Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Saturday, December 24, 2011

Cerpen Part 2

Kitab ini ku beli dengan uang tabunganku, hidup tidak selamanya indah dan memiliki beragam warna, rasa dan bentuk. Terkadang bentuknya halus, berwarna merah dan rasanya manis, namun transformasi kehidupan dapat mengubahnya menjadi kasar, berwarna hitam, bau dan rasanya sangatlah busuk.Uang yang ayah  transfer ke rekeningku kadang kurang dan tidak dapat memenuhi semua kebutuhanku, entahlah, orang tua akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, jangankan harta, nyawanya pun di pertaruhkan. Jadi jika ayah mengirimi aku uang pas-pasan, itulah yang ia mampu tanpa ada protes, kepada ayah, kepada Allah, melainkan bersyukur, kepada ayah, kepada Allah.
                “Untuk apa itu fian?” Ahmad yang telah lama memperhatikanku akhirnya melontarkan pertanyaan juga
                “tabungan” jawabku singkat
                “Tabungan? ente kan bisa beli sirkah, Rp 3000,- doang!”
                “Kreatif mad, ana kan baru baca buku creative intelligence, di pikir-pikir bambu di belakang kamar terbuang gitu aja, lebih baik di manfaatkan, gampang kok bikinnya, tinggal bolongin sedikit ruas tabungnya.oh ya, sisa cat biru untuk lemari masih ada kan?”tanyaku sambil meneliti lagi tabung bambu yang baru saja ku sulap menjadi sebuah tabungan unik.
                “Masih, kalo gitu buatkan ana juga ya!”
                “Enak aja, buat sendiri! Nih gergajinya”
                “Bahil banget!” ahmad menerima gergaji yang ku serahkan padanya.”Tapi kenapa fulusnya nggak ente simpan di ATM aja? Kan lebih aman dan nggak ribet?!”
                “Yang ana takutin itu bunganya mad, kayanya nggak barokah banget! Lagian ana nabungnya Cuma fulus ricikan, ribuan, untung-untung kalo ngisi lima ribu perbulan”
                “Memangnya ente setiap bulan di kirim berapa fian?”Tanya ahmad mengeluarkan sifat aslinya,simpati.
                “Nggak nentu mad, malahan bulan ini Cuma seratus lima puluh  ribu”
                “Seratus lima puluh ribu?” Tanya ahmad terkejut
                “Itupun 50 persennya sudah ana bayarkan utang dan uang kas kamar, kelas,organisasi”
                “Kuat ente ya?”
                “Kuat-kuatin lah mad, itu pun Alhamdulillah ana bisa di kirimin fulus sama ayah, ana selalu membandingkan dengan fuad, halimi yang mereka Cuma di kirimin fulus seratus ribu untuk dua bulan, bahkan ada enam orang anak yatim di sini yang tidak pernah di kirimin fulus”
                “pantes ana sering ngeliat ente sama mereka puasa senin kamis”
                “Kalo puasa mah memang ana yang ngajak mereka, selain untuk mujahadah juga untuk menghemat sambil bersedekah kepada anak yatim”
                “Wah, ente itu ya, serakah banget sama pahala”
                “Gimana nggak mau serakah? Ana kan nggak tau mana yang di terima sama Allah” 
                Aku masih termasuk santri yang beruntung, masih punya orang tua yang setiap bulannya masih bisa mengirim uang meski tak banyak. Beberapa sahabatku di sini ada yang menyandang status anak yatim, yang mustahil mengharapkan fulus dari orang tua mereka, ada juga beberapa muallaf yang di buang oleh keluarga mereka, tanpa ada yang memperhatikan dan memperjuangkan ke islamannya, beruntung iman mereka tebal melebihi kami sendiri orang islam sehingga tetap berusaha mempertahankan hidayah yang tak ternilai harganya itu meski dengan kata kasar mereka hidup dalam kekangan dan penderitaan dari pihak keluarga.
                “Ngelamunin apa ente? Ikan laut?” Tanya ahmad menghampiriku, tau aku alergi ikan laut, tak bisa memakannya. Jadwal makan sabtu siang adalah ikan laut dan sungguh menyium baunya saja aku tak kuat, apalagi memakannya.
                “Harga kitab Bai’jury di sirkah berapa ya?” aku menyembunyikan ekspresi laparku dengan mengalihkan pembicaraan.
                “Kemarin rahmad Jakarta beli, kalo nggak salah…….?” Ahmad mencoba mengingat
                “Yang cetakan luar negri seratus dua puluh ribu, ente mau beli?”
                “Nggak tau mad, fulus ana cukup atau enggak” aku menjawabnya lemas, maklum lah, siang, panas, perut keroncongan dan bunyinya ; krutch……..krutch…….krutch…….(@^@&
                “Ana mau bongkar tabungan, kira-kira cukup nggak ya?”
                “Tabungan? Tabungan bambu yang kita buat dua tahun yang lalu itu? Masih ada? Wah, hebat ente, punya ana aja hanya berumur dua bulan”
                Aku mengangguk sedikit sambil tersenym mengingat cerita ahmad dua bulan setelah kami mulai menabung, dia mengaku tak punya uang sedangkan perutnya terus berteriak memohon pertolongan keepada sang empunya perut, jadilah dia membongkar tabungan tersebut kemudian segera membelikan obat lapar dan memakannya bersamaku.^_^ ahmad)
                “Sudah bongkar aja, ana penasaran isinya penuh atau tidak, masalah kurang sepuluh-dua puluh ribu biar ana yang nambahin!” Ahmad menyemangati dengan penuh penasaran
                “Beneran?”tanyaku masih belum percaya
                “Beneran lah, masa sof’to ?” Ekspresi wajahnya serius, tanpa pikir panjang aku mengambil tabungan tersebut, dengan ketegangan dan rasa penasaran kami  membongkarnya, betapa kaget dan senangnya kami setelah menghitung lembaran dan ricikan yang ternyata jumlah keseluruhannya adalah Rp. 252.500,- .
                Alhamdulillah…………………..Akhirnya aku bisa membeli kitab Baijury. Dan……….membeli obat lapar, (@^@&_____^_^?


#   #   #


                Kitab Baijury ini adalah kitab kajian pengajian rutin dua minggu sekali di masjid jami Darussalam, pengajian khusus ibu-ibu dan para remaja putri. Setiap pertemuan aku di hadapi dengan pertanyaan-pertanyaan aktual masalah kewanitaan, sebagian besar pertanyaan dapat ku jawab dengan mudah, namun jika ada pertanyaan yang sukar untuk di jawab aku memohon waktu untuk mencari jawabannya lewat refrensi dari maktabah syamilah di leptopku.
                “Wudlu’ di wajibkan bersamaan dengan waktu kewajiban sholat yaitu pada malam isro’, dan hikmah pekerjaan wudlu’ hanya terbatas pada 4 anggota yaitu wajah, tangan, kepala dan kaki, karna 4 anggota tersebut yang selalu melaksanakan dosa sehingga dengan wudlu’ tersebut akan melunturkan dosa-dosa yang di lakukan oleh 4 anggota itu” Sebelum masuk BAB Wudlu’ di dalam kitab Bai’jury aku menjelaskan sedikit hal-hal yang berkenaan tentang wudlu’
“Dan dalil wajibnya wudlu’ adalah firman Allah SWT yang berbunyi : Ya ayyuhalladzina amanu idza qumtum ila ssolah fagsilu wujuhakum wa aydiyakum ilal marofiq wamsahu biru’usikum wa arjulakum ilal ka’bayn,Surat………..?” Wah gawat, aku lupa ayat barusan terdapat di surat apa dan ayat berapa? Ya Allah, ampuni hamba!
“Surah Al-Maidah ayat enam!” dengan suara lantang wanita cantik berbusana putih yang selalu duduk di hadapanku ketika pengajianku itu menjawab kemudian tersenyum manis sampai merasuk dalam lubuk hati, ibu-ibu berpostur tubuh gemuk yang duduk disampingnya mengelus eluskan tangannya ke punggung wanita tersebut.
“Na’am, surah Al-Maidah ayat enam” Aku mengulangi sekali lagi yang di katakan wanita tadi.
Setelah satu jam pengajian di akhiri dengan  season Tanya jawab kemudian do’a penutup yang ku pimpin sendiri. Setelah itu mereka para kaum hawa saling bersungkeman dan berbincang sedikit di luar masjid. Ku luhat para ibu-ibu mengerubungi wanita dan ibu gemuk yang duduk di hadapanku tadi, mereka berdua bak artis terkenal atau bahkan lebih mulia dari itu. Bagai mana tidak, sang wanita tadi adalah salah satu putri seorang kiayi besar di jawa timur, dia juga hapal al-quran secara dobed, sedangkan ibu gemuk tadi adalah mertua dari wanita cantik itu.
“Ustad, nggak mampir ke rumah kah?” Tanya seorang ibu ketika aku melintasi gerombolan ibu-ibu itu.
“Afwan, lain kali aja” jawabku sambil tersenym manis. ya,semanis mungkin karna aku sedang berdiri dan menunggu.
“Ibu-Ibu, kami pamit duluan ya!” kata ibu berpostur gemuk tadi sambil menarik lengan menantunya menghampiriku yang sedang berdiri dan memeluk sebuah kitab kesayanganku, kitab Bai’jury.
“Loh, ustadzah sama bu nur ko pulang duluan? Oalah, sudah di tunggu Ustad toh, yo nggeh monggo!”


#   #   #


0 komentar:

Post a Comment