Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, December 24, 2011

MA’HAD PENGEMBANGAN DAN DAKWAH NURUL HAROMAIN: PUSAT DAKWAH MUSUH MISIONARIS



Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain terletak di Desa Ngroto Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, berada di lintasan jalur Malang - Kediri dan Jombang, sekitar 30 kilometer arah barat kota Malang. Secara geografis berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut dengan temperatur rata-rata 17-19° C dan bahkan pada suatu saat di bawah 15° C. Panorama alam sekitar Ma’had adalah daerah pertanian yang sangat subur, dikelilingi gunung Arjuna dan gunung Kawi serta gunung-gunung lain dengan hiasan teraseringnya.

Ma’had ini mulai dirintis pada tahun 1986 oleh As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Ketika memulai membangun Ma’had Nurul Haromain ini, Abuya (panggilan akrab As Sayyid Muhammad al Maliki) tidak menentukan ma’had ini dibangun untuk siapa, dan berpesan kepada KHM. Ihya’ Ulumiddin yang diserahi untuk mengawasi pembangunan “Jangan menerima bantuan dari siapapun, ma’had ini pendanaannya akan saya ambilkan murni dari saku pribadiku.” Akhirnya setelah lima tahun, bangunan pertama ma’had yang terdiri dari mushalla, asrama santri dan tempat tinggal pengasuh selesai dikerjakan. Mendapat laporan ini, Abuya sempat menawarkan “Bagaimana menurutmu, apa sebaiknya bangunan itu dijual saja?“ Mendengar ini kontan KH Ihya’ kaget dan bertanya “Dijual, Abuya?” dengan perasaan heran. Akhirnya Abuya memerintahkan KH Ihya’ sendiri agar menjadi pengasuh ma’had tersebut.

KH. Ihya’ Ulumiddin merupakan salah satu santri Abuya As Sayyid Muhammad Alawi angkatan pertama. Beliau belajar di ma’had Abuya di Makkah selama kurang lebih 4 tahun setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikannya di Ma’had Langitan Tuban. Setelah pulang ke Indonesia, hari-harinya selalu diisi dengan mengajar dari satu ma’had ke ma’had lain, membina halaqah di berbagai kampus di Surabaya, dan tak lupa juga berdakwah di sekitar tempat tinggalnya. Beliau dipercaya oleh Abuya sebagai tangan kanan Abuya untuk mengurus urusan-urusan Abuya di Indonesia dan menghimpun segala informasi yang terjadi di Indonesia terkait teman-teman beliau sesama alumni Abuya. Hal ini dilakukan agar terus terjalin ikatan antara Abuya dengan santri-santrinya,

Sejak 1 Dzulqo’dah 1411 H Ma’had Nurul Haromain mulai dibuka dengan 10 orang santri dari sebelas orang pendaftar. Semuanya alumni dari Ma’had Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik yang diasuh oleh KH Masbuhin Faqih. Setiap tahun santri bertambah, namun di Ma’had Nurul Haromain ini jumlah santri dibatasi sebanyak 40 orang saja, sesuai pesan Abuya Sayyid Muhammad Alawi. Dengan jumlah itu, Abi (panggilan akrab para santri kepada pengasuh) akan bisa mengenal karakter, watak dan kemampuan masing-masing santri, sekaligus bisa mengawasi, mentarbiyah, membina dan membimbing perilaku keseharian mereka secara langsung dan mendalam.

Sebagai ma’had pengembangan, Ma’had Nurul Haromain hanya menerima santri yang telah lulus jenjang aliyah ma’had atau yang setara dan lulus tes. Di ma’had ini, hadits menjadi kurikulum yang mendominasi. Shohih Bukhori, Muslim, Sunan Abu Dawud dan Tirmidzi adalah pelajaran wajib yang diterima oleh para santri. Di ma’had ini hadits tidak hanya dibaca dengan makna gandulnya, tetapi dipelajari secara menyeluruh dari sisi asbabul wurud, arah tujuan dan kaitannya dengan suatu ayat atau hadits lain serta hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Jadi tidak jarang apabila penjelasan satu hadits bisa memakan waktu satu jam lebih yang tentu saja itu semua dengan mengacu kepada pemahaman para ulama salaf. Selain hadits materi kajian lainnya seperti: tafsir, fiqh, dan aqidah juga menjadi materi yang diprioritaskan. Hal tersebut menjadikan para santri kaya wawasan, banyak mengenal dan membaca pendapat berbeda beberapa ulama dalam satu masalah.

Metode Pendidikan dan Dakwah
Dalam mendidik rohani santri, ma’had ini mewajibkan para santri sholat tahajjud dan witir berjama’ah sekitar pukul 02.30, dilanjutkan dengan membaca hasbanah dan lathifiyyah serta wirid-wirid lain. Selesai wirid, para santri melakukan haj’ah (tidur sebentar menunggu datangnya waktu shalat shubuh), lalu sholat shubuh dan membaca wirdullathif serta beberapa bacaan sholawat hingga matahari terbit dilanjutkan dengan sholat Isyroq dan Dhuha. Aktivitas selanjutnya adalah ta’lim pagi hingga pukul 07.30. Setelah makan pagi, pukul 09.30 mudzakaroh bersama hingga menjelang zhuhur. Usai sholat zhuhur, para santri membaca wirid dhuhur, makan siang dan istirahat sampai menjelang Ashar. Usai sholat Ashar para santri mengajar anak-anak membaca Al Qur’an di desa-desa terdekat. Pulang mengajar, para santri kembali ke ma’had untuk sholat Maghrib berjamaah dan membaca wirid sampai Isya’, makan malam, dan ta’lim. Santri lalu istirahat pada pukul 10.00 malam. Kegiatan ini berjalan dari hari Senin sampai Kamis. Aktivitas padat yang harus dijalani oleh santri di ma’had ini memang sebuah metode tarbiyah tasyghiutl thullab (membuat para santri sibuk) yang didapatkan pengasuh dari Sang Guru Besar Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani.

Setiap Kamis sore, para santri berangkat ke tempat dakwah masing-masing yang berada di desa-desa di sekitar Malang dan Jombang. Para santri dilatih untuk terjun langsung berinteraksi, berdakwah, dan menyampaikan kepada masyarakat ilmu yang telah didapatnya dalam empat hari ta’lim di ma’had. Selain itu, kegiatan dakwah mingguan ini juga untuk menumbuhkan semangat dan jiwa dakwah yang dewasa ini sudah mulai luntur dari orang-orang berilmu (khususnya alumni pesantren) yang karena tidak terbiasa akhirya hilang kepercayaan diri untuk berdakwah. Desakan ekonomi dan kebutuhan hidup yang semakin mendesak kadang juga membuat mereka banting setir dengan bekerja dan meninggalkan kewajibannya sebagai orang berilmu untuk berdakwah.

Ma’had ini sungguh sesuai dengan keadaan masyarakat sekitar. Sebab Ma’had Nurul Haromain berada di tengah-tengah masyarakat yang tergolong minus agama. Hal ini menjadikan peluang terbuka bagi para misionaris Kristen untuk bergentayangan melakukan usaha pengkafiran. Maka tidak mengherankan jika pada tahun-tahun awal, para santri pesantren ini sering terlibat dalam konflik dengan para misionaris. Ketelatenan dan kontinuitas dakwah sedikit demi sedikit akhirnya mampu menumpulkan usaha-usaha para misionaris Kristen. Boleh dikatakan gerakan tanshir (kristenisasi) di daerah Pujon sekarang ini mati. Hal ini sesuai dengan doa Abuya As Sayyid Muhammad Alawi ketika membangun ma’had ini. Beliau berdoa semoga ma’had ini menjadi markaz (pusat) dakwah Islam, Allohummaj’al hadzal ma’had  markazan lidda’wah.

Di antara langkah yang ditempuh ma’had ini dalam berdakwah adalah dengan bergaul dekat, akrab bersama masyarakat. Dakwah yang simpatik dilakukan para santri dengan tanpa risih dan segan bergerilya, berkunjung dari satu rumah ke rumah lain bertanya kepada penduduk bagaimana keadaan, apa pekerjaan, berapa jumlah anak dan cucunya?. Ini semua menyebabkan masyarakat merasa diperhatikan sehingga tumbuhlah keterikatan hati mereka dengan para santri. Pada malam Ahad, semua santri datang. Ahad pagi, setelah subuh mereka membaca Maulid Nabawi atau melakukan latihan mental, berceramah di hadapan teman - teman sendiri dengan topik-topik yang telah ditentukan. Sekitar pukul 07.00, para santri melakukan olahraga di lapangan desa Ngroto yang kebetulan tidak jauh jaraknya. Setelah berolahraga dan sarapan, para santri mengikuti ma’arifam - sebuah kegiatan pengembangan pengetahuan wawasan umum.

Di samping menjalin hubungan baik dengan masyarakat, ma’had ini juga menjalin hubungan dengan kampus-kampus yang ada di Malang dan Surabaya. Sebagian santri dikirim ke kampus untuk membuka halaqoh ilmu membina para mahasiswa. Tidak jarang para mahasiswa mahasiswi datang dan menginap di ma’had selama beberapa hari untuk menyelenggarakan training keagamaan, atau pendalaman agama secara praktis. Adanya interaksi antara pesantren dengan dunia akademik (kampus) ini mendorong terjadinya barter ilmu pengetahuan dan pengalaman. Di satu sisi, santri mendapatkan informasi atau data baru tentang perkembangan terkini dan di sisi lain para mahasiswa juga bisa melihat gambar hidup dari Islam yang dilakonkan para santri. Interaksi yang cukup intens antara santri dan mahasiswa di pesantren ini membuahkan banyak sekali manfaat bagi kedua belak pihak.

Para santri Nurul Haromain, meski sama sekali tidak dipungut biaya (SPP atau syahriyyah) alias gratis, juga mendapatkan kesempatan mengembangkan wawasan umum seperti bahasa Arab, bahasa Inggris, komputer, kajian kristologi, pemikiran kontemporer, latihan tulis-menulis, serta latihan keterampilan lain.

Jika pesentren putra menjadi tempat menempa para da’i, maka mulai tahun 2003 Nurul Haromain juga membuka ma’had putri. Selain mengaji, para santri putri juga mengikuti kuliah di kampus PGTK (Pendidikan Guru TK) yang berada satu komplek dengan Play Group, SDIT, SMP Plus, dan SMK Nurul Haromain. Hal yang cukup menggembirakan, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, para santri puteri Nurul Haromain cukup mendapat simpati dari berbagai instansi pendidikan, khususnya Play Group dan TK.


Alumni
Setelah menimba ilmu di Nurul Haromain selama kurang lebih 3 tahun (batas minimal menjadi santri Nurul Haromain), sebagian santri mengemban tugas menyebarkan dakwah Islam ke berbagai daerah. Saat ini para da’i alumni Ma’had Nurul Haromain telah tersebar ke berbagai daerah di Pulau Jawa, Madura, Batam, dan Papua. Mereka mendirikan pesantren-pesantren cabang, majelis-majelis ta’lim, berbagai lembaga pendidikan Islam formal di tempat tugasnya. Saat ini telah berdiri kurang lebih 25 pesantren cabang, 15 LPI (Lembaga Pendidikan Islam), dan puluhan majelis ta’lim yang berada di bawah Persyarikatan Dakwah Al Haromain (PERSYADHA). Sebagian santri lainnya melanjutkan pendidikan ke Abuya As Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi Al Maliki Makkah. Untuk terus menjalin ikatan dengan santri dan menyatukan gerak langkah dakwah, maka para santri, alumni, dan seluruh anggota PERSYADHA wajib mengikuti taushiyah bulanan oleh KH. Ihya’ Ulumiddin. Selain taushiyah bulanan, mereka juga wajib hadir dalam Multaqo Sanawi (pertemuan tahunan), Istihlal, dan Maulid Nabi.

0 komentar:

Post a Comment