Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, December 24, 2011

Harus Cermat Dalam Memilih Obyek Cinta


Pada edisi sebelumnya dalam rubrik yang sama kita telah berbicara sedikit panjang lebar seputar tanda-tanda matinya hati plus kiat-kiat terapi untuk memperbaikinya. Pada edisi kali ini, kami akan mengupas seputar  hakikat “cinta” yang sebenarnya dan coba disajikan ke ruang pembaca dengan ulasan ringan namun mengena. Sebab kalimat yang hanya terdiri dari lima huruf ini seringkali disalah-fungsikan oleh kenbanyakan masyarakat, khususnya mereka yang baground keimanannya sangat lemah.
Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam untaian mutiara kata-kata hikmahnya menyampaikan sebuah cerita singkat yang langsung bersumber dari Hadits Nabi Muhammad e, cerita itu adalah sebagai berikut:
Ada seorang pedalaman (a’rabi) sowan kepada Rasulullah e, sesampainya di hadapan Rasul, tanpa basa-basi dia langsung melontarkan sebuah pertanyaan: "wahai Rasul, kapan kiamat itu terjadi?" Rasulallah e menimpalinya dengan balik melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat bijaksana: "apa yang engkau persiapkan untuk menghadapi hari kiamat tersebut?", A’rabi pun menjawab: "(tidak ada lain yang kupersiapkan selain) cintaku kepada ِAllah dan Rasulnya". Mendengar jawaban A'rabi tersebut, Rasulullah e bersabda :  

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَيُحْشَرُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan selalu bersama orang yang dicintainya, dan akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya pula”
Inilah fungsi cinta yang sebenarnya, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan cinta kepada yang lainnya. Cinta model inilah yang seyogyanya dimiliki oleh setiap orang yang beriman. Seringkali terjadi peristiwa di tengah-tengah kita yang justru membuat hati menjadi sedih dan gundah dikarenakan tidak tepat sasaran dalam memilih siapa yang harus dicintai.
Hati apabila sudah terperangkap cinta pada sesuatu, maka secara otomatis akan patuh sepatuh-patuhnya pada obyek yang dicintainya dan tentunya akan selalu berenergi untuk melakukan apa saja yang diperintahkannya. Selain itu, hati tersebut akan menepis cinta lain yang berusaha masuk untuk menggantikan posisi yang sedang dicintainya. Jika hati kita misalnya, sudah cinta pada dunia fana ini, maka dapat dipastikan tidak akan bergeming untuk memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat. Namun bukan berarti kita harus membuang dunia sama sekali, sebab bagaimanapun kita saat ini sedang hidup dan eksis di dalam dunia ini.
Yang penting kita tekankan adalah sikap dan kecenderungan hati dalam menghadapi dunia ini, jadikanlah dunia ini sebagai sarana untuk melakukan ibadan dan selalu mendekatkan diri kepada Allah e, jangan sampai menjadi tujuan hidup. Jika demikian maka hati akan tetap selalu cinta pada kehidupan akhirat. Tidak mungkin kedua-duanya sama-sama kita cintai, ibarat seorang laki-laki yang mempunyai dua istri, maka pasti salah satunya ada yang lebih dicintai, dan mustahil cintanya bisa dibagi rata. Allah I berfirman:
وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النساء
"Kalian tidak akan mampu berbuat adil (dalam urusan cinta) antara beberapa perempuan."
Allah I juga berfirman:
مَّا جَعَلَ الله لِرَجُلٍ مّن قَلْبَيْنِ فِى جَوْفِهِ
"Allh tidak menjadikan bagi satu orang lak-laki dua buah hati di dalam perutnya".
Ada sebuah cerita seputar pledoi cinta yang terjadi antara Husen bin Mansyur Al-Hallaj dan Asy-Syibly. Sebelum al-Hallaj dieksekusi, dia didatangi oleh Asy-Syibly, seraya Asy-Syibly bertanya kepadanya: "wahai Hallaj, apa artinya cinta?" Al-Hallaj pun menjawab:  "besok sebelum aku dieksekusi aku akan menjawabnya". Ketika hari yang ditentukan telah tiba, setelah Asy-Syibly datang, Al-Hallaj pun berkata: "cinta itu dimulai dengan sakit dan diakhiri dengan kematian".
Cerita singkat ini memberikan pengertian bahwa cinta itu membutuhkan sebuah pengorbanan. Kemudian yang perlu dipertanyakan dalam hati kita: "Jika kita benar-benar cinta kepada Allah, Rasul dan agama Islam, apa yang telah kita korbankan untuknya? Jawablah pertanyaan ini sesuai dengan kenyataannya? Allahumma waffiqna lima tuhibbu wa tardha. Amiin. Muza


0 komentar:

Post a Comment