Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Tuesday, April 17, 2012

Abdullah bin Zubair Panglima Penakluk Tanah Afrika



Sosok keras Umar bin Khathtab tidak membuatnya gentar dan lari sebagaimana anak-anak lain. Sebuah sikap yang mencerminkan keteguhan hati dan kesucian jiwa serta ciri seorang pemimpin besar.
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Zubair bin al-Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Beliau adalah anak dari bibi Rasulullah. Ibunya bernama Asma binti Abu Bakar as-Siddiq. Gelarnya ‘Aidzullah’ (yang berlindung pada Allah). Ayahnya,  al-Zubair bin al-Awwam termasuk pengikut setia Rasulullah dan salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Ia termasuk salah seorang dari “Empat ‘Abadillah” (empat orang yang bernama Abdullah) yang dikenal menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, Tiga orang ‘Abadillah lainnya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khatab, dan Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhum.
Kelahiran dan masa kecil beliau
Pada awal hijrah kaum muslimin ke Madinah, beredar kabar bahwa dukun-dukun Yahudi telah memantrai kaum muslimin dengan kemandulan sehingga mereka tidak akan bisa mempunyai keturunan. Pada saat itulah, Abdullah bin Zubair lahir di Quba, sebuah tempat dekat kota Yastrib (sekarang bernama Madinah.red) dan merupakan kelahiran muslimin pertama di kalangan muslimin setelah hijrah. Dengan kelahiran beliau maka tampaklah kebohongan kabar tersebut. Hal itu juga menjadi bukti kelemahan dan tipu muslihat orang Yahudi.   
Sebelum disusui, Abdullah bin Zubair dibawa menghadap Rasulullah SAW, ditahniq dan didoakan oleh beliau. Dari kecil Abdullah bin Zubair telah menunjukkan hal-hal yang luar biasa dalam kegairahan, kecerdasan dan keteguhan pendirian. Beruntunglah Abdullah mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah sejak kecil. Maka tidak heran jika pada umur 8 tahun, ia memberikan sumpah setia (bai’at) kepada Rasulullah untuk tegaknya ajaran Islam yang disambut Rasulullah dengan senyuman.
Lingkungan hidup dan hubungannya yang akrab dengan Rasulullah SAW, telah membentuk kerangka kepahlawanan dan prinsip hidupnya sesuai dengan agama Islam. Masa mudanya dilalui dengan tekun beribadah, hidup sederhana dan senantiasa patuh kepada Rasulullah SAW. Ia benar-benar seorang laki-laki yang mengenal tujuannya dan menempuhnya dengan kemauan yang keras membaja dan keimanan yang teguh.
                Berbagai perang yang diikuti beliau
            Abdullah bin Zubair tercatat oleh sejarah sebagai salah seorang panglima besar Islam. Darah mulianya yang memang berasal dari pasangan mujahid-mujahidah sejati membuatnya tumbuh berkembang menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Kelebihan beliau dipergunakan untuk berperang di jalan Allah bersama tentara muslimin di perang-perang yang dialami muslimin, terlebih ketika ia bersama mujahid-mujahid lainnya ikut dalam ekspedisi penaklukan Afrika, Andalusia (Spanyol), dan Konstantinopel (Turki). Begitulah kehebatan sistem tarbiyah Islamiyah yang bisa mencetak pemuda belia menjadi tokoh pejuang dalam menegakkan Islam. Semua peristiwa tersebut mengundang kekaguman penduduk Madinah kepadanya.
Dalam pertempuran di Afrika sendiri, kaum Muslimin yang jumlahnya hanya dua puluh ribu tentara, pernah menghadapi musuh yang berkekuatan sebanyak seratus dua puluh ribu orang.

Pertempuran berkecamuk, dan pihak Islam terancam bahaya besar. Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut, Abdullah bin Zubair berpikir untuk mencari rahasia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawaban bahwa letak kekuatan mereka tidak lain adalah raja Barbar yang merangkap sebagai panglima tentaranya sendiri. Tak putus-putusnya raja itu berseru terhadap tentaranya dan membangkitkan semangat mereka dengan cara istimewa yang mendorong mereka untuk menerjuni maut tanpa rasa takut.

Abdullah bin Zubair memperkirakan bahwa pasukan yang gagah perkasa ini tak mungkin ditaklukkan kecuali dengan jatuhnya panglima yang menakutkan itu. Ia berpikir keras bagaimana dapat sampai kepada raja tersebut. Dengan semangat dan keberaniannya,  Ibnu Zubair memanggil sebagian kawan-kawannya, lalu ia berkata: "Lindungi punggungku dan mari menyerbu bersamaku!" Dan tak ubahnya anak panah yang lepas dari busur, ia membelah pasukan yang berlapis menuju raja musuh, dan tatkala sampai di hadapannya, ِAbdullah bin Zubair menikam raja itu dengan sekali tikaman sehingga membuatnya jatuh tersungkur. Kemudian dengan cepat ia bersama kawan-kawanya mengepung tentara yang berada di sekeliling raja dan menghancurkan mereka, lalu mereka serentak bertakbir Allahu Akbar!

Tatkala kaum Muslimin melihat bendera mereka berkibar di tempat panglima Barbar berdiri untuk menyampaikan perintah dan mengatur siasat, tahulah mereka bahwa kemenangan telah tercapai. Dan ternyata, dugaan Abdullah bin Zubair tidak meleset, dengan segera semangat temput musuh langsung redup. Sebagian mereka menyerahkan diri kepada muslimin dan bertekuk lutut di hadapan para mujahid yang gagah berani dan sebagian yang lain kabur ketakutan. Abdullah bin Abi Sarah, panglima tentara Islam, mengetahui peranan penting yang telah dilakukan oleh Ibnu Zubair. Maka sebagai imbalannya, ia menyuruh Abdullah bin Zubair untuk menyampaikan berita kemenangan itu ke Madinah kepada khalifah Utsman bin Affan.
Di masa Khalifah Usman bin Affan ra, Abdullah bin Zubair ra duduk sebagai anggota panitia yang bertugas mengkodifikasiAl-Qur’an.
            Ketika Yazid bin Muawiyah naik sebagai khalifah, Abdullah bin Zubair termasuk orang-orang yang tidak mau berbaiat terhadapnya karena menganggap bahwa Yazid tidak pantas menjadi khalifah. Ia berpendapat seharusnya kekhalifahan harus diputuskan secara demokrasi, bukan diwarisi. Hal ini yang membuatnya enggan membaiat atas kekhalifahan Yazid.
            Setelah gugurnya Husain bin Ali ra di Pertempuran Karbala, Ibnu Zubair kembali ke Makkah, dan mulai membentuk pasukan. Secepatnya ia mengkonsolidasikan kekhalifahannya dengan mengirim seorang gubernur ke Kufah. Segera, Ibnu Zubair memantapkan kekuasaannya di Iraq, Selatan Arabia dan sebagian besar Syria, serta sebagian Mesir. Ibnu Zubair memperoleh keberuntungan karena ketidakpuasan rakyat terhadap kekuasaan Bani Umayyah. Salah seorang pendukungnya adalah Muslim bin Shihab, ayah dari Ibnu Shihab al-Zuhri yang di kemudian hari menjadi cendekiawan muslim terkenal.
            Yazid mencoba untuk menghentikan pemberontakan Ibnu Zubair dengan menyerbu Mekkah pada tahun 64 H, ia mengirim pasukan yang dipimpin oleh Husain bin Numair. Pada saat pengepungan Mekkah, Husain menggunakan manjaniq (semacam alat pelontar besar.red), bahkan peluru ketapel ini pernah menghancurkan Ka'bah. Tetapi karena mendengar kematian Yazid yang tiba-tiba, maka Husain bin Numair menghentikan pengepungan tersebut dan kembali ke Damaskus. Maka bebaslah Ibnu Zubair  dan ia membangun kembali Ka'bah yang berantakan karena serbuan pasukan Umayyah.
            Kematian Yazid yang tiba-tiba ini juga mengakibatkan kekuasaan Bani Umayyah makin berantakan dan terjadi perang saudara antar mereka. Selanjutnya, Abdullah bin Zubair memploklamirkan dirinya sebagai Amirul mukminin. Sekalipun proklamasi itu tidak lebih dari sekedar nama, namun lawan-lawan dinasti Bani Umayyah di Suriah, Mesir, Arab Selatan, dan Kufah sempat mengakui beliau sebagai khalifah.
Akhir hayat beliau
Abdullah bin Zubair menemui ajalnya ketika terjadi penyerbuan yang dipimpin Hajjaj bin Yusuf wakil dari Abdul Malik bin Marwan yang merupakan khalifah bani Umayyah ketika itu. Pengepungan yang dilakukan oleh Hajjaj terhadap kota Mekkah yang menjadi pusat kekuasaan Abdullah bin Zubair selama sekitar 8 bulan.
Hajjaj bin Yusuf mengepung kota Makkah sambil terus melemparinya dengan manjaniq yang amunisinya adalah batu yang dibakar. Serangan bertubi-tubi ini membuat menyebabkan kerusakan yang cukup parah di kota Mekkah serta membakar kiswah(kain penutup.red) ka’bah dan merubuhkan tiang-tiang penyangganya.
Didorong motivasi dari ibunya, Abdullah bin Zubair terus melanjutkan perlawanannya setelah sebelumnya semangat beliau sempat meredup ketika melihat anak-anaknya menyerahkan diri. Beliau terkepung ketika menyerbu ke tengah pasukan musuh yang langsung menyergap dan membunuhnya. Tidak hanya itu, dengan kejam kepala beliau pun dipenggal dan tubuh beliau disalib. Atas perintah khalifah Abdul Malik, tubuh beliau diserahkan kepada ibunya untuk dikuburkan. Semoga Allah meridhoi mereka. Wallahu A’lam.(RN)   


0 komentar:

Post a Comment