Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, January 4, 2012

Tentang Syi’ir Pujian untuk Rasulullah


Terlalu berlebihan dan ekstrem dalam memurnikan ajaran islam telah membawa seseorang kepada hal-hal yang salah dalam memahami praktek ibadah. Di antara kesalahan itu adalah menyalahkan saudara seiman karena membaca syi’ir meskipun bacaan tersebut berisi pujian untuk nabi Muhammad. Pujian kepada Rasulullah dianggap terlalu berlebihan dan fakta yang terjadi di kaum muslimin telah membawa pelakunya ke dalam kekafiran atau syirik. Syirik karena pujian-pujian itu berisi bait-bait yang menyekutukan Allah, mencampur aduk sifat Allah atau menisbahkan sebuah pekerjaan yang hanya merupakan pekerjaaNya kepada makhluknya. Al-imam al-bushiri, pengarang qasidah yang dikenal dengan nama burdah, sering menjadi sasaran kritik dalam masalah ini. Mereka bahkan mengatakan bahwa burdah adalah qasidah syirik.
Memuji Rasulullah adalah sebuah hal terpuji. Para sahabat Rasulullah seringkali mengungkapkan pujian kepada Rasulullah dalam gubahan syi'ir di depan beliau, bahkan menyampaikannya ketika sedang berada di masjid. Rasulullah pun senang dengan pujian syi'ir yang mereka lantunkan. Terdapat beberapa sahabat yang dikenal sebagai penyair di era nabi, di antaranya adalah Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rowahah, dan Ka'ab bin Zuhair. Sebuah syi'ir yang terkenal dalam memuji Rasulullah adalah syi'ir Ka'ab bin Zuhair yang dikenal dengan "banat su'ad". Syair ini secara keseluruhan berjumlah 34 bait.
Ka’ab bin Zuhair adalah seorang penyair. Sebelum memeluk islam, ia pernah membuat tiga bait syi’ir yang membuat nabi murka dan menghalalkan darahnya. Dalam syi’ir itu ia mencela kakaknya, Bujair bin Ka’ab yang telah masuk islam setelah bertemu nabi dan dalam syi’ir itu pula ia menyebut nama Abu Bakar dan mencelanya. Ketika syi’ir ini sampai ke telinga Rasulullah, beliau berkata, “siapa yang bertemu ka’ab, maka bunuhlah dia”. Mendengar nabi saw murka, Bujair mengiriminya sebuah surat untuk mengabarinya tentang sabda Nabi tersebut dan mengajaknya untuk masuk islam. Maka ia pun datang ke kota Madinah untuk menyatakan islamnya dan menemui nabi yang ketika itu sedang berada di masjid. Ia pun menyatakan keislamannya di depan nabi dan merubah isi syair yang mencela Abu Bakar lalu melantunkan sebuah syi’ir yang keindahannya diakui oleh para pakar bahasa, yang diawali dengan bait banat su’adu fa qolbil yauma matbulu.

متيم إثرها لم يفد مكبول بانت سعاد فقلبي اليوم
مهند بسيف من سيوف الله مسلول ان الرسول لسيف يستضاء به

Ketika ka’ab sedang melantunkan syi’irnya tersebut, Rasulullah memberi isyarat kepada sahabatnya untuk mendengarkan bahkan Rasulullah lalu memberinya hadiah berupa sebuah burdah. Cerita tentang ka’ab bin zuhair diriwayatkan selengkapnya oleh al-Hakim dalam al mustadrok ala as-shohihain, juga disebutkan dalam al-ishobah karangan Ibnu Hajar al-Asqollani dan usdul ghobah karya Ibnul Atsir.
Dari cerita di atas, dapat kita lihat bahwa bersyi’ir yang berisi pujian untuk Rasulullah bukan merupakan hal tercela. Rasulullah sendiri senang dengan pujian yang ditujukan padanya dan menyuruh para sahabat untuk menyimaknya meskipun syi’ir itu disampaikan di dalam masjid. Tidak berhenti di situ, Rasulullah pun memberikan hadiah untuk sang penggubah syi’ir. Ka’ab bin Zuhair, seorang yang pada mulanya dihalalkan darahnya, diperintah untuk dibunuh, berkat syi’ir yang ia gubah berubah menjadi seorang yang didengar ucapannya oleh Rasulullah dan mendapat hadiah langsung darinya.
Tentang syirik yang dituduhkan mereka kepada al-imam al-Bushiri karena menyifati makhluknya (baca: Rasulullah) dengan sifat yang merupakan sifatNya dan menisbahkan pekerjaan yang hanya merupakan pekerjaan Allah kepada makhluknya seperti memberi hidayah, syafaat dan semisalnya, itu semua disebabkan kesalahan mereka dalam memahami bait-bait pujian tidak dengan proporsional. Mereka menggunakan dalil sebuah hadis, “jangan berlebihan dalam memujiku seperti orang nashrani memuji Isa putra Maryam”. Hadis ini bukanlah larangan dalam berlebihan memuji nabi, tetapi larangan untuk menuhankan Rasulullah sebagaimana kaum nashrani menuhankan nabi Isa alaihis salam. Bukankah Allah sendiri telah menyebut hambanya tersebut dengan sebutan ro’uf dan rohim dalam al-qur’an padahal Allah merupakan yang rohim seperti tersebut dalam basmalah? Mereka juga salah dalam mengartikan tawassul sebagai syirik karena meminta kepada selain Allah.
Ini merupakan problem klasik yang telah diulas, dibantah dan dijawab berulang kali oleh ulama ahlussunnah melalui berbagai tulisan mereka.

0 komentar:

Post a Comment