Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, January 4, 2012

PP Darus Salam Surabaya, Pertahankan Sunnah Di Metropolitan

                Ibu kota surabaya yang kita kenal dengan keramaian dan hiruk pikuk perkotaan yang di sebut-sebut sebagai metropolitan kedua di negara kita, ternyata tidak mengharuskannya sepi dari dunia pesantren yang selama ini dianggap sebagai koloni sarungan, ketinggalan zaman, yang serasa tidak sesuai dengan kehidupan perkotaan seperti Surabaya. bukti riil dari hal tersebut adalah banyaknya pondok-pondok pesantren di berbagai sudut kota Surabaya yang sampai sekarang masih eksis mempertahankan aqidah yang direkomendasikan oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, yaitu aqidah ahlussunnah wal jamaah. Di antara pondok-pondok tersebut adalah Pondok Pesantren Darussalam yang terletak di desa Tambak Madu 2/59 Surabaya.
            Pondok Darussalam adalah salah satu pondok yang dibangun dengan kualitas  keikhlasan yang spesial oleh Ust. H. Noer Ahmad yang diperintah langsung oleh Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki. K.H. Noer Ahmad adalah saudagar kaya yang dikenal sebagai sosok yang dermawan, Muhibbin Habaib dan Ahlul Ilim, yang dengan sikapnya inilah beliau memiliki hubungan dekat dengan para Habaib dan kyai-kyai yang ada di Jawa timur sampai akhirnya beliau mendapat perintah dari Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki untuk mendirikan pesantren yang saat itu masih berupa langgar kecil (surau). Secara resmi pondok ini didirikan pada tanggal 15 Syawwal 1402 H yang bertepatan pada tanggal 5 Agustus 1982 M dengan didanai langsung oleh K.H Noer Ahmad yang di bantu oleh Sayyid Muhammad Al-Maliki di bawah pimpinan putra K.H Noer Ahmad (K.H Muhyiddin Noer).
            K.H Muhyiddin Noer di saat itu adalah sosok pemuda yang memiliki  semangat yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu agama. Hal itu dapat dilihat dari sepak terjang beliau sebelum memimpin Pondok Pesantren Darussalam. Beliau pernah menjadi salah satu santri di P.P Salafiyah Syafiiyah Asem Bagus Sukerejo yang saat itu di pimpin oleh K.H.R. As’ad Syamsul Arifin yang kemudian melanjutkan pendidikannya kepada Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki di Mekkah Al-Mukarromah. Setelah berlalu kurang lebih selama 4 tahun 7 bulan K.H Muhyiddin Noer pulang ke Indonesia untuk memimpin Pondok Pesantren Darussalam atas perintah Sayyid Muhammad.
            Secara geografis P.P Darussalam terletak di kawasan yang sebagian besar masyarakatnya beragama Nasrani. Struktur-struktur Nasrani yang berada di sekitar P.P Darussalam yang sampai sekarang masih ada, mulai dari struktur ibadah sampai pendidikan menunjukkan eksistensi mereka di kawasan tersebut.  kegiatan-kegiatan mereka di antaranya adalah ibadah rutinitas ummat Nasrani di gereja-gereja dan pelajar-pelajar Nasrani yang belajar di lembaga-lembaga Nasrani yang berada di sekitar pondok. Tetapi dengan berdirinya Pondok Pesantren Darussalam lambat laun dapat meminimalisir aktifitas-aktifitas tersebut.
            Dalam catatan sejarah kepemimpinan K.H Muhyiddin,beliau banyak sekali menemui berbagai macam halangan dan hambatan, di antaranya adalah sihir yang beberapa kali beliau dapatkan. Pernah satu ketika beliau sakit parah dikarenakan sihir dari salah seorang yang tidak menyukai beliau, akan tetapi dengan kelembutan hati dan sifat pemaaf yang beliau miliki, beliau  tidak mau membalas perbuatan tersebut walaupun beliau mengetahui sang pelaku. Selain kelembutan hati dan sifat pemaaf yang dimiliki beliau, beliau juga di kenal sebagai sosok yang pemberani dalam membasmi kemungkaran seperti perjudian, minuman keras dan lain sebagainya, bahkan pernah satu ketikabeliau membawa sebilah pedang kepada kumpulan orang-orang yang sedang bermain judi dan memerintahkan  mereka untuk berhenti seraya berkata “Siapa yang tidak terima dengan perbuatan saya ini silahkan maju, kalau tidak berani kalian kumpulkan semua teman kalian dan tentukan tempatnya di mana, Insya’ Allah saya akan datang”.Tetapi tidak ada satu orangpun yang berani menjawab tantangan beliau.
            Seiring dengan berlalunya waktu, pondok ini terus berkembang sehingga menjelma menjadi satu media pendidikan bagi ummat islam yang di lengkapi dengan pendidikan formal. Namun di saat pondok ini mengalami kemajuan yang pesat K.H Muhyiddin berpulang kerahmatulloh yang kemudian digantikan oleh menantu kesayangannya yaitu K.H Muhammad Zubair yang kebetulan alumnus PP Darussalam dan Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki.Kalau K.H Muhyiddin di kenal dengan sosok yang memiliki semangat da’wah yang menggebu-gebu beda halnya dengan sosok penerusnya K.H Muhammad Zubair yang lebih cendrung dengan sifat toleransi yang di milikinya. Memang dampak dari pergantian kepemimpinan mempengaruhi kuntitas santri Darussalam, namun keadaan tersebut berangsur-angsur membaik sehingga sampai sekarang.Dari sejak berdirinya Ponpes Darussalam sampai sekarang telah banyak melahirkan icon-icon yang mampu berperan di masyarakat dengan berbagai peranan mereka masing-masing.
            Secara garis besar santri-santri yang belajar di Ponpes Darussalam tergolong dari masyarakat kurang mampu yang berasal dari berbagai kota di pulau jawa seperti Jakarta, solo, Madura, Surabaya dan lain-lain, bahkan karena masalah inilah pihak pengurus Ponpes Darussalam tidak membebani santri atau siswa yang belajar di ponpes Darussalam dengan biaya pendidikan yang tinggi. Untuk pendaftaran cuma membutuhkan uang sebesar Rp.350.000 dengan uang bulanan sebesar Rp.50.000. Selain di kenal dengan pendidikan agamanya yang mumpuni, Ponpes Darussalam juga memiliki pendidikan formal mulai dari jenjang Ibtidaiyah (SD) sampai Madrasah Aliyah (SMA) yang tidak kalah saingnya dengan pendidikan formal lainnya.Santri-santri yang belajar di Ponpes Darussalam tidak semuanya bermukim di asrama Ponpes di karenakan kurangnya asrama yang ada, bahkan karena masalah inilah pihak pondok menolak santri yang datang dari luar jawa.
            Adapun metode belajar yang di gunakan di Ponpes Darussalam tetap mengacu pada metode ulama-ulama salaf yaitu dengan menghatamkan satu kitab kemudian pindah ke kitab yang lainnya. Adapun keinginan pimpinan Ponpes Darussalam dari santri-santri yang belajar adalah mengamalkan ilmunya dan dicintai oleh Allah dan Rosulnya.
            

0 komentar:

Post a Comment