Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, January 6, 2012

PERTEMPURAN FUNDAMENTALISME ISLAM, REPRESENTASI REVOLUSI TIMUR TENGAH?


                Dahulu orang berkata, “islam adalah agama terbaik dengan penganut terburuk.” Sesudah Salman Rusydie, banyak yang berkata, “ Islam adalah agama terburuk dengan para pengannut terburuk pula.” Tentu saja kita tidak akan menemukan bukti yang lebih baik tentang kelumpuhan intlektual para pengikut Mahammad sekarang ini selain kegagalan mereka dalam memberikan respons yang memadai terhadap tantangan-tantangan modernitas sekuler. Umat islam modern, sebagai sekelompok masyarakat, secara memalukan tidak merenungkan tantangan-tantangan modernitas sekuler tersebut, seakan-akan mereka berpikir bahwa Allah telah memikirkan segala-galanya untuk hamba-hambaNya. Meskipun islam tidak kekurangan para apologis (pembela agama) atau teoritikus agama, secara bersama-sama mereka telah gagal memberikan respons yang bernash (berisi) dan mendasar terhadap modernitas. Karena tidak adanya pengaruh-pengaruh liberalisme dan skeptisisme, yang dapat ditelusuri dari tiadanya tradisi filsafat, maka sedikit muslim yang mengakui ancaman-ancaman sekularisme dan pluralisme ideologi yang dibawanya. Banyak penulis Muslim lebih suka berpura-pura menganggap modernitas sebagai tantangan untuk keyakinan orang Kristen saja, yakni hanyalah sebuah ancaman lokal bagi sebuah agama yang lemah yang telah takluk pada kebudayaan materialistis yang agresif.
            Pernyataan diatas adalah sebuah gagasan yang dituangkan Shabbir Akhtar dalam bukunya “Islam and Western Modernity” pada tahun 1990 di Bradford. Dalam bukunya tersebut dia berlatar belakang sebagai seorang serjana imparsial (tidak berpihak) yang tidak mengkritik islam dengan cara yang tidak simpatik sebagaiman yang dilakukan oleh para pemikir Kristen dan Marxis; mereka berpendapat bahwa pada dasarnya Islam adalah agama palsu dengan potensi politik yang berbahaya, tidak pula membela Islam secara mutlak sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan apologis muslim.
            Namun pada kenyataannya, tidak ada sesuatu pun yang dapat melebihi kebenaran. Dalam rangka mendapatkan kebenaran warisan Muhammad SAW demi kepentingan zaman modern ini, kaum Muslim harus mengakui dan menjawab tantangan-tantangan sekularitas dan pluralisme ideologi. Permulaan abad ke -15 Hijriah menjadi tanda berakhirnya zaman kepolosan (age of innocent) mereka. Lalu, dapatkah umat Muslim melalui kritikus-kritikus modernnya memperlihatkan bahwa Islam memenuhi pengabdiannya sebagai sebuah agama untuk semua zaman?
            Sebuah pertanyaan besar yang mesti dijawab umat Muslim jika tidak ingin “Kelumpuhan Intelektual” disandarkan kepada para pengikut Muhammad SAW sepanjang masa. Meskipun untuk menjawab itu semua, tidak jarang terjadi konflik di antara umat Muslim yang benar-benar menginginkan perubahan real tercipta di bumi Islam. Umat Muslim harus berusaha membuktikan keotentikan dan loyalitas agama Islam sehingga diterima oleh kalangan kawan maupun lawan. Penganut kepercayaan ortodoks baik di luar atau di dalam sekte Islam mesti menaruh simpati besar terhadap keberhasilan Islam dengan segala kebijakannya yang dapat diterima oleh semua kalangan. Adapun deskriminasi antara golongan dalam sekte-sekte Islam hanya sekedar deskriminasi saja tanpa menyusutkan semangat dalam mempertahankan islam di hadapan lawan. Atau inilah yang disebut Perbedaan dan Kemajmukan Dalam Bingkai Persatuan.
             Ternyata benar, semangat dalam mempertahankan Islam inilah yang membuat perpecahan intern umat Islam tidak bisa terhindarkan. Umat Islam mesti mengakui pentingnya metodologi dalam menyusun aksi. Mulai dari yang kecil sampai latihan menghadapi perang. Tak jarang jika kepentingan sekte yang dipertahankan, maka akan memancing sekte berikutnya untuk bertindak. Yang demikian adalah bukan hal yang asing lagi terjadi. Sudah sepantasnya investigasi dilakukan agar korban tidak terus berjatuhan.
KONFLIK DI TIMUR TENGAH
            Selama dekade berlakunya sanksi ekonomi, pusat-pusat kekuatan menjadi lemah. Fundamentalisme dan salafisme yang diasosiasikan dengan perlawanan, tumbuh dan mengakar di Irak. Karya pemikir Irak dalam pengasingan, Muhammad Ahmad Arrasyid, tentang jihad dan negara Islam diselundupkan dari Mesir. Memperoleh tempat dan menjadi gurita dalam menyebarkan kecenderungan fundamentalis dan salafis, di seluruh wilayah dan mulai merasuk ke seluruh negeri.
            Persaudaraan Muslim, dengan kehadiran yang kuat di Yordania dan Syiria serta berafiliasi dengan pemerintahan Wahhabi di Arab Saudi. Memproklamirkan keberadaannya di wilayah Sunni, di bagian barat Irak yang berbatasan dengan Syiria dan Yordania, dan sekarang memperkuat Partai Islam Irak.
            Para penggerak ekstrimis memiliki suatu keuntungan untuk bergerak masuk ke Timur Tengah. Mereka mengalami kemunduran dan menjadi lebih moderat pada tubuh persaudaraan Muslim. Kegiatan mereka mendahului perang Irak, tidak hanya memperkenalkan pemikiran fundamentalis. Namun juga menciptkan jejaring organisasi yang akan memfasilitasi perlawanan mereka setelah perang .
            Pada tahun 1999, penguasa memutuskan untuk menganut sistem politik terbuka. Dengan keinginan mengkonsolidasikan kekuasaannya ketika berhadapan dengan kerusuhan, sang penguasa menyelenggarakan pemilihan umum untuk memberikan suara bagi penduduk negaranya dalam pemerintahan. Apa yang ada dalam benaknya bukanlah demokrasi, namun sebuah parlemen dari orang-orang terkemuka yang akan mengizinkannya untuk melakuakan kontrol atas masyarakat dengan mengkooptasi pemimpin mereka. Sebagian warga negara memboikot pemilihan umum, seperti Partai Keagamaan dan Front Revolusi Islam. Meraka menuntut keterbukaan yang sesungguhnya pada sistem politik. Tidak senang dengan terbatasnya akses terhadap penguasa, dan makin menonjolnya kehadiran ajaran Islam yang bertolak belakang dengan yang dianut rakyat. Semakin radikal pula elemen-elemen di tubuh Partai Keagamaan dan Front Revolusi Islam memulai agitasinya. Pemboikotan menjdikan pihak minoritas menguasai dua puluh tujuh dari lima puluh kursi di parlemen, hal ini benar-benar makin memperburuk situasi
            Potret kegentingan juga memanas di Bahrain. Ketika perang teluk kedua dimulai, Bahrain resah. Kaum muda, para penganggur yang kecewa, tampak seperti pemuda yang berada di kota Sadr. Apa yang kurang di Bahrain adalah, tidak adanya pemimpin seperti Muqtada Al-Sadr. Ketika sebuah surat kabar lokal memuat kartun yang tidak menyenangkan tentang pemimpin mereka, massa turun ke jalanan di Ibukota, Manama, sambil meneriakkan” Labbaik” (kami menjawab panggilanmua). Kaum muda Bahrain tidak suka mengikuti kepemimpinan tradisioanal yang lebih tua, dan kurang berkenan dalam memperhatikan panggilannya akan ketenangan dan kesabaran. Semangat revolusioner mulai memberikan tempat bagi tumbuhnya harapan untuk demokrasi.
KONSEKUENSI FUNDAMENTALISME ISLAM
“tidakkah engkau melihat bagaimana Tuhanmu memperbuat dengan tentara bergajah?
 Tidakkah dia menjadikan tipu daya mereka sia-sia
Tidakkah dia mengirimkan kepada mereka burung berbondong-bondong
Menghujankan batu-batu yang terbungkus api,
Membuat mereka seperti daun yang dimakan ulat”
(Q.S. Al Fil )
            Tidak ada satupun yang mengatakan bahwa, fundamentalisme sama sekali tidak memperoleh keuntungan dari revolusi. Salah satunya adalah yang mengajarkan tentang bagaimana berorgnisasi dan mengelola massa dalam sebuah gerakan sosial. Gerakan revolusi ini tampak di Negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia, Turki, dan Lebanon, jauh melihat Islam dengan kepentingan yang dapat diperbaharui. Bagaimanapun, Islam telah berhasil, sementara ideologi tidak. Islam sendiri sebagai sebuah idelogi telah membuktikan dirinya dapat bertahan samapi sekarang ini. Akan tetapi penghormatan atas apa yang terjadi, tidak sama dengan apa yang diterima oleh para pemimpin. Aktivis islam dengan cepat menghakimi bahwa, para pejuang revolusi sangat arogan, menyendiri, dan mabuk atas keberhasilannya sendiri.
            Fundamentalisme islam di dunia Arab jauh dari kegiatan politik revolusioner. Ini berakar pada dorongan keagamaan konservatif yang mencampurkan kepentingan perdagangan dengan nilai-nilai agama. Tujuannya adalah seperti dikatakan oleh seorang ahli islam kontemporer asal Perancis, Gilles Kepel, bahwa lebih sedikit merubah sistem  yang ada daripada memberikan kesegaran baru.
            Beberapa fundamentalis terbuka untuk perubahan, tetapi sebagian besar tidak. Juga tidak bagi para pendukung maupun kelompok yang sangat mengharapkan adanya revolusi sosial,  yang dapat menyalurkan sebagian kekayaan kepada fakir miskin. Lebih lanjut, para fundamentalis bisa belajar dari keberhasilan para penguasa yang juga mengambil keuntungan dari kesalahan-kesalahan yang diperbolehkan muncul di antara nilai-nilai Islam pihak oposisi dan ketegasan rezimnya terhadap sekularisme. Di negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia, pemerintahannya telah mulai menikmati legitimasi islam yang patut diperhitungkan. Selain itu, seperti di Indonesia dan Mesir, pejabat-pejabat dengan cepat bergerak mendorong rezim untuk memperoleh dukungan keagamaan. Ketika dimana-mana membicarakan fundamentalisme islam, jurang pemisah antara fundamentalisme sebagai revivalisme dan fundamentalisme sebagai revolusi sungguh sangat dalam. Bahkan beberapa waktu dekat, sektarian  yang terbagi dalam kalangan muslim tradisional lebih memusatkan perhatiannya pada keberagaman yang konservatif. Menurut sebagian pihak mungkin ini akan berimplikasi pada kehancuran persaudaraan Muslim. Kendatipun demikian, mampukah konsekuensi ini memberikan representasi revolusi di Timur Tengah?
Mari kita mengkaji sejarah………………!
            Pada tahun  1974, perjuangan terhadap tujuan islam telah menjadikan Arab Saudi semakin besar mencapai keseluruhan muslim dunia. Mulai dari pembuat opini sampai para aktivis pemimpin politik, pemimpin agama, dan lembaga-lembaga pendidikan. Terkadang sampai pada tingkat masjid-masjid kecil di desa maupun di kota. Inventasi pada kepentingan Islam memberi alat kepada kerajaan baik untuk menahan perlawanan, maupun untuk menutupi luas dunia Muslim dengan pengaruhnya .
            Pada tahun 1980, setelah Irak-Iran berperang, Arab Saudi menunjukkan keberpihakannya dengan berada di belakang Saddam, membiayai perang hingga puluhan milyar dollar. Ini memang sebuah perang Arab-Iran, namun juga perang antara Sunni-Syiah. Jika di Irak itu merupakan dukungan Saudi secara militer yang bisa saja menghentikan Khomeine, di tempat lain Arab Saudi juga memiliki sumber daya untuk membatasi penyebaran pesan-pesan Khomeine. Karena antara Arab Saudi dengan Khomeine terdapat latar belakang pemikiran yang berbeda.  Wallahu A’lam

0 komentar:

Post a Comment