Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, January 6, 2012

Maulid Nabi Saw dan Khilaf Ulama' Tentang 12 Rabiul Awwal

Telah menjadi bagian dari budaya kita, dan budaya masyarakat kita untuk berkumpul dalam satu majlis untuk menghidupkan dan meperingati kembali peristiwa besar dalam sejarah Islam, seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Malam Nisfu Sya’ban, Peristiwa Hijrah Rasul dan Malam Nuzulul Qur’an. budaya semacam ini sangatlah penting dan besar maknanya, namun sangat disayangkan bahwa sebagian kalangan dari kaum muslimin, semoga Allah memberi mereka petunjuk, mempermasalahkan akurasi penanggalan yang dijadikan hari yang diperingati tiap tahunnya. Satu contoh, mereka mempermasalahkan penanggalan kelahiran nabi yang dalam penentuannya masih didapati khilaf di antara ulama, dan berpikir bahwa hal tersebut akan mengurangi nilai peringatan maulid. Bagaimana mungkin kaum muslimin berkumpul pada malam 27 Rajab untuk memperingati Isra’ Mi’raj, dan berkumpul di malam 12 Rabi’ul Awwal untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, padahal para ulama masih berselisih pendapat mengenai kepastian kapan terjadinya dua peristiwa tersebut. Bagaimana jika ternyata Nabi Muhammad pada hakikatnya tidak lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal seperti yang selama ini diyakini oleh kebanyakan? Bukankan itu akan menjadi cela dan kesalahan yang fatal. Pernyataan seperti ini seringkali menjadi argumen mereka untuk menyalahkan apa yang selama ini dilakukan oleh mayoritas umat Islam.
            Perlu diketahui bahwa penetapan satu hari tertentu untuk diperingati, seperti 12 Rabi’ul Awwal untuk hari kelahiran Nabi Muhammad, atau 27 Rajab untuk memperingati Isra’ Mi’raj, bukan merupakan substansi atau tujuan utama dari perkumpulan-perkumpulan tersebut. Tidak menjadi masalah meskipun dalam penetapan tanggal tersebut masih terdapat khilaf, masih ada pendapat lain dari ulama, dan belum menjadi mufakat. Karena yang menjadi tujuan utama dari diadakannya majlis di hari tersebut adalah usaha untuk mengumpulkan umat Islam, lalu mengingatkan mereka akan persitiwa penting dalam Islam dan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Di malam-malam tersebut umat Islam berkumpul dalam jumlah besar, memperingati bermacam peristiwa bersejarah dalam Islam dengan berdzikir, mengingat Allah, dan membaca shalawat karena cinta kepada Rasulullah. Berkumpulnya mereka untuk berdzikir dan bershalawat itu saja sudah cukup untuk mendapatkan rahmat Allah dan kemurahannya.
            Kita berkeyakinan dengan sangat yakin, bahwa selama berkumpulnya mereka itu dilakukan untuk Allah, lillah, maka pasti akan diterima di sisi Allah dan mendapat imbalan pahala dariNya. Amalan mereka akan diterima meskipun ternyata mereka salah dalam penentuan atau penetapan tanggal. Sebab kita berkumpul untuk memperingati Isra’ Mi’raj atau Maulid Nabi atau untuk memperingati peristiwa apapun dalam Islam, penetapan satu hari untuk diperingati bukanlah satu hal yang harus dirisaukan. Kalau hari tersebut pada hakikatnya tepat dan sesuai dengan peristiwa itu maka kita bersyukur, Alhamdulillah. Namun jika hari itu tidak tepat dan tidak sesuai dengan yang sebenarnya terjadi, maka Allah tidak akan menolak atau menyia-nyiakan amal baik kita dan tidak akan menutup pintu rahmatnya dari kita. Minimal peristiwa tersebut sebagai media kita untuk mengumpulkan kaum muslimin.
            Kesempatan berkumpul yang digunakan untuk berdoa menghadap Allah, mendekatkan diri untuk meraih kebaikan dan barokah, itulah faidah terbesar dari peringatan-peringatan tersebut. Begitupun menggunakan kesempatan tersebut untuk saling mengingatkan, menyampaikan nasihat, dan menyampaikan pengarahan yang baik. Bukan malah melarang, mencegah, mengingkari, dan mengajak orang lain agar menghindari dan tidak menghadiri yang justru tidak ada gunanya sama sekali. Bukankah dengan itu, mereka justru menghalangi orang lain mendatangi tempat kebaikan dan majlis atau bahkan masjid untuk berbuat kebaikan disana.
            Sibuk mengingkari, atau menolak dan melarang perkumpulan semacam ini merupakan hal yang sia-sia, bahkan merupakan suatu kebodohan karena berarti menghilangkan budaya mulia, dan menyia-nyiakan kesempatan mengumpulkan orang untuk berbuat baik yang semakin langka ditemukan di masa sekarang kecuali di acara-acara semacam ini.
Mari kita raih kebaikan yang agung dan nyata dengan menghadiri, mengadakan serta memperbanyak majlis-majlis dan perkumpulan semacam ini. Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallim. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Post a Comment