Majalah al Bashiroh -mencerahkan rohani bangsa-

Translate

Friday, August 18, 2017

GEMA TAKBIR KEMERDEKAAN NKRI

            Kumandang perayaan hut RI ke-72 tahun terdengar di setiap penjuru Indonesia. Semua berlomba-lomba mengadakan acara dari upacara bendera sampai berbagai macam lomba untuk mengisi dan memeriahkan kemerdekaan negeri seribu pulau ini.
            Pondok pesantren Darullugha Wadda’wah (DALWA) Raci Pasuruan seperti tahun-tahun sebelumnya ikut andil memeriahkan kemerdekaan dengan upacara bendera yang dilanjutkan dengan berbagai lomba, seperti  cerdas cermat, puisi dan berenang. Tak hanya di situ saja PP Dalwa di bawah asuhan al Habib Zain bin Hasan Baharun tepat pukul 20:00 WIB mengadakan syukuran kemerdekaan berupa Tabligh Akbar di halaman pondok pesantren dengan tema “DZIKIR NASIONAL DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-72 (Aktualisasi Semangat Jihad Santri Menuju Indonesia Yang Berdaulat)”. Acara dihadiri para santri, tamu undangan dan keluarga ponpes seperti al Habib Segaf bin Hasan Baharun M. H. I rektor INI Dalwa yang ditemani oleh al Habib Dr. Ali Zainal Abidin Balfaqih rektor pascasarjana INI Dalwa, Ust. Qoimuddin dan masih banyak lagi.
            Acara dibuka dengan doa oleh al Habib Segaf tepat pada pukul 20:50 WIB yang kemudian dilanjutkan pemutaran video dokumenter oleh panitia acara dan sambutan yang disampaikan rektor pascasarjana al Habib Dr. Ali Zainal Abidin Balfaqih. Beliau menyampaikan banyak hal salah satunya tentang nikmatnya kemerdekaan yang diraih oleh negara Indonesia ini.
            Panitia acara menuturkan bahwa kegiatan pada malam hari ini adalah satu gerakan kegiatan motivasi untuk para santri dan pejabat untuk merapatkan barisan dalam mempertahankan kesatuan NKRI. Harapan mereka dengan adanya acara pada malam hari ini bisa menjadi contoh semua kalangan terutama para ulama dan pejabat negara Indonesia untuk terus bersama beriringan membangan bangsa ini di bawah kibaran bendera merah putih.


17 Agustus 2017 Raci, Pasuruan (Sha_faidH)

Thursday, August 17, 2017

dalwa bergelora

Hadiah Dalwa Untuk NKRI


               “kemerdekaan ialah hak segala bangsa” Hal ini tertera dalam pembukaan UUD 1945 alinea pertama bahwa kemerdekaan bisa dimiliki siapa saja dan bangsa mana saja dari tekanan para penajajah tak terkecuali negara Indonesia. Tahun 1945 tepatnya 17 Agustus Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya setelah terbebas dari jajah ratusan tahun lamanya.
              Kamis 17 Agustus 2017 seluruh bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke bersama-sama merayakan kemerdekaan yang ke-72 tahun. Pada hari yang sama pondok pesantren Darullugha Wadda’wah (DALWA) tak mau ketinggalan dengan mengadakan upacara bendera untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memerdekaan negara ini.

                Tepat jam 08:45 WIB upacara bendara diadakan di halaman PP Dalwa. Upacara kali ini dihadiri ribuan santri dari dalam maupun luar negeri seperti Malaysia dan Kamboja, dan juga dihadiri asatidzah dan dosen Institut Darullugha Wadda’wah seperti Ust. Ismail Ayyub S. Pd. I, Ust. Imaduddin M. Pd. I (wakil rektor 1) dan Ust. Fauzi hamzah M. Pd. I (wakil rektor 3).
                Para peserta mengikuti acara dengan begitu khidmat sekalipun di bawah teriknya sinar matahari. Hal ini mereka lakukan hanya untuk menghargai para jasa pahlawan yang telah menghadiahkan kemerdekaan yang begitu besar. Sejarah mencatat ndonesia terjajah lebih dari 300 tahun lamanya.
                “kemerdekaan adalah karunia terbesar dari Allah Swt. Oleh sebab itu seyogyanya kita sebagai penerus bangsa wajib bersyukur dan berterima kasih atas itu semua dengan mendoakan arwah mereka semua” ujar Ust. Ismail S. Pd. I selaku inspertur upacara pada pagi kali ini. Beliau juga menghimbau kepada semua santri untuk merapatkan barisan untuk mepertahankan persantuan Indonesia dari segala adu domba bangsa asing maupun dari bangsa sendiri khususnya dari golongan PKI yang  berlawanan dengan pancasila sebagai dasar negara kesatuan republik Indonesia. Oleh sebab itu beliau berharap para santrilah yang akan menjadi tonggak-tonggak bangsa yang akan mempertahankan negara Indonesia tanpa memandangan perbedaan yang ada.
                Semoga apa yang beliau dan bangsa ini cita-citakan terealisasikan di bawah kibaran bendera merah putih dengan berasaskan bhineka tunggal ika (berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan).

(sha_faidh) 17 Agustus 2017 Raci Pasuruan 10:32 WIB

Thursday, July 27, 2017

Gelombang Cinta dari Dalwa


Bangil-Albashiroh.net. Pondok Pesantren Darullaghah Wadda’wah atau yang lebih akrab dipanggil Dalwa kembali menggelar acara DALWA BERSHOLAWAT. Selain kehadiran mudirul ma’had, al Habib Ali Zainal bin Hasan Baharun beserta keluarga, para ustad dan santri, dalam acara tersebut juga nampak beberapa tamu undangan seperti: Ust. Nasir dari Jakarta (munsyid), Habib Zen BSA Malang dan Habib Hafidz Alaydrus Jakarta.
                Di tengah rintik hujan yang turut mengiringi irama sholawat, para santri terlihat semakin antusias dan khusyuk. Acara di malam 5 Dzul Qo’da ini tak hanya  diikuti santri dari Dalwa banin saja, namun juga ratusan santri dari dalwa ba’alawi dan dalwa 3.
                “Sekalipun terguyur hujan ribuan santri dan tamu yang hadir tetap bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini yang membuat saya bahagia menghadiri acara malam ini. Saya harap Pondok Dalwa terus meningkatkan kualitasnya di segala bidang.” ujar Erzha Caesar mahasiswa fakultas hukum Universitas Trisakti (USAKTI) Jakarta.
                Menurut Erzha hal ini sangat berkesan karena diera globalisasi yang modern seperti ini dalwa mampu berkembang dan bersaing tanpa meninggalkan adat salaf. Hal yang sama juga diutarakan oleh Khairul Muzaky mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Jombang. (27/07/2017) (18:20)
                Untuk mengikuti secara live acara tersebut bisa mengikuti tautan link berikut: 



Saturday, April 22, 2017

Satu Event, Tiga Berkah Buat Santri DALWA




Siang ini (22/4), selepas jama’ah dzuhur seluruh santri Ponpes Darullughah Wadda’wah Raci berkumpul di Masjid Baitul Ghoffar guna mengikuti acara Khataman kitab Sahih Bukhari. Bukan hanya itu, perkumpulan mereka juga bertujuan untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Seperti biasa, acara-acara Dalwa selalu dimulai dengan lantunan shalawat dan qosidah. Gema shalawat terus bersahutan sampai Pengasuh Pondok, al Habib Zain bin Hasan Baharun dan para Masyaikh undangan memasuki Masjid.
Selain Pengasuh dan Tamu undangan, Dewan Asatidzah juga terlihat menghadiri acara ini. Setelah kedatangan pengasuh, acara dilanjutkan dengan pembacaan beberapa hadits terakhir Shahih Bukhori, Abuya Zain Baharun adalah pembaca pertama. Setelah khatam, Habib Husain as Segaf langsung memanjatkan doa. Acara selanjutnya adalah pembacaan Maulid Nabi dan Tahlil. Acara berakhir jam 2 siang. Tahlil ditujukan untuk memperingati Haul ibunda Pendiri Ponpes, Syaikhah Fatma Bakhabazi.
Pembacaan Kitab Bukhari sendiri merupakan adat Ponpes Dalwa di bulan Rajab. Pembukaan pembacaan diadakan tanggal 30 Maret 2017. Tentunya, agenda ini memiliki banyak manfaat. Pertama, menambah kecintaan santri terhadap Rasulullah dan Sunnah beliau. Kedua, Memenuhi bulan Rajab yang mulia dengan kebaikan Shalawat dan menuntut ilmu. Dan masih banyak lagi.



Wednesday, March 1, 2017

Menebar Salam, Menyatukan Umat Islam

metode yang paling ampuh dan kuat dalam rangka menumbuhkan dan menjaga persaudaraan antara orang muslim adalah saling memberi salam

Sejak dulu, umat Islam dikenal sebagai umat yang kuat dalam persatuan. Agama Islam sendiri dikenal sebagai agama yang tidak membedakan ras, tingkat sosial dan kemapanan. Sampai saat ini, kita bisa melihat keberadaan umat Islam di berbagai belahan dunia seperti Rusia, Amerika, negara-negara Eropa dan lainnya. Bahkan, data yang dikeluarkan oleh salah satu lembaga survey agama ternama di Amerika Serikat Pew Research Center menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang paling pesat perkembangannya di dunia selama 40 tahun ke depan, yaitu sebesar 50 persen. Termasuk di Republik Macedonia dan Nigeria.
Tersebarnya agama Islam tentunya tak luput dari tinggi dan kokohnya semangat persaudaraan dan persatuan sebagaimana yang telah diajarkan para penyebar agama Islam dari zaman ke zaman. Salah satu faktor yang paling berperan penting dalam penyebaran agama Islam adalah pendidikan moral, kasih sayang dan rasa cinta terhadap sesama. Sehingga terbinalah hubungan antar sesama manusia, bukan hanya hubungan antara manusia dengan Tuhan. Dari sini pula, terbentuk sebuah ikatan yang kuat antar orang mukmin dengan lainnya di manapun mereka berada, sebagaimana firman Allah :

إنَّما المُؤْمِنُونَ إِخْوَة فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُم واتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ [10 :الحجرات]
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S Al Hujurat: 10)
Salah satu metode yang paling ampuh dan kuat dalam rangka menumbuhkan dan menjaga persaudaraan antara orang muslim adalah saling memberi salam. Dengan salam, benih-benih cinta dan kasih sayang akan tumbuh. Salam juga merupakan sebab masuknya kita ke dalam surga. Sebagaimana sabda Rasulullah :

عن أبي هريرة ؓ قال : قال رسول الله : لا تَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا, وَ لاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُوا, أو لَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ (رواه مسلم)
“Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman itu hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika dilakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Al Imam an Nawawi menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.
Beliau juga menjelaskan bahwa ucapan salam merupakan pintu pertama untuk mencapai sebuah kerukunan dan kunci pembuka yang membawa rasa cinta. Semakin sering seorang mukmin menyebarkan salam, semakin kokoh kedekatan mereka dengan mukmin lainnya. Salam juga sebagai syi’ar bagi mereka yang berbeda agama bahwa Islam mengajarkan kedamaian. Di samping itu, juga terdapat latihan bagi jiwa seseorang untuk senantiasa berendah diri dan mengagungkan kehormatan kaum muslimin yang lainnya.
Adab Salam
1.    Siapakah yang lebih dahulu memberikan salam? Dijelaskan dalam hadits berikut:
عن أبي هريرة ؓ قال : قال رسول الله : يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلىَ المَاشِي, والمَاشِي عَلَى القَاعِد, والقَلِيْلُ عَلَى الكَثِيْرِ (رواه بخاري و مسلم)
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: Hendaklah orang yang berkendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan memberikan salam kepada yang duduk. Dan orang yang berjumlah sedikit memberikan salam pada yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, bukan berarti hadits ini memberi fatwa haram bagi orang yang berjalan untuk memberikan salam terlebih dahulu kepada yang berkendaraan. Atau yang tua kepada yang muda, juga yang berjumlah banyak kepada kelompok yang kecil. Akan tetapi, ini adalah bentuk adab yang dijelaskan oleh Rasulullah .
2.                   Balaslah salam dengan yang lebih baik atau minimal serupa. Allah  berfirman:

وإِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنِ مِنْهَا أَوْ رُدُّوها (النساء:86)
“Apabila kamu diberi suatu penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (Q.S. An Nisa: 86)
3.                   Salam ketika mendatangi majlis dan meninggalkannya. Rasulullah bersabda:

عن أبي هريرة ؓ قال : قال رسول الله : إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ المَجْلِسَ فَلْيُسَلِّمْ
, فَإِنْ رَجَعَ فَلْيُسَلِّمْ, فَإِنْ الْأُخْرَى لَيْسَتْ بِأَحَقَّ مِنَ الْأُولَى (رواه احمد)
“Dari Abu Hurairah ؓ, bahwa Rasulullah bersabda: Jika seseorang dari kalian mendatangi majlis, maka ucapkanlah salam. Jika pergi meninggalkan majlis ucapkanlah salam. Karena salam yang kedua tidaklah lebih utama dari pada salam yang pertama.” (HR. Ahmad)
Setelah mengetahui keutamaan menebar salam, sudah selayaknya kita menjalankan apa yang telah dianjurkan oleh Rasulullah dalam hal menebarkan salam. Di antara sesama Muslim, jangan sampai kita terperdaya dengan godaan iblis untuk saling membenci dan mencaci. Sehingga hubungan antar Muslim maupun dengan non-Muslim menjadi terpecah belah. Dengan salam, marilah kita satukan umat yang terpecah belah. Selaraskanlah makna salam dalam tiap perbuatan. Hingga kerukunan dan kasih sayang akan menyertai kehidupan kita sehari-hari.
(HA)

Referensi:
Syarh Shahih Muslim, 2/35

http://www.kompasiana.com/ahmadimam/tantangan-umat-islam-ketika-jumlahnya-menjadi-terbanyak-di-dunia_5535a70d6ea8347f16da42d0

Wednesday, February 22, 2017

Pertahankan Iman Dengan Telaah Kisah Para Khalifah

al Fath al Mubin
Setiap pejuang pasti punya pengikut ataupun sahabat yang selalu membantu dalam perjuangan mereka. Begitu pula Rasulullah, beliau memiliki sahabat-sahabat yang setia membantu dakwah beliau. Mereka adalah generasi muslimin terbaik yang berani dan mau melakukan apapun demi ridha Allah dan Rasul-Nya.

Tentunya, generasi istimewa seperti mereka mempunyai keunggulan dan keutamaan tersendiri. Tapi, hanyalah empat sahabat yang terpilih untuk tampil memimpin sahabat lainnya dan melanjutkan estafet kepemimpinan Rasulullah. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Mereka lebih dikenal sebagai al Khulafa’ al Rasyidin.

Sudah banyak kitab-kitab ulama muslimin yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan mereka. Kitab al Fath al Mubin adalah salah satunya. Kitab ini merupakan karangan Mufti Makkah, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Imam yang lahir tahun 1817 M ini merupakan contoh penulis muslim yang produktif.

Beliau menerangkan bahwa kitab ini terbagi menjadi enam bagian: Pembuka, empat bab inti lalu penutup. Terlihat sekali bahwa beliau mengarang kitab ini untuk menjelaskan bahwa mencaci dan menghina sahabat adalah perbuatan salah. Hanya golongan sesatlah yang melakukan perbuatan keji tersebut.

Dalam muqaddimah, beliau menjelaskan bahwa ada suatu golongan yang menjadikan sahabat sebagai sasaran fitnah kejam mereka serta mengklaim dengan kefasikan. Lalu, beliau membantah fitnah tersebut dengan menyebutkan beberapa ayat al Quran seperti surat al Fath ayat 18 dan 28.

Beliau juga menjelaskan bahwa ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang terjadi di antara mereka disebabkan oleh perbedaan ijtihad, dan semua perbedaan itu bertujuan untuk menegakkan agama. Maka, semua pihak berhak mendapat pahala atas ijtihad-nya.

Dalam tiap bab, beliau menyebutkan dalil al Quran sebelum hadits-hadits yang menerangkan soal keutamaan Khulafa’ al Rasyidin. Sayyid Ahmad juga membahas sedikit tentang sejarah para khalifah seperti keberanian, keadilan dan wafat mereka. Tak lupa proses pelantikan dan baiat mereka.

Selain beberapa peristiwa yang umum terjadi pada semua khalifah, beliau juga menyebutkan karakteristik khusus mereka. Mulai dari Abu Bakar, Umar, Utsman hingga Ali. Sayyid Ahmad tidak lupa menceritakan perdebatan para sahabat sebelum dilantiknya Abu Bakar. Juga cerita Muwafaqotu Umar dalam bab keutamaan Umar.

Seperti yang penulis jelaskan di awal, bahwa latar belakang Sayyid Ahmad mengarang kitab ini adalah menjelaskan pada khalayak muslimin bahwa mencela dan memfitnah sahabat adalah perbuatan yang tercela bahkan sesat. Demi tujuan ini, seringkali pengarang membahas fitnah-fitnah yang tertuju pada para khalifah di semua bab. Contohnya pada saat membahas Abu Bakar, beliau menceritakan adanya fitnah yang tersebar bahwa Ali menolak kepemimpinan Abu Bakar atas dasar wasiat Rasulullah kepada Ali. Beliau berpendapat bahwa cerita itu adalah kebohongan yang keji. Tak lupa beliau menjelaskan argumen-argumen yang membuktikan kesesatan tersebut.

Selain kisah yang penulis sebutkan, masih banyak fitnah-fitnah lain yang pengarang jelaskan di dalam kitab. Sebut saja perang Shiffin, perang Jamal, dll. Sayyid Ahmad berpendapat bahwa semua sahabat yang terjerumus dalam fitnah seperti Muawiyah, Aisyah dan Zubair, mereka bertindak atas dasar ijtihad masing-masing. Tentunya, para sahabat memilih apapun yang terbaik bagi Islam. Karena inilah, semuanya berhak mendapatkan pahala berijitihad. Meskipun sebagian dari mereka salah dalam mengambil langkah. Pengarang juga menyatakan bahwa pendapat Ali yang benar.

Setelah menjelaskan keutamaan Ali, Sayyid Ahmad juga menulis bab tentang keutamaan Hasan bin Ali. Bab ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta umat terhadap keluarga dan keturunan Rasulullah. Bab ini juga menerangkan pelantikan Hasan menjadi khalifah setelah sang ayah, walau hanya beberapa bulan. Bahkan, kepimimpinan beliau dianggap sebagai khilafah yang sah. Tentunya, Sayyid Ahmad juga menyebutkan dalil atas pendapat beliau tersebut.

Mushannif juga berpendapat bahwa kepemimpinan Muawiyah setelah Hasan adalah khilafah yang sah meski beberapa corak pemerintahan Muawiyah berbeda dari adat-adat khalifah sebelumnya. Para ahlu al Aqdi wa al Hali juga sepakat atas terpilihnya Muawiyah. Bahkan beliau juga menyebutkan hadits yang menunjukkan sahnya kepemimpinan Muawiyah beserta pendapat ulama lain yang mendukung argumen pengarang.

Selain keutamaan dan sejarah para khalifah, Sayyid Ahmad juga menyebutkan keutamaan beberapa tokoh sahabat. Seperti Aisyah, Talhah, Zubair dan sahabat lain yang termasuk al Asyrah al Mubassyarin bil Jannah (sepuluh sahabat yang mendapat jaminan surga). Beliau menyebutkan semua ini untuk menjelaskan pada umat betapa tingginya derajat sahabat dalam ajaran Islam. Juga agar kita tidak terpancing untuk mengikuti golongan yang mencaci mereka bahkan mengkafirkan mereka.  

Saturday, February 18, 2017

Ketika Jawa Memilih Islam

Proses pembentukan wacana Jawa minus Islam sudah dimulai sejak zaman kolonial

Oleh: Arif Wibowo
“Sejarah yang disusun penjajah adalah racun.”
(Prof. Ali Hasymi)

    Menurut Buya Hamka, pertemuan dan dialog Islam dengan Jawa memang telah berlangsung sejak lama, dimulai sejak kunjungan utusan Khalifah Mu’awiyah pada masa pemerintahan Ratu Sima di Kerajaan Kalingga. Meski demikian, tidak mudah bagi para pendakwah untuk menaklukkan Jawa. Sebab, bila dilihat dari periodisasi secara mundur ke belakang, menurut Prof. Dennys Lombard Jawa mengalami tiga periodisasi yaitu (1) zaman modern, dengan proses oksidentalisasi, (2) zaman Islamisasi, (3) Zaman Hindu-Budha.

Kompleksitas unsur pembentuk kebudayaan Jawa inilah yang kemudian menyebabkan budaya Jawa belum menemukan bentuknya yang pasti hingga kini. Kalangan cendekiawan Katolik, Kristen, kaum kebatinan dan theosofi sampai sekarang masih terus berlomba menyusun narasi kebudayaan Jawa dalam versinya masing-masing. Sayangnya, para cerdik cendekia dan budayawan muslim sepertinya abai bertanding di ranah ini. Sehingga secara pelan tapi pasti, wacana kebudayaan minus Islam kini secara  perlahan menggeser peran sentral walisongo yang selama berabad menjadi centre of excellent dalam kebudayaan Jawa”.

Kini Jawa lebih mengakrabi Darmaghandul dan Gatholoco dibanding Sunan Kalijaga. Tidak hanya itu, bahkan secara perlahan, Islam kemudian dinarasikan sebagai penyebab kemunduran masyarakat Jawa. Surat yang ditulis seorang Missionaris Jesuit, Pater M van Elzen, secara explisit menjelelaskan pandangan ini.

Dulunya, Jawa sedikit lebih maju daripada sekarang. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti dengan baik sekarang, mengapa Santo Fransiscus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. 

Tidak hanya itu, aneka sastra anonim yang menanamkan kebencian kepada Islam dan walisongo muncul secara masif di akhir abad 19 dan awal abad 20, sebuah periode sejarah yang sering disebut sebagai abad missi, karena pada periode itu secara resmi pemerintah kolonialis Belanda mendukung gerakan missi dan zending dalam upaya kristenisasi masyarakat Indonesia. Salah satu sastra anonim yang masih diproduksi sampai sekarang adalah serat Darmagandhul.

G. W. J. Drewes, seorang orientalis berkebangsaan Belanda, ketika mengomentari serat Darmagandul menyatakan :

Seluruh isi serat ini menggambarkan penolakan terhadap Islam sebagai agama yang asing bagi orang Jawa. Ia juga dipandang sebagai agama yang telah merebut kekuasaan dengan cara yang tercela dari para wali, orang-orang suci yang dimuliakan bagi orang-orang Islam Jawa.

Proses pembentukan wacana Jawa minus Islam sudah dimulai sejak zaman kolonial, dan nampaknya  saat ini sudah membuahkan hasil. Dalam buku-buku mutakhir tentang Jawa, kita dapat melihat bahwa Islam diposisikan sebagai agama asing yang hanya merupakan kulit ari bagi masyarakat Jawa, sedangkan yang menjadi agama sejati masyarakat Jawa adalah Kejawen. Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi kaum muslim Jawa untuk menyusun sejarahnya sendiri dan membongkar wacana pseudo ilmiah yang dikonstruk para missionaris dan cendekiawan kolonial di masa lalu.

Orang Jawa Memilih Islam

Sebelum kedatangan Islam di Jawa, agama Hindu dan Budha lebih dulu berkembang di Indonesia, adalah fakta sejarah yang diamini oleh siapa saja. Namun penjelasan lebih detail tentang praktik keagamaan Hindu dan Budha di Jawa, nyaris tak terbahas. Agama Hindu-Budha di Jawa masa lalu, menurut sebagian peneliti bersifat elitis, hanya untuk kalangan brahmana dan ksatria. Sebab bagi masyarakat kebanyakan, pemujaan roh nenek moyang merupakan inti dari kegiatan keagamaan. Praktik keagamaan ini jejaknya masih dapat kita lihat di tengah masyarakat, di mana kuburan sebagai simbol bertempatnya roh nenek moyang masih merupakan elemen penting dalam ibadah masyarakat Jawa. Salah satu ritual terbesarnya adalah Pesta Srada yang merupakan peringatan arwah kepada para leluhur. Pesta Srada ini dalam bahasa Jawa disebut Nyadran

Oleh karena itu, berbeda dengan kebanyakan orang yang menjadikan contoh kemegahan candi Borobudur dan Prambanan, sejarawan seperti Dannys Lombard dan Ahmad Mansur Suryanegara justru menunjukkan bahwa bangunan-bangunan batu besar itu telah menyebabkan trauma tersendiri bagi masyarakat Jawa. Hal ini dikarenakan kehidupan masyarakat tersita hanya untuk membangun candi yang mengakibatan keluarga, sawah, ladang dan ternaknya jadi terabaikan.

Keruntuhan Kerajaan Hindu dan Budha di Jawa dan penghentian pembangunan gedung-gedung batu ternyata disebabkan karena kerajaan tersebut ditinggalkan oleh rakyatnya sendiri, yang lebih memilih tinggal di kota-kota pelabuhan atau wilayah sekitarnya.

Selain itu, Hindu dan Budha di Jawa sudah pernah mengalami fase kejatuhannya ketika aliran Tantrisme berkembang di kalangan para bangsawan Jawa. Dalam Kitab Pararaton menyebutkan, bahwa Prabu Kertanegara, raja terakhir kerajaan Singhasari yang biasa dipanggil dengan julukan ”Bathara Siwa-Budha” (penganut Bhairawa Tantra). Kepercayaan Siwa-Budha ini menghasilkan bentuk ritual yang disebut sebagai upacara Ma-lima. Menurut S. Wojowasito, bentuk upacara (ritual) dari sekte ini sangat mengerikan.

Lebih lanjut Prof. Rasyidi menjelaskan, upacara ma-lima itu terdiri dari matsiya (memakan ikan gembung beracun), manuya (memakan daging dan minum darah gadis yang dijadikan kurban), madya (upacara ritual dengan meminum minuman keras hingga mabuk), muthra (ritual tari sampai ekstase tak sadarkan diri), dan maithuna (persetubuhan secara masal). Upacara itu dilakukan di tanah lapang yang disebut setra.

Pendapat Prof. De la valle Poussin yang menyatakan bahwa praktik Maithuna tidak dilaksanakan secara sungguh-sungguh dibantah oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi. Sebab, Maithuna ternyata banyak dipraktikkan secara konkret. Maithuna tidak dianggap berdosa sebab pelakunya dianggap telah menjadi dewa.

Dalam penasbihan seorang raja, dibutuhkan korban lebih banyak yakni mencapai ratusan orang. Adityawarman, seorang raja dari kerajaan Melayu (yang menjadi menantu raja Majapahit) menerima penasbihannya di tengah-tengah lapangan bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah, menghadapkan kurban manusia yang menghamburkan bau busuk, tetapi bagi Adityawarman sangat semerbak baunya.

Pengorbanan manusia dalam jumlah massal juga terjadi saat meninggalnya raja Blambangan, Tawang Alun.
Tawang Alun II banyak ditulis dalam arsip Belanda, justru pada masa akhirnya tahtanya. Yakni ketika upacara ngaben jenazahnya yang digelar secara spektakuler. Alkisah, dalam upacara sebanyak 271 isteri dari 400 isteri Tawang Alun ikut membakar diri (sati).

Praktik-praktik keagamaan yang bertumpu pada selera para penguasa itu menjadi semacam trauma tersendiri dalam masyarakat Jawa. Sehingga kemudian sejarah mencatat eksodus masyarakat Jawa dari pusat-pusat kerajaan Hindu dan Budha yang tidak memberinya kehidupan yang aman, ke daerah-daerah pelabuhan mengantarkan mereka bersentuhan dengan para pedagang muslim dan para ulama. Egalitarianisme Islam dan struktur keimanan yang mudah dimengerti menyebabkan rakyat Jawa berbondong-bondong masuk Islam. Periode ini merupakan gelombang pertama Islamisasi di Pulau Jawa. Dalam pandangan Zamakhsyari Dhofier, ada dua tahap penyebaran Islam di Pulau Jawa, yaitu tahap pertama dimana orang menjadi Islam sekedarnya, yang selesai pada abad ke 16, dan tahap kedua adalah tahap pemantapan untuk betul-betul menjadi orang Islam yang taat yang secara pelan-pelan menggantikan kehidupan keagamaan yang lama.

Islam dan Proses Pemberadaban


Apabila kita mendengar istilah yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, yakni aja nglakoni ma lima (jangan melakukan perbuatan ma lima), pada awalnya ini adalah seruan para ulama kepada masyarakat Jawa untuk tidak lagi melakukan ritual Bhairawa Tantra. Sebab ritual itu tidak hanya jahat kepada Tuhan tapi juga jahat pada manusia. Adapun istilah aja nglakoni ma lima, yang diartikan aja madat, aja madon, aja minum, aja main lan aja maling (jangan menghisap candu, jangan berzina, jangan mabuk, jangan berjudi dan jangan mencuri) yang menjadi standar dasar moralitas manusia Jawa adalah penerjemahan ma lima setelah masyarakat Jawa mengalami Islamisasi.

Sementara itu Nyadran dalam perkembangannya diadakan di kuburan para leluhur dalam bulan arwah atau Ruwah, yakni bulan Sya’ban, menghadapi bulan puasa atau Ramadhan.  Ritualnya pun tidak lagi penyembahan kepada arwah leluhur akan tetapi diganti menjadi ritual ziarah kubur yang bertujuan mendoakan para leluhur yang sudah meninggal. Dalam kaitannya terhadap hubungan manusia Jawa terhadap para leluhur yang sudah meninggal, menurut Nakamura dan C.C. Berg, adalah wujud dari keberhasilan proses Islamisasi di Jawa.

Justru pada jantung religius kaum abangan, yaitu di dalam kehidupan ritual, mereka betul-betul tergantung pada pertolongan kaum santri. Hanya santrilah yang dapat memimpin doa di dalam ritus yang paling sentral dari orang-orang abangan, yaitu slametan. Juga santrilah yang dapat memimpin upacara ketika seorang abangan mengalami apa yang disebut Malinowsky ‘krisis yang paling utama dan paling final dalam kehidupan’, yaitu : kematian.

Tidak hanya Islamisasi ritus keagamaan, bahasa dan pola hubungan dalam masyarakat, pola kepemimpinan juga mengalami perubahan yang mendasar. Perubahan dari Bahasa sansekerta ke bahasa Jawa banyak mengadopsi istilah-istilah Islam, seperti adil, pikir, rakyat, Sultan ataupun Islamisasi makna sembahyang yang bermakna sholat, pasa bermakna shaum, suwarga bermakna jannah dan yang semisalnya, adalah bukti bahwa eksistensi Islam menjadi pondasi bagi masyarakat Jawa baru yang lebih beradab.

Adalah sangat beralasan ketika Prof. Syed Naquib Al Attas menyatakan bahwa kedatangan Islam ke kepulauan Melayu (termasuk Jawa di dalamnya) merupakan peristiwa yang paling penting dalam sejarah kepulauan ini. Hal ini diamini oleh Dr. H. Roeslan Abdulgani yang menyatakan bahwa Islam datang ke Nusantara dengan membawa tamaddun (peradaban), kemajuan dan kecerdasan. Kesimpulan yang berhadapan secara diametral dengan pendapat para cendekiawan kolonial dan para pengikutnya yang setia mengamini hingga kini.


DAFTAR PUSTAKA
Drewes, G.W.J, 1966, The struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by Serat Darmogandul. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 122
Ekadarmaputera, PhD, 1991 (cet. 3), Pancasila Identitas dan Modernitas, Tinjauan Etis dan Budaya, BPK Gunung Mulia, Jakarta
Fauzan Saleh, Dr, 2004, Teologi Pembaruan: Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX. Serambi, Jakarta
Dr. Hamka, 2005 (cet. V), Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional, Singapura
Hasto Rosariyanto, F, 2009, Van Lith Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Penerbit Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta
Roeslan Abdulgani, Dr, 1993, Islam Datang Ke Nusantara Membawa Tamaddun/Kemajuan/Kecerdasan, makalah pada Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Banda Aceh 10 – 16 Juli 1978.
Rasyidi, Prof. Dr, 1967, Islam dan Kebatinan, Penerbit Bulan Bintang
Slamet Muljana, Prof. Dr. 2005, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKIS, Yogyakarta
Syed Naquib Al Attas, Prof. Dr, 1986 (terj.), Dilema Kaum Muslimin, Penerbit Bina Ilmu, Surabaya

Wojowasito, S, 1952 (cet. II), Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Indonesia Sedjak Pengaruh India, Penerbit Siliwangi Jakarta

Saturday, February 11, 2017

Abu Yazid al Bustami Raja Sufi dari Negeri 1001 Malam

Raja sufi dari negeri 1001 malam
Mungkin beberapa di antara kita pernah mendengar nama Abu Yazid al Bustami. Seorang sufi terkenal abad ketiga. Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al Bustami. Beliau lahir di daerah Bustam negeri 1001 malam; Persia pada tahun 875 M dan wafat di usianya yang ke-73 tahun.

Nama kecilnya adalah Thaifur. Abu Yazid telah menampakkan karamahnya sejak dalam kandungan. Dalam perut sang ibu, Abu Yazid memberontak hingga membuat ibunya muntah jika menyantap makanan yang diragukan kehalalannya.

 Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Abu Ali al Sindi. Ia mengajarkan ilmu tauhid, hakikat, dan ilmu-ilmu lainnya kepada Abu Yazid. Sebelum menjadi seorang sufi, Abu Yazid terlebih dulu menjadi seorang faqih bermazhab Hanafiyyah.

Ucapan dari Anjing Hitam

Abu Yazid al Bustami
Pada suatu saat, Abu Yazid berjalan sendirian menyusuri jalan bebatuan di gurun pasir. Ia tidak tahu kemana arah tujuannya. Pria itu hanya menuruti kemauan langkah kakinya. Tiba-tiba, tampak dari kejauhan seekor anjing hitam berlari menghampiri. Secara spontan Abu Yazid segera mengangkat jubah kebesarannya, takut jubahnya bersentuhan langsung dengan air liur anjing itu.

Betapa kagetnya Abu Yazid ketika mendengar anjing hitam di dekatnya angkat bicara. “Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa.”

Mendengar anjing hitam itu, Abu Yazid tercengang heran. Benarkah ia berbicara kepadaku? Ataukah ini hanyalah perasaanku saja? Abu Yazid masih terdiam dengan renungannya.

Belum sempat Abu Yazid berbicara, anjing hitam itu meneruskan kembali perkataannya, “Seandainya tubuhku basah, maka engkau cukup mencucinya tujuh kali dengan air dan salah satunya menggunakan tanah. Persoalan di antara kita pun selesai. Tapi, apabila engkau menyingsingkan jubahmu karena kesombongan, dirimu tidak akan bersih walaupun membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!”

Setelah yakin bahwa suara tadi berasal dari anjing hitam  yang menghampirinya, Abu Yazid menyadari kekhilafannya. Ia langsung merasakan kekecewaan dari keluh kesah si anjing hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari sebuah kesalahan yang sangat besar telah dilakukan. Menghina makhluk Allah tanpa alasan yang jelas.

“Ya, perkataanmu benar. Engkau memang kotor secara lahiriah, tapi hatiku lebih kotor darimu. Oleh karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata al Bustami.

“Engkau tidak pantas berjalan bersamaku dan menjadi temanku! Sebab semua orang menolak kehadiranku. Siapapun yang bertemu denganku, ia akan melempariku dengan batu. Sedangkan engkau disambut bagaikan Raja. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!” kata si anjing hitam.

Al Bustami lagi-lagi terdiam. Merenungi ucapan anjing hitam yang menyayat hati. Tak lama kemudian, anjing hitam itu meninggalkannya sendirian di sebuah jalan yang sepi.

Abu Yazid berseru seraya mengangkat kedua tangannya ke langit, “Ya Allah, Aku tidaklah pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing. Lantas, bagaimana Aku dapat berjalan di sisi-Mu yang abadi dan kekal? Maha besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada hamba-Mu ini  yang hina di antara semua makhluk.’’

Tak lama kemudian, Abu Yazid kembali menuju madrasahnya. Rindu dengan murid-murid yang telah menunggu pelajarannya.

Pengaduan

Salah satu murid Abu Yazid mengadukan persoalan kepadanya, “Wahai syaikh, Aku telah beribadah tiga puluh tahun lamanya. Setiap malam, Aku mengerjakan tahajud dan setiap hari berpuasa. Tapi anehnya, Aku belum merasakan pengalaman rohani yang anda ceritakan.

“Walaupun beribadah tiga ratus tahun, Kamu tidak akan mencapai satu butir debu mukasyafah dalam hidupmu,” jawab Abu Yazid.

“Mengapa hal itu bisa terjadi?” tanya murid itu heran
.
“Karena hal itu tertutup oleh dirimu sendiri.

“Bisakah anda memberikan Aku cara agar hijab itu tersingkap?”

“Bisa, tapi Kamu tak akan mengamalkan cara dariku”

“Tentu saja aku akan mengamalkannya.”

“Baiklah kalau begitu, sekarang ganti pakaianmu dengan pakaian yang jelek, sobek dan kumuh. Lalu gantungkan di lehermu sekantung kacang. Pergilah ke pasar dan kumpulkan sebanyak-banyaknya anak kecil. Katakan pada mereka Hai anak-anak, barang siapa di antara kalian yang mau menamparku, aku akan memberinya sekantong kacang’. Dan pergilah ke tempat orang-orang yang sering mengagumimu, katakan pada mereka Siapa yang mau menamparku, akan kuberikan sekantong kacang!

Subhanallah, Ma Sya Allah, La Ilaha Illallah.” Murid itu terkejut mendengar ucapan sang guru.

“Jika kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, niscaya ia akan beriman. Tapi jika kalimat itu diucapkan oleh orang sepertimu, maka engkau akan berubah dari mukmin menjadi kafir,” ucap Abu Yazid.

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena kelihatannya engkau sedang memuji Allah, padahal kau sedang memuji dirimu sendiri. Ketika kau mengatakan maha suci Allah, seakan engkau mensucikan Allah. Padahal, kau sedang menonjolkan kesucianmu.” Jawab al Bustami pada muridnya.

(ICAN)

Referensi :

Sufi road.com