Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, January 6, 2012

Umar Bin Abdul Aziz, Pioner Demokrasi Abad Ke VII M


Setelah berlalunya era keemasan Islam di bawah kepemimpinan terbaik empat khalifah pertama yang dikenal dengan “Al-Khulafa Ar-Rosyidin”, sejarah Islam mengenal satu khalifah adil yang disejajarkan dengan empat khalifah terbaik. Dia adalah Umar bin Abdul Aziz dari dinasti Umawiyah
Khalifah Umar bin Abdul Aziz Al Qurasy Al Umawi merupakan sosok pemimpin yang demokratis dan adil. Dalam dirinya terdapat jiwa kepemimpinan. Bagaimana tidak, beliau adalah salah satu keturunan dari Amirul mu’minin Sayyidina Umar bin Khottob Rodhiaulohu anhu’ seorang sahabat besar Rosululloh SAW sekaligus Kholifah adil yang disegani rakyatnya. Beliau dilahirkan pada tahun 61 H di Madinah namun sebagian pakar sejarah juga menyatakan bahwa kota kelahiran beliau adalah Basroh.
Salah satu hal yang mungkin menjadi pendukung terbentuknya pribadi istimewa Sy Umar bin Abdul Aziz adalah kejadian yang dialami oleh Khalifah  Umar bin Khottob. malam itu, beliau sedang melaksanakan kegiatan rutin ronda malam guna memantau keadaan rakyatnya. Ketika beliau melewati sebuah rumah, beliau mendengar dialog antara seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin dari rumah tersebut.
                “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”kata sang ibu.
Kemudian sang anak menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti ini ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini
Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu
Dengan bijak anak itu menjawab dengan jawaban yang begitu menggetarkan hati Sy Umar bin Khottob, bahkan sampai-sampai membuat beliau menangis “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu” jawaban itulah yang menginspirasi beliau untuk mengawinkan gadis tersebut dengan anak beliau yang bernama Ashim.
Dari perkawinan Ashim bin Umar bin Khottob dengan perempuan inilah lahir Hafsoh binti ashim bin Umar bin Khottob yang tidak lain adalah sang ibu dari Sy Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam.
Lahirnya beliau sebenarnya telah lama diramalkan oleh Sy Umar bin Khottob. Kala itu beliau pernah berkata “Kelak akan dilahirkan dari keturunanku seorang lelaki yang ada cacat di wajahnya, ia akan memimpin dan memenuhi penjuru bumi ini dengan keadilan”. Benar saja, orang yang memiliki tanda cacat di wajahnya adalah Sy Umar bin Abdul Aziz, luka tersebut disebabkan oleh sepatu kuda yang menimpanya sewaktu beliau kecil. Saat kejadian itulah sang ayah mengusap wajah Sy Umar bin Abdul Aziz seraya berkata “Jika engkau memang orang yang ada tanda cacatnya di kalangan bani Umayah maka engkau adalah orang yang berbahagia”
Sejak kecil beliau telah menghapal Al-Quran dan berguru sekaligus meriwayatkan hadist dari Anas bin Malik, Saib bin Yazid, Yusuf bin Abdulloh bin Salam, Said bin Musayyib, Azzuhri dan berbagai Sahabat dan Tabiin terkemuka lainnya.
Pelopor Demokrasi Khilafah Islamiyah
Sulaiman bin Abdul Malik, Kholifah ketujuh Bani Umayyah adalah sepupu dari Sy Umar bin Abdul Aziz yang dekat dengan Sy Umar bin Abdul Aziz sehingga sang Khalifah tahu betul tentang kepribadian dan kelayakan beliau untuk menjadi pemimpin Islam setelahnya, tidak heran jika beliau memilih Sy Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya. Sebelum Kholifah Sulaiman wafat, seorang penasehat kerajaan yang bernama Raja’ bin Haiwah berdialog dengan beliau seraya berkata “Wahai Khalifah, di antara perkara yang bisa menyebabkan  engkau dijaga di dalam kubur dan menerima Syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah; apabila engkau tinggalkan untuk kaum muslimin Khalifah yang adil. Maka siapakah pilihanmu?” Khalifah Sulaiman menjawab dengan yakin “Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang tepat untuk itu”
Ketika khalifah Sulaiman wafat pada tahun 716 M, setelah shalat jumat Sy Umar bin Abdul Aziz dibai’at. Dengan berat hati karena takut kepada Allah dengan disertai cucuran air mata, beliau bangkit sambil berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada di pundakku dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki” namun kaum muslimin tetap memilih beliau sebagai pemimpin mereka.
Kholifah Yang Adil dan Zuhud
Kholifah  Sy Umar bin Abdul Aziz memulai kepemimpinannya dengan mengembalikan hak orang-orang yang didzolimi. Beliau juga mengumpulkan sekelompok ulama dan ahli fiqih untuk mengambil pendapat dari mereka “Saya mengumpulkan tuan-tuan ini untuk meminta pendapat mengenai hasil tindak curang yang berada pada keluargaku.” Mereka menjawab “Itu semua terjadi sebelum masa pemerintahanmu. Maka dosanya berada pada yang merampasnya.” Beliau tidak puas dengan jawaban tersebut dan mengambil pendapat lain yang langsung dilontarkan oleh anak beliau sendiri, Abdul Malik “Saya berpendapat, hasil-hasil itu harus dikembalikan kepada yang berhak, selama engkau mengetahuinya. Jika tidak dikembalikan engkau telah menjadi partner mereka yang merampasnya dengan curang”. Jawaban itulah yang membuat hati beliau lega serta beliau langsung bergegas mengembalikan hasil-hasil tindak kecurangan tersebut. Jalannya roda pemerintahan pada masa beliau terkenal dengan keadilannya, bahkan telah menjadikan keadilan sebagai prioritas utama pemerintahan. Beliau ingin semua rakyat mendapat pelayanan yang sama adil tidak memandang ningrat, pangkat, kaya dan miskin agar keadilan dapat diterapkan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangkan mengimbangi keadilan di zaman kakeknya, Khalifah Umar bin Khotob. Bahkan keadilan saat pemerintahan beliau tidak hanya dirasakan oleh masyarakt saja, tetapi domba dan srigalapun damai dan akur pada zaman beliau. Perekonomian saat itu dapat teroganisir dengan baik, para masyarakat juga menjalankan agama dengan taraf ketaqwaan yang tinggi sehingga semua lapisan masyarakat mengeluarkan zakatnya dengan ringan tangan dan penuh keimanan hingga diriwayatkan dari Umar bin Asid, bahwasannya setelah meninggalnya Sy Umar bin Abdul Aziz datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada halayak ramai “Ambillah hartaku ini sebanyak yang kalian inginkan”  tetapi tidak ada satupun yang mengambilnya lantaran mereka semua sudah kaya. Sungguh Sy Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan rakyatnya kaya-raya.
Selain keadilan yang menonjol pada masa kepemerintahan beliau ada hal lain yang sunguh sangat jarang diterapkan oleh para raja dalam sebuah kerajaan yaitu zuhud. Jika kemewahan dan pengawal serta permaisuri yang selalu meliputi para raja-raja, berbeda dengan Kholifah Sy Umar bin Abdul Aziz, beliau tidak membutuhkan pengawal, juga tidak mengendaraai kendaraan mewah. Beliau hanya mengendarai keledainya yang dari dulu selalu menemani beliau dalam perjalanan, begitupula harta benda dan istana, semua beliau tinggalkan begitu saja. Bahkan diriwayatkan pada suatu hari raya putri-putrinya datang kepada beliau “Wahai Ayah, besok hari raya. Kami tidak punya baju baru…”Mendengar keluhan puteri-puterinya itu, khalifah Umar berkata kepada mereka.
“Wahai puteri-puteriku sayang, hari raya itu bukan bagi orang yang berbaju
baru, akan tetapi bagi yang takut kepada ancaman Allah”. Mengetahui hal tersebut,
pengelola baitul mal berusaha menengahi, “Ya Amirul Mukminin, kiranya tidak akan menimbulkan masalah jika untuk baginda diberikan gaji di muka setiap bulan”. Sy Umar bin Abdul Aziz sangat marah mendengar perkataan pengurus Baitulmal. Ia berkata, “Celaka engkau! Apakah kau mengetahui dengan pasti bahwa aku akan hidup hingga esok hari!?”
Ibn Abd Rabbih di dalam karyanya Al Iqd al Farid menyebutkan adanya korespondensi antara Raja Sriwijaya dengan Kholifah Umar bin Abdul Aziz pada sekitar tahun 100 H (726M), raja Sriwijaya berkirim surat yang isi surat tersebut adalah:
“Dari Raja di Raja (Malik al Amlak) yang adalah keturunan seribu raja; yang isterinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya”
Sebelum beliau wafat, beliau ditanya “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu kepada anak-anakmu?” Umar Abdul Aziz menjawab "Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa"
"Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?"
"Jika anak-anakku orang soleh, Allah lah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka orang-orang yang tidak soleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah"
Pada waktu lain, Umar bin Abdul-Aziz memanggil semua anaknya dan berkata: "Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga (karena tidak menggunakan uang rakyat). Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga."
Anak-anaknya ditinggalkan tidak berharta dibandingkan anak-anak gubernur lain yang kaya. Setelah kepemimmpinan bani Umayyah dan masa-masa setelahnya, keturunan Umar bin Abdul-Aziz adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakkal Sy Umar bin Abdul-Aziz. Beliau wafat pada tahun 101 H dengan masa jabatan di dalam pemerintahan selama dua tahun lima bulan.

   komunitas

0 komentar:

Post a Comment