Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Sunday, January 8, 2012

Abdullah Bin Masud SAHABAT KIBAR PAKAR AL-QURAN


Barang siapa ingin membaca Al-Quran sebagaimana ia diturunkan maka bacalah seperti bacaan Ibnu Masud”

Seorang anak yang belum menginjak usia baligh berdomisili di lembah-lembah gurun pasir Makkah yang jauh dari keramaian. Aktifitas kesehariannya dari pagi hingga petang hanya menggembala kambing milik sang tuan, salah satu pembesar Qurays; Uqbah bin abi Mu’ait. Orang-orang memanggil anak tersebut dengan sebutan ‘Ibnu Ummi Abdin’, sedangkan nama aslinya ialah Abdullah, putra dari Masud bin Ghofil bin Hubaib bin Syamikh bin Far bin Makhzum bin Sohilah bin Kahil bin Harist bin Tamim bin Sa’d bin Hadl bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Abu Abduirrahman Al Hadzly.  

Abdullah bin Masud, Rasulullah dan Islam
                Suatu hari, dari kejauhan anak itu melihat dua orang dengan wibawa yang tinggi menuju ke arahnya. Keduanya tampak lelah, letih dan dahaga. Sesampainya mereka di hadapan anak itu, mereka singgah seraya mengucapkan salam dan berkata: “Apakah kamu memiliki susu?” Abdullah bin Masud menjawab: “Tidak, kambing-kambing ini bukan milikku. Aku hanya mengemban amanat untuk menggembalanya”.
Kedua orang tersebut memahmi posisi anak itu, salah satu dari mereka berkata: “Tunjukkan padaku kambing yang belum pernah di sentuh pejantan” anak itu menunjukkan kambing yang dekat darinya. Kemudian orang itu mendekati kambing tersebut dan mengusap buah susu kambing tadi dengan menyebut nama Allah.
Sang anak tercengang dan terlintas di benaknya: “Bagaimana mungkin kambing yang belum di sentuh pejantan bisa mengeluarkan susu?” seketika, puting susu kambing itu mengucurkan air susu dengan lancar. Setelah itu, salah satu dari kedua orang tersebut mengambil batu yang cekung untuk kemudian memenuhinya dengan susu dan meminum bersama sahabatnya. Setelah menikmatinya, susu tadi diberikan kepada Abdullah bin Masud yang masih tercengang dengan apa yang dilihat saat itu.
Setelah dahaga mereka tertawar, seorang yang mengusap buah susu tersebut berkata: “Berhenti” secara otomatis susu kambing itu kembali seperti semula. Anak itu berkata: “Ajarkan aku apa yang kau ucapkan tadi” orang tersebut menjawab: “Engkau akan diajari”.
Kedua orang asing itu tidak lain adalah Rasulullah saw. dan sahabatnya, Sayyidina Abu Bakar Assiddiq. Mereka berdua kagum dengan kepribadian Abdullah bin Masud yang begitu menjaga amanat, teguh hati dan gigih dalam bekerja. Inilah awal mula beliau mengenal Rasulullah  saw.
 Sejak hari itulah ia menawarkan diri kepada Nabi untuk berkhidmah kepadanya dan meniggalkan profesi sebagai pengembala kambing. Abdullah bin Masud memeluk Islam berbarengan dengan Ibn Zaid dan istrinya, Fatimah binti khottob.  
                Di kalangan para sahabat, Abdullah bin Masud diberi gelar Sohibu Sirri Rosulillah karena selalu bersama Nabi saw. Bahkan beliaulah yang membangunkan Nabi ketika tidur, menemani dalam perjalanan dan di rumah, memakai dan melepaskan sandal Nabi, membawakan tongkat dan siwak beliau serta menyiapkan kamar jika Nabi ingin istirahat. Keakraban tersebut dimanfaatkan  Abdullah bin Masud untuk mengadopsi akhlakul karimah Nabi.
                Didikan Nabi kepada Abdullah bin Masud tidak hanya meliputi akhlak belaka, namun juga mewariskan Al-Quran kepadanya sehingga beliau tahu persis asbabun nuzul setiap ayat Al-Quran dan menjadi Qori’ Rasulullah  saw.
               
Abdullah bin Masud dan Al-Quran
                Figur Abdullah bin Masud tidak hanya sekedar alim, zuhud dan abid, selebihnya beliau juga kuat, pemberani dan memiliki semangat yang tinggi dalam menegakkan agama Allah. Pada awal mula berdirinya Islam, kaum muslimin di Makkah memang masih minim dan lemah.
Kala itu para sahabat sedang berdiskusi di kota Makkah. Salah satu mereka berpendapat: “Kaum Qurays belum pernah mendengar lantunan indah ayat Al-Quran, siapa yang akan memperdengarkan pada  mereka?” Dengan tegas Abdullah bin Masud menjawab: “Aku yang akan memperdengarkan Al-Quran pada mereka” para sahabat berkata: “Kami khawatir terhadapmu, kami menginginkan seorang pemuda yang memiliki keluarga besar sehingga mampu melindunginya dari gangguan mereka” Abdullah bin Masud berkata: “Biarkanlah aku yang melakukannya, Allah yang akan melindungiku”.
 Esok harinya di suasana dhuha beliau pergi ke ka’bah dan berdiri di maqom Ibrahim sedangkan kaum Qurays berada di sekeliling ka’bah.
 Dengan suara tinggi dan merdu beliau membaca surah Arrahman di hadapan kaum Qurays : “Bismillahirrohmanirrohim Arrohman, Allamal qur’an, allamahul bayan…..”  Ayat-ayat yang dilantunkan Abdullah bin Masud menarik perhatian mereka. Setelah menyerap dan memahami apa sebenarnya yang keluar dari mulut Abdullah bin Masud, salah satu dari mereka melontarkan celaan terhadap beliau seraya berkata: “Celakalah dia! Dia melantunkan sesuatu yang dibawa oleh Muhammad!” teriakan itu memicu emosi kaum Qurays sehingga mereka mendatangi beliau dengan pukulan yang bertubi-tubi. Meskipun mengalami penganiayaan dari mereka, Abdullah bin Masud tetap terus melafadkan ayat yang dibacanya.
Kaum Qurays meninggalkan Abdullah bin Masud Dalam keadaan berlumuran darah. Para sahabat prihatin dan berkata: “Inilah yang kami takutkan” namun dengan bangganya Abdullah bin Masud menjawab:  “Demi Allah, Ternyata mereka lebih hina dari apa yang aku pikir. Jika kalian ijinkan, aku akan melakukan hal yang sama esok hari”.
                Jiwa kepahlawanan Abdullah bin Masud selalu ditampakkan setiap saat, beliau kerap ikut serta dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah  saw. seperti perang Badar, perang Uhud, perang Khondak, Bay’ah Ridwan dan beberapa perang lainnya.
                Kepiawan beliau dalam membaca Al-Quran telah terbukti, Rasulullah  saw. memuji beliau dengan bebagai macam pujian. Rasulullah  pernah berujar:  “Barang siapa ingin membaca Al-Quran sebagaimana ia diturunkan maka bacalah seperti bacaan Ibnu Masud”

Dan Rasulullah  pun menangis
                Pernah suatu waktu Rasulullah saw. bersama Abdullah bin Masud. Rasulullah saw. memerintahkan sesuatu: “Bacakanlah surat Annisa” berkata Abdullah bin Masud: “Layakkah aku membacanya? Sedangkan Al-Quran diturunkan kepadamu” Rasulullah  bersabda: “Ya,aku senang mendengarnya dari orang lain” Abdullah bin Masud melaksanakan perintah Nabi dan membacanya hingga sampailah ayat فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيدا " . . الى آخر الآية  maka bercucurlah air mata Nabi saw.

Akhir Hayat Abdullah bin Masud
                Pada masa Kholifah Usman bin Affan Abdullah bin Masud terserang penyakit yang hampir membawanya kepada kematian. Sang kolifah menjenguknya dan berkata: “Apa yang ingin kau adukan?” “Dosa-dosaku” “Apa yang kau inginkan?”  “Rahmat tuhanku” “Maukah kamu menerima pemberianku yang telah lama kamu tolak?’  “Aku tidak membutuhkannya”  “Mungkin akan bermanfaat bagi putri-putrimu setelah peninggalanmu”  “”Apakah kau takut putri-putriku akan menjadi fakir? Jangan khawatir, aku telah menyuruh mereka membaca surat al-waqiah setiap malam karena aku mendengar Rasulullah  bersabda ‘Barang siapa yang membaca surat al-waqiah setiap malam maka tidak akan tertimpa kefakiran selamanya”
                Dalam umur 60 tahun beliau wafat pada masa khalifah Usman bin Affan tepatnya pada tahu 32 H dan disemayamkan di dekat masjid Nabawi yaitu pemakaman Baqi’. 

0 komentar:

Post a Comment