Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, January 4, 2012

Wawancara bersama Habib Rizik Bin Syihab

Saat ini moral bangsa berada dalam kondisi yang kritis. Dengan indikasi rendahnya moral dan hilangnya nilai-nilai kejujuran yang dahulu menjadi identitas bangsa ini. sebenarnya apa yang terjadi?
ana setuju tadi apa yang antum katakan, bahwa sebetulnya krisis yang mendasar di indonesia ini adalah krisis akhlaq. karena akhlaq ini kalau sudah krisis akan membuat orang kehilangan rasa malu, tidak punya identitas, tidak punya kemuliaan diri, tidak punya kehormatan diri. Jadi mereka bisa melakukan apa saja. Nabi pernah berkata dalam hadis, idza lam tastahi fashna' ma syi'ta,
kalau kau sudah tidak punya malu, maka kerjakan apa yang kau inginkan.
 jadi kita lihat di indonesia ini, mulai dari pejabat sampai rakyat yang begitu mudah untuk melakukan ketidakjujuran,untuk melakukan kebohongan, melakukan korupsi, penipuan, melakukan berbagai kemungkaran secara terang-terangan karena malu sudah tidak ada. Dan malu itu merupakan syu'bah minal iman. Malu ini merupakan pondasi akhlaq. Dan omong kosong kalau kita bicara iman, ihsan tanpa akhlaq.
Maka dari itu nabi mengajarkan kita dalam hadis jibril bahwa arkanuddin ada tiga, iman, islam, ihsan.
dan akhlaq itu adanya di dalam al-ihsan. Jadi kalau disebut arkan, merupakan satu hal yang tidak bisa tidak, harus ada dan dia masuk dalam hakikat sesuatu. Satu saja tidak ada, maka dia tidak ada, agama, iman islam tanpa ihsan, ga sempurna agama. Islam dengan ihsan tanpa iman omong kosong. Jadi ketiga hal merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Jadi betul apa yang antum katakan tadi bahwa dasar dari segala yang terjadi di kita punya republik  ini adalah krisis akhlaq. Dan akhlaq lebih luas dari moral. Moral, budi pekerti itu masih ada unsur-unsur buatan manusia, tapi kalau sudah disebut akhlaq berarti sudah berkaitan dengan nilai-nilai dalam syariat.

Apakah ini bukan karena ketidaksiapan generasi muda dan tidak adanya antisipasi dari ulama dalam menghadapi lompatan teknologi (leap of technology) sehingga nilai-nilai agama sudah luntur?
Jadi begini, kita disini bukan mau mencari kambing hitam, tapi kita tidak mau ada pihak-pihak tertentu yang menyalahkan anak-anak muda. Anak-anak muda ini ibarat gelas kosong, gelas kosong mau diisi susu jadi, diisi air jadi, kopi atau teh jadi. Sebetulnya anak-anak muda bangsa ini tergantung siapa yang ngisi. Nah, yang mengisi di negeri ini ada dua kekuatan, al-ulama dan al-umara’, shinfani minannasi in sholuha sholuhan nas, in fasada fasadan nas. Jadi dua ini yang berperan dalam mengisi anak muda, untuk mengisi masyarakat, bagaimana mengarahkan mereka, dua ini harus seiring, sejalan di dalam pengisian tadi. Kita tidak pungkiri ada ulama-ulama sebagaimana disampaikan oleh nabi alaihis sholatu was salam, bahwa ulama itu ada ulama kheir, ada ulama su’. Tapi Alhamdulillah dari segi kualitas dan kuantitas, ulama yang kheir di Indonesia ini luar biasa banyaknya, luar biasa. Dan upaya mereka untuk mengisi wadah kosong yang ada di generasi muda ini juga sudah luar biasa. Apa melalui pendirian pondok pesantren, melalui majlis-majlis ta’lim, melalui tabligh, melalui da’wah, melalui berbagai macam media, ini usaha ulama sudah luar biasa, dengan segala kurang dan lebihnya. Sekarang muncul tuduhan, ada yang menuduh rusaknya generasi muda ini, ini semua tanggung jawab ulama dengan alasan begini, umara itu kan membangun fisik, ulama membangun mental. Kalau mentalnya rusak berarti ulama yang salah, bukan umara’. Umara’ sudah membangun fisik dan berhasil menurut mereka. Ulama membangun jaringan telepon, jaringan listrik, air dan lain sebagainya, sedangkan mental rusak karena ulah ulama tidak berhasil membangun mental. Ini kata mereka. Bukan bermaksud untuk menjawab sembarangan posisi ulama tapi ada satu yang sedikit harus diwaspadai. Umara’ betul tugasnya adalah membangun fisik tapi muncul pertanyaan bagaimana umara itu membangun fisik bisa berhasil, ternyata fakta di lapangan karena dukungan ulama.  Tidak ada ulama yang menggangu pemerintah membangun jalan, sarana, fasilitas umum, Bahkan di banyak kesempatan pemerintah mau membebaskan tanah aja minta bantuan ulama, kasih pengertian kepada masyarakat supaya masyarakat merelakan tanahnya, artinya, kenapa umara bisa berhasil membangun fisik karena didukung sama ulama, ada sinergi. Tapi yang kita sayangkan tidak sebaliknya,


0 komentar:

Post a Comment