Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, January 4, 2012

WANITA DI MASA DEPAN


Oleh : Ira Nurbani,S.Sos.I

Pertumbuhan generasi suatu bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu memiliki peranan yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Mengajari mereka kalimat Tahlil, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an dan As- Sunnah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al-Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah kepada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlaq-akhlaq yang mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggungjawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tahu bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh keteladanan dan kesabaran untuk membiasakannya. Itulah tugas berat seorang ibu.
Hari ini adalah saat kita menanam benih dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu siapa pun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang. Orang paling rugi di dunia ini orang yang diberikan modal tapi modal itu ia hamburkan sia-sia. Dan modal termahal dalam hidup adalah waktu. Ada tiga jenis waktu. Pertama, masa lalu. Ia sudah lewat, sehingga ada diluar kontrol kita. Banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang memalukan. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita. Kedua, masa depan. Kita sering panik menghadapi masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit, dan lainnya. Walau demikian, masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Inilah bentuk waktu yang ketiga. Seburuk apapun masa lalu kita, kalau hari ini kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri, insyaAllah semua keburukan itu akan terhapuskan. Demikian pula dengan masa datang. Maka sungguh mengherankan melihat orang yang bercita-cita tapi tidak melakukan apapun untuk meraihnya. Padahal hari ini adalah saat kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen. Karena itu, siapapun yang ingin tahu masa depannya, maka lihatlah apa yang dilakukannya sekarang.
Pada zaman Jahiliyyah, kaum wanita menempati kedudukan yang terendah sepanjang sejarah umat manusia. Masyarakat Arabia pra-Islam memandang wanita ibarat binatang piaraan atau bahkan lebih hina. Mereka sama sekali tidak mendapatkan penghormatan sosial dan tidak memiliki hak apapun. Kaum laki-laki dapat saja mengawini wanita sesuka hatinya, demikian pula mereka gampang saja menceraikan sesuka hatinya. Bilamana seorang ayah diberitahukan atas kelahiran seorang anak perempuan, seketika wajahnya berubah pasi lantaran malu, terkadang mereka tega menguburkan bayi perempuan hidup-hidup. Mereka kebanyakkan membunuhnya lantaran rasa malu dan khawatir bahwa anak perempuan hanya akan menimbulkan kemiskinan. Kondisi semacam ini dinyatakan dalam Al-Qur’an:
“dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 58-59)
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda bahwa kelak di akhirat penghuni neraka mayoritas adalah kaum wanita. Oleh karena itu, berlombalah dalam kebaikkan wahai seluruh umat manusia khususnya kaum wanita dan berlombalah mencari ridho Allah. Mengapa kaum wanita? Karena kaum wanitalah yang paling banyak melakukan dosa seperti misalnya tidak bisa menjaga kehormatannya, berkata kasar dan kurang sopan kepada orangtua dan suami serta berbagai macam maksiat duniawi lainnya. Yang harus dilakukan oleh kaum wanita saat ini adalah berbuat baik pada diri sendiri, keluarga, agama serta negaranya. Yang paling pokok untuk menjadikan wanita sebagai penghuni surga adalah taat pada orangtua dan suami serta mendirikan sholat lima waktu dan pandai menjaga amanah suami terutama ketika suami tidak berada di rumah baik menjaga kehormatannya maupun menjaga hartanya dan suami.
Kita tentu membayangkan, alangkah indah dan bahagia bila kita sebagai istri masuk surga bersama suami atau sebagai suami masuk surga bersama istri. Bisa bernostalgia kembali di suatu suasana yang ceria tiada terkira. Suatu kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati seorangpun di dunia. Semoga Allah memudahkan jalan bagi kita semua merealisasikan bayangan indah ini. Di surga memang telah disediakan bidadari-bidadari. Beberapa riwayat hadits menyatakan, orang yang masuk surga disediakan setidak-tidaknya dua bidadari hingga 72 bidadari atau lebih sebagai pasangan suami atau istrinya. Tetapi, kebersamaan dengan bidadari tentu tidak bisa mengalahkan kebersamaan di surga dengan istri atau suami sendiri sewaktu di dunia dahulu. Berkumpul dengan bidadari di surga adalah kenikmatan. Tetapi, berkumpul kembali di surga dengan suami atau istri sendiri di dunia dulu tentu jauh lebih nikmat lagi. Mereka akan menjadi pasangan-pasangan yang disucikan dari haid, kotoran mata dan hidung, ketidakperawanan, ketuaan, lemah syahwat serta dari berbagai kelemahan dan kekurangan lainnya. Ummu Salamah radhiyallahu’anha pernah bertanya kepada suami beliau, Baginda Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam:”Wahai Rasulullah, apakah wanita-wanita dunia (yang masuk surga) lebih utama ataukah bidadari?” Beliau menjawab:”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari laksana lebih utamanya lahir atas bathin.” “Mengapa Ya Rasulullah?” “Itu karena sholat dan puasa yang dilakukan wanita-wanita dunia kepada Allah Azza wa Jalla.” Demikian diceritakan oleh Ath-Thabarani. Sayyidah Aisyah radhiyallahu’anha menegaskan bahwa wanita-wanita dunia yang masuk surga akan mengalahkan para bidadari.  Kepada para bidadari, wanita dunia menyatakan,”Kami sholat sedang kalian tidak sholat. Kami berpuasa sedang kalian tidak berpuasa. Kami berwudhu dan kalian tidak. Kami bersedekah dan kalian tidak.” Demikian diceritakan oleh Al-Qurthubi. Diriwayatkan pula bahwa wanita-wanita Bani Adam lebih utama tujuhpuluh ribu kalilipat daripada para bidadari. Demikianlah, betapa nikmat, indah, dan bahagia bisa berkumpul kembali dengan suami atau istri di surga nanti.
Allah menciptakan manusia terbagi menjadi dua yaitu wanita dan pria. Adanya pria tidak lengkap tanpa adanya wanita, demikian juga adanya wanita menjadi tidak berarti tanpa kehadiran pria. Adanya wanita memang dipersiapkan untuk melengkapi jalannya sebuah rumah tangga baik menjadi istri sholichah maupun menjadi seorang ibu yang bijaksana. Menjadi istri sholichah tidaklah mudah, yaitu harus melaksanakan tiga syarat antara lain mendirikan sholat lima waktu dan taat pada perintah suami dan orang tua baik orangtua kandung maupun mertuanya. Demikian pula menjadi seorang ibu yang bijaksana harus menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya baik perkataan maupun perbuatannya.
Ada peran besar yang harus dimainkan perempuan muslimah untuk kebaikan diri dan umat secara keseluruhan, yaitu peran pembangunan peradaban. Peran peradaban yang harus ditunaikan oleh para akhwat muslimah, diantaranya adalah melahirkan dan mendidik generasi berkualitas, terlibat dalam urusan sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, juga menunaikan kewajiban dakwah, amar ma’ruf nahi munkar. Mereka adalah pelaku aktif dalam aktivitas kontemporer di masa sekarang, namun juga pewaris nilai-nilai kebaikkan bagi generasi yang akan datang.
Proses pewarisan nilai kepada generasi baru, senantiasa memerlukan keshalehan pelakunya. Artinya, untuk melahirkan sebuah generasi yang unggul dan berkualitas, memerlukan sosok ibu yang berkualitas pula. Para ibu inilah yang akan sanggup melakukan pewarisan nilai-nilai kebaikkan secara generatif kepada anak-anaknya. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menafikan peran bapak bagi anak-anaknya. Tuntutan dalam Islam, perempuan sholichah adalah pasangan bagi laki-laki shaleh. Artinya, pada saat Islam menghendaki perempuan menjadi sholichah, adalah tuntutan yang sama terhadap laki-laki agar menjadi shaleh. Ibu sholichah akan kesulitan melakukan peran pembinaan generasi, apabila tidak didukung oleh bapak yang shaleh. Para ibu tidak akan menjadi sholichah secara tiba-tiba, kendati fitrah manusia lebih mengarahkan kepada kebaikkan. Penggerusan nilai-nilai kebaikkan bisa terjadi setiap waktu lewat media informasi. Untuk itulah diperlukan sebuah tarbiyah yang menghantarkan para ibu siap melahirkan dan mendidik generasi dengan baik, sehingga terbentuklah generasi masa depan yang diharapkan Islam. Marilah sejenak kita lihat kondisi masyarakat kita. Kenakalan bukan lagi melibatkan pemuda atau remaja. Kni, anak-anak telah dilibatkan atau terlibat dalam sejumlah kejahatan. Sejak kejahatan seksual, yang dilakukan oleh para pemilik kapital, dengan jalan menjual gadis-gadis dibawah umur menjadi pelacur. Ada pula kejahatan seksual yang dilakukan oleh anak-anak dalam bentuk perkosaan atau pelecehan seksual, yang disebabkan oleh kebiasaan melihat film porno. Ada kejahatan kriminal, dimana anak-anak terlibat tindak penipuan dan pencurian. Ada kejahatan moral dalam bentuk kecanduan miras dan narkoba sejak anak-anak. Dimanakah peran para pendidik generasi dalam kejadian kejahatan oleh anak-anak atau remaja tersebut? Adakah ibu-ibu yang sholichah dan bapak yang saleh mencetak anak-anak yang memenuhi jadwal hidupnya dengan permasalahan dan kejahatan? Cukupkah kita menyalahkan sistem dan masyarakat sebagai biang keladi munculnya kenakalan dan kejahatan pada anak-anak? Ibu yang mengandung dan melahirkan, adalah pihak yang amat dekat secara emosional dengan anak-anak. Apabila kesadaran pewarisan nilai dimiliki oleh para ibu sholichah, ia akan memantau perkembangan anak sehingga mampu mendeteksi kecenderungan yang terjadi pada anak-anaknya. Kehangatan kasih sayang didalam rumah tangga, tidak akan melahirakn pemberontakan yang diekspresikan lewat berbagai penyimpangan. Anak-anak akan cenderung memiliki sikap yang hangat dan bersahabat pula dengan keluarga. Peran tarbiyah seorang ibu menjadi sangat berarti dalam masalah ini.
Seorang ibu yang sholicah harus mampu menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Terutama, ketika dirinya hendak melakukan suatu perbuatan yang otomatis diketahui dan dilihat oleh anak-anaknya. Perbuatan dan perkataan yang dilakukan dan diucapkan seorang ibu sholichah yang nantinya ditiru dan diikuti oleh anak-anaknya. Misalnya, ketika seorang ibu hendak mendirikan sholat lima waktu, doronglah dirinya sendiri untuk mendirikan sholat baru kemudian ajaklah anak-anak dan anggota keluarga lainnya untuk mendirikannya. Dengan begitu, perilaku dan perkataan dari seorang ibu yang sholichah menjadi cerminan perilaku dan perkataan anak-anak di masa depannya. Wallahu ‘a’lam bis sowab..

0 komentar:

Post a Comment