Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, April 13, 2012

Al Imam Ahmad bin Hanbal, Benteng AhlusSunnah Dari Agresi Mu'tazilah



 
”Ketika keyakinan ummat mendapat serangan brutal dari kelompok mu’tazilah, tokoh ini tetap istiqamah mempertahankan akidah ahlussunnah wal jama’ah meski mendapat intimidasi dari dinasti Abbasiyah”
Empat belas tahun setelah lahirnya imam Syafi’i, tepatnya pada tahun 164 H (778 M) bulan Rabi’ul Awwal lahir seorang calon ulama besar di kota Baghdad yang kelak akan menjadi salah satu imam dari empat mazhab yang dianut oleh umat Islam seluruh dunia. Beliau adalah Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal as Syaibani al-Marwazi al-Baghdadi yang lebih dikenal dengan nama Imam Hanbali. Kuniyahnya (kuniyah adalah nama yang dimulai dengan abu atau ummu,red) adalah Abu Abdillah. Nasab mulia beliau bersambung kepada Adnan, salah seorang moyang bangsa Arab yang juga menurunkan orang-orang Quraisy. Walaupun beliau dilahirkan di Baghdad, kedua orang tua beliau berasal dari Marv, sebuah daerah yang sekarang masuk ke dalam kawasan negara Uzbekistan. Orang tuanya berhijrah menuju Baghdad ketika ibunya masih mengandung beliau. Tiga tahun setelah kelahirannya, ayahnya, Muhammad bin Hanbal wafat. Sejak saat itulah beliau hanya diasuh oleh ibunya.
Imam Ahmad bin Hanbal tumbuh besar di Madiinatus Salaam yang dipenuhi dengan para ulama pada masa dinasti bani Abbasiyah dibawah pimpinan khalifah Harun Ar Rasyid. Keadaan ini memacu semangat beliau untuk menuntut ilmu dengan gigih.   Dimulai dengan al-Qur’an yang mampu beliau hapalkan di umur 15 tahun, beliau lanjutkan dengan mendalami ilmu hadist hingga beliau mampu menghapal sampai hampir satu juta hadist lalu dilanjutkan dengan berbagai macam ilmu-ilmu agama lainnya.
Demi memperdalam pengetahuan beliau dalam ilmu hadist, beliau sampai melakukan rihlah (Rihlah diartikan sebagai perjalanan,red). Apabila rihlah dikaitkan dengan upaya mencari hadits, maka dapat berarti suatu perjalanan untuk mendapatkan dan mengumpulkan hadits dari muhaddits di tempat lain. Dimulai dari kota Kufah yang dikunjungi beliau pada tahun 183 H, kemudian menuju ke Bashrah pada tahun 186 H. Makkah dan  Madinah beliau singgahi pada tahun 187 H sambil menunaikan ibadah haji beliau yang pertama. Rihlah beliau dilanjutkan dengan mengunjungi Yaman dan  negara–negara lain.
Dalam menuntut ilmu, beliau berguru kepada banyak ulama yang beliau temui serta mengambil riwayat hadist dari mereka diantaranya adalah Al-Qadhi Abu Yusuf, Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Bakar bin ‘Iyasyi, Abdurrazzaq bin Hammam, Yahya bin Sa’id al Qatthan, dan lain lain. Al-Imam Adz Dzahabi menyebutkan dalam kitab Siyar al A’lam an Nubala bahwa jumlah guru-guru Al-Imam Ahmad yang beliau riwayatkan dalam Musnadnya lebih dari 280 orang.
Kecerdasan, keseriusan dan ketekunan beliau dalam menuntut ilmu membuat beliau menjadi murid yang paling dicintai dan dibanggakan oleh guru-gurunya. Ketika imam Ahmad pulang ke Baghdad, ia bertemu dengan imam Syafi’i lalu belajar Fiqh dan Ushul kepadanya selama 2 tahun (195-197 H). Ketika imam Syafi’i r.a. pergi meninggalkan Baghdad menuju Mesir, beliau berkata : “Aku keluar dari Baghdad dan tidak kutinggalkan disana orang yang lebih memahami fiqh, lebih wara’, dan lebih zuhud selain Ahmad.    

Musnad Imam Ahmad
Setelah fase shahifah dan fase ta`lif ’ala abwab al-fiqh, muncul terobosan baru dalam menulis kitab hadist yang disebut musnad pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga Hijriyah. Diantara musnad  pertama yang disusun, adalah karya imam Ahmad bin Hanbal yang lebih dikenal dengan nama Al Musnad. Kitab ini adalah hasil rihlah dan kerja keras beliau dalam mengumpulkan dan meneliti hadits. Karya ini adalah sebuah kumpulan hadits-hadits Nabi Muhammad yang disusun berdasarkan urutan nama para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits tersebut.
Hadits-hadits yang terkumpul disusun berdasarkan klasifikasi sahabat-sahabat nabi. Klasifikasi tersebut dimulai dari hadits-hadits sepuluh sahabat yang telah diberi kabar gembira oleh Nabi Muhammad untuk masuk surga, sahabat-sahabat senior di luar sepuluh sahabat tersebut, sahabat-sahabat yang tergolong ahlul bait Nabi, sahabat-sahabat senior, juga sahabat-sahabat yang berdiam di Makkah-Madinah-Syam-Bashrah-Kufah. Lalu dilanjutkan dengan riwayat sahabat-sahabat Anshar dan ditutup dengan hadits-hadits dari para sahabat nabi yang berasal dari kabilah-kabilah di luar Makkah dan Madinah.
Tidak ada angka pasti menyangkut berapa jumlah hadits yang tercantum di dalam Musnad Ahmad. Beberapa orang menyebut angka 40.000. Sementara menurut Ibn al-Munâdî, jumlahnya 30.000. Abu Bakr ibn Malik menyebut angka 40.000 hadits minus 30 atau 40 hadits. Derajat hadist yang terkumpul disini ada yang shahih, hasan, dan dhaif yang hampir menyamai hasan dan semua bisa dijadikan hujjah menurut imam Ahmad bin Hanbal.
Selain kitab al Musnad, imam Ahmad bin Hanbal juga menulis kitab-kitab lain diantaranya Tafsir al Qur’an, An Nasikh wa al Mansukh, Al Muqaddam wa Al Muakhar fi al Qur’an, Jawabat al Qur’an, At Tarih, Al Manasik Al Kabir, Al Manasik Ash Shaghir, Tha’atu Rasul, Al ‘Ilal, Al Wara’ dan Ash Shalah.

Fitnah Mu’tazilah
Dua periode setelah Khalifah Harun ar Rasyid, lebih tepatnya ketika Khalifah al Makmun berkuasa, Mu’tazilah menjadi ideologi yang harus dianut oleh seluruh warga negara. Hal ini dikarenakan kecenderungan al Makmun terhadap ilmu filsafat sehingga membuatnya dekat dan banyak terpengaruh oleh orang-orang yang berakidah Mu’tazilah seperti Bisyr bin Ghiyats al-Marisi, seorang tokoh Mu’tazilah terkenal saat itu. Diantara keyakinan sesat yang dipegang oleh kaum Mu’tazili adalah keyakinan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Keyakinan ini dijadikan sebagai salah satu ideologi resmi pemerintah, sehingga siapa pun yang berseberangan dengan ideologi tersebut berhak untuk dihukum oleh pemerintah.
Peristiwa fitnah dimulai pada tahun 218 H lewat selembar surat edaran kepada wakil khalifah di Baghdad, Ishaq bin Ibrahim. Isi surat tersebut adalah perintah untuk mengumpulkan sejumlah qadhi, muhaddits, dan imam-imam masjid di Baghdad agar kemudian menguji mereka tentang kemakhlukan (keterciptaan) Al-Qur’an. Pada prakteknya surat tersebut dibacakan di hadapan publik Baghdad.
Setelah itu, Ishaq bin Ibrahim mengumpulkan tokoh-tokoh tertentu yang ditunjuk oleh al Makmun. Diajukanlah pertanyaan kehadapan mereka semua tentang kemakhlukan al Qur’an. Dengan segala keterpaksaaan, mayoritas dari mereka menjawab bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Atas perintah al Makmun pula, jawaban mereka itu diumumkan ke khayalak luas
Namun di antara tokoh yang dipanggil, terdapat beberapa tokoh yang menjawab bahwa al-Qur’an bukan makhluk diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh al- Jundaisapuri. Bersama tokoh-tokoh lain, mereka bertahan dengan jawaban tersebut. Setelah melalui berbagai macam siksaan, hanya tersisa dua orang yang mampu tetap bertahan dengan jawaban tersebut. Mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh al Jundaisapuri. Mereka bertahan dengan keyakinan bahwa al Qur’an adalah kalammullah, salah satu dari sifat-sifat Allah dan bukan makhluk.   
Fitnah kemudian dilanjutkan pada pemerintahan dua Khalifah setelah itu, al-Mu’tashim dan al-Watsiq. Pada masa-masa mereka berdualah, hukuman fisik bagi yang menolak keyakinan bahwa Al-Qur’an itu makhluk dikenakan secara luas, mulai dari hukuman penjara, cambuk, sampai dengan hukuman mati. Semua itu dimulai dengan menyebarkan surat-surat edaran agar semua rakyat mengakui keyakinan tersebut sekaligus memerintahkan para guru dan pengajar agar mengajari murid-murid mereka seperti itu.
Imam Ahmad bin Hanbal termasuk yang dihukum penjara dan dicambuk. Biasanya beliau dipanggil menghadap Khalifah dalam keadaan terbelenggu. Untuk kesekian kalinya imam Ahmad bin Hanbal dihina dan dicambuk di hadapan Khalifah dan para menterinya. Namun beliau tetap memegang teguh keyakinanya.
Hukuman tersebut dilaksanakan berkali-kali, selama pemerintahan Khalifah al-Mu’tashim dan al-Watsiq. Bukti hukuman tersebut dapat dilihat dari bekas-bekas cambukan yang ada pada punggungnya sebagaimana yang diceritakan oleh salah seorang anaknya di kemudian hari. Keadaan baru berubah pada masa pemerintahan Khalifah al-Mutawakkil. Pergantian Khalifah dari al-Watsiq kepada al-Mutawakkil sekaligus menandai berakhirnya masa fitnah, setelah menelan korban yang demikian banyak.
Phillip K. Hitti, salah seorang sejarawan Barat yang menulis tentang masalah fitnah Mu’tazilah ini, dalam History of the Arabs, menulis bahwa :
“Konservatisme Ibnu Hanbal merupakan benteng ortodoksi di Baghdad terhadap berbagai bentuk inovasi kalangan Mu’tazilah. Meskipun telah menjadi korban fitnah dan pernah diikat dengan rantai pada masa al-Makmun, serta dihina dan dipenjara oleh al-Mu’tashim, Ibnu Hanbal tetap teguh pada pendiriannya dan tidak mengakui berbagai bentuk modifikasi terhadap keyakinan tradisional.”
 Ketika al-Mutawakkil memerintah, negara kembali menerapkan ajaran akidah ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pada masa ini, banyak diberangus tulisan-tulisan tentang filsafat karena bertentangan dengan akidah tersebut. Tidak sedikit pula penerjemah naskah-naskah kuno Yunani yang ditangkap. Selain mereka, para pengajar filsafat diawasi dan dipenjarakan. Khalifah tidak ingin negara seperti ketika dipimpin tiga khalifah sebelumnya.
Khusus kepada Ahmad bin Hanbal, khalifah meminta maaf atas perlakuan khalifah-khalifah sebelumnya. Tidak berhenti sampai di situ, khalifah banyak memberikan penghormatan dan hadiah kepada Ahmad bin Hanbal. Semua itu, pada akhirnya menjadi semacam “ujian” yang menimpa Ahmad bin Hanbal di ujung hidupnya. Setelah diuji lewat siksaan yang mendera-dera, ia diuji oleh kemasyhuran, penghormatan, dan pemberian dari sang khalifah.
Dalam keadaan tua, Ahmad bin Hanbal menyadari akan kelemahan dirinya. Ia tidak ingin rusak oleh itu semua. Karena itu, adalah wajar jika ia pernah memboikot salah seorang anaknya hanya karena mau menerima hadiah-hadiah dari khalifah. Ahmad bin Hanbal tidak mau salah seorang keluarganya menerima hadiah-hadiah itu.

Akhir Hayat Imam Ahmad
Efek dari penahanan dan penyiksaan yang dialami beliau selama kurang lebih 28 bulan, membuat tubuh beliau melemah. Tidak lama setelahnya beliau pun jatuh sakit. Sewaktu mendengar berita bahwa beliau sakit, rakyat kota Baghdad berbondong- bondong menuju rumah beliau untuk menjenguknya.
Sembilan hari setelahnya, pada tanggal 12 bulan Rabi’ul awwal 241 H bertepatan dengan hari Jum’at, sang imam besar yang juga terkenal dengan kezuhudannya dan kewara’annya ini berpulang ke haribaan Allah swt dalam usia 77 tahun. Seketika itu juga, kota Baghdad diliputi kesedihan yang luar biasa. Puluhan ribu kaum laki-laki dan perempuan menshalati jenazah beliau. Jumlah itu belum termasuk orang yang terdapat di jalan-jalan dan atap rumah. Pada hari itu juga, sekitar 20.000 orang dari kaum Yahudi, Nashrani dan Majusi masuk Islam. Beliau meninggalkan 3 orang anak Hanbal, Shalih, dan Abdullah. Semoga kita semua bisa meneladani beliau.(Rn)   

0 komentar:

Post a Comment