Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, January 8, 2012

ISRA’ MI’RAJ, MEMAHAMI MAKNA MUKJIZAT dari SEBUAH REALITA METAFISIK (GHAIB)


Achmad Makki Lazuardi*

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa besar dalam Islam. Sayang sekali, banyak pemikir Islam kurang menerima keberadaannya secara ilmiah dan mereduksi nilainya sebagai sebuah mukjizat.
Disaat responbilitas dakwah yang diemban oleh Rasulullah Saw begitu diwarnai oleh gangguan dan aral, klimaksnya adalah perlakuan kasar masyarakat Thaif ketika mengusirnya bersama lemparan batu dan hinaan. Sementara dukungan maknawi dari Sayyidah Khadijah sang istri kinasih dan pamannya Abu Thalib dua manusia terdekatnya telah hilang pasca kematian yang menjemput. Tidak heran bila tahun itu tepatnya kesepuluh kenabian dikenal dengan Aamu al-Huzni "Tahun Kesedihan" sebab jalan dakwah saat itu dirasa sulit untuk "bernafas". Allah Yang Maha Pengasih mengajak baginda Nabi untuk menghadap keharibaan-Nya dalam sebuah perjalanan yang disebut Isro’ Mi'raj.
Isro’ adalah pemberangkatan Nabi Saw oleh Allah Ta'ala dari masjid al-Haram Makkah menuju masjid al-Aqsha yang berada di Palestina. Adapun Mi'raj adalah perjalanan Rasulullah Saw menaiki lapisan-lapisan langit sampai batas yang tak terjangkau oleh logika dan pegetahuan semua entitas, dan dua peristiwa ini terjadi dalam durasi semalam saja.
Syekh Muhammad Zahid Kautsari memberi status kafir bagi siapa saja yang tidak percaya tentang kebenaran Isro’, sebab Nash Al-Quran secara konkrit (qoth'i ats-tsubut wa ad-dalalah) sudah meyebutkan, sedangkan bagi yang mengingkari Mi'raj, maka statusnya hanya sebatas "pembawa bid'ah" alias fasiq dan tidak sampai ke stadium kafir karena penjelasannya berasal dari hadits-hadits sohih saja (tidak sampai derajat mutawatir).
Menyoal apakah "wisata nabawi" ini dengan ruh dan jasad Nabi Saw, atau hanya dengan ruh saja alias via alam mimpi (manaman), as-Suhaili dalam ar-Raudh al-Unuf–seperti diafiliasikan kepada Ibnu Sayyid Nas- menyebutkan empat pendapat :
1. Ruh dan jasad secara bersamaan dalam keadaan terjaga
2. Ruh saja (dalam kondisi mimpi)
3. Isro’ Mi'raj itu terjadi dua kali,pertama kali adalah dalam kondisi tidur sebagai pembuka dan sarana mudah bagi Nabi Saw seperti halnya wahyu perdana yang diterimanya agar perkara kenabian menjadi tidak berat untuk daya humani,lalu dilanjutkan untuk kali kedua dengan perjalanan nyata dalam kondisi jaga, pendapat ini setidaknya dapat mengkompromikan antara beberapa redaksi hadits yang variatif(beragam), pendapat ini disuarakan oleh Abu Bakr bin Arabi.
4. Isro’ yang nota bene adalah perjalanan ke Baitul Maqdis itu terjadi dalam keadaan tidak tidur, namun Mi'raj menuju langit hanya dengan ruh saja. karenanya para dedengkot kafir saat itu menyangkal perjalanan beliau ke Baitul Maqdis dalam jangka waktu yang super singkat tapi tidak menghujat selebihnya.
 Tapi pendapat mayoritas –seperti dijelaskan oleh Syekh M Zahid Kautsari dalam kitab Maqolat al-Kautsari (Makalah-makalah Syekh Kautsari)- adalah yang pertama, berdasarkan analisa hadits yang menyebutkan bahwa riwayat yang dinisbatkan kepada Sayyidah Aisyah ra  yang berbunyi: "Ma fuqida jasadu Rasulillah shollallahu alaihi wasallama lakinnahu usriya biruhihi "artinya: "Jasad Rasulullah SAW tidak hilang, tapi ia diberangkatkan dengan ruhnya" –menurutnya- tidak valid sama sekali, karena bersumber dari Ibnu Ishaq yang nota bene hidup di pertengahan abad kedua hijriah, padahal dalam redaksinya ia meyebutkan "Haddatsani ba'dlu ali abi bakr "artinya :"Aku diberi informasi oleh sebagian keluarga Abu Bakr", apalagi kalimat "sebagian" yang masih menyisakan tanda tanya. Serta dikuatkan lagi dengan interpretasi (penafsiran) Ibnu Abbas ra tentang makna الرُّؤْيَا"ar-ru'ya" dalam surat al-Isro’ ayat 6 adalah melihat dengan mata kepala sebagaimana disebutkan oleh Imam Bukhari, serta beberapa argumen lain yang mendukung.
Waktu tentang kapan berlangsungnya moment indah ini juga terjadi perbedaan pendapat, tapi seperti dikuatkan oleh Imam Nawawi dalam ar-Raudhah adalah malam 27 Rajab, diamini juga oleh Ibnu Atsir dan Imam Rafi'i.
Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya menceritakan dengan  panjang lebar tentang kisah Isro’ Mi'raj ini, berikut ini adalah penggalannya:
Bahwa Buroq didatangkan untuk Rasulullah Saw, Buroq adalah hewan antara keledai dan baghal yang menjulurkan kakinya sepanjang pandangan matanya. Beliau juga masuk ke dalam masjid Aqsha untuk melaksanakan sholat dua rakaat, lalu Jibril membawakan wadah dari arak dan wadah berisi susu, Rasulullahpun kemudian memilih susu, Jibril berkata: engkau memilih fithrah (tanda keislaman). disebutkan pula bahwa beliau diangkat menuju langit pertama, kedua, ketiga hingga sampai ke Sidrat al-muntaha dan disitulah wahyu tentang sholat diterima.       
Namun yang penting dipahami dari peristiwa ini adalah makna metafisik (baca:ghaib) atau ma  waro' al-maddah yang menyelimutinya sebagai suatu mukjizat besar bagi Rasulullah Saw. Sebab suatu perkara yang metafisik (baca:ghaib)   adalah bagian dari elemen keimanan –untuk tidak mengatakan unsur krusial (penting) nya-(QS: Baqarah: 3 ).
Karena sangat disayangkan, bahwa sisi I'jaz  atau mukjizat sebagai salah satu derivasinya dan korelasi eratnya dengan eksistensi kenabian yang disematkan pada diri Nabi Muhammad sering terabaikan dalam kajian beberapa penulis. Sebut saja Husein Haikal dengan bukunya "Hayat Muhammad" dalam prolognya menyatakan :" Aku sengaja tidak menukil data-data yang terekam di kitab-kitab sejarah dan hadits,sebab prioritasku dalam kajian ini adalah metode ilmiah.." diimbuhi lagi oleh statemen Syekh Mushtofa Al-Maroghi syekh al-Azhar saat itu dalam pengantarnya :"Mukjizat Muhammad Saw yang memilki daya penakluk hanyalah al-Quran yang merupakan mukjizat rasional". Muncul juga Farid Wajdi ketua redaksi majalah Nur al-Islam yang sempat populer dengan artikel-artikel miring miliknya dalam tajuk "Sejarah Muhammad Dalam Perspektif Ilmu Dan Filsafat" (as-Siroh al-Muhammadiyyah fi dhou'i al-ilmi wa al-falsafah), ia pernah bertukas: "Telah diperhatikan oleh para pembaca bahwa kami lebih antusias dalam gaya penulisan buku sejarah ini untuk tidak menghambur-hamburkan sisi-sisi I'jaz selama masih bisa dijawab secara argumentatif melalui faktor-faktor yang biasa meski terkesan sedikit memaksa..". Di sambut gayung oleh Muhammad Abduh ketika ngawur dalam mentakwil ayat yang kongkrit tentang burung Ababil dan kerikil Sijjil dengan arti penyakit cacar, ditambah lagi langkahnya yang keblinger  saat mengingkari kabar turunnya Nabi Isa as yang sudah menjadi Ijma' (konsensus Ulama), untung saja muncul ke permukaan M. Zahid Kautsari yang meng-counter dalam format monografnya yang berjudul "Analisa Singkat Atas Akuan Bahwa Nabi Isa Tidak akan Turun Sebelum Hari Akhirat"( Nadzroh Abiroh fi maza'im man yunkiru nuzula Isa qobla al-akhiroh). Tidak berlebihan bila Muhammad Abduh kemudian dikatagorikan pengusung dan penyebar aliran muktazilah.
Pemikir-pemikir Islam -meminjam istilah KH Sahal Mahfudz- yang perlu dipikirkan lagi buah pemikirannya, lebih menitikberatkan sisi-sisi kasat mata saja dari pribadi Rasulullah Saw, seperti kejeniusan Muhammad, Patriotisme Muhammad, atau Kepemimpinan Muhammad, tanpa menyinggung gelar kenabian atau ke-Rasulannya, sepertinya hal itu bila dijelaskan akan kontradiksi (berlawanan) dengan spirit kajian ilmiah sebagai pijakan. Embrio dari lahirnya orientasi pikir yang melenceng ini menurut DR. Buthi dalam magnum opusnya, "Kubro al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah" adalah ketika Mesir dibawah imprialisme Inggris dengan mengusung platform-platform kebangkitan ilmiah barat dan peradaban barat secara umum yang menuntut untuk men-sweeping- segala pemikiran religi yang masih beraroma metafisik dan irasional dalam kaca mata pengetahuan modern. Yang sejatinya bertujuan mengikis fanatisme beragama dengan label reformasi (al-ishlah).
Kembali kepada definisi mukjizat, Syekh Ibrahim Bajuri dalam komentarnya atas kitab Jauharotu at-Tauhid menjelaskan: “Mu’jizat adalah perkara-perkara luar biasa yang tampak dari tangan Nabi Saw dengan membawa kesan tantangan (tahaddi) atau tidak”. Dari pengertian "luar biasa" tadi secara implisit (tersirat) tidak berarti tidak bisa dinalar atau irasional (tidak masuk akal). Sebab Ilmu -masih menurut Buthi- memilki makna general (umum) dan partikular (khusus), ilmu secara partikular diartikan sebagai ilmu pengetahuan alam, sedangkan secara general (arti umumnya) adalah jangkauan atas suatu perkara sesuai dengan realita.
Berangkat dari sini, bagaimana sikap ilmu dalam merespon fenomena mukjizat? Sudah barang tentu ilmu dalam arti pengetahuan alam yang beragam akan "geleng-geleng kepala" menjawab pertanyaan tadi, sebab substansi pengetahuan alam hanyalah suatu proses eksternal yang keluar dari koridor rasio atau pemikiran dan bersinggungan dengan obyek-obyek material tertentu, lalu "melapor diri" kepada rasio sesuai dengan yang diindikasikan oleh observasi (penelitian) dan percobaan, maka tugas akal rasio disini hanya mencoba menganalisa dan meng-interpretasikan (menafsirkan) kesesuaiannya dengan realita yang ada. Sedangkan menurut arti ilmu yang general, maka pembahasan ditarik kepada hakikat aturan "sebab musabbab" dan korelasinya dengan kuasa Allah selaku Penggerak semua sebab (Musabbib al-Asbab).
William Jhons, seorang ilmuwan asal Inggris berkata: "Kuasa yang mencipta alam semesta tidak pernah lemah untuk menghapus atau menambah sesuatu didalamnya, sangat gampang bila dikatakan: hal itu tidak masuk akal, namun yang bisa disebut tidak masuk akal adalah sesuatu yang memang tidak terjewantahkan dalam alam ini".
Alhasil, secara ilmiah, bila hal yang dikategorikan biasa atau luar biasa diamati dengan seksama maka keduanya adalah mukjizat. Gugusan planet-planet, peredaran bintang-bintang, hukum gravitasi, tetumbuhan, akal manusia, peredaran darah, bahkan diri manusia sendiri adalah mukjizat. Tidak salah bila ada salah satu ilmuwan Perancis meyebut diri manusia dengan nama "Hewan Metafisik". Term mukjizat bila direnungkan juga masih –meminjam istilah DR.Buthi dalam Fiqh Siroh-nya yang monumental- bisa dikatakan relatif belaka (nisbiy mujarrod) sesuai dengan ruang tempat dan waktu kemunculannya, bertolak dari etimologi (secara bahasa) mukjizat yang berarti hal-hal yang diluar kawasan adat dan kebiasaan, memandang bahwa kebiasaan pasti berubah seiring perputaran dan evolusi zaman, serta berbeda sesuai jangkauan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki.
Maka dengan paparan singkat ini, jelas bagi kita akan kebenaran momen besar Isro’ Mi’roj Nabi Saw dan sama sekali tidak berlawanan dengan semangat ilmiah.
Wallahu wa Rosuluhu A’lam

Penulis adalah salah satu staf pengajar di Darullughah Wadda’wah dan Penulis Buku ‘Husnu al-Ishgho’ fi Darsi al-Insya’

1 comment:

  1. ustadz makki iyu lulusan Al Ahqof yua?

    ReplyDelete