Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, January 8, 2012

Allah …………Jangan tinggalkan aku sendiri


Oleh: Eli
Goresan senja menenangkan pikiranku, mencairkan sedikit demi sedikit emosi yang telah kaku membeku. Disini, sore  ini, aku bersama suamiku. Atau mungkin lebih tepatnya aku hanya seorang diri. Sebab apakah sosok suami yang telah dingin membiru masih dapat dikatakan ada? apa sosok dengan pelipis berlubang peluru dan darah segar mengucur sementara nafas telah berhenti menghembus masih bisa dikatakan hidup? maka, kuralat. Disini, pada sore hari ini aku sendirian saja, ditemani sekujur mayat laki-laki yang pernah memenuhi relung jiwaku, menitipkan janin dalam rahimku.
###
            Dua bulan yang lalu, suasana senja di tempat yang sama di balkon rumah lantai tiga yang menghadap panorama keindahan gunung semeru, bersama cinta kami menikmati sepoci teh hijau dengan beberapa potong crakeus keju dengan malu-malu. Akad nikah yang telah dilafalkan secara sakral membuat kami halal untuk berdua saja disini.
            “Subhanallah….indah sekali” Kata suamiku
            “Iya, pemandangan gunung semeru memang indah mas” tambahku sambil menyeruput cangkir teh yang masih hangat
            “Tidak, bukan gunung maksutku”
            “Lalu?” tanyaku penasaran dan menatapnya, yang ditanya malah menatap nakal mataku
            “Wajahmu sayang……” jawabnya merayu.
            Sebelumnya aku tidak mengenal suamiku sama sekali. Sama sekali tidak tahu, mengapa ia begitu mengenal Abi lebih dari aku, istrinya sendiri? Sebagai seorang istri salahkah jika aku menginginkan atas jawaban dari ribuan tanda tanya yang selama ini menghantuiku? Namun aku masih bias bersabar. Mungkin serupa dengan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir di dalam Al-Qur’an, aku tidak ingin tahu mengapa ia punya ruangan sendiri yang tidak boleh aku dekati, aku sama sekali tidak ingin tahu kemana tujuan ia pergi saat malam tiba, dengan terburu-buru, dengan jaket dan penutup kepala hitam abu-abu. Aku juga tidak ingin tahu, apa password laptopnya, juga kode rahisia file-filenya?.
            Semuanya itu, aku tidak tahu, bahkan sampai sekarang, saat wajahnya membiru di pangkuanku.
###
Suara sirine dan gaduh mendekat, puluhan mobil densus mengitari villa kami, berjibaku dengan ratusan pistol, kamera wartawan juga ancaman-ancaman.
Aku hanya bisa menangis histeris saat jasad suamiku di bawa oleh para lelaki berseragam biru, untuk kemudian dimasukkan ke mobil mereka  dan entah dibawa kemana.
            Aku juga hanya bisa menggeleng saat seluruh ruangan rumahku bahkan musalla digeledah paksa tak karuan. Aku juga hanya bisa menggeleng lebih keras lagi saat ruangan rahasia suamiku didobrak paksa setelah sempat mereka meminta baik-baik kunci kepadaku, tapi aku tidak mau.
            kujelaskan dengan wajah berbalut cadar bahwa aku tidak berani, suamiku malarang aku untuk dekat-dekat dengan ruangan itu. Namun setelah pintu kayu berukir  lafad Lailaha illallah itu terbuka, gelenganku meleleh berganti air mata yang mengalir lemah.
            Empat buah laptop yang masih menyala berisi paragraf-paragraf, angka dan kode-kode rahasia. beberapa dus rakitan bom siap pakai beserta timernya yang belum diaktifkan duduk angkuh di ujung ruangan, beberapa dokumen berjajar rapi memenuhi rak dengan delapan tingkat. Beberapa diantaranya berserak diatas sajadah merah.
            Aku mundur beberapa langkah. Andai aku bisa menundukkan kepala malu, akan kutundukkan sampai masuk ke lapisan bumi. Memori sembilan tahun lalu berputar lagi, tergambar jelas di layar LCD otakku dengan sound yang menginjak maximaly, dimana rumah kami dikepung sejam setelah stasiun-stasiun televisi dengan siaran langsungnya meliput “Maha Karya” para teroris yang berhasil meluluhlantakkan gereja di sudut kota pada pagi 25 Desember 2001. Abi memerah, jaket yang selalu ia kenakan yang ternyata anti peluru tak dapat melindunginya dari timah panas yang ditembakkan pada kakinya.
            “Ayah…..jangan tinggalkan aku” teriakku sambil memeluk erat ibu ketika mereka membawanya. 
            Untuk selebihnya aku tidak tau, untuk lebih tepatnya tidak mau tahu, apa ayah  sudah tidak ada atau masih diam dibalik jeruji besi yang dingin bisu. Sebab saat itu dan seterusnya kudapati Ummi bukan bukan sosok ibu yang penyayang, ibu yang murah senyum, bersahabat dan lembut. Namun sosoknya berubah kaku, matanya selalu terlihat sembab dengan kornea coklat kehitaman, pendiam dan dingin.
            Ibu masih Menyimpan segala lemah yang pada dasarnya ada pada diri seorang wanita di depan ketujuh putra-putrinya yang masih beringus, seolah tabah, menyamar sabar, ia selalu mengangkat dagunya angkuh diantara rasa malu. Berjuang sendiri membentuk karakter kuat buah hatinya yang sama sekali tak mengenal devenisi salah tentang jihad yang dulu diteguh sang Abi. Membentuk karakter kuat ditengh picisan mata saudara, tetangga bahkan sahabat, meyakinkan bahwa sampai detik itu juga ibu dan kami masih teguh memegang syariat-syariat Nabi Muhammad dan empat Khulafaur Rasyidin.
###
            “Ummi…..jangan tinggalkan aku” rintihku meratapi jasad ummi.
Ummi pergi sebulan sebelum hari pernikahan kami. Aku melirik foto keluarga yang terpajang di ruang tengah, ada Ummi, tiga saudara perempuan, dan tiga saudara laki-lakiku. aku hubungi ke enamnya bergantian, namun tak satupun terjawab bahkan beberapa diantaranya sengaja mematikan. Kuletakkan ponselku pasrah. Rabbi la tadzarni fardan waahida.
            Ya Rob, Jangan tinggalkan aku sendiri…..
            Aku seperti ibu , tak bersalah. jadi tak perlu takut. Kisahku hanya akan berakhir di meja hijau saja, tidak untuk tinggal di balik jeruji besi, sebab sekali lagi, aku tidak bersalah, sama sekali tidak.
###
Senja tersenyum, tempat ini tidak berbeda dengan empat tahun silam, di balkon rumah yang menghadap ke hijau gunung semeru. Aku bersama seorang laki-laki baru. Kami berdua tenang menikmati kicauan burung ditemani sepoci teh hijau dan beberapa crakeus keju.
Dan aku menjamin tidak ada jiwa kotor di dalam dirinya untuk membunuh ratusan juta jiwa tak bersalah dengan dalih jihad. Ia putraku tersayang yang akan tumbuh sebagai yang benar,karena aku sendiri yang akan mendidiknya. Kuberi nama ia Muhammad.

0 komentar:

Post a Comment