif untuk menuliskan karyanya diatas lembaran setebal 775 halaman menjabarkan secara luas lika liku hakikat lima poin besar ini.
            Jika menoleh kepada latar belakang muallif, maka tidak heran jika setiap karyanya sarat sekali dengan aroma tasawwuf. Beliau lahir di kota Jakarta pada tahun 1936 M  dan hidup di tengah-tengah keluarga yang  menjunjung tinggi nilai-nilai ittiba’ kepada ajaran datuknya sehingga pada tahun 1950 M sang ayah mengirimnya ke hadhromaut untuk menimba ilmu dan adab dari para ulama’ yang ada di sana seperti al-Habib  Muhammad bin Salim bin Hafidz dan para pemuka tarim lainya sehingga tumbuh sebagai seorang faqih juga sufi, dan kini menetap di madinah munawwaroh bersama keluarganya.      
Salah satu keistimewaan kitab ini ,muallif mengumpulkan argumentasi yang sangat beragam dalam setiap bab atau sub babnya tanpa sama sekali mendiskreditkan nilai-nilai keilmiahan karena semua disajikan dalam tampilan yang sistematis, dimulai dari ayat-ayat alqur’an beserta tafsirnya, ahaaditts annabawiyyah dan atsaarushohaabah beserta keterangannya, perkataan para Ulama klasik dan  tokoh bani ‘alawi  sampai  hikayat para salafussoleh serta disempurnakan dengan solusi problematika yang ada semua diposisikan sesuai dengan pembahasannya .
            Berdasarkan paparan di atas, kitab ini sangat ideal untuk dijadikan rujukan khususnya oleh para da’i yang berkecimpung di masyarakat. sebab, jika merujuk kepada kandungannya kitab ini pantas dikategorkan sebagai ensiklopedia  atau mausu’ah da’wah yang memuat beribu  fawaid  pilihan hasil seleksi dari ratusan refrensi, sehingga di tengah kesibukannya sang da’i tak perlu lagi menyibukan diri  untuk menela’ah kitab-kitab lain yang bahkan sebagiannya sukar ditemukan di peredaran.
            Di samping itu, lebih dari separuh pembahasan yang ada didominasi oleh poin pertama yaitu al-‘ilm sehingga sudah sepantasnya al-manhaju ssawi  dijadikan pedoman oleh setiap tholib ‘ilm baik dalam hal niat menuntut Ilmu, tata cara dan norma nya, beretika terhadap guru, sampai kitab yang harus di pilih. Semuanya sudah dikupas secara lugas oleh muallif sehingga sang penuntut ilmu tak perlu bingung  menyeleksi buku panduan untuknya dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat Insya Allah.Deskripsi Pilar-Pilar Sufi Bani Alawi
Alhafidz AbulAliyah, salah seorang yang di kategorikan sebagai ulama’ dari kalangan tabi’in  memiliki komentar menarik seputar Firman Allah ta’ala :
اهدنا الصّراط المستقيم # صراط الذين أنعمت عليهم
Beliau berpendapat bahwasanya yang di maksud dengan “ allaziina an’amta ‘alaihim adalah keluarga baginda Rasulullah SAW.
            Statemen ini menjadi sangat logis jika  disinkronkan dengan gambaran yang dipaparkan  oleh tokoh sufi yang sekaligus seorang pakar fiqih (alfaqih) pada era millenium ini al-Habib Zen bin Ibrohim bin Smith dalam sebuah karya monumental yang cukup menyita perhatian para ‘ulama terlebih dari kalangan habaib.
            Al-Manhaj as-Saawi ,sebuah kitab yang merupakan literasi bermodel syarh yaitu berbentuk elaborasi atau penjelasan dari statmen populer mengenai 5 pilar thoriqoh ‘alawiyyah  yang diproklamirkan oleh al-Habib Ahmad bin Zen al-Habsyi seorang ulama besar pada abad 11 H dan di kutip oleh al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi dalam kitabnya ‘Iqdul yawaqit al-jauhariyyah, lima pilar itu adalah al-‘ilm, al-‘amal, al-wara’, al-khouf dan al-ikhlash.
            Sekilas, lima unsur di atas terkesan sangat sederhana,akan tetapi mengandung makna yang  sangat  luas jika dikaji dari berbagai sudut pandang  dengan analisa yang mendetail. Hal ini  yang memberikan inspirasi kepada muallif untuk menuliskan karyanya diatas lembaran setebal 775 halaman menjabarkan secara luas lika liku hakikat lima poin besar ini.
            Jika menoleh kepada latar belakang muallif, maka tidak heran jika setiap karyanya sarat sekali dengan aroma tasawwuf. Beliau lahir di kota Jakarta pada tahun 1936 M  dan hidup di tengah-tengah keluarga yang  menjunjung tinggi nilai-nilai ittiba’ kepada ajaran datuknya sehingga pada tahun 1950 M sang ayah mengirimnya ke hadhromaut untuk menimba ilmu dan adab dari para ulama’ yang ada di sana seperti al-Habib  Muhammad bin Salim bin Hafidz dan para pemuka tarim lainya sehingga tumbuh sebagai seorang faqih juga sufi, dan kini menetap di madinah munawwaroh bersama keluarganya.      
Salah satu keistimewaan kitab ini ,muallif mengumpulkan argumentasi yang sangat beragam dalam setiap bab atau sub babnya tanpa sama sekali mendiskreditkan nilai-nilai keilmiahan karena semua disajikan dalam tampilan yang sistematis, dimulai dari ayat-ayat alqur’an beserta tafsirnya, ahaaditts annabawiyyah dan atsaarushohaabah beserta keterangannya, perkataan para Ulama klasik dan  tokoh bani ‘alawi  sampai  hikayat para salafussoleh serta disempurnakan dengan solusi problematika yang ada semua diposisikan sesuai dengan pembahasannya .
            Berdasarkan paparan di atas, kitab ini sangat ideal untuk dijadikan rujukan khususnya oleh para da’i yang berkecimpung di masyarakat. sebab, jika merujuk kepada kandungannya kitab ini pantas dikategorkan sebagai ensiklopedia  atau mausu’ah da’wah yang memuat beribu  fawaid  pilihan hasil seleksi dari ratusan refrensi, sehingga di tengah kesibukannya sang da’i tak perlu lagi menyibukan diri  untuk menela’ah kitab-kitab lain yang bahkan sebagiannya sukar ditemukan di peredaran.
            Di samping itu, lebih dari separuh pembahasan yang ada didominasi oleh poin pertama yaitu al-‘ilm sehingga sudah sepantasnya al-manhaju ssawi  dijadikan pedoman oleh setiap tholib ‘ilm baik dalam hal niat menuntut Ilmu, tata cara dan norma nya, beretika terhadap guru, sampai kitab yang harus di pilih. Semuanya sudah dikupas secara lugas oleh muallif sehingga sang penuntut ilmu tak perlu bingung  menyeleksi buku panduan untuknya dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat Insya Allah.

0 komentar:

Post a Comment