Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Wednesday, January 4, 2012

KAMUS 'ASHRIYYAH, Manhaj Sederhana Berbahasa Arab Sehari-Hari




  Ad-Da’i Ilalloh Al-Lughowi Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun



            Sudah banyak penjelasan dan dalil tentang keutamaan berbahasa Arab dan jika disebutkan satu persatu dalam tulisan ini tidaklah cukup dan rasanya ini bukan tempat untuk membahasnya maka lihatlah di kitab-kitab Muthowwalat. Sebenarnya Penulisan Al-Qur’an menggunakan Bahasa Arab sudah cukup sebagai dalil akan keutamaan dan kemuliaannya bahasa Arab bahkan Al-Qur’an sendirilah yang menegaskan akan dirinya berbahasa Arab. Dan Orang Yang Paling Fasih telah menggunakannya sebagai bahasa sehari-hari.

Bahasa Arab Di Indonesia
            Nama asli kamus karya Abuya Habib Hasan Baharun ini adalah Majmu’aat ‘Ashriyah Fil Lughoh Al-‘Arobiyah (Bahasa Dunia Islam) namun lebih dikenal dengan Kamus ‘Ashriyah, kamus ini hadir sebagai kebangkitan bahasa Arab khusunya di Indonesia paska (setelah) penjajahan Belanda dan Negara yang berbahasa Melayu pada umumnya seperti Malaysia, Brunei dan sebagian Singapura. Sejauh ini belum ada hasil penelitian yang memastikan sejak kapan dirosah bahasa Arab di Indonesia mulai dirintis dan dikembangkan. Asumsi yang selama ini berkembang adalah bahwa bahasa Arab sudah mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak Islam dikenal dan dianut oleh mayoritas bangsa kita. Jika Islam secara meluas telah dianut oleh masyarakat kita pada abad ke-13, maka usia pendidikan bahasa Arab dipastikan sudah lebih dari 7 abad. Karena perjumpaan umat Islam Indonesia dengan bahasa Arab itu parallel (bersambung) dengan perjumpaannya dengan Islam. Dengan demikian, bahasa Arab di Indonesia jauh lebih “tua dan senior” dibandingkan dengan bahasa asing lainnya, seperti: Belanda, Inggris, Portugal, Mandarin, dan Jepang.
            Dilihat dari konsepnya kamus ‘Ashriyah mempunyai ciri yang berbeda dengan kamus pencarian bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yang disusun secara Harfiyah (alphabet) pada umumnya, dan jika ditinjau secara metodologi (ilmu tentang permetode-an) Kamus ‘Asriyah lebih sederhana dan cenderung pada salah satu manhaj penerapan Muhawarah Berbahasa Arab dengan panduan yang telah disusun secara sistematis oleh penyusunnya dan akan kami hadirkan nanti, bukan pada teknik terjemah seperti kamus yang beredar. Tinjuannya adalah dengan penelitian penyusunan dan pengumpulan Kamus ‘Ashriyah. Kamus ini memuat sepuluh bagian dengan empat bagian yang sering dipakai sehari-hari dan setiap bagian mempunyai sub-bagian yang terdiri dari bab-bab, bagian pertama kata benda (Al-Asma’), bagian kedua kata kerja (Al-Af’al), bagian ketiga kata-kata penghubung (Al-Ahruf) dan bagian keempat kata-kata modern (Al-Kalimah Al-‘Ashriyah). Bagian-bagian tersebut memiliki kosakata (mufradaat) yang bisa dianggap berkaitan dengan aktivitas sehari-hari sehingga setiap anak didik bisa mencari mufradat dengan mudah di kamus yang sesuai kondisinya, dengan begitu anak didik bisa menerapkan muhawarah bahasa arab dengan manhaj yang sederhana. Contoh bab yang termuat di dalamnya yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari adalah di bagian pertama dimulai dari sesuatu yang berhubungan dengan manusia dan anggotanya, keluarga, rumah dan isinya, dapur sampai jenis makanan, begitu juga terkait olahraga, waktu, perdagangan dan peridustrian dan seterusnya. Agar terpadu dibagian kedua kata kerja disusun sebagai bentuk kerja kata benda yang ada di bagian pertama tadi maka dengan begitu anak didik bias menggunakan kata benda dalam percakapan dengan adanya kata kerja. Sedangkan kata penghubung berfungsi menyambung kalimat antara Isim dan Fi’il atau sebaliknya yang sudah kita ketahui fungsi-fungsinyanya di kitab-kitab Nahwu. Dan di bab keempat dikumpulkan Kata-kata Modern untuk mengimbangi arus perkembangan yang terjadi.
            Selanjutnya di bagian berikutnya Kamus ‘Ashriyah memuat sinonim (Al-Muradifat) kata dan antonim (Al-Adldad) supaya percakapan tetap hidup dan menarik tidak menoton dengan kata itu-itu terus. Cara surat-menyurat untuk membiasakan mengarang (insya’) karena insya’ juga sangat membantu dalam percakapan dengan beberapa contoh surat-menyurat dan terakhir contoh-contoh khutbah berbahasa Arab sebagai sarana dakwah dan membiasakan anak didik berpodium menyelam sambil minum air karena bisa mendapat dua manfaat melancarkan percakapan dan menguatkan mental di depan umum, sederhana kitabnya tidak terlalu tebal seperti kamus-kamus biasanya karena kesederhanaanya itu insya Allah anak didik lebih cepat menyerap dan menerapkannya.  

Hal-Hal Terkait Berbahasa Arab
            Ada sebuah anggapan jika orang yang tidak berbahasa inggris ingin mahir berbahasa inggris dia harus menguasai dan hafal 9.500 kosa-katanya dan ini juga berlaku bagi orang yang tidak berbahasa arab yang ingin berbicara dengan bahasa arab. Kalau memang benar adanya maka kamus ‘asrhiyah ini harus juga memuat 9.500 kosa-kata tanpa pengulangan untuk menjadi standar teknik penerapan bahasa arab, namun dalam kenyataannya kamus ‘ashriyah mufradaatnya tidak sampai 9.500 hanya memuat sekitar 5.000 mufradaat. Seandainya anggapan itu benar maka untuk menjadi standart kamus ‘Ashriyah harus ditambah jumlah mufradatnya yang sampai pada angka tadi, tapi ada catatan  mufradat bahasa arab berbeda dengan bahasa inggris, bahasa arab mempunyai Amtsilah Tasrifiyah sepuluh (perubahan bentuk dari satu kata kekata yang lain) dari fi’il madi sampai isim alat lebih banyak dibanding bahasa inggris yang hanya punya tiga perubahan bentuk saja. artinya mufradat yang ada di kamus ‘ashriyah bisa mencapai angka itu bahkan bisa lebih. Walaupun hanya berupa anggapan atau asumsi tapi asumsi ini mendekati valid (shahih) mengingat bahasa arab bukanlah bahasa ibu bagi bangsa Indonesia maka otak kita harus banyak menyerap mufradat bahasa arab untuk menguasainya dan teknik penyerapan terbaik adalah hafalan dan diterapkan. Dua hal mengahafal dan penerapan memiliki ikatan satu sama lain karena menghafal saja tidak cukup, karena tujuannya adalah bercakap-cakap menggunakan bahasa arab sehari-hari, dan percakapan tidak akan berfungsi tanpa menghafal terlebih dahulu, penerapan menjaga hafalan tetap kuat dan hafalan sebagai sarana menjalankan penerapan. Inilah yang kami maksud dengan panduan yang telah disusun secara sistematis oleh penyusun di atas, seperti yang pernah di sampaikan oleh Abuya Hasan penyusun kamus: bahwa belajar bahasa arab cukup dengan satu jam saja tapi penerpan tidak cukup seribu jam.
            Sang penyusun Ad-da’I Ilallah Abuya Hasan dikenal seorang da’I yang sering berdakwah diberbagai medan dari dunia pendidikan sampai dunia kemasyarakatan beliau dikenal sebagai figure yang ramah dengan masyarakat desa terutama fakir miskin, santun bergaul dan mempunyai semangat yang kuat dalam menyampaikan dakwahnya sampai keluar pulau, dari Madura ke jawa dari jawa ke Kalimantan terutama di Pontianak. Di Pontianak beliau mendapat sambutan yang tinggi dari masyarakatnya berkat sumbangsingsih dan kesantunan dakwahnya setelah berbagai ujian beliau lalui hingga akhirnya beliau kembali ke jawa atas perintah umminya agar lebih efisien, maka beliau curahkan tenaganya dengan membangun pesantren yang beliau basisi dengan bahasa arab dan dakwah. beliau termasuk penulis yang berpengaruh ada beberapa tulisan beliau yang terkenal salah satunya kamus ini dan muhawarah bahasa arab, para penulis sepakat kalau penulis produktif sangat sulit menjadi penulis kreatif begitu juga sebaliknya, jika ditinjau dari dua hal tadi “saya” simpulkan beliau termasuk penulis kreatif yakni tidak begitu banyak membuat karangan tapi setiap karangannya dijadikan literature bahkan panduan.

Kesederhanaannya Membuat Gampang Berbahasa Arab
            Sudah banyak pakar pendidikan yang melakukan pengembangan bahasa arab mulai dari universitas lembaga kursus dan lembaga pembelajaran yang berkompeten dalam bidangnya terutama pensantren sebagai tangan estafet pertama pertemuan bahasa arab dengan Indonesia namun pada kenyaataannya lembaga-lembaga tersebut belum bisa memenuhi target bahasa arab sebagai bahasa yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari, bahkan pesantren sebagai tulang punggungnya selama ini masih kesulitan menciptakan bi’ah percakapan bahasa arab mereka hanya lebih fokus pada teknik nahwunya saja (gramer dalam bahasa inggris) yang lebih menekankan pada teknik penulisan dan kaidah belum sampai pada praktek.
Maka tidak salah jika abuya hasan mencurahkan tenaga dan pikirannya pada bahasa arab percakapan, beliau susun caranya dan panduannya hingga akhirnya jadilah kamus asriyah. “ pertama, beliau memandang bahwasannya bahasa arab merupakan pintu untuk membuka jalan pemahaman agama, bagi yang ingin memperdalam ilmu-ilmu agama. Kedua beliua melihat bahwa bahasa arab adalah bahasa internasional yang digunakan untuk berdakwah dan berkomunikasi di luar negeri. Ketiga, karena orang-orang sudah meninggalakan bahasa arab, dan beliau menyakinkan bahwa berbicara menggunakan bahasa arab dengan niat Ittibain Nabi akan bernilai ibadah dan berbicara merupakan aktivitas terbanyak di keseharian kita kalau disertai dengan bahasa arab maka sehari-hari kita penuh dengan ibadah” (kutipan wawancara di elbashiroh edisi 16). Begitu besar beliau curahkan semuanya di bahasa arab sampai Al-Muhaddits Sayyid Muhammad Al-Maliki mengapresiasi memberikan Taqridl (kata pengantar) bahwa bahasa arab adalah pilar pertama berdakwah dijalan Allah dan paling mulianya kaidah serta dasar-dasar penyebaran islam.
Kamus ‘Ashriyah di susun oleh Abuya Hasan sesederhana mungkin sebagai pengabdiannya pada bahasa Nabi, manhaj sederhana bermuhawarah bahasa arab sesederhana mungkin hanya menghafal dan menerapkan hafalan itu sebisa mungkin sampai para pembaca menemukan sir-nya misal jika kita tidak tahu sebuah mufadat bahasa arab kita bisa menyambungnya dengan bahasa Indonesia: Uridu Ila Pasar . tidak apa-apa menggunakannya karena yang penting hanyalah pembiasaannya. Agar cita-cita kamus ini sampai pada tujuannya dan terutama harapan pengarangnya membumikan bahasa arab di bumi pertiwi ini merasa senang adalah jika orang-orang yang bernasab padanya baik yang bernasab secara ilmu apalagi yang bernasab darah dengan Abuya Hasan untuk melestarikannya.    

0 komentar:

Post a Comment